
Setelah menitipkan mobil dengan harga yang lumayan besar. Perjalan terus berjalan. Mereka berjalanan kaki menuju ke arah gunung.
Tak tak tak...
Hentakan kaki terus melangkah. Hampir satu jam mereka berjalan dan bagi beberapa orang seperti Zea, Icha, dan Keyla yang tak pernah mendaki gunung, ketiganya nampak kelelahan.
"Hah! Masi lama kah ini?" tanya Icha mulai lesu dengan nafas berat.
Satya menoleh.
"Lo udah nggak sanggup?" tanya Satya di samping Icha.
Icha mengangguk pelan dan Satya terdiam sejenak.
"CK sudah gue duga bakal gini!" ketus Satya berwajah datar.
"Dasar lemah!" gumam Satya pelan namun dapat di dengar oleh Icha. Icha menoleh tanpa bisa berkata kata.
Mata Icha melirik, menatap kearah Satya membelak. Ia merasa terhina.
"Woi Cha! Dari pada lo nanti nyusahin! Mending kita stop sampai disini, gue temenin lo balik ke basecamp" ujar Satya memberi ide dengan wajah datar dan sebal.
Icha semakin cemberut, "Dih ogah! Gue tadi cuma asal, gak serius kok! Gue masih bisa jalan!" tutur Icha mendengus tak terima.
'Lihat aja! Gue masih kuat jalan kok!' batin Icha kesal.
Icha bersidekap, memegang tali ransel gunungnya, melangkahkan kaki lebih cepat.
"Dasar bebal!" celetuk Satya melihat Icha yang menjadi.
"Lah Cha! Mau kemana?" tutur Keyla saat Icha berjalan lebih depan. Keyla mengejar.
"Tunggu!" ujar Keyla ikut mendekap tali ranselnya, mengikuti Icha kedepan.
"Hish! Bandel banget sih tuh cewek!" ketus Satya menghela nafas panjang, mengejar Icha dan Keyla yang berjalan lebih depan melewati beberapa orang.
"Eh tunggu!" ujar Zea hendak menyusul.
Tak..
Zea tertarik mundur...
"Mau kemana?" tanya Alvin memegang tas belakang Zea.
"Em itu! Ikut mereka" jawab Zea menunjuk Icha dan Keyla yang ada di depan disusul Satya, Kenan, Julian dan Geo dibelakangnya.
"Nggak usah! Biarin mereka! Kamu disini sama aku. Capek nggak?" tanya Alvin memberi perhatian dengan memegang tas Zea dari bawah, mengurangi beban yang Zea angkat.
Keduanya terus berjalan beriringan, Zea menggeleng.
"Nggak kok" jawab Zea tersenyum.
"Kalau capek bilang! Jangan maksa!" tekan Alvin menatap Zea.
"Iya" jawab Zea tersipu.
Mereka terus berjalan hingga hari sudah menunjukan waktu malam. Matahari sudah terbenam sedari tadi dan suasana seram mulai terasa di sekitar mereka.
Beberapa pos juga sudah mereka lewati. Walau terkadang ada drama dimana Icha, Keyla, dan Zea harus istirahat sejenak karena sudah tidak kuat berjalan. Beberapa orang memilih lanjut karena harus mencari tempat untuk camping dan beberapa tetap tinggal untuk menemani sejenak.
"Udah belum? Yuk lanjut lagi! Nanti kita bikin tenda di depan sana, buat kalian tidur malam ini. Kalian bisa istirahat disana!" tutur Arka ikut menemani Zea dan kawan kawan.
"Mau ku gendong?" tanya Alvin di posisi jongkok menghadap Zea yang duduk di akar pohon.
Zea menggeleng, "Aku bisa kok! Yuk lanjut!" ujar Zea bangkit.
"Hah padahal baru istirahat bentar kok udah lanjut aja!" keluh Icha bangkit membenarkan tasnya di punggung.
"Lo sih lemah! Udah berapa kali kita berhenti gara gara lo!" seru Satya mengomentari.
"Hush udah! Yuk jalan! Semangat!" celetuk Arka.
"Hah!" Icha dan Keyla sama sama membuang nafas frustasi.
Mereka mulai berjalan lagi mengikuti Arka yang berada di depan.
"Lo nggak ada niatan gendong gue gitu Sat?" tanya Icha tiba tiba di samping Satya.
"Dih Ogah! Mulai kan manjanya! Makanya gak usah ikut mendaki kalau gak kuat gini" seru Satya berekspresi dingin.
"Sttt Sat!" sahut Geo menatap kearah Satya untuk menjaga bicaranya. Satya terdiam sedangkan Icha cemberut tanpa bisa berkata kata.
__ADS_1
"Ekhmm! Hei Keyla! Capek ya? Mau Abang Julian yang ganteng ini bantuin nggak" ujar Julian menggoda Keyla untuk mencairkan suasana.
Mereka menoleh pada Julian.
"Dih modus lo!" sahut Geo menyikut Julian.
Keyla tersenyum tipis, ia mengangguk, "Boleh!" Keyla melepas ranselnya.
Hap...
"Nih! Bantu bawain ya! Makasih?" ujar Keyla memberikan tasnya pada Julian. Keyla tersenyum senang lalu berjalan ke depan menghampiri Arka.
"Mampus!" seru Icha menghina, ia ikut mengencangkan jalannya mendekat kearah Arka mengikuti Keyla dari pada ia harus bersama Satya yang super nyebelin.
Puk puk..
"Rasain!" tutur Kenan dan Geo menepuk bahu Julian ikut mengejek pria itu.
"Lah!" seru Julian terhenti menatap kearah teman temannya yang berjalan mendahuluinya.
Julian menatap ke kanan kiri yang gelap gulita dan sepi.
"Waaa.. Tungguin!" tutur Julian berlari mengikuti mereka dengan barang bawaan ekstra.
...****************...
Zea dan kawan kawan sampai di tempat peristirahatan. Mereka mulai bergabung mendirikan tenda bersama teman teman Arka. Sedangkan beberapa pria ada yang pergi mencari kayu bakar, sedangkan yang wanita mulai menyusun peralatan masak.
Hingga Hari sudah hampir menjelang tengah malam. Tenda tenda sudah didirikan dan api unggun sudah di nyalakan.
Mereka duduk melingkar di tengah api unggun, dengan di bagi beberapa kelompok untuk membuat hidangan untuk di santap malam itu.
Beberapa bungkus mie instan di rebus dengan menyeduh beberapa cup kopi.
"Minum" ujar Alvin memberikan secup kecil kopi pada Zea untuk menghangatkan badan.
"Makasih" ujar Zea menerima.
Alvin duduk disampingnya. Sedangkan, Zea terdiam mendengar percakapan teman teman Arka sambil melihat sekitar, persaan nyaman dan hangat Zea rasakan dari api unggun.
Hingga saat Zea melihat ke sekeliling hutan membuat ingatan Zea flashback. Zea menggeleng mencoba melupakan ingatannya yang gelap dan suram.
"Kenapa?" tanya Alvin menelisik.
Srupp..
Zea meminum kopi yang diberikan Alvin.
Tap!
Alvin menyentuh salah satu tangan Zea yang tak terbungkus sarung tangan. Membuat tubuh Zea menegang. Alvin menggenggam tangan Zea, menggosok gosok tangan Zea dan sesekali meniupnya agar Zea merasa hangat.
"Kaku banget tangan kamu! Dingin ya?!" tanya Alvin dan Zea mengangguk dengan wajah datar.
Alvin menatap, "Topi kamu?" tanya Alvin pada Zea.
"Di tenda! Tadi aku lepas" jawab Zea. Alvin mengangguk.
"Oke! Tunggu disini!" ujar Alvin bangkit.
Ia berjalan meninggalkan Zea.
Zea yang sepi menekuk kakinya dan melipat kedua tangannya dilutut.
"Sendirian aja? Dimana temen temen kamu?!" ujar Rendy, teman kampus Arka duduk di samping Zea.
"Itu!" Zea menunjuk ke arah depan menggunakan dagunya, ke arah Icha dan Keyla yang bergabung dengan Julian dkk, sedang menunggu mie mereka matang.
"Ohw!" seru Rendy. Keduanya saling diam.
srupp..
Zea kembali menegak kopinya.
"Terus, Cowok yang nyusulin kamu mana? kok gak kelihatan!" tanya Rendy lagi tak melihat keberadaan Alvin.
Zea melirik sebentar kemudian kembali memandang kearah Icha dan Keyla.
"Alvin lagi ambil topi di tenda" jawab Zea seadanya.
"Ohw! Jadi namanya Alvin" tutur Rendy walau ia sudah tahu nama pacar Zea.
__ADS_1
"Iya" Zea mengangguk.
Hingga beberapa pertanyaan yang tak penting ditanyakan oleh Rendy pada Zea dan dijawab seadanya oleh Zea.
"Ekhmm!!" dehem Alvin datang, bersedekap membuat keduanya menoleh.
Alvin mendekat menepis jarak antara Zea dan Rendy. Ia masuk di tengah tengah keduanya dan hal itu membuat posisi Rendy tergeser.
Alvin menoleh ke arah Zea dan keduanya saling bersitatap.
"Sini!" ujar Alvin meminta Zea mendekat sambil menunjukkan topi yang ia pegang.
Srukk..
Alvin memasangkan topi rajut di kepala Zea.
"Makasih" ujar Zea tapi Alvin tak menjawab.
Ia menoleh ke arah Rendy dengan wajah datar tak bersahabat. Tapi Rendy seakan tak peka, ia membalas tatapan Alvin dengan senyuman.
"Ngapain masih disini?" ketus Alvin tanpa basa basi.
"Ha?" seru Rendy tak percaya bahwa Alvin segarang ini.
"Al!" tegur Zea memegang lengan Alvin menggeleng.
"CK!" Alvin membuang muka kemudian ia bangkit.
"Ayo kesana!" tutur Alvin memegang tangan Zea, menyuruh gadis itu bangkit.
"Yuk!" Alvin menarik Zea menjauh.
"Kak kita kesana duluan ya! Permisi!" pamit Zea terburu buru pada Rendy karena tak enak hati.
Alvin menarik Zea dengan cepat, membawa Zea menjauh tanpa bicara lagi. Ia membawa Zea mendekat pada teman temannya yang mulai memasukan bumbu dalam mie yang mereka masak.
"Zea! Sini sini! Ayo makan" tutur Icha melambai.
Zea memegang tangan Alvin, melepaskan pegangan Alvin dari tangannya. Ia mendekat ikut bergabung dengan teman temannya.
"Yehh nih berdua masakan udah jadi baru nongol! Kemana aja kalian!" ujar Julian menyela.
"Dih! Biarin lah! Sahabat gue nih!" sela Keyla tak terima, menarik Zea ke sampingnya. Zea tersenyum manis pada kedua sahabatnya.
"Nih Ze!" ujar Icha memberikan garpu pada Zea. Zea menerima.
Sedangkan di depan mereka, Satya sudah bersiap dengan sendok yang ia pegang hendak mengambil mie yang sudah mereka masak.
"Eits!" seru Icha menahan. Keyla menatap Satya.
"Ladies first" tutur Icha dan Keyla bersama. Keduanya saling tatap dan melempar senyum.
"Yuk Ze! Ambil" ujar Icha mulai mengambil mie dalam panci ke tempat makan yang ia bawa.
"Yaelah gitu banget lo pada! Buruan, udah laper nih gue!" seru Julian cemberut.
Zea, Keyla, dan Icha mulai membagi setelah itu giliran para anggota Aodra itu yang mulai membagi bagikan mie yang mereka masak. Hingga Arka datang menghampiri.
"Nih! Ambil!" tutur Arka meletakan semangkok sosis yang sudah di goreng dihadapan mereka.
"Wih! Makasih Bang" ujar mereka berseru. Arka mengangguk.
"Buruan di habisin! Setelah makan langsung balik tenda. Besok pagi pagi kita lanjut lagi!" ujar Arka menyampaikan.
"Iya bang!" Jawab mereka.
Mereka mulai menyantap makanan pelawan hawa dingin itu sambil sesekali saling bercakap-cakap. Hingga beberapa orang mulai balik ke tenda setelah makan.
"Zea, Keyla, Icha, ayo balik tenda!" panggil Silvi pada ketiganya karena mereka satu tenda.
"Oh oke kak! Bentar!" ujar Zea merapikan tempat makannya.
Zea, Keyla, dan Icha saling meringkas tempat makan masing masing kemudian bangkit.
"Guys kita balik dulu ya! Al aku balik ke tenda dulu ya!" pamit Zea.
"Iya hati hati" ujar Alvin mengangguk.
"Bye bye!" seru Keyla dan Icha melambai.
Mereka berjalan kearah tenda dengan Alvin yang mengawasi mereka dari jauh, melihat Zea yang sudah memasuki tenda.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ