My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
150. Kembali terluka


__ADS_3

"Ha-ha-ha! Mau kemana kau? Vini oh Vini! Begitukah kau dipanggil?!" ujar sang penjaga dengan sempoyongan berjalan mendekat.


Vini menoleh kebelakang melihat penjaga itu layaknya Zombie yang pernah ia lihat di film film.


"Jangan mendekat!" ujar Vini siaga, ia menoleh ke kanan kiri mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa ia gunakan sebagai tameng.


Vini menoleh ke kanan, ia melihat sebuah kursi yang biasa digunakan penjaga itu sebagai tempat duduk.


Grepp!


"Mau kemana kau!" ujar sang penjaga berhasil memegang tangan Vini yang hendak pergi.


"Lepas!" tutur Vini berusaha melarikan diri.


Penjaga itu tersenyum miring.


Brakk


Tubuh kecil Vini terlempar ke lantai membuat Vini kesakitan. Kedua mata Vini mulai berair meneteskan air mata saat tubuhnya terus mendapat luka tendangan dari sang penjaga.


"Dasar keturunan Immanuel sialan!"


"Egois!"


"Suka memandang orang rendah!"


"Bajingan keji!"


"Pengekang!"


"Bangsat berhati dingin!'


"Jerk!"


"Rasakan ini! Rasakan! Rasakan! Rasakan!" tutur sang penjaga melampiaskan amarahnya pada Vini kecil yang kini dengan mata terbuka menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Huftt huftt hufftt" penjaga itu menghela nafas, menyudahi pelampiasan amarahnya. Kini ia berjongkok tepat di depan tubuh Alvin yang terbujur lemah dan tak berdaya.


"Kalian itu keluarga dari keturunan bajingan! Ingat itu Vini! Kau itu bajingan berhati dingin!" tekan sang penjaga sembari berbisik tepat di telinga Vini sebelum Vini kehilangan kesadaran.


Kali ini penyiksaan yang Vini dapatkan lebih parah dari apa yang pernah ia terima beberapa hari lalu. Vini dan Joe sama sama tergelek lemah di lantai. Bahkan suara rintihan pun tidak terdengar karena keduanya pingsan.


Penjaga yang menyudahi aksinya membuang nafas kasar, menatap kearah langit langit penjaga.


"Ah! Sial!" umpat sang penjaga seketika tersadar bahwa ia terlalu berlebihan kepada dua bocah di depannya itu.


"****! Gue udah gila! Mampus gue kalau bos tau!" racau sang penjaga gelisah.


Ia bergerak mengecek kondisi keduanya.


"Untung masih bernafas" ujarnya.


Dengan tergesah gesah ia meletakan Vini dan Joe di pojokan penjara. Kemudian ia membuka pintu penjara, mengintip ke luar pintu dengan berjaga jaga. Beruntungnya, Vini tidak mencoba membuka pintu penjara yang sempat lupa ia kunci, membuat dengan mudah ia menangkap Vini yang hendak memanggil bantuan.


"Untung ia gak sempat buka nih pintu! Lain kali gue gak boleh ceroboh kayak gini lagi!" gumam sang penjaga.


Dengan buru buru ia keluar dari penjara hendak menemui dokter yang sebelumnya di tugaskan.


Cklekk..


"Ada apa kau kemari?" tanya sang dokter.


Penjaga itu menatap sang dokter dengan ragu ragu.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya dokter itu menebak nebak.

__ADS_1


"Em! Sebaiknya anda ikut saya, anda akan tau setelah sampai disana!" ujar sang penjaga berbicara formal dengan terburu-buru.


Dokter itu penasaran akan apa yang terjadi. Ia mengangguk dan bangkit, pergi mengikuti penjaga itu keruangan dimana kedua bocah itu dikurung.


Pintu terbuka menampilkan suasana gelap remang remang dengan pencahayaan yang minim.


Sang dokter menatap ke sekujur ruangan dimana kedua bocah yang selalu ada diruangan itu kini sedang terbaring di pojok ruangan.


Dokter itu mendekat, "****!" umpat sang dokter kemudian menoleh kearah penjaga keduanya.


"Apa kau gila?" tanya sang dokter sambil mencengkram kerah pakaian sang penjaga erat.


Penjaga itu membuang muka, mengalihkan pandangannya tak berani bersuara.


"Apa yang kau lakukan hingga keduanya seperti ini, Ha?" tanya sang dokter kembali mengeratkan cengkraman.


"Itu, itu salah bocah Immanuel itu! Dia yang memperfokasi lebih dahulu!" ujar sang penjaga membela diri dengan perasaan cemas menujuk kearah Vini.


Dokter itu mengawasi raut wajah sang penjaga yang tak berani menatapnya balik.


"Cih!" dokter itu melepaskan cengkraman, mendorong tubuh sang penjaga pelan hingga sedikit terjungal kebelakang.


"Seharusnya kau bisa mengontrol emosimu! Bisa bisanya kau terprovokasi oleh anak kecil sepertinya!" ujar sang dokter kembali mendekat kearah Vini dan Joe.


"Saya tau! Tapi saat mengetahui identitasnya saya tak bisa menahan diri untuk tidak menyiksanya. Anda tau kan! Seberapa benci semua orang disini pada keluarga bocah itu!" tutur sang penjaga.


"Tapi setidaknya kau harus mengontrol emosimu agar tidak keblablasan seperti ini. Bagaimana jika bos tau?" tanya sang dokter.


"Ah tidak! Tolong jangan kasih tau bos! Aku akan membayarmu lebih jika kau membantuku!" mohon sang penjaga panik.


Sang dokter menatap kedua bocah di hadapannya. Mencoba melakukan pemeriksaan di sekujur tubuh keduanya.


"Sebenernya aku tidak mau menanggung resiko!" ujar sang dokter dengan telaten memeriksa keduanya.


"Ada apa? Apakah kurang? Kalau begitu 3 kali lipat!" tutur sang penjaga, namun sang dokter masih diam.


"Oke! Empat kali lipat! Aku tak bisa lebih tinggi lagi!" lanjutnya.


"Dari mana kau dapat uang sebanyak itu?" tanya sang dokter.


"Tentu saja dari tabungan saya! Lagian Apakah itu penting bagi anda dok? anda kam hanya harus melakukan apa yang aku inginkan dokter, dan aku akan memberikan uang itu. Bukankah kau membutuhkannya untuk biaya pengobatan anak mu? Itu sebabnya kau bekerja disini kan?!" ujar sang penjaga semakin membuat dokter itu heran. Walaupun pria itu menabung, tetap saja! Gajinya itu tergolong besar. Apalagi yang ia tahu! Semua penjaga yang bekerja pada si bos itu, memiliki hutang dengan bos yang mengharuskan mereka menyerahkan uang gaji mereka lebih dulu untuk membayar hutang.


Tak hanya itu! informasi pribadi mengenai bagaimana orang orang dapat bekerja pada sang bos itu adalah semacam hal privasi yang di jaga di tempat itu. Dan tak ada yang tau kecuali orang orang yang dipercaya oleh sang bos. Namun, bagaimana seorang penjaga biasa bisa tau akan hal itu?


"Bagaimana? Kau setuju atau tidak? Kalau setuju cepat lakukan! Keburu keduanya sekarat nanti! Bisa bisa kita yang akan kena masalah" tutur sang penjaga gelisah.


"Oke akan saya lakukan! Tapi tepati janjimu untuk memberikan uang itu!" jawab sang dokter.


"Oke, deal?!" penjaga mengulurkan tangan.


"Deal!" balas sang dokter menjabat tangan sang penjaga dengan mantap.


"Udah kita tak memiliki banyak waktu! Segera bawa dua bocah menyusahkan ini ke ruanganmu! Anda bawa bocah biadap itu, aku akan membawa Joe!" tutur sang penjaga.


Dokter mengangguk dan segera membawa Vini dengan hati hati. Mereka lalu pergi ke ruangan sang dokter yang di lengkapi fasilitas kedokteran yang siap untuk segala keadaan dengan memperhatikan sekitar, siapa tau ada yang melihat aksi keduanya.


"Kau taruh Joe di ranjang sana dulu! Dan aku akan merawat dia dulu! Karena dia lebih parah!" ujar sang dokter.


"Baiklah" jawabnya melakukan apa yang dokter perintah.


"Kemudian aku akan menunggu diluar!" lanjut sang penjaga menoleh ke sang dokter yang mengangguk, sebelum meninggalkan dokter yang mulai berkutat dengan pekerjaannya.


Penjaga itu duduk sambil menunggu disalah satu sofa dengan perasaan cemas.


Hingga seseorang datang membuat sang penjaga bangkit, menatap kearah pria yang datang dengan kedua alis yang menekuk.

__ADS_1


"Siapa lo? Ada urusan apa kesini?" tanya penjaga waspada.


"Ah! Itu! Dokter menyuruh saya kesini untuk membantu. Katanya ada keadaan darurat" jawab pria itu dengan gugup, menunjuk kedalam ruangan.


Sontak hal itu membuat sang penjaga menoleh, kearah ruangan dimana kedua bocah itu dirawat ole sang dokter.


"Tunggu disini! Biar saya konfirmasi" tutur sang penjaga diangguki oleh pria itu.


Cklekk...


Penjaga itu masuk kedalam ruangan perawatan.


"Apa maksud anda memanggil orang lain?!" tanya penjaga itu dengan amarah. Padahal ia tak ingin orang lain tahu, tapi bisa bisanya dokter itu memanggil orang lain.


Sang dokter tak menoleh karena fokus pada tubuh Vini yang terbaring.


"Tolong jangan ganggu pengobatan! saya memanggilnya untuk membantu! karena luka yang kau sebabkan padanya sangat parah dan saya butuh bantuan" tekan sang dokter membuat penjaga itu bungkam.


"Meski begitu! Bagaimana jika dia membeberkan semuanya?" tanya sang penjaga kalut masih tak terima. Sang dokter menoleh.


"Hah! Anda tak perlu khawatir Tuan Fred! Dia orang kepercayaan ku! Terus bisakah anda segera keluar sekarang? Anda membutuhkan saya untuk mengobatinya namun anda terlalu berisik! Saya butuh suasana yang tenang untuk pengobatan. Juga saya ingin ruangan ini tetap steril! Bisakah anda mengerti?" ujar sang dokter geram karena penjaga itu seakan menunda nunda waktu.


Penjaga itu menatap sang dokter waspada.


"Oke saya keluar! semoga apa yang anda ucapkan itu benar bahwa ia bisa di percaya! Kalau begitu segera selesaikan pengobatan, saya akan berjaga jaga dengan menunggu di luar!" ujar penjaga itu mulai keluar keluar digantikan oleh pria yang kini menjad asisten sang dokter.


"Huft!" sang dokter menghela nafas melihat bagaimana frustasinya dia akan kondisi tubuh Vini kecil yang terbilang mengenaskan.


Apalagi kini ia belum mengecek kondisi Joe sama sekali. Melihat keduanya, mengingatkannya akan sang putri yang kini juga terbaring di rumah sakit.


Hingga hampir 4 jam berlalu tapi dokter itu masih belum keluar juga.


"Lama sekali sih!" tutur sang penjaga mulai geram dan tak sabaran.


Cklekk..


Akhir yang di tunggu tunggu pun tiba. Dokter itu keluar dengan pemuda yang menjadi asistennya.


"Saya permisi dok!" ujar pria yang menjadi asistennya itu menunduk.


"Silahkan! Kerja bagus untukmu" jawab sang dokter menepuk pundak orang yang menjadi asistennya itu.


Asistennya itu menunduk ke arah sang penjaga dan pergi meninggalkan keduanya.


Penjaga itu acuh, manatap kearah sang dokter.


"Bagaimana?" tanyanya.


Sang dokter menatap penjaga itu dengan sinis.


"Luka keduanya cukup parah! Apa lagi bocah itu, tulang rusuknya patah! tapi untung tidak sampai melukai organ, tapi masih harus diawasi. Lalu Joe_!"


"Sudah cukup! Aku tak peduli dengannya! Yang penting keduanya baik baik saja kan?" potong sang penjaga.


"Ya! Mereka baik baik saja" jawab sang dokter datar.


"Oh ya kalau begitu! Kapan keduanya bisa segera kembali lagi ke penjara?" lanjut sang penjaga bertanya tanya.


"Itu tak mungkin! Mereka memerlukan beberapa hari lagi untuk sembuh, dan itu tak bisa di pastikan. Lebih baik kau segera mencari alasan apa yang tepat untuk menceritakan kondisi ini pada bos" tutur sang dokter menasehati.


"Cik! Dasar merepotkan" umpat sang penjaga kesal dengan keadaan yang harus ia hadapi sekarang.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2