
Keduanya selesai dan Arka bangkit untuk membayar pesanan mereka. Zea mengikuti Arka dari belakang.
Setelah itu, keduanya pergi dari warung tenda menuju ke arah mobil yang terparkir di tepi jalan.
"Kenyang Ze?" tanya Arka sembari memasang seat belt ke tubuhnya.
Zea mengangguk dengan malasnya. Ia benar-benar dibuat kekenyangan oleh masakan diwarung tenda itu.
Arka menyalakan mesin mobil, lalu membawa dirinya dan Zea pergi dari warung tenda itu.
"Mau kemana kali ini bang?" tanya Zea penasaran kemana lagi Arka mau membawa Zea pergi.
"Nggak kemana mana! Cari angin bentar sambil lihat lihat jalan, habis itu pulang" jawab Arka.
"Ohh" Zea ber-oh ria.
Zea melihat kearah jendela kaca sambil melihat kearah luar yang sudah berganti suasana. Langit mulai menggelap.
'Semoga hari ini berlalu dengan tenang dan tidak ada kejadian saling bertemu dijalan!' batin Zea seketika terlintas begitu saja. Ia mendadak memiliki pikiran buruk karena ia tak bisa membayangkan jika nantinya Arka dan Alvin bertemu.
"Zea" panggil Arka.
"Hm iya bang?" Zea menoleh dan menjawab.
"Dia udah gak gangguin kamu lagi kan?" tanya Arka tiba tiba membuat dahi Zea mengernyit.
"Abang kok tiba-tiba tanya gitu!" seru Zea tak mengerti kenapa abangnya bisa berfikir sampai kesana.
Apa jangan jangan abangnya itu melihat keberadaan Alvin disekitar sini? Tapi itu tidak terlalu realistis melihat kearah mana abangnya itu menyentir karena Zea sengaja menutun Arka untuk berlawanan dengan letak apartemen Alvin berada.
"Nggak Abang cuma penasaran aja! Siapa tahu dia ada hubungi kamu atau cari kamu gitu. Abang khawatir! Khawatir kamu bakal terbujuk kembali melihat betapa liciknya dia" ujar Arka membuat Zea membisu.
Zea tak bisa membalas apa apa akan perkataan yang Arka ucapkan.
Ia tiba-tiba menjadi sedikit cemas akan apa yang terjadi nantinya.
Perkataan Arka membuat mental Zea down. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan pada keluarganya bahwa ia menyerah setelah apa yang keluarganya lakukan untuk membuat ia menjauh dari Alvin.
"Nggak ada hal seperti itu!" jawab Zea berbohong.
Skipp..
Beberapa hari sudah berlalu dan Arka masih berada di rumah karena sedang liburan semester. Kali ini Zea mencoba mencuri curi waktu untuk bisa bertemu dengan Alvin.
Zea berada di apartemen Alvin dengan kondisi melamun. Setiap ucapan yang Arka katakan di mobil saat itu selalu terlintas dipikiran Zea.
__ADS_1
"Sedang mikirin apa?" tanya Alvin membuat Zea tersadar.
Zea menoleh kearah pria itu, lantas ia menggeleng.
"Bukan apa apa!" jawab Zea mengalihkan perhatian.
Ia kembali ke apartemen setelah 2 Minggu berlalu.
Alvin menempel padanya dengan perasaan senang. Hari ini raut wajah Alvin jauh lebih bagus dari pada sebelumnya yang terlihat pucat dan lemas.
"Kamu sedang senang?" tanya Zea penasaran.
"Yup! Proyek yang ku kerjakan waktu itu berhasil dengan sukses!" jawab Alvin membuat Zea berseru. Ia tak peduli dengan urusan perusahaan keluarga Alvin yang tak ada hubungannya dengan dia.
"Em kamu mau sesuatu? Aku bisa belikan apapun yang kamu mau sebagai tanda keberhasilan ku" tanya Alvin dengan antusias pada Zea.
Zea menggeleng dan menolak, "Gak perlu! Terlalu merepotkan" jawab Zea dengan nada cuek.
"Ohw!" Alvin seketika berwajah muram.
Ia duduk di samping Zea, sambil bersandar di pundak gadis itu sedangkan Zea menonton televisi didepannya. Alvin menjadi lebih manja kali ini semenjak Zea merawatnya dengan penuh perhatian waktu itu.
"Al!" panggil Zea pada pria itu.
Alvin menatap dan mendongak, "Maaf, Hari ini aku gak bisa nemenin kamu sampai sore! Aku ada urusan siang ini, jadi sebelum jam 1 aku harus pulang" ujar Zea dengan suara lembut.
"Hari ini aku ada kerja kelompok! Maaf seharusnya aku bilang dari awal agar kamu tak sia sia datang kesini. Tapi.." ucapan Zea terputus.
"Aku tahu, aku paham! Kalau gitu pergilah!" ujar Alvin mengijinkan. Ia bangkit dari bersandar pada Zea.
Zea sedikit tidak yakin dengan jawaban pria itu, "Beneran? Kamu ijinin?" tanya Zea memastikan.
"Tentu! Udah sana, teman teman kamu pasti udah pada nunggu kan" jawab Alvin dengan ramah.
Alvin mengambil tas Zea untuk gadis itu bawa dan menuntun Zea pergi hingga Zea masuk kedalam mobil dan meninggalkan gedung apartemen yang ia tempati.
Joe dengan senang tiasa berada di belakang Alvin.
"Anda membiarkannya pergi begitu saja tuan?" tanya Joe merasa apa yang dilakukan Alvin merupakan kebalikan dari apa yang biasa pria itu buat.
"Tentu! Hal ini terjadi karena gue yang kurang perhatian hingga dia punya alasan untuk pergi. Dia juga tak ada pilihan karena ini tugas yang harus dia kerjakan. Seperti gue yang waktu itu harus mengerjakan pekerjaan kantor, walau tau Zea disamping gue! Sudahlah! Mari anggap hal ini sebagai balasan karena ia sudah berbuat baik waktu itu!" ujar Alvin menjelaskan secara panjang tentang perbuatan yang ia lakukan sekarang.
"Saya mengerti" Joe mengangguk paham.
"Ayo masuk! Gue mau istirahat sebentar" ujar Alvin.
__ADS_1
Alvin dan Joe kemudian kembali masuk kedalam gedung apartemen untuk beristirahat sembari menunggu jadwal kepulangan mereka.
...****************...
Zea mengendarai mobilnya dengan sedikit cepat. Ia tak berbohong ketika ia mengatakan ada kerja kelompok.
Guru emang menugaskan kelasnya untuk melakukan tugas bersama dihari hari sebelumnya.
Zea membelokkan mobilnya kearah toko peralatan sekolah. Sebelumnya ia memang berencana untuk pergi ke kota guna membeli bahan bahan yang ia perlukan.
Zea masuk kedalam dan memilih sekiranya yang ia butuhkan. Beberapa lembar karton beserta spidol dengan beberapa alat lain yang mungkin saja berguna.
Zea membawa barang yang ia bawa ke mobil. Ia membuka pintu tengah mobil, meletakannya disana. Kemudian Zea menutupnya dan beralih ke pintu kemudi.
Mobil Zea keluar dari parkiran toko dan ia melaju pulang kerumah karena kerja kelompok kali ini akan berlangsung dirumahnya.
Zea sampai didepan rumah. Mobilnya berhenti tepat didepan garasi. Ia mematikan mesin mobil dan membuka kembali pintu tengah.
"Zea!!" panggil Ayu keluar dari rumahnya.
Ayu bergegas mendekat, membantu Zea membawa barang barang yang tersisa. Ayu sudah menganggap rumah Zea seperti rumahnya sendiri dan Zea juga keluarganya menerima itu. Jadi ketika teman teman lainnya datang, Zea tak perlu segan meninggalkan mereka, Ayu akan mengurusnya. Dan Zea tak keberatan, ia bisa tenang meninggalkan rumahnya ditangan Ayu.
"Udah lama Yu?" tanya Zea sembari berjalan masuk kedalam rumah.
"Nggak! Baru kok, lagian kita juga senang bisa ngobrol ngobrol sama abangmu" ujar Ayu membuat Zea sedikit cemas.
"Abang sama kalian?!" tanya Zea. Ayu mengangguk sebagai jawaban.
"Em kalian gak bilang apa apa kan soal cowok yang kutemui waktu itu?" bisik Zea ditelinga Ayu.
"Nggak kok! Tenang, Rahasia semua aman terkendali" jawab Ayu membuat Zea bernafas lega.
"Makasih" ujar Zea tersenyum.
"Sama sama" Ayu membalas senyumannya.
Kemudian, Zea dan Ayu masuk kedalam rumah disambut teman temannya yang terdiri dari 5 orang termasuk dirinya dan Ayu, juga ada abangnya disana.
"Maaf lama" ujar Zea mendekat pada mereka.
"Nah ini dia anaknya udah pulang! Kalau gitu gue tinggal ke kamar ya. Zea layani dengan baik teman teman kamu, Abang mau lanjut kemas kemas dulu" ujar Arka mengkode pada Zea agar berprilaku baik dihadapan teman teman barunya.
"Iya Bang!" jawab Zea mengerti.
Zea ikut bergabung dengan mereka, meletakan barang barang yang ia bawa di tengah tengah mereka. Dapat dilihat di meja, teman temannya itu tak hanya bergurau saat berbicara dengan Arka. Nampak dibuku mereka terlihat beberapa coretan hasil rangkuman mereka.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ