My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
49. Niat Ngerjain Malah Disusahin


__ADS_3

Sepulang sekolah Zea menaiki motor butut Alvin. Dirinya tak tahu akan dibawa kemana oleh Alvin karena pria itu asik memutari kota dengan laju motor yang tak terlalu pelan maupun terlalu cepat alias santai.


"Al, makasih untuk contekan tugas Bu Killer" ujar Zea dari balik punggung Alvin.


Tak seperti dulu saat Zea meminta ajarin. Zea lebih memilih mencontek milik Alvin karena sudah jelas. Dirinya tak ingin waktu istirahatnya terpotong hanya karena tugas rumit Bu Killa.


"Iya, sekarang kamu pengen makan apa?" tanya Alvin pada Zea.


Zea menimang, "makan ditempat langganan aku aja yuk!" ajak Zea.


Gagal sudah rencana Alvin jika seperti ini, inginnya dia membawa Zea ketempat makan yang memukau. Tapi karena Zea ingin makan ditempat lain, dirinya harus mendahulukan keinginan Zea. Zea adalah prioritas utama dalam hidupnya.


(Beruntung banget lo Ze, aku kan juga pengen~Sad ( ⚈̥̥̥̥̥́⌢⚈̥̥̥̥̥̀))


"Yaudah kita ke sana" balas Alvin mengiyakan.


Zea tersenyum menyeringai dalam hati.


'Gue kerjain lo, siapa suruh lo bohongin gue' dengan tawa jahat yang tertahan.


Kendaraan matic Alvin melaju seiring dengan arah yang ditunjukkan oleh Zea.


"Stop stop!" pekik Zea menepuk nepuk bahu Alvin.


Alvin memberhentikan laju motornya.


"Kamu parkirin disana" tunjuk Zea kearah deretan motor yang diparkir sembarang.


Alvin membelak, seakan tak percaya. Tapi dirinya masih menuruti keinginan Zea. Mereka turun dari motor. Zea memberikan helmnya pada Alvin untuk diletakkan di kaca spion motor.


"Kamu yakin mau makan disini?" tanya Alvin tak percaya mengekori Zea yang masuk kedalam warung pinggir jalan.


"Yakinlah! Emang kenapa?" Alvin menggeleng.


Tempat yang mereka datangi sekarang berbeda dengan warung atau kedai yang sempat mereka datangi dulu. Disini tidak ada kursi untuk duduk, mereka harus duduk dikarpet dengan dihadapkan beberapa lauk yang tertata. Dan disebrang mereka adalah jalanan yang banyak terdapat kendaraan lewat.


Zea yang mengerjai Alvin, tersenyum menyeringai sangat puas.


'Mampus lo! Gak pernah kan lo makan ditempat kayak gini!' seru Zea dalam hati pada Alvin.


"Kita pilih lauknya dulu yuk!" ujar Zea. Alvin yang tak tahu harus bicara apa untuk menolak hanya diam dan sesekali melihat kearah pembeli lain yang sudah duduk menikmati makanannya.


Zea mengambil piring dan capit yang disediakan lalu mengambil beberapa hidangan disana.


"Kamu mau apa?" tanya Zea pada Alvin.


"Samain aja" jawabnya.


Zea mengangguk kemudian memberikan piring berisi aneka macam kepada pedagang untuk digoreng kemudian ia memesan minuman.


Alvin dan Zea duduk beralaskan karpet. Alvin melihat orang disebelahnya makan menggunakan tangan. Dia sedikit geli melihat hal itu, namun berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.

__ADS_1


Disisi lain Zea ingin tertawa melihat wajah Alvin yang seperti menahan diri.


Hidangan mereka datang dan Alvin hanya diam saja melihat itu semua tertata rapi didepan mereka. Sedangkan Zea menatap dengan mata berbinar binar.


"Makasih mas" ujar Zea tersenyum ke pengantar makanan.


"Sama sama neng" jawabnya sambil malu malu. Jika disenyumin cewek secantik Zea siapa coba yang gak meleleh.


Alvin melihat itu sedikit meradang, ingin sekali dia memakan orang yang terpesona akan Zea hidup hidup. Bahkan terkadang terbesit dipikirannya untuk mengurung Zea demi dirinya sendiri. Tapi semua itu di tepis ketika melihat Zea yang tersenyum kearahnya seakan puas dengan apa yang mereka jalani sekarang.


"Yuk makan!" ajak Zea membuatnya tersentak dari lamunan. Alvin mengalihkan pandangan menatap makanan di depannya heran.


'Ini gimana cara makannya? Gak ada sendok gini!' batinnya. Zea seakan tau apa yang dipikirkan Alvin menjelaskan.


"Pakek tangan Al, itu buat cuci tangan. Kamu kayak gak pernah makan pinggiran jalan aja!" tukas Zea.


'Emang gak pernah!' jawab Alvin dalam hati. Alvin hanya minum sambil melihat Zea yang makan. Melihat Zea makan, Alvin jadi tergiur.


"Suapin dong by!" pinta Alvin manja. Zea tersentak melebarkan mata, kemudian ia menggeleng, tidak mau.


"Suapin, kalau gak aku gak mau makan" Pintanya dingin membuat Zea mendengus kesal menuruti kemauan Alvin.


'Kenapa gue jadi kayak ngurus bayi gini sih!'


Tapi ia tetap melakukan apa yang Alvin minta.


Satu suapan masuk kedalam mulut Alvin. Alvin merasakan rasa makanan didalam mulutnya.


"Gimana?" tanya Zea meminta pendapat pada Alvin.


"Lumayan!" jawabnya.


Suapan kedua masuk kedalam mulut Alvin. Alvin menjadi semakin ketagihan.


"Tambah itu Ze!" tunjuknya pada udang dipiring. Zea mengambilkan dan menyuapkan dimulut Alvin.


"Yang banyak Ze" pintanya lagi.


'Kok jadi gue yang sial gini sih? Kan niatnya mau ngerjain!' batinnya sebal.


"Ayo Ze, kok diem aja" ujar Alvin melihat Zea terdiam. Zea menyuapkan lagi kedalam mulut Alvin dengan jengkel.


"Yang itu, mau!" ujarnya menunjuk tahu berwarna kuning.


"Ish, makan sendiri lah Al! Kan tangan kamu nganggur!" pekik Zea tak bisa menahan diri lagi.


Bagaimana ia bisa menahan diri. Dirinya baru makan sesuap dan Alvin sudah masuk suapan kedua bahkan ketiga, apa lagi pria itu minta ini itu. Kalau gini caranya dirinya yang niatnya ngerjain sambil makan enak malah jadi disusahin.


"Gak mau ah! Beda nanti kalau gak dari tangan kamu! Udah ayo lanjut suapin!" pintanya lagi.


"CK" Zea berdecak kesal memasukin suapan demi suapan kemulut Alvin juga dirinya sendiri. Dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Acara makan selesai dan Zea cuci tangan. Lalu memakai hand sanitizer yang selalu ia bawa.


"Aku mau bayar dulu!" ucap Zea berdiri, Alvin menahan.


"Biar aku aja, kamu tunggu dimotor" ia pergi meninggalkan Zea.


Zea hanya mengendikan bahu, tak peduli siapa yang akan membayar. Toh makanan segini tak akan membuat Alvin bangkrut.


Zea menurut dan berjalan kearah motor Alvin mengambil helm di spion dan memakainya.


"Udah?" tanya Zea melihat kedatangan Alvin.


"Udah" jawabnya. Saat membayar tadi Alvin dibuat kebingungan akan harga makanan yang mereka makan yang terbilang sangat murah dikantongnya.


Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Alvin melajukan motornya sambil menikmati kebersamaannya dengan Zea.


"Mau kemana lagi?" tanya Zea pada Alvin.


"Ke tempat yang bakal kamu suka" jawabnya. Zea diam.


Tempat yang akan dia suka? kira kira tempat yang seperti apa ya? benaknya bertanya tanya.


Setelah menelusuri jalanan, melewati tikungan, dan mematuhi rambu lalu lintas yang tersedia. Sampailah mereka didaerah pinggiran kota yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka berada.


Alvin membawa Zea kearah taman dengan danau yang membentang. Zea manatap takjub pemandangan didepannya.


"Baru tau aku ada tempat seperti ini!" serunya, kemudian ia berlarian kearah danau meninggalkan Alvin.


"Zea!" pekik Alvin melihat Zea semakin menjauh. Alvin mamarkirkan motornya begitu saja dan pergi menyusul Zea.


Zea sampai ditepi danau. Merentangkan tangannya menghirup udara bebas.


"Wow!" decaknya kagum.


"Jangan jauh jauh Ze!" ujar Alvin mendekati Zea. Memegang tangan Zea agar tak lepas kembali.


"Ayo duduk disana!" ajak Alvin kearah bangku yang menghadap danau. Zea mengangguk dan duduk disamping Alvin.


"Kok lo tau tempat tempat kayak gini sih?!" tanya Zea masih menatap keindahan danau didepannya. Kakinya ia goyangkan naik turun seiring hembusan angin menerpa.


Alvin tersenyum melihat Zea bahagia, "suka?" tanyanya. Zea mengangguk.


Alvin menggengam tangan Zea. Tanpa sadar Zea menyandarkan kepalanya dibahu Alvin. Dengan suasana seperti ini membuat Zea lupa akan tujuannya yang ingin lepas dari Alvin. Bahkan semakin hari tanpa ia sadari, dirinya semakin terikat dengan pria itu.


"Kita gak bisa lama lama disini" kata Alvin memberi Zea pengertian.


Zea tahu akan maksud Alvin, bahkan sekarang mereka masih mengenakan seragam sekolah. Rela tak rela Zea harus berpisah dengan pemandangan didepannya.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2