
Pada malam larut yang gelap itu, Arka masih belum bisa tidur. Ia menghisap asap rokok dipinggiran balkon kamar. Suara handphone dinakasnya tiba tiba berdering. Ia menghentikan aktivitas merokoknya mengambil handphonenya dinakas. Arka yang menerima panggilan membelak ketika mendapat kabar dari Alvin, bahwa pria itu melihat keberadaan Zion dan kini sedang mengikuti pria itu.
"Oke oke gue kesana, lo jangan bertindak gegabah!" ujar Arka mematikan panggilan.
Saat itu juga Arka langsung mengambil jaketnya juga kunci motornya dan langsung menuju kebawah. Ia bergegas memberitahukan hal ini kepada kedua orangtuanya.
"Ma, Pa, Alvin nemuin keberadaan Zion" ucap Arka tergesa gesa membuat keduanya membelak tak percaya.
"Pa!" desir Mama Tia.
"Oke tenang, papa telpon detektif suruhan papa dan polisi dulu! Habis itu kita bergegas kesana" ucap Papa Hendra.
"Arka takut kita kehilangan petunjuk pa, Arka akan kesana dulu. Nanti papa sama Mama nyusul!" ujar Arka.
"Abang duluan!" lanjutnya langsung pergi meninggalkan keduanya.
"Arka!" panggil Papa Hendra melihat kepergian putranya lebih dahulu.
Arka keluar rumah sambil berjalan cepat menuju garasi. Ia mengeluarkan handphonenya disaku kembali menelpon Alvin dan Alvin yang berada dimotor mengangkat panggilan itu.
"Al, share loc keberadaan lo ke Mama Papa sekarang! Gue berangkat duluan. Mama papa akan menyusul sama polisi dan detektif suruhannya" ucap Bang Arka tanpa basa basi saat panggilan tersambung.
"Oke bang!" jawab Alvin langsung mematikan panggilan.
Alvin melakukan apa yang disuruh. Ia menshare keberadaannya bukan ke nomor mama papa Zea secara pribadi melainkan ke grub dimana disitu ada Icha dan juga Keyla. Setelah itu ia langsung menuju ke tempat dimana ia akan melanjutkan aksinya.
Setelah perjalanan beberapa menit. Arka memberhentikan motornya di depan tempat yang suasananya hampir sama persis ketika Zion pertama kali menyekap Zea. Ia menggeram marah karena adiknya kembali merasakan hal yang menderita seperti dulu. Sebuah mobil tiba dibelakang Arka.
"Bang Arka!" teriak Keyla dan Icha memanggil dari jendela mobil, membuat bang Arka menoleh.
"Kalian kok ada disini?" tanyanya.
"Alvin share loc ke grup bang, terus nyokap lo kasih tau kalau Alvin nemuin keberadaan Zion. Jadinya kita langsung nyusul kesini!" jelas Keyla.
"Ohw, terus mereka siapa?" tanya Bang Arka melihat beberapa pria yang ada didalam mobil kedua gadis itu.
"Mahluk gaib bang!" jawab Icha cuek karena masih dongkol dengan empat pemuda yang mengikutinya.
"Eh enak aja lo kutu kupret, ngatain gue mahluk gaib. Harusnya lu itu bersyukur bisa ditemenin cowok seganteng gue" sungut Satya yang dikursi kemudi menoleh pada Icha yang ada dibelakang.
"Lagian lo tuh cewek dan ini udah malem, kalau ada orang jahatin lo gimana? Bukannya bilang makasih, malah ngatain, gue juga kagak mau kele nemenin lo!" lanjutnya
__ADS_1
"Yaudah pergi sana, gue juga kagak butuh lo temenin!" usir Icha.
"Kalau bukan karena mami sama bunda yang nyuruh gue buat ikut dan jagain lo, gue juga kagak mau pergi nemenin lo! Harusnya tuh gue yang marah sama lo, karena waktu gue sama temen temen gue keganggu buat ngurusin lo!" balas Satya.
"Lo_" geram Icha terpotong.
"Udah Cha, inget tujuan kita keluar buat cari Zea! Udah fokus, diem!" tegur Keyla.
"Dengerin tuh!" Icha bergerak maju hendak memukul Satya namun ditahan oleh Keyla.
"Cha!" ujar Keyla lagi memperingatkan, dengan jengkel Icha kembali duduk dengan tenang.
"Rasain!" ujar Satya menjulurkan lidah mengejek kearah Icha.
"Sat, udah, lo juga diem! Berisik tau gak?!" Kenan angkat bicara.
"Lo fokus nyetir aja Sat, lihat noh udah ditinggal sama cowok tadi gara gara kalian keasikan beramtem!" tutur Geo membuat semua menoleh kearah depan, menatap motor Arka yang melaju kedepan.
"Oyy sat, buruan ikutin Bang Arka!" titah Icha dan Keyla hampir berbarengan.
"Iye iye sabar, nih meluncur!"
"Zea!" Suara mereka bersautan memanggil Zea.
"Berhenti Sat!" ucap Keyla dan Icha hampir berbarengan membuat Satya menghentikan mobil. Mereka bergegas keluar dari mobil, begitu pula dengan Arka yang sudah turun dari motornya.
Arka melihat Zea yang menangis dipelukan Alvin dan tak jauh dari mereka terlihat Zion dengan wajah yang babak belur. Wajah Alvin juga terluka walau tak separah Zion.
Arka yang melihat keadaan adiknya yang menangis dalam pelukan Alvin menggeram marah. Ia tak tanggung tanggung langsung menerjang kearah Zion.
"Brengsek, sialan lo! Beraninya lo nyakitin adik gue!" teriakan kasar dari Arka dibarengi dengan hantaman ke arah wajah Zion.
Geo, Kenan, Julian, dan Satya yang melihat itu segera menuju ke Arka untuk menghentikan aksinya itu.
"Oyy Bro, anak orang bisa mati itu!" tukas Julian.
"Lepas brengsek!" umpat Arka marah karena aksinya di halangi.
Bakk
"Anjing!" pukulan Arka mengenai dada Julian membuat Julian memekik.
__ADS_1
"Pfftt!" Satya yang disampingnya menahan tawa.
"Bang Sat lo Sat, tarik bego!" cecar Julian mendelik pada Satya mengabaikan rasa sakit di dadanya.
Arka ditarik oleh keduanya dijauhkan dari Zion yang dibantu oleh Kenan dan Geo yang ikut menjauhkan Zion.
Keyla dan Icha bingung mau bagaimana, mereka awalnya ingin mendekat kearah Zea namun mendapat gelengan kepala dari Alvin, agar kedua gadis itu tidak mendekat. Mereka mengangguk menghentikan langkahnya melihat Zea yang menangis dalam pelukan Alvin.
"Bang, lihat noh adek lo!" Arka seketika tak lagi memberontak dan kembali fokus ke Zea.
Mereka melihat Zea yang menangis mengiba. Bahkan Keyla dan Icha menitihkan air mata ikut terlarut dalam kesedihan gadis itu. Geo yang tau apa yang terjadi ikut merasa kasihan, ia menyayangkan kenapa gadis itu bisa membuat keturunan Immanuel yang cuek kepada perempuan menjadi tertarik hingga melakukan hal seperti itu padanya. Walaupun ia tahu bahwa itu bukan sepenuhnya salah gadis itu.
"Lepas!" seru Arka agar Julian dan Satya melepaskan dirinya. Keduanya menarik tangan tak lagi menghalangi Arka.
Arka mendekat kearah Zea, "Ze!" panggil Arka pada adik kesayangannya itu.
Tapi Zea masih berada dalam pelukan Alvin tak menanggapi panggilan Arka membuat Arka terpukul dan terus meruntuk akan derita yang adiknya itu rasakan. Andai saja saat itu ia tidak kelelahan hingga tertidur, adiknya itu tak akan mengalami nasib seperti ini.
Tak lama kemudian beberapa mobil dengan sirene polisi datang.
"Zea, Arka!" panggil Mama Tia dan Papa Hendra berbarengan membuat mereka menoleh.
Mereka berlari menghampiri Zea dan Arka. Para polisi yang ada disana pergi menuju kearah Zion. Zea yang mendengar suara Mama dan Papanya menoleh dan pelukan Alvin terlepas membuat Zea menghambur kepada mereka.
"Hiks hiks Mama, Papa, Abang, Huaaaa!!" tangis Zea semakin kencang seakan terpukul dengan apa yang ia alami sekarang.
Papa Hendra, Mama Tia, dan Arka mendekap Zea kedalam pelukan mereka.
"Dia jahat Pa, dia Jahat Huaaaa!" keluh Zea dalam tangisnya. Mama Tia tak bisa lagi menahan tangisnya mendengar suara Zea, begitu pula dengan Papa Hendra dan Arka. Keyla dan Icha berpelukan mendengar Zea menangis dan beberapa orang disana mengiba pada Zea.
Zion yang oleng karena pukulan sedikit linglung. Ia semakin bingung akan apa yang terjadi. Bahkan kini tubuhnya yang tak berdaya dibawa polisi begitu saja. Dengan sisa sisa tenaganya ia menoleh kearah pria berkaca mata bulat yang tadi menghadangnya.
Pria itu melepaskan kacamata balik menatap Zion. Bibir pria itu tersirat seringai dan smirk puas disana. Zion yang melihat itu tertegun sebelum menunduk. Ia tertawa.
'Akhirnya gue tahu apa yang terjadi! Bodohnya gue terjebak dalam permainan yang pria itu buat' batin Zion meruntuk.
"Hahahaha, he is King!" gumam Zion tertawa kecil sebelum dimasukan kedalam mobil polisi untuk di proses lebih lanjut.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1