
"Kok Alvin nggak pakai kacamata ?" tanya Keyla melihat Alvin yang mendekat kearah mereka. Zea diam membiarkan Alvin mendekat.
"Kacamata kamu mana?" tanya Zea sambil menatap kearah Alvin yang kini tepat disampingnya.
"Dirumah, Kacamata aku rusak!" jawab Alvin menampilkan senyumannya.
"Ohw" seru Zea bersipandang dengan Keyla. Senyum Alvin luntur saat melihat kearah Zea, menelisik pada wajah Zea, lantas mengernyit dahi.
"Wah gimana tuh! Pasti penglihatan lo keganggu kan" seru Keyla.
Alvin diam tak menjawab. Alvin mengerjap kembali mengulas senyum pada Zea.
"Masuk yuk!" ajak Alvin pada Zea seperti pria itu yang mempunyai rumah.
Tapi keduanya masih mengikuti Alvin masuk kedalam rumah. Saat mereka masuk kedalam ruang keluarga ternyata sudah ada Papa Hendra dan Bang Arka yang sedang menonton tv.
"Eh Alvin, Duduk Al duduk!" ajak keduanya kepada Alvin. Alvin tersenyum ikut duduk bergabung. Begitupula dengan Zea dan Keyla.
"Makasih buat makanannya semalem, enak banget! Gue yang habisin" ujar Arka tak tahu malu, menjelaskan bahwa dia menyukai makanan yang Alvin berikan.
"Cih nggak tahu malu" gurau Zea bergumam.
"Sama sama Bang" jawab Alvin menanggapi dengan senyuman.
Zea bangkit dari tempat ia duduk.
"Mau kemana?" tanya Alvin menahan tangannya.
"Mau ke dapur" jawab Zea. Alvin mengernyit melihat Zea.
"Kamu sakit?" tanya merasakan tangan Zea yang hangat. Ia sudah menduga tapi saat kulit mereka bersentuhan secara langsung, rasa hangat yang biasa ia rasakan saat menggenggam tangan Zea itu berbeda dari biasanya.
"Nggak kok! Cuma lemes dikit aja, mungkin gara gara kecapean" ujar Zea.
Mereka semua menoleh kearah Zea. Tak terlihat terlalu jelas memang jika wajah Zea pucat, tapi saat ditelisik wajah Zea emang terlihat lesu.
"Udah ah, aku mau bantuin Mama. Key, tolong panggilin Icha dong" ujar Zea melepaskan cekalan tangan Alvin.
"Oke" jawab Keyla.
Zea pergi dari sana meninggalkan tiga pria itu menuju kearah dapur. Sedangkan Keyla ke lantai dua hendak menyusul Icha.
Alvin terus mengawasi Zea saat gadis itu hilang di balik tembok.
__ADS_1
"Dilihatin terus" goda Arka menyenggol bahu Alvin. Alvin tersenyum tipis mengalihkan perhatiannya pada dua laki laki didepannya kini.
"Apa sebaiknya Zea libur aja hari ini ya bang, om? Takut Zea makin sakit nantinya" ujar Alvin meminta pendapat.
"Coba kamu bilangin? Pasti nggak mau" ucap Papa Hendra.
"Zea itu kalau nggak bener bener sakit, ia bakal maksain masuk. Yah begitulah anaknya! Aneh. Kalau gue jadi dia mah, udah jelas bakalan bolos sekolah" seru Arka mendapat jitakan kepala oleh Hendra.
"Ya gitulah bedanya kamu sama adikmu! Heran papa sama tingkah kamu."
"Eits Pa, tapi Abang nggak sering kabur dari sekolah kayak Zea yah!" seru Arka menolak.
"Iya nggak sering kabur dari sekolah! Orang kamu sampe sekolah nggak masuk malah kelayapan ntah kemana sama teman teman kamu itu"
"Its papa nih! Anak muda mah biasa soal itu, wajar pa! Papa ini kayak nggak pernah muda aja dulu"
"Wajar apaan Bang! Abang aja pernah niatnya berangkat sekolah tapi nggak pulang pulang selama beberapa hari. Aku ditinggal sendiri di rumah sama mbok Jum!" seru Zea merengut.
"Eh adek Abang, kok balik lagi?!" tanya Arka sambil mendelik kearah Zea. Mamberikan Zea kode untuk diam.
"Disuruh mama nunggu di depan" jawab Zea masih merengut duduk disamping Arka.
"Abang nggak pulang selama beberapa hari?" tanya papa Hendra penasaran menatap kearah Arka dan Zea bergantian.
"Iya Pa, waktu papa sama Mama keluar kota, Zea ditinggal sendiri sama mbok Jum. Terus Bang Arka malah enak enakan ma_ empttt" mulut Zea di bekap oleh Arka. Membuat Zea meronta.
Zea yang tak terima dipelototi menggigit tangan Arka.
"Akhh akhh akhh" rintih Arka mengibas ibaskan tangannya.
"Abang bohong pa! Abang naik gunung sama temen temennya, Zea di tinggal gitu aja dirumah" adu Zea sambil merengut memanyunkan bibirnya.
"Ish kok kamu aduin sih Ze! Kan udah Abang kasih uang tutup mulut waktu itu" seru Arka melihat kearah Zea.
"Apaan uang tutup mulut! Abang aja ngasihnya nggak bener. Bilangnya gini 'Ze, adik Abang yang cantik dan manis. Jangan bilangin ke Mama papa ya, janji deh. Uang jajan Abang seminggu, Abang kasih ke kamu' eh taunya uang Abang, Abang kasih ke teman Abang karena Abang pinjem duitnya waktu itu. Terus cuma sisa 10 ribu pula, Abang kasih ke Zea buat beli es cream, itu pula es cream cone yang mini. Terus kembaliannya Abang ambil lagi buat beli cimol. Apalagi cimolnya Abang makan sendiri! Gimana Zea nggak kesel sama Abang, kalau digituin?!" adu Zea panjang lebar membuat semua orang yang ada diruangan itu meringis. Sebegitu teganyakah Arka ini pada adiknya sendiri.
Arka menggaruk-garuk kepalanya menatap kesekitar. Apalagi disana ada mamanya dan kedua sahabat Zea, serta Alvin yang ikut mendengarkan ocehan Zea.
"Nggak sekali dua kali aja loh Abang kayak gitu, udah banyak kali, sampai Zea kesel sendiri lihatnya" Zea kembali curhat sambil merengut.
Dari samping dan belakangnya kedua orang tua adik kakak itu menatap tajam pada putra mereka.
"Aaaaa Ma, Pa ampun" Arka mendapatkan jeweran telinga dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Abang! Ya ampun" seru Mama Tia merasa gemas dengan putranya kini.
"Maaf ma, pa Abang salah. Ze tolongin Abang!" ujar Arka hendak meraih Zea. Tapi Zea dengan sigap menjauh menghampiri Alvin bersembunyi dibelakang pria itu.
"Syukurin, rasain. Jewer aja ma abang! Jewer terus sampai putus" seru Zea mendukung.
Mama Tia melepaskan jeweran di telinga Arka ketika melihat putrinya itu kesenangan diatas penderitaan sang kakak.
"Abang hutang penjelasan sama papa, mama" tutur Papa Hendra menatap kearah Arka yang menggosok-gosok belakang telinganya yang memanas itu.
"Udah! Kalian berdua ini sama aja. Ayo ayo makan! Keburu telat kalian nanti. Papa juga harus kerja kan habis ini. Ayo!"
"Icha, Keyla, Alvin, ayo makan" ajak Mama Tia diangguki semua orang.
Mereka berjalan kearah meja makan yang diatasnya sudah tertata rapi berbagai hidangan. Mereka mulai duduk dan memakan beberapa hidangan yang telah dimasak oleh Mbok Jum dan mamanya.
"Keyla sama Icha mau pulang hari ini?" tanya Mama Tia pada kedua gadis itu yang telah menghabiskan sarapannya.
"Iya tan" keduanya mengangguk seraya menjawab.
"Kenapa nggak besok aja? Besok kan kalian libur" seru Mama Tia berbincang.
"Bunda udah nyariin anak kesayangan Tan, jadi Icha harus pulang. Katanya kangen hehehe" gurau Icha pada wanita didepannya itu.
Walau bundanya akan biasa saja karena tau Icha menginap dirumah Zea. Tapi lain halnya dengan mami Satya yang terus menanyakan keberadaannya yang tak terlihat dirumah.
"Ohw yaudah! Kapan kapan nginep lagi. Pintu selalu terbuka buat kalian" ujar Mama Tia.
"Buat Alvin juga" lanjutnya.
"Makasih Tan, ma" ujar ketiganya.
"Yaudah segera berangkat sana! Lihat udah jam berapa sekarang" seru Mama Tia menunjuk kearah jam.
"Astaga" ujar ketiga memelototi jam di depan mereka. Karena keseruannya mereka jadi lupa waktu dan hanya tersisa 10 menit sebelum bel berbunyi.
Mereka lantas bergegas kelantai atas hendak mengambil tas. Sedangkan Alvin kini menyalimi kedua orangtua Zea dan berpamitan pada Arka. Kemudian keluar dari sana, memilih menunggu Zea di mobil.
Tak berapa lama kemudian Zea dan keduanya keluar dari rumah setelah berpamitan. Sambil menyincing sepatu mereka, berjalan dengan satu kaki membenarkan sepatu yang mereka pakai.
Keyla dan Icha masuk kedalam mobil Keyla. Sedangkan Zea setengah berlari kearah Alvin yang langsung masuk mobil. Tanpa basa basi mereka langsung tancap gas dengan cepat menuju kesekolah.
Walau sudah dipastikan mereka akan telat sampai ke sekolah.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ