
Zea Pov
Aku tercengang melihat betapa ramahnya mereka menyambut ku. Aku hanya bisa tersenyum tipis menerima sambutan mereka.
"Zeara silahkan kamu duduk disana!" tunjuk guru itu kearah bangku pojok paling belakang.
Aku melangkah kearah bangku itu.
'Apakah ini takdirku!" batinku melihat posisi duduk yang sama dengan sekolah lamaku dulu.
"Zeara!" panggil seorang gadis kearahku, membuatku menoleh.
"Duduk sini aja! Disini kosong" panggilnya menawariku.
Aku mengulas senyum padanya lalu mengangguk dan mendekatinya.
"Makasih" balasku.
"Sama sama!" jawabnya.
Ku letakan tasku di bangku dan aku duduk disebelahnya.
Aku diam memandang lurus kedepan.
"Em Hai kenalin namaku Dea" ujarnya mengulur tangan padaku.
Ku balas uluran tangannya, "Zeara" jawabku sedikit ragu.
Seperti yang aku bilang, bukannya aku tak ingin berteman. Tapi aku ingin sesedikit mungkin mengurangi hubungan dengan orang lain.
"Em Zeara kan! kamu pindahan dari mana?" tanyanya padaku.
"Em dari kota" jawabku canggung tak ingin memberitahu.
"Zeara, Dea! Kalau ingin berkenalan lebih lanjut nanti saja. Sekarang fokus kepembelajaran lebih dulu" tegur Bu Ratih pada kami.
"Iya Bu, maaf" jawab Dea kearah Bu Ratih.
Aku hanya bisa bersitatap dengan Dea.
Hingga pembelajaran dimulai. Aku yang masih belum memiliki buku dengan terpaksa bergabung dengan Dea sambil fokus kearah papan tulis dimana Bu Ratih sedang mengajar.
Kringg
Bel berbunyi dan Bu Ratih pamit mengundurkan diri dari kelas.
"Makasih" ujarku pada Dea sembari menutup buku miliknya, membantu Dea memasukan buku kedalam tas.
"Sama sama" balas Dea ramah.
Kulihat lihat sekitar dengan canggung lantaran beberapa dari mereka sedang menatap ku. Beberapa dari mereka juga menyapa secara terang terangan. Ku balas dengan senyum tipis sembari mengangguk kecil.
"Hai Zeara! Kenalin aku Febi!" ujar seorang gadis didepanku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Ku balas uluran tangan gadis itu, "Zeara" sapaku memperkenalkan diri.
"Aku Maya!" ujar teman sebangku Febi ikut memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
"Zeara" balasku menjabat tangan Maya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk membuat perkenalan kami terhenti.
"Permisi! Ketua kelasnya ada?!" ujar perempuan dibalik pintu memanggil. Ku toleh dan kulihat siapa itu, Ayu.
"Woii Dito! Dito dipanggil tuh!" teriak seorang murid di bangku pojok depan memanggil. Ku edarkan pandangan pada seluruh kelas.
"Goblok Dito kan gak masuk, Bangs*t!" ujar teman disebelahnya berkata kasar.
Aku langsung melihat depan dan tanpa sengaja bertatapan dengan mata Ayu. Ku buang pandanganku tak lagi menatap.
"Bentar ya Ra!" Ijin Dea sambil bangkit dari kursi.
__ADS_1
Aku menatap kearah Dea yang datang menghampiri Ayu.
Keduanya nampak berbincang dan Ayu menyerahkan secarik kertas kepada Dea. Kemudian keduanya menoleh kearah ku yang membuatku heran. Aku mengernyitkan dahi mencoba menebak apa yang mereka bicarakan karena tidak terdengar.
Ayu kemudian melambaikan tangan dan terlihat Dea mengucapkan terima kasih.
Dea berdiri di depan kelas.
"Teman teman! Seperti biasa kita ada tugas dari Pak Sarman dan nanti dikumpulkan setelah kelas berakhir" ujar Dea menginfokan. Terlihat seisi kelas mendesah karena tidak suka.
"Lagi? Pak Sarman ini ngeselin lama lama. Masa baru kemarin nerangin besoknya langsung dikasih tugas" keluh seorang siswa dikelas yang ku tak tahu namanya.
Aku hanya bisa diam mendengarkan keluh dari sebagian siswa yang ada di kelas.
"Sekertaris tolong tulis dipapan ya!" ujar Dea menyerahkan selembar kertas itu pada seorang gadis dibangku depan dan gadis di depan itu menerima. Ia mulai bangkit dan menulis dipapan.
'Kok ribet banget?' batinku.
Ku tepuk pundak Febi yang ada di depanku.
"Em itu kenapa gak di share di handphone aja! Bukannya kalau ditulis dipapan bakal menyita waktu ya?" tanyaku berpendapat.
"Ah Zeara baru pindah kesini ya" serunya. Aku mengangguk.
"Disini guru membiasakan aturan tidak boleh bermain handphone selama pelajaran! Jadi ketika pelajaran dimulai, handphone harus dikumpulkan dulu. Akhirnya kayak gini deh! Ada salah satu yang turun tangan nulis dipapan" ujar Febi menjelaskan.
Aku hanya bisa merengut sambil mengangguk angguk kepala paham.
Ku ambil satu buku yang ada di tas mulai menulis mengikuti apa yang tercoreng dipapan.
Hingga bel berbunyi...
Kringgg ....
"Ayo semua kumpulkan kumpulkan" ujar Dea di depan menagih.
"Tunggu sebentar ah De! Gue masih belum selesai nih" ujar seorang pria di bangku depan.
Aku hanya bisa menatap kearah mereka yang sekarang seperti segerombolan semut yang sedang mengitari satu buku, yup buku ku.
"Zeara makasih ya contekannya" ujar Febi dan Maya dibangku depan.
"Sama sama" balasku.
Ku lihat beberapa murid yang sudah keluar kelas hendak istirahat. Ku tatap kembali Dea yang sedang berada di bangku depan menunggu buku yang hendak dikumpulkan.
"Udah ah buruan sini!" tutur Dea geram pada gerombolan pria itu.
"Bentar bentar tinggal satu nomer" ujar mereka lagi.
Dea nampak dengan sabar menunggu, dan akhirnya, mereka selesai. Ku perhatikan Dea dengan wajah kesal mulai menumpuk buku yang sudah selesai.
"Zeara! Ayo istirahat bareng" ajak Febi membuatku menoleh.
Aku menggeleng padanya, "Kalian duluan aja! Aku nggak istirahat" jawabku menolak dengan halus.
"Yakin?" tanyanya lagi.
"Iya" jawabku mantap.
"Ohw gitu! Oke, ayo May ke kantin" ajak Febi pada kawan disampingnya.
Aku melihat beberapa murid yang sudah keluar kelas.
"Zeara! Kamu nggak ke kantin?" tanya Dea menghampiri ku.
Aku menggelengkan kepala, "Oh ikut aku yuk! Nganterin buku ke ruang guru. Mau nggak?" tanya Dea mengajak.
"Oke" balasku tanpa pikir panjang.
Aku membawa sebagian buku dan sebagiannya lagi dibawa oleh Dea.
"Kamu duluan" ujarku pada Dea.
__ADS_1
Dea berjalan dan aku mengikuti disampingnya. Ku lihat suasana sekolah yang begitu ramai.
Hingga akhirnya kami sampai diruang guru.
Dea mengetuk pintu dengan sopan dan membuka hendel dengan satu tangan, mendorong pintu dengan bahu agar pintu terbuka lebar.
"Permisi Pak Bu!" ujar Dea dengan sopan.
"Permisi" sapaku.
Dea menatap kearah ku mengisyaratkan diriku untuk ikut masuk. Ku ikuti langkah Dea ke sebuah meja yang nampak penuh dengan buku dan dokumen.
"Taruh sini aja Ra!" ujar Dea meletakan buku di atas Meja. Ku ikuti keinginan Dea ikut meletakannya diatas meja.
Setelah semuanya selesai, kemudian ku ikuti Dea keluar ruangan, menunduk dengan sopan ketika menutup pintu ruangan.
"Makasih ya Ra untuk bantuannya hari ini" ujar Dea padaku.
"Sama sama" jawabku singkat.
Ku berdiam diri di tempat.
"Mau balik ke kelas sekarang? Atau mau ke kantin?" tanya Dea sembari menunjukkan arah.
"Nggak usah! Kamu pergi aja ke kantin. Aku mau keliling sekolah bentar" ujarku menjawab.
"Oh! Mau aku temenin?" tanyanya lagi.
"Nggak perlu, aku bisa sendiri" jawabku menolak sembari memberi senyum manis agar tidak terkesan seperti aku menghindar.
"Ohw kalau gitu aku duluan ya Ra! Jangan lama lama kelilingnya, istirahatnya cuma 1 jam" ujar Dea memperingatkan.
"Oke makasih" balasku.
Dea meninggalkan aku sendirian dan aku melihat kesekitar.
"Mulai dari mana aku sekarang" ujarku menatap sekitar.
Aku mulai berjalan tak tahu arah melewati lorong demi lorong dari lantai satu hingga lantai selanjutnya. Menghafalkan setiap detail sekolah.
Sekarang aku berjalan kearah lantai 3, lantai paling atas. Aku berjalan dari ujung ke ujung dan tak menemukan ada yang spesial.
Ku buka pintu terakhir setelah lantai 3 yaitu rooftop dan hasilnya terkunci. Ku Hela nafas karena aku tak mendapat tempat persembunyian jika kedepannya bel berbunyi.
Tak ingin mencari teman masih berada dalam benak ku. Aku tak ingin terlalu membuka diri disini karena bisa saja aku keceplosan dan membuat diriku ketahuan. Aku hanya mengantisipasi.
Aku kembali turun dari tangga dan menoleh ke sekitar saat aku kembali menjejakkan kaki di lantai 3.
Ku tolehkan pandangan melihat ada ruangan disamping tangga.
'Sepertinya aku melewatkan ruangan ini" ujar ku berdiri tepat didepan pintu.
Ku buka pintu ruangan itu, tidak terkunci. Ku langkahkan kaki masuk kedalam.
'Ruangan musik' begitulah aku mendeskripsikannya. Karena didalamnya ada dua gitar, sebuah keyboard dan drum besar yang diletakan di pojok plus dengan speaker di sampingnya.
"Apa ini ruangan musik ya?" tanyaku bergumam sambil duduk di sofa yang ada disana.
Ku dudukan diriku di sofa dan mengambil salah satu gitar.
Trengg
Suara gitar nampak sumbang. Ku stem senar gitar terlebih dulu hingga mendapatkan suara yang kuinginkan.
Jrengg
Ku ulas senyum dibibir ku dan mulai memetik senar gitar dan menyanyikan beberapa lagu yang ku ingat.
Hingga waktu berjalan terasa singkat. Aku bangkit dan kembali meletakan gitar di tempat semula.
Ku langkahkan kakiku meninggalkan ruangan, 'Tempat yang bagus' batinku menyukainya.
Akan ku jadikan tempat ini sebagai tempat rahasiaku di sekolah ini.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ