My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
143. Perjalanan mendaki


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu. Zea, Keyla. Icha, Bang Arka, dan Satya sudah berkumpul di depan rumah Arka dan Zea untuk berangkat bersama.


"Kok personil lo tambah banyak Ka?" tanya Ivan, temen kuliah Arka juga merupakan teman baik Arka. Beberapa teman Arka juga sudah datang dan ikut menunggu di depan rumah Arka.


"Gue juga nggak tau! Perasaan cuma nambah empat orang. Lah kok jadi nambah dua lagi. Totalnya enam" ujar Arka menghitung berapa orang yang ia bawa. Julian yang ada di sana melambaikan tangan. Menyapa dan sebagai tanda perkenalan kalau dirinya juga hadir.


Julian menyenggol lengan Kenan untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan. Tapi Kenan justru berdecak dan memelototi Julian membuat Julian menelan ludah. Walau begitu Julian tak menghilangkan senyum di wajahnya, masih melambaikan tangan.


"Temen adek lo banyak juga ya Ka! Ganteng ganteng pula! Boleh lah satu, kenalin gue" ujar Silvi teman kampus Arka.


"Mau emang lo sama brondong kayak gitu Sil?" tanya Ivan menyahut.


"Tentu! Kalau brondong modelan gitu mah gue mau mau aja hehehe. Asal mukanya aman dan tidak memalukan saat di ajak jalan keluar, gue mah no problem aja hehehe" ujar Silvi disertai tawa. Ivan hanya menggeleng mendengar hal itu.


"Kalau gitu! Gue juga mau" tutur Rendy, teman kampus Arka menyahut.


"Ha? Lo mau sama cowok ndi?" tanya Silvi heran.


"Dih nggak lah, gile! Yang gue maksud itu, Gue mau di kenalin sama adek Arka. Masih sold kan dia?" ujar Rendy disertai lirikan ke arah Zea.


"Mau gue hajar lo!" balas Arka menatap Rendy sengit.


"Berani beraninya lo ngincer adik gue!" lanjut Arka ingin mendepak Rendy.


"Hehehe ya gak papa kali Ka, adek lo cantik gitu. Bolehlah kenalin dia ke gua" ujar Rendy masih berusaha membujuk Arka agar dirinya bisa mendekati Zea.


"Yeiylah Ren, boro boro lo mau ngedeketin Zea. Zea aja, gue ajak kenalan saat pertama kali ketemu, gue di cuekin. Baru gue temenan sama Arka main terus kerumah Arka selama 1 bulan, dia nyapa balik gue" ujar Ivan curhat bagaimana sikap Zea saat pertama kali bertemu dengannya.


"Wah gitu ya! Sama dong kayak Arka, dingin abis" ujar Silvi menggoda Arka. Mengingat bagaimana cueknya pria di depannya itu.


"Susah juga ya ternyata deketin adek lo!" Rendy berujar.


"Hooh! Nggak tau kapan tuh anak punya pacar kalau kayak gitu, apalagi ada nih! Bodyguard yang selalu ngawasi" ujar Ivan menyindir Arka.


"Bacot kalian! Lagian adek gue udah punya pacar" balas Arka melontarkan kata yang mengejutkan.


"Ha? Serius?" tanya Ivan tak percaya.


"Yang bener aja! Yang mana pacar adek lo?" Rendy menatap kearah sekitar dimana Zea sedang bersama teman temannya mengobrol ria.


Ia menelisik menatap wajah ketiga pria yang ada di dekat Zea itu. Yang satu kayaknya bukan karena dari yang tadi ia lihat. Pria itu datang bersama teman perempuan Zea yang tak lain adalah Satya. Kemudian ia berganti menatap Julian, walau wajah Julian tampan namun dilihat dari sikap pria itu. Ia jamin, Arka akan menentang pria itu.


Kemudian ia beralih ke Kenan. Ia sendiri juga tidak yakin jika itu Kenan, karena pria itu terlampau cuek akan sekitar juga pada Zea.


"Dia nggak ada disini" jawab Arka. Membuat Rendy yang sedari tadi mencari cari terhenti.


"Kok bisa? Pacarnya mau jalan jalan kok dianya nggak ikut, malah teman teman Zea yang ikut" Rendy berujar sembari menebak nebak, apakah Zea dan pacarnya itu sedang ada masalah hingga membuat kekasih Zea itu tak bisa ikut.


Dug


Ivan menyikut perut Rendy.


"Mikirin apa lo?" tanya Ivan.


"Nggak! Gue nggak mikirin apa apa!" bantah Rendy.


"Lo jangan asal tebak! Alvin nggak bisa ikut karena lagi ke luar negeri. Lagian kalaupun adek gue nggak punya pacar, gak bakal gue ijinin dia sama lo" ujar Arka menusuk. Rendy diam tak membalas.


"Oh jadi namanya Alvin! Tumben banget lo kasih ijin adek lo deket sama cowok. Gue jadi penasaran gimana orangnya" ujar Ivan berseru ria.

__ADS_1


tring


"Oii!! Gue dapet chat dari kak Bram nih! Bentar lagi dia sama anak anak sampe sini katanya" ujar Silvi melihat kearah handphonenya yang baru saja berbunyi.


"Okey! Kalau gitu! Gue mau ngurus mereka dulu!" ujar Arka menatap kearah Zea dan kawan kawan.


"Iya" jawab mereka.


Arka berjalan mendekat kearah Zea.


"Udah siap?" tanya Arka.


"Udah Bang!" Jawab Zea, Keyla, dan Icha teramat antusias.


"Yaudah, masukin barang barang kalian ke bagasi sana" tutur Arka memerintah.


"Siap bang" jawab ketiganya kembali. Melakukan apa yang Arka perintahkan.


Saat Zea dan kedua sahabatnya memasukan barang ke garasi. Arka menatap ke arah kedua pria disana.


"Terus kalian berdua gimana? Gue cuma dapat laporan kalau hanya 4 orang aja yang ikut" ujar Arka menatap Kenan dan Julian.


"Hehehehe, kita temennya Satya Bang. Tenang bang kita udah dapat ijin kok, nih buktinya" Julian menunjukan handphone yang berisi chatnya dan sang papa.


"Kita bakal jaga diri sendiri kok Bang! nggak bakal ngerepotin!" ujar Julian melanjutkan.


Arka tak memperhatikan ucapan Julian. Kedua mata Arka fokus ke layar handphone Julian. Apakah benar ia mendapat ijin dari orang tuanya?


Arka mengernyit dahi membaca pesan yang tertera.


Julian


Pa


Mobil Jeep gunung di sorum Julian bawa ya?


papa: Iya bawa aja ( Julian menjawab pesannya sendiri)


Makasih pa


Papa (Julian)


Dasar anak kurang ajar


Papa belum ngijinin kamu bawa tu mobil


Habis dagangan papa kamu ambil terus


Buggati limited edition papa di serum juga nggak ada, kamu kemanain??


Julian


Julian kasih pa


Julian kalah taruhan, udah lama juga.


Papa (Julian)


Apa?

__ADS_1


Dasar anak kurang ajar!


Kalau taruhan sama siapa?


Pesan itu terputus. Di pesan itu tak ada kata kata papa Julian mengijinkan Julian ikut.


Tapi yang menjadi fokus Arka adalah mobil yang Julian bawa kemari. Mobil Jeep yang seperti Julian katakan di chat.


"Lebih baik lo pulangin mobil Jeep lo ke serum bokap lo dulu deh!" ujar Arka melihat ke wajah Julian.


"Ha?" ujar Julian heran, melihat handphonenya yamg menunjukkan chatnya dengan sang papa.


Julian tersentak kaget lantaran dibawah chatnya. Ia menyebutkan nama Alvin yang memenangkan taruhan dengannya. Julian melirik kearah Arka, melihat tak ada respon dari Arka Julian bernafas lega.


'Untung aja!' batin Julian bersyukur.


"Oh mobil itu Bang! Abang tenang aja! Ini bukan apa apa kok buat bokap gue. Lagian kalau bang Arka nggak percaya gue diijiin ikut, gue bisa telpon bokap gue sekarang. Lagian ini gak sekali dua kali gue bawa mobil dari serum" ujar Julian dengan percaya diri.


"Apa gue telpon sekarang agar bang Arka percaya?" Julian mencoba meyakinkan dengan raut serius.


Arka yang terkesima akhirnya mengangguk.


"Yaudah gue percaya, tapi jangan sampai kalian bikin ulah disana" ujar Arka menasehati.


"Siap bang" jawab Julian. Kenan menggangguk di samping Julian.


"Terus Lo?" tanya Arka pada Satya.


"Gue gabung mereka bang!" jawab Satya.


"Okey, Lo masukin barang lo. Kita tunggu bentar sampai temen temen gue datang" ujar Arka diangguki ketiganya.


Mereka mulai mengemas barang barang mendaki kedalam mobil.


Tin tin


Suara deru mobil membuat Arka menoleh. Mereka juga sudah siap untuk berangkat.


"Temen temen gue udah sampe! Ayo kita berangkat!" ajak Arka.


Mereka mengagguk. Zea, Keyla, Dan Icha ikut kedalam mobil Arka untuk berpergian. Sedangkan ketiga pria itu masuk kedalam mobil Julian.


"Ka! Udah belum?" tanya Bram. Teman se kampus Arka yang usianya lebih tua dari pada Arka dan temen temennya yang lain. Hal itu karena Bram pernah meminta cuti hingga kuliahnya tertunda.


Dan saat pria itu masuk kembali, ia menjadi teman sekelas Arka karena usia Bram lebih tua, pria itu di panggil kakak oleh teman teman Arka yang lain. Kecuali Arka yang memanggil nama pria itu langsung karena sudah dekat dengan Bram, juga karena Bram sendiri yang menyuruh.


"Udah! Duluan aja" ujar Arka diacungi jempol oleh Bram.


"Oke" jawabnya.


Mobil Bram dan beberapa teman Arka yang lain melaju lebih dulu. kemudian disusul oleh mobil yang di naikin Rendy, Ivan, dan Silvi yang tergabung dalam satu mobil. Setelah itu ia ikut melajukan mobil dengan pelan dan santai santai karena ia masih harus mengawasi mobil Jeep yang Julian, Satya, dan Kenan naikin


Setelah berdrama drama. mereka melaju, mengendarai kendaraan mereka dengan lancar dan damai menuju tempat yang ingin mereka tuju.


Perjalanan pertama mendaki ke gunung dimulai.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2