
"Aku ingin untuk kedepannya kamu lebih mengenal tentang diriku Ze!" Kedua orang itu masih saling bersitatap.
"Aku akan mengikuti semua kemauan kamu! Asal kamu janji untuk tidak menyentuh kedua orang tuaku!"
Senyum Alvin mengembang.
"Tentu, akan kutepati itu! Asal kamu tidak berulah kembali!" ucap Alvin. Zea mengangguk.
Mulai sekarang tidak ada lagi kebebasan untuknya. Dirinya harus selalu berpusat pada Alvin. Melakukan apa yang pria itu suka dan menjauhi apa yang pria itu tidak suka. Berat sekali beban yang kini menimpanya. Tapi semua ini harus ia lakukan agar keluarganya tak ikut terlibat. Biarkan saja hanya ia yang menderita, asal tidak keluarganya yang selalu dengan tulus menyayanginya.
"Kalau gitu ayo masuk!" ajak Alvin.
"Ya!" Zea mengikuti Alvin masuk tidak lagi membantah pria itu.
"Apakah kau ingin sesuatu?" tanya Alvin. Zea menggeleng.
Mereka sudah kembali ke kamar yang ditempati oleh Zea. Kamar besar dan mewah namun seperti penjara bagi Zea.
"Mau nonton sesuatu?" tawar Alvin ke arah televisi lebar yang ada didepannya.
"Terserah!" balas Zea.
Alvin menyalakan tv, memutar film yang di rasa akan Zea suka. Tatapan Zea fokus ke arah televisi didepannya. Ia tak menghiraukan Alvin yang menempel padanya.
"Fokus banget!" gurau Alvin. Zea cuek masih memandang layar kaca didepannya itu.
"Aku ambilin camilan bentar!" Alvin beranjak dari kasur mengambil camilan yang dirasa akan Zea suka.
Alvin kembali ke kamar dengan tangan penuh camilan. Meletakannya sembarang dikasur.
"Es cream" Alvin menyodorkan es cream stroberi kesukaan gadis itu yang sebelumnya sempat ia beli.
Zea menerimanya dengan senang hati. Zea membuka bungkus es cream. Merasakan es cream itu dengan bibir dan lidahnya.
"Enak?" tanya Alvin melihat Zea menikmati es cream ditangannya namun pandangannya tertuju ke depan.
Zea mengangguk sebagai balasan.
Alvin terus memperhatikan Zea yang menikmati menonton film, sedangkan mulut gadis itu merasakan kenikmatan es cream stroberi yang ia lahap. Hingga Zea tak sadar bahwa ada sisa sisa es cream yang menempel di bibir manisnya. Membuat Alvin tergoda.
'Gadis ini apa sengaja ingin menggodaku?' batin Alvin menahan diri.
Gerakan bibir Zea yang memakan es cream terus terasa menggoda bagi Alvin, membuat Alvin kalut, sehingga ia tak dapat lagi menahan diri. Alvin memegang wajah Zea, menggerakkannya membuat gadis itu menatap kearahnya.
Saat Zea menoleh kearahnya, tanpa basa basi. Alvin memajukan wajahnya menyambar bibir Zea membuat mata Zea membola. Alvin menyesap bibir Zea merasakan manisnya bibir gadis itu.
__ADS_1
Sebelah tangan Zea yang kosong menahan tubuh Alvin yang masih menciumnya.
Alvin yang sudah puas menjauhkan wajahnya melihat wajah Zea masih terkejut. Alvin menjilat bibirnya sendiri.
"Manis!" ujar Alvin dengan senyuman menggoda membuat Zea sadar dan gugup sendiri. Untung es cream yang ia pegang tidak jatuh karena dirinya yang shock.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Zea menyentuh bibirnya.
"Aku cuma ingin mencoba es creamnya!" ucap Alvin tanpa menunjukan rasa penyesalan sedikit pun.
"Kamu!" ujar Zea menahan diri.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. Alvin berdiri dari ranjang menuju ke arah pintu. Ia membuka pintu sebagian. Alvin berdiri di dekat pintu, berbicara dengan orang yang mengetuk pintu.
Zea melihat ke arah Alvin, ia tak bisa mendengar apa yang Alvin perbincangkan. Ia tak ingin ambil pusing, Zea kembali fokus kepada film didepannya sambil menikmati es cream yang tertunda akan ulah Alvin.
Tak lama kemudian Alvin kembali ke sampingnya. Membuat Zea menoleh sekilas. Zea tak ingin tahu apa yang akan pria itu perbuat.
"Ze!" panggil Alvin.
"Kenapa?" tanya Zea menoleh.
"Oke!" jawab Zea singkat.
"Jangan bandel okay? Aku cinta kamu!" ujar Alvin mencium kening Zea sekilas.
"Aku balik dulu!" pamit Alvin kemudian pergi meninggalkan Zea.
Setelah kepergian Alvin, es cream yang masih tersisa di tangannya tiba tiba tak lagi berselera saat ia makan. Tapi Zea tetap memakan habis es creamnya dengan cepat, tak peduli bahwa nantinya giginya akan ngilu.
Zea menatap camilan yang Alvin letakan begitu saja di kasur. Zea menyingkirkan mereka meletakkan di nakas. kemudian ia menarik selimut mengabaikan tayangan di layar kaca yang ia tonton. Suasana hati Zea benar benar berubah. Ia terlalu memaksa diri untuk terlihat baik baik saja saat disamping Alvin. Kini tubuhnya lelah dan lemas. Ia ingin istirahat berharap semua ini hanyalah mimpi baginya.
...****************...
Zea membuka matanya, kepalanya berdenyut. Zea melihat ke arah sekitar. Tayangan film yang ia biarkan menyala itu mati, lampu di kamarnya juga meredup namun tak sepenuhnya gelap, membuat ia merinding.
Zea turun dari kasur ke arah saklar lampu. Ia menyalakan lampu kamar membuatnya bernafas lega. Kemudian Zea berjalan kearah jendela kamar yang tertutup oleh gorden, ia mengintipnya sedikit.
Gelap! itu yang pertama kali Zea lihat. Dengan sekejap Zea menutupnya dan berjalan kearah pintu. Zea membuka kenop pintu, namun naasnya pintu itu terkunci.
Zea mengetuk ngetuk pintu kamar.
"Halo apa ada orang?" tanya Zea berharap orang yang ada didepannya menjawab.
__ADS_1
Zea menunggu beberapa saat dengan cemas. Apakah dirinya benar benar dikurung disini? tanpa bisa keluar sedikitpun. Gila! umpat Zea dalam batin.
Tapi tak lama kemudian suara kunci pintu yang diputar terdengar ditelinga Zea. Gadis itu menyingkir dari pintu. Joe masuk kedalam kamar.
"Anda sudah bangun nona?" tanya Joe basa basi.
"Kenapa pintunya dikunci?" Zea balik bertanya melihat pria yang berwajah datar itu.
"Maaf jika anda tidak nyaman nona, namun ini perintah tuan agar anda tidak keluar kamar lagi!" jawab Joe jujur.
Batin Zea tertawa, 'Inilah hidup gue sekarang, terkekang dalam genggaman Alvin' Zea terpaksa mengalah menjadi gadis penurut hanya karena Alvin mengancamnya.
"Apa ada yang anda butuhkan?" tanya Joe.
"Aku ingin buku sketsa" pinta Zea asal. Joe mengangguk.
"Ada lagi?"
"Lain kali jangan matikan lampu kamar. Gue takut gelap!" ucap Zea membuat bibir Joe terkatup.
"Maaf, hal ini tak akan terjadi lagi!"
"Ah gue gak nyalahin lo kok. Lagian gue yang harus minta maaf, gara gara gue lo kena hajar sama Alvin" ucap Zea, gadis itu merasa bersalah setelah menyadari bahwa wajah Joe yang ditutupi plaster itu ada karenanya.
"Kalau gitu anda hanya perlu untuk menuruti apa kata tuan! Dengan begitu saya tak akan mendapat luka seperti ini lagi"
Zea tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tak bisa membalas ucapan Joe. Karena luka yang Joe terima faktanya adalah karena dirinya yang menentang Alvin.
"Maaf!" ucap Zea menyesal.
"Anda tak perlu minta maaf nona. Saya memang pantas mendapat luka ini. Saya mendapatkan luka ini karena melanggar perintah tuan, jadi anda tak sepenuhnya salah disini!" Zea mendengar perkataan pria kaku didepannya ini, semakin tak enak hati.
"Sekarang sudah waktunya jam makan malam nona. Anda lebih baik bebersih diri, saya akan ke bawah menyiapkan makanan anda!" ujar Joe.
"Baiklah!" balas Zea.
"Saya permisi!" Joe keluar dari kamar. Kepala Zea kembali berdenyut karena tidur terlalu lama.
Nyatanya tidurnya tak dapat membantunya menghindar dari kenyataan. Seperti malam sebelumnya, Zea berharap ketika bangun semua ini hanyalah mimpi. Tapi apalah daya bahwa yang ia alami sekarang adalah kenyataan.
Zea menghela nafas mengikuti apa yang Joe ucapkan. Dirinya harus menerima kenyataan yang kini ada didepannya.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1