
Alvin yang sudah memberhentikan mobilnya, menoleh kebelakang mengambil tasnya dan Zea.
"Turun" ujar Alvin dingin keluar dari mobil.
Zea yang takut takut melepaskan seatbelt mengikuti Alvin turun. Saat Alvin hendak menggandeng Zea, tangan Zea menepis.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Zea menatap Alvin waspada.
Zea kalut karena mata Alvin terus memancarkan emosi yang tak kunjung reda. Apalagi Alvin yang membawanya kemari membuat Zea semakin ketakutan dan penuh dengan tanda tanya.
"Ayo!" ajak Alvin lagi pada Zea, tapi Zea memundurkan langkahnya dan menggeleng.
Alvin membuang mukanya kesamping, lalu menoleh kearah Zea dengan sorot mata yang tajam.
"Ayo!" tekan Alvin sekali lagi kearah Zea.
Tapi Zea semakin yakin untuk menolak dengan menggeleng cepat.
"Aku nggak mau" ujar Zea tegas.
Alvin mendekat dan meraih tangan Zea menarik gadis itu.
"IKUT AKU!" bentak Alvin marah pada Zea yang terus memberontak. Membawa Zea dengan paksa.
Zea seketika menegang dan tubuhnya mengeras. Alvin menarik tangan Zea membawanya dengan paksa. Zea yang merasa terancam memberontak. Tapi Alvin tidak tinggal diam, ia bergerak kearah Zea membawa tubuh Zea seperti karung beras.
"Nggak nggak Alvin! Aku nggak mau" seru Zea memukul mukul punggung Alvin. Zea berharap ada orang yang menolongnya tapi hal itu hanya angan angan saja karena basemant itu sepi dan tidak ada orang sama sekali.
Alvin yang kalut bahkan tidak menghiraukan rengekan Zea sedikitpun membawanya kelantai atas dimana apartemennya berada.
"Hiks hiks, Alvin!" tangis Zea takut.
Alvin menekan tombol dan otomatis pintu Apartemen Alvin terbuka. Alvin membuka pintu apartemennya, masuk kedalam membawa Zea yang lemas karena posisi kepalanya yang terbalik.
Brukk
Alvin melempar tubuh Zea keatas sofa. Membiarkan tas yang ia bawa jatuh begitu saja kelantai. Zea yang mendapat kesempatan hendak bangkit namun Alvin sudah beralih dengan sigap, berada didepannya menghalangi Zea untuk bangkit. Tangan Zea bertumpu pada sofa.
"Al! Jangan" mohon Zea menatap mata Alvin sembari menggeleng dengan kedua mata yang berbinar.
Tatapan Alvin yang tajam tak menghiraukan semua itu.
Cup
Alvin mendaratkan bibirnya di bibir Zea. Tangan Zea tak tinggal diam mendorong tubuh Alvin memberontak. Tapi Alvin bahkan tidak bergeser sedikitpun. Pria didepannya justru menekan kepala Zea memperdalam lumatnya.
Dengan nafas yang memburu dan ingin melahap segalanya. Alvin terus mengekspor semua bagian mulut Zea menandai bahwa ini semua miliknya.
Zea yang memejamkan mata dengan dahi mengerut sambil menahan nafas sontak membuka matanya lebar lantaran Alvin beralih ke lehernya. Mengecup dan menghisapnya.
'Nggak ini nggak bener!' batin Zea menolak.
Tangan Zea kembali mendorong bahu Alvin. Zea tak peduli jika dirinya tak kuat untuk menggulingkan Alvin. Tapi ia terus mendorong tubuh Alvin, berharap Alvin terganggu.
__ADS_1
Benar saja, Alvin yang mencumbu leher Zea seakan terganggu akan dorongan yang Zea berikan. Apalagi sekarang Zea mendongakkan lehernya kebelakang, seakan ingin lepas dari kecupan Alvin.
Alvin semakin murka dengan sikap Zea. Alvin mengambil tangan Zea dipundaknya, menyentaknya dengan keras membawa tangan Zea ke atas kepala.
'Tidak' batin Zea menjerit bahkan keluar dari mulut Zea.
Alvin melanjutkan aksinya, mencium bibir Zea kembali tak memberikan Zea ruang untuk bernafas sedikitpun.
Kemudian tangan Alvin terulur kearah kancing atas seragam Zea. Zea menoleh noleh menghindari ciuman bibir Alvin.
"Nggak nggak nggak! ALVIN!" tolak Zea berteriak.
Alvin yang seakan tuli terus melanjutkan aksinya. Bahkan kini menahan rahang Zea dengan tangannya, agar Zea tak bergerak. Zea tak mau, Zea benci. Ia membenci Alvin.
"Aku membencimu Al" ujar Zea lepas, tanpa melihat Alvin.
Alvin yang mendengar langsung menjauhkan wajahnya dari leher Zea berganti menatap Zea dengan sorot mata tajam.
"Apa kamu bilang?" tanya Alvin memastikan.
"Aku membencimu Alvin! I HATE YOU Al" teriak Zea keras diakhir menatap Alvin tak kalah tajam.
Alvin lantas bangkit dari tubuh Zea memposisikan dirinya duduk. Zea yang mendapat kesempatan, ikut bangkit duduk melihat situasi. Ia kemudian langsung bangkit berdiri menuju pintu dengan memegang bagian atas kerah bajunya..
Alvin termenung beberapa saat karena keterkejutannya. Hanya perlu beberapa detik hingga Alvin tersadar kembali.
"Kau tak akan bisa keluar" ujar Alvin membuat langkah Zea terhenti berbalik menatap Alvin yang kini duduk disofa.
Alvin menoleh kearah Zea. Wajahnya seperti tak memperlihatkan amarah bahkan kini Alvin terkesan datar namun dibalik itu, sorot matanya dingin seperti tak tertembus tertuju pada Zea.
Mendengar hal itu Zea lantas berlari menuju kearah pintu.
"Satu" Alvin mulai berhitung.
"Dua"
"Tiga" Zea sampai didepan pintu. Ia menggunakan cara seperti biasa Alvin membuka pintu. Namun pintu itu tak mau terbuka.
"Lima" tiba tiba hitungan Alvin sudah diangka lima.
Zea mencoba menendang pintu Alvin membuat suara ribut, akal sehat Zea tak berfungsi karena nyatanya dia buka Hulk atau apalah yang bisa merobohkan pintu hanya dengan dobrakan.
"Enam"
"Tujuh"
Zea seketika panik memainkan gagang pintu mendorongnya berharap bisa terbuka.
Zea yang seakan kehabisan cara. Gadis itu tak lagi berharap pintu didepannya akan terbuka. Lantas Zea berlari masuk kembali kedalam dan mata Zea berpas-pasan dengan manik mata Alvin.
"Delapan"
"Sembilan"
__ADS_1
Zea seketika menelan ludah didetik detik terakhir. Zea berlari tanpa pikir panjang naik kelantai atas.
"Sepuluh" hitung Alvin terhenti dan pria itu segera bangkit dari duduknya.
Zea semakin cepat menaiki anak tangga.
"Kamu membuatku marah Ze!" ujar Alvin keras hingga dapat Zea dengar.
Tubuh Zea gemetaran bahkan Zea tak sanggup lagi untuk melangkah. Zea menelisik lantai dua, ia tertuju dengan kamar yang dulu pernah ia masuki. Kamar Alvin.
Zea masuk kedalam menutup pintu dan menahan dengan tubuhnya. Zea mengunci pintu itu dengan kunci yang menempel di pintu.
Suara langkah kaki Alvin yang mendekat membuatnya bergidik. Zea yang tidak tinggal diam menjauh dari pintu, mendorong barang barang yang ada disana untuk menghalangi pintu.
Langkah kaki Zea mundur saat ia menyelesaikan memindahkan barang seperti nakas dan lainnya untuk menghalangi pintunya. Nafas Zea ikut berderu lelah saat ia yakin telah berhasil membuat penghalang untuk Alvin.
"Zea! Buka pintunya. Aku tau kamu didalam" ujar suara dingin Alvin dari luar kamar seakan peringatan untuk Zea.
Zea menggeleng sambil menautakan tangan. Ia tak mau, Zea sudah tak bisa lag bersuara. Zea sontak menoleh ke arah samping. Ia melihat kearah jendela disana dan mencoba mengakses keluar. Namun sayangnya nihil, tidak berhasil. Jendelanya tertutup rapat.
Sedangkan Alvin yang ada diluar pasti mencari cara untuk bisa masuk.
Zea yang masih ada disana seketika meneteskan air mata bingung dengan situasi kali ini. Haruskan ia menyerah dan tetap menjadi mainan Alvin. Melakukan apa yang Alvin suruh?? Meskipun itu diluar batas.
Langkah kaki Zea yang tak ingin putus asa menggepal erat. Zea melihat kearah sebuah ruangan yang pernah ia masuki sekilas.
Zea tak ingin pantang menyerah dan masuk kedalam. Pertama kali yang ia lihat adalah komputer canggih yang dulu pernah ia lihat. Zea mengabaikan komputer itu.
Zea menyelusuri ruangan berharap ada petunjuk yang bisa membawanya keluar.
Merasa sia sia dan tak menemukan apapun. Zea yang lelah menyandar tubuhnya ketembok berhadapan dengan pintu.
Trett
Tembok itu terbuka membuat Zea tersentak kaget dan menjauh. Zea menemukan ruangan rahasia didalamnya.
Zea merasa senang karena bisa aja ruangan didepannya ini seperti yang ada di film film. Ruangan penghubung untuk ia bisa kabur.
Zea pun masuk kedalam ruangan yang nampak gelap dan tak bercahaya sedikitpun.
Zea meraba raba sekitar mencari tombol lampu.
tukk
Zea berhasil menemukan dan menyalakannya. Sontak Zea menoleh kesekitar ruangan. Raut wajah Zea yang penuh harapan seketika sirna dipenuhi kengerian. Dengan mata yang membelak lebar seakan tak percaya, Zea masih memandangi sekitarnya.
Zea yang tak percaya lantas mendekat melihat lebih jelas dan seketika tubuh Zea lemas bagaimana gambar gambar dirinya bisa terpajang disana. Bahkan hampir setiap waktu. Zea sadar, Nyatanya selama ini dirinya selalu diintai tanpa ia sadari. Nafas Zea seakan berderu berat.
"Zea" panggil Alvin dari belakang membuat Zea menoleh.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment, vote, dan berikan dukungan untuk cerita ini.
Happy Reading ♡♡