
"Ngapain lo ajak gue kesini?" tanya Icha dengan sinis pada Satya.
"Duduk!" ujar Satya saat mereka didekat bangku kayu.
"Lo" Satya memberi jeda, "Kenapa lo nggak bilang kalau selama ini lo dibully gara gara gue?" Satya membuka suara.
"Nggak penting!" jawab Icha ketus. Satya menatap tajam kearah Icha. Bisa bisanya Icha bilang masalah sebesar itu tidak penting.
"Gue serius Cha!" tekan Satya berucap.
"Gue juga! Semua udah gak penting lagi Sat, udah selesai dan lo udah tau. Sekarang cukup lo jauh jauh dari gue, titik" seru Icha.
"Apa nggak ada pilihan lain Cha?!" Satya mencoba bersabar untuk menghadapi Icha kali ini.
Icha diam. Ia lebih memilih bungkam. Ia mengalihkan pandangannya dari Satya
"Gue minta maaf atas semua ini! Ini salah gue karena gue gak peka sama keadaan! Oke?!" pinta Satya mengalah. Icha menatap kearah Satya, terpukau dengan apa yang Satya katakan.
"Tapi gue gak mau masalah ini selesai dengan cara ngejauhin lo. Karena lo nggak mau ngasih gue pilihan lain. Kalau gitu, gue yang bakal ngasih lo pilihan!" ucap Satya.
"Maksud lo?" tanya Icha bingung.
"Gue kasih lo pilihan. Lo mau gue jagain lo atau gue ngomong hal ini ke keluarga lo" Icha mengernyit tak paham dengan perkataan Satya.
"Gue akan bilang soal lo yang dibully ke ayah bunda lo. Lo pasti bisa bayangin ekspresi apa yang keduanya berikan saat tau lo masih kena bully!" ancam Satya membuat Icha mendelik.
"Lo gila!" sentak Icha.
"Tenang! Gue masih ada pilihan lagi. Gue bakal ngejagain lo kemanapun lo mau pergi. Gue anter lo pergi-pulang sekolah, gue anter lo kalau lo mau keluar, gue jamin lo bakal selalu ada dalam perlindungan gue. Gue pasti lo aman! Sekarang tinggal lo pilih mau yang mana, karena hasilnya bakal sama. setelah orang tua lo tahu, mereka juga akan minta gue selalu jagain lo. Apalagi jika mami gue tau masalah ini, lo tau kan gimana mami gue soal lo!" tutur Satya.
Icha nampak merapatkan bibir akan apa yang dikatakan Satya. Pria didepannya itu sedang mengancamnya. Emang apa susahnya sih tinggal pergi aja! Walau gak sepenuhnya pergi, hanya cukup mengindar dan saling tidak kenal. Dan hal itu akan meredakan semua masalah. Gak perlu cara lebay begini, menurut Icha.
"Sekarang lo tinggal pilih mau yang mana!" lanjutnya.
Icha diam dan nampak berpikir.
...****************...
Icha sampai dirumah Zea diantara oleh Satya. Setelah bercakap-cakap dengan pria itu akhirnya ia setuju untuk tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Artinya ia memilih Satya yang terus menjaganya. Ia sudah lelah berdebat dengan pria itu, karena tak pernah membuahkan hasil saat ia menyuruh Satya pergi dan menjauh dari hidupnya.
"Sampai kapan lo mau nginep di rumah Zea?" tanya Satya masih diatas motor.
"Nggak tau!" jawab Icha cuek.
"Besok gue jemput" ujarnya.
__ADS_1
"Nggak perlu! Lo pulang aja, Gue masuk dulu!" jawabnya cuek tak memperdulikan lagi tanggapan Satya dan langsung nyelonong masuk kerumah Zea. Meninggalkan Satya yang melihat Icha masuk kedalam rumah.
Didalam rumah Keyla dan Zea sudah menanti nanti kedatangan gadis itu. Mereka berbondong-bondong menghampiri saat Icha masuk kedalam rumah hendak mengintrogasi sahabatnya itu.
"Gimana Cha?"
"Lo nggak ada di apa apain kan Cha, sama dia?" wajah Icha terlihat lelah.
"Kalian ini ya! Temen kalian yang cantik jelita ini datang setidaknya disuruh duduk dulu, dikasih minum dulu. Ini malah ditodong pertanyaan!" dengus Icha mengerucut bibir.
"Kelamaan Cha! Buruan cerita!" tukas Keyla.
Akhirnya mau tak mau ia cerita pada keduanya. Ia juga cerita soal Satya yang mengancamnya untuk memberitahukan hal ini pada orang tuanya. Padahal dirinya seperti ini juga karena siapa. Untungnya Zea menahan situasi, meredakan emosi Keyla agar tak mengamuk. Memberikan pengertian berdasarkan sudut pandang Satya yang ia tangkap.
"Jadi sekarang lo kalau mau kemana mana harus ngasih tau dia Icha!" Icha mengangguk.
"Terus soal yang Satya bilang tentang dia calon suami lo disekolah itu, lo gak pengen gitu cerita sama kita?"
"Soal itu! Aelah kan gue udah bilang langsung kalau itu cuma candaan. Satya aja yang nganggep serius!"
"Kalau itu bener gimana Cha? Lo nggak mau tanya gitu sama bunda lo soal masalah ini?" Icha terdiam. Haruskah ia memastikan kebenarannya?
"Kapan kapan aja deh gue coba tanya!" putus Icha akhir. Sebenarnya hatinya kalut, ia enggan untuk bertanya. Apalagi jika nantinya kedua orangtuanya menjawab benar, bagaimana dia harus berekspresi nantinya?
Suara langkah kaki yang pelan datang mendekat.
"Eh Mama! Dari mana Ma?" Zea bergerak menyalimi Mama Tia disusul Keyla dan Icha.
"Biasa! Habis ngapelin papamu" jawabnya dengan senyum.
"ohww"
"Kalian pada keatas sana gih! Ganti baju sama cuci muka. Lihat muka kalian pada lecek begitu kayak banyak beban, padahal masih sekolah!" ujar Mama Tia.
"Emang separah itu ya Tan?!" tanya Icha memegangi wajahnya menganggap serius perkataan Mama Tia. Akhirnya sikap absurd Icha balik lagi seperti semula.
"Iya! Udah mirip kayak kertas gorengan abang abang" tutur mama Tia bergurau.
Mata Icha membulat, "Masa sih?" Icha meraba raba wajahnya yang dirasa nampak kusut.
"Oh my God, tidakkk! Wajah gue! Zea gue minta masker ya!" ujar Icha tanpa basa basi lagi berlari menuju kamar Zea. Ia harus menyelamatkan wajah mulusnya.
"Jangan banyak banyak Cha!" teriak Zea memperingati. Icha itu jika menggunakan masker, 1 sachet masker tak cukup baginya. Ia akan langsung menggunakan 3 sekaligus. katanya sih biar mirip mirip klinik kecantikan. Padahal 1 saja sudah cukup tak perlu boros boros begitu.
"Ma, kami keatas dulu ya!" pamit Zea.
__ADS_1
"Iya sana! Ganti seragam! Kalau laper ntar turun aja, ada mbok Jum dibelakang" ucap Mama Tia.
"Iya Ma!"
"Misi Tan"
Keduanya pergi kelantai atas menyusul Icha. Sesampainya dikamar ia melihat Icha yang sudah berganti pakaian dan baru keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.
Keduanya nampak memperhatikan Icha yang sibuk sendiri membongkar lemari meja Zea mengeluarkan alat alat masker didalamnya. Keyla dan Zea hanya bisa berdecak dan menggeleng gelengkan kepala.
'Yang penting lo seneng deh Cha' batin keduanya.
Zea mengambil pakaiannya dari lemari begitu pula dengan Keyla. Zea masuk kedalam kamar mandi mendahului Keyla. Meletakan seragamnya di rak baju lalu mengagganti pakaiannya dengan pakaian santai. Rasanya malas untuk mandi.
Ia hanya akan mencuci mukanya saja dan jika sudah mendekati waktu malam malam nanti baru ia akan mandi.
Zea keluar dari kamar mandi setelah itu bergantian dengan Keyla yang masuk kedalam kamar mandi.
Saat ia keluar, Ia melihat Icha yang sedang memoleskan masker kewajahnya dan benar saja gadis itu menggunakan 3 sekaligus.
"Nggak maskeran Ze?" tanya Icha melihat Zea duduk diranjang dari balik pantulan kaca.
"Udah kapan hari, sekarang masih belum jadwal gue maskeran!" jawab Zea. Icha hanya bisa ber-oh ria, karena kini ia kesusahan berbicara karena sedang memoles bibirnya juga takut maskernya akan retak.
Tak berapa lama kemudian Keyla keluar dari kamar mandi bergabung dengan Icha.
"Minta ya Ze!" tuturnya.
"Pakek aja!" jawab Zea.
Jadilah keduanya memakai masker bersama kecuali Zea.
Zea mengambil laptopnya yang ia simpan dinakas. Ia menyalakan berniat menonton film.
Saat sibuk memilih milih film, Icha datang bergabung disusul dengan Keyla. Beginilah kehidupan ketiganya, jika tak menonton film mereka akan saling berbincang membicarakan hal tidak penting yang membuat mereka ngakak bersama.
Zea memilihkan film zombie namun masih berlatar kerajaan. Saat ketiganya menonton film. Keyla dan Icha dibuat menahan diri saat merasakan kengerian dan ketegangan didalam film.
Zea ditengah, Keyla di samping kanan, dan Icha di samping kirinya.
"uhhh uhh!" Keyla dan Icha ingin menjerit namun tak bisa. Sebagai gantinya keduanya melampiaskan pada Zea dengan menepuk nepuk bahkan mencengkeram gadis itu.
Zea yang menjadi sasaran kedua sahabatnya hanya bisa meratap dan pasrah. Ingin marah, tapi saat ia ingin berbicara, mulutnya dibungkam karena keduanya serius menonton. Dasar sahabat gak ada ahlak memang.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ