
Waktu terus berjalan. Zea secara bertahap menyelesaikan makan paginya. Ia menoleh melihat jam dinding yang ada dicafe lalu menoleh pada Alvin yang masih dalam posisi semula.
Bahu Zea sudah terasa kebas karena terlalu lama berada di posisi ini. Tapi Alvin bahkan tak lagi bergerak karena terlalu nyaman.
Hingga Zea merasakan nyeri dibahunya karena terlalu lama menahan beban kepala Alvin.
Zea bergerak kesamping hingga hampir tanpa sengaja membuat kepala Alvin tersungkur kebawah, untung saja Zea dengan sigap menahannya. Niat awalnya adalah ia bergerak pelan kesamping agar Alvin dapat berpindah tidur ke pahanya namun ternyata ia terlalu keras saat bergeser.
Atas kejadian tadi rupanya Alvin terbangun.
"Maaf!" ujar Zea merasa bersalah karena membangunkan tidur pria itu.
Alvin dengan mata sayu melihat keadaan sekitar, ia sadar bahwa ia terlalu lama tidur hingga membuat Zea tak nyaman.
"Maaf aku ketiduran! Kenapa gak bangunin aku?" ujar Alvin memandang gadis itu sambil bersandar disanggah kursi untuk mengumpulkan nyawa.
Zea menatap pria itu yang tetap tampan walau baru bangun tidur.
"Permisi, saya ijin mau membersihkan meja" ujar pegawai cafe kembali datang untuk membersihkan meja bekas makan pagi Zea.
"Silahkan!" seru Zea membalas. Pegawai itu melaksanakan tugasnya.
Alvin seketika sadar bahwa gadis itu bahkan sudah sarapan pagi.
Setelah pegawai itu selesai, ia memandang kearah Alvin.
"Kekasihmu sudah menunggu sedari tadi tuan, ia bahkan takut bergerak karena sepertinya tak ingin membangunkan Anda!" ujar pegawai itu mengadu pada Alvin, lalu ia meninggalkan tempat.
__ADS_1
Alvin menatap Zea, "Benar begitu?" tanya Alvin memastikan. Dengan teliti ia memandang raut wajah Zea yang nampak lesu dan lelah.
"Ayo kembali ke hotel!" ujar Alvin bangkit lalu mengulurkan tangan untuk Zea.
"Eh kamu gak mau sarapan dulu, kita bisa pergi setelah kamu breakfast!" ujar Zea menahan Alvin agar makan pagi lebih dulu.
Alvin meraih tangan Zea, "Aku bisa sarapan sendiri nanti, Ayo aku antar ke hotel. Kamu terlihat lelah" ujar Alvin dengan sedikit tenaga menarik Zea yang lemas untuk bangun.
Zea benar benar letih dan butuh istirahat.
Alvin memegang satu tangan Zea, lalu berbalik dan berjongkok membelakangi tubuh Zea.
"Ayo naik!" ujar Alvin dengan menarik pelan dengan tenaga, tangan yang Zea genggam. Membuat Zea bergerak.
"Kenap diam aja? Ayo! Atau mau aku gendong depan?" ujar Alvin dengan sedikit ancaman.
Zea naik ke punggung Alvin dengan tangan Alvin yang berada diantara kakinya menggendongnya dengan rasa tanpa beban. Zea mengalungkan tangannya ke leher Alvin sebagai sanggahan.
Alvin merasa Zea sudah siap mulai berjalan meninggalkan cafe.
"Al, Apa aku tidak berat?" tanya Zea tepat disamping muka Alvin.
"Oh! Aku tak menyadari. Bentar aku rasakan!" ujar Alvin membenarkan posisi dalam menggendong Zea, membuat Zea memeluk Alvin lebih erat karena tak ingin jatuh.
"Gimana?" tanya Zea seperti menunggu jawaban.
"Untukku berat tidak masalah. Tapi sepertinya dari pada dulu, sekarang berat badanmu bertambah Ze! Aku bisa merasakannya" ujar Alvin dengan nada menggoda.
__ADS_1
Zea seketika membelak, "Apa?!" seru Zea tak percaya.
Tuk
Zea mengetuk atas kepala Alvin dengan kepalan tangannya.
"Apa kamu tidak tahu. Pembicaraan berat badan itu adalah hal yang tabu untuk wanita!" lanjut Zea mendengus kesal.
Alvin hanya bisa tersenyum tipis saat Zea mengamuk padanya. Ia tak bisa berbuat apa apa.
Hingga suasananya terasa hening dan Alvin dapat merasakan suara nafas beserta dengkuran halus di samping wajahnya. Alvin tak bisa menoleh karena terhalang. Tapi ia tahu bahwa kini gadisnya itu sedang tertidur lelap dalam beberapa detik saja.
Langkah kaki Alvin terus berjalan hingga mereka sambil di hotel. Alvin membawa Zea naik ke kamar yang Zea dan kawan kawannya itu pesan. Untuk hal seperti ini ia sedikit kesulitan dalam mengetuk pintu, namun ia berhasil hingga orang yang berada didalam kamar itu membukakan pintu.
"Siapa?" tanya orang itu dalam keadaan setengah bangun menatap siapa yang mengetuk pintu.
"Oh masuk!" ujar Keyla tak heran lagi jika hal ini bisa terjadi.
Keyla membuka pintu dan membiarkan Alvin dengan Zea yang berada dalam gendongannya masuk.
Alvin melihat lingkungan sekitar ruangan yang Zea dan kawannya itu tempati.
"Jangan heran! Ini bukan salah Zea. Jadi Lo tenang aja kalau nantinya bakal mikirin Zea yang berantakin rumah lo karena itu tak akan terjadi" seru Keyla memaparkan sambil membereskan barang-barang Icha yang berserakan dikasur untuk Zea tiduri.
Alvin hanya bisa menghela nafas lalu meletakan Zea yang semula berada dipunggungnya untuk tidur dikasur sembari mendengarkan apa yang saja yang perlu dibutuhkan lagi.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ