My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
32. Ditampar Fakta


__ADS_3

Alvin memberhentikan kendaraannya didepan rumah Zea. Zea turun dari motor sambil melepas helmnya.


"Oh ya Al, besok lo gak usah jemput gue ya"


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Gue besok mau berangkat bareng Keyla sama Icha. Mau nyiapin keperluan buat lusa" Jelas Zea.


"Ohw, aku temenin ya?!" pinta Alvin. Dirinya tak rela jika harus berjauhan dengan Zea, pikiran negatif mulai muncul dikepalanya. Bayangan Zea didekati pria seperti dulu waktu Zea menelponnya ketika dia didekati seorang pria dan berakhir dengan ia berpura-pura menjadi kekasihnya mulai terbayang.


"No, kita mau girls time. Boleh ya?!" tolak Zea sembari meminta pengertian oleh Alvin.


"Ck, okey" Zea tersenyum mendengar persetujuan Alvin.


"But, malemnya sama aku. okey?!" lanjut Alvin dengan nada memaksa.


"Emang mau kemana sih? besoknya juga bakal ketemu lagi" keluh Zea.


"Kenapa? gak suka aku nemuin kamu?" tanya Alvin semakin negatif.


"Bukan gitu, takutnya besoknya kecapean. Kan Pak Burhan tadi bilang, jadwal disana padet banget. Apa lagi kita yang nantinya bakal banyak tag disana" jelas Zea agar Alvin tak semakin salah paham.


Alvin membuang muka. Kesal rasanya mencoba memahami kondisi orang lain. Karena biasanya orang lain yang akan memahaminya.


"Alvin, Zea" sapa Mama Tia keluar rumah.


Alvin lantas turun dari motor dan menghampiri Mama Tia. Alvin dan Zea bergantian menyalami Mama Tia. Mama Tia menyambut keduanya dengan senyuman.


"Zea, ini Alvin kok gak diajak masuk" Mama Tia berseru. Sebelum Zea menjawab, Alvin menjawab lebih dulu.


"Gak perlu Tan, Alvin mau langsung pulang aja. Udah mau malam juga, orang rumah pasti nungguin" tolak Alvin halus.


Zea menatap Alvin diam, 'bisa aja ngelesnya, padahal juga gak ada yang nungguin' ujar Zea dalam hati.


Zea berujar demikan karena kapan hari Zea pernah bertanya pada Alvin saat sedang telponan mengenai orang tuanya. Dirinya Ingin dikenalkan juga ingin menjaga hubungan baik dengan orang tua Alvin. Siapa sih yang pacaran kalok gak pengen deket sama keluarga pacar.


Sayangannya hal itu tak bisa terjadi. Karena kata Alvin orang tuanya itu tidak berada disini. Mereka memang bekerja dikeluarga Immanuel, tapi bukan sebagai pelayan dimansion orang tua King.


Dirinya juga mendapatkan fakta bahwa orang tua Alvin itu bekerja melayani nenek king yang tinggal diluar kota. Sama sama pelayan keluarga Immanuel tapi beda tempat.


Alvin juga mejelaskan tentang orang tuanya yang suda mendedikasikan dirinya untuk keluarga Immanuel, sehingga Alvin dapat sekolah yang layak dikeluarga Immanuel. Plus juga dia diizinkan menetap dimansion mereka. Bisa dianggap sebagai anak sendiri. Yah begitulah!!


Wow!! bener bener alasan yang detail membuat Zea percaya akan semua hal itu. Walau dihatinya masih ada yang janggal. Satu hal yang membuat Zea yakin bahwa Alvin yang dia kenal itu pria biasa yang wajahnya pas pas an, bisa dibilang wajah yang tidak diminati para gadis. Karena gaya hidup Alvin dimata Zea yang merupakan pria sederhana.


Alvin tak mungkin menyembunyikan jati dirinya yang sebenernya. Lihat aja dirinya!! apakah ada orang kaya yang datang kesekolah naik angkot yang desak desakan? apakah ada orang kaya yang bawa motor matic kesekolah mereka yang jelas jelas sekolah megah, kecuali anak anak tidak mampu yang menerima beasiswa. Sedangkan Alvin bukan murid yang menerima beasiswa.


Walaupun sekolah Immanuel terkadang ada yang namanya perbedaan status, tapi hal itu tak sampai merambat kearah bullying keras. Mungkin hanya hinaan semata dalam batas wajar atau kenyataan, tak sampai kekerasan fisik. Karena mereka tau jika mereka melakukan kekerasan disekolah itu artinya mereka sama aja mau menjadi seperti penguasa disekolah dan hal itu jelas bakal menentang kekuasaan geng Aodra sebagai pemegang kekuasaan disekolah.


Kembali ke keadaan semula...

__ADS_1


Alvin berpamitan pulang kepada Mama Tia dan Zea. Dirinya langsung melajukan motornya. Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, walaupun kecepatan motornya itu tak secepat motor sportnya.


Tujuannya kali ini adalah basecamp Aodra, karena dia yakin teman temannya itu ada disana. Juga sedang menunggunya.


...****************...


Dimarkas atau basecamp Aodra terlihat ramai. Tempat itu memang tidak pernah sepi, karena tempatnya cocok dibuat santai. Apalagi untuk anak anak Aodra yang bukan dari sekolahnya. Mereka menjadikan markas untuk tempat pelarian dari sekolah, bisa disebut juga bolos.


Alvin berjalan kearah sebuah ruangan yang biasa di pakai untuk semua orang disana. Semua orang yang melihat Alvin masuk, menyapanya dengan seruan. Jika seperti ini mereka akan heboh, tapi memperdulikan status Alvin sebagai ketua geng. Walaupun masih ada kehormatan yang melekat padanya.


"Bro, come here" seru Julian melihat Alvin datang. Alvin dengan gaya bak slow motion santai duduk diantara mereka.


"Lama banget lo"


"Ya jelas lama lah, kan dia asik berduaan sama si dia" bela dengan godaan Satya.


Alvin menatap mereka datar, tak berminat menanggapi ucapan mereka.


"Zea gimana bro?" tanya Kenan padanya. Tumben pria itu mau membahas tentang perempuan, karena Kenan itu sefrekuensi dengan. Tidak ada minat dengan perempuan, walau sekarang jelas berbeda.


"Kenapa lo tanya pasal Zea?"


"Gak! penasaran aja. Perempuan yang bisa luluhin hati lo" jawab Kenan.


"Jaga jarak dengannya, apalagi lo!!" tunjuknya pada Julian yang emang suka menggoda Zea dari dulu.


"Wihh,, gak bisa bro. Gue dulu yang awalnya demen, karena udah lo incer ya gue ngalah. Tapi kalok disuruh jaga jarak, susah bro" Julian menepis perkataan Alvin. Alvin menatapnya tajam.


"Mampus lo, ditatep gitu aja langsung ciut hahahaha" tawa Satya menggema, menepuk punggung Julian, menguatkan.


"Sial, resek banget lo" Julian menepis tangan Satya.


"Jangan lupa traktiran seminggu Jul" goda Satya semakin membuat Julian memanas.


"Hahahaha apes banget sih lo Jul" tawa Geo dan lainnya meledak ketika Julian merengut. Dari balapan motor tadi, Julian lah yang kalah.


"Stop bully guys, nanti dia ngamuk, ngadu ke si boss" Kenan berucap.


"Lah emang gue tukang adu?" tanya Julian.


"Emang" jawab mereka serempak. Julian semakin kesal, berdiri dari tempatnya dan berganti duduk disebelah Alvin. Julian tak pernah sadar ketika dia sering mengadu kepadanya jika sudah seperti ini.


"King" rengek Julian.


"Nah, baru juga bilang" seru Kenan.


"Gimana yang lain?" tanya Alvin tak menanggapi Julian.


"Yang lain?? oh, Woy!! keadaan kalian gimana?!"

__ADS_1


"Baik bos"


"Luar biasa bos"


"Aman"


"Gue baru dapet pacar nih, jelas very good"


"Ye nih orang pamer" timpal orang disebelahnya.


Suara saut sautan datang memberikan info tentang keadaan mereka. Lebih tepatnya wilayah mereka masing masing.


"See" Alvin mengangguk menanggapi.


"Terus, lo gimana bro?" tanya Geo. Alvin mengangkat alisnya tak paham kearah mana pertanyaan Geo.


"Tumben lo mau ikut kegiatan sekolah kayak gitu" Geo melanjutkan.


"Gimana gak oke! kalok syutingnya ama pacar sendiri" timpal Julian menyenggol lengan Alvin.


Alvin tak membalas pertanyaan Geo, karena sudah diwakilkan oleh Julian.


"Lo serius bro ama dia?" tanya Geo lagi, Alvin tak menjawab pertanda 'Ya' membuat mereka diam tak bersuara.


"Dia tau siapa lo?" tanya Geo lagi.


"Jelas dia gak tau lah, gimana sih lu!" Julian menimpali kembali. Alvin kembali diam.


Mereka langsung menatap tajam Julian. Yang ditanya siapa yang jawab siapa, " Diem lo Jul" Julian kicep seketika.


"Al_"


"Stop it" tekan Alvin membuat Geo menelan ludah tak melanjutkan ucapannya. Mereka saling diam membuat canggung aura sekitar mereka. Melihat kelima orang itu diam, membuat sekitar ikut terdiam pula.


"Udah deh, kok malah canggung gini. Jangan buat suasana jadi suram ginilah" lerai Satya.


Alvin berdiri dari duduknya, "Gue cabut" Alvin seketika pergi meninggalkan mereka, tanpa mereka bisa cegah.


Mereka menghela nafas masing masing melihat kepergian Alvin. Geo merasa bersalah karena dirinya suasana ini tercipta. Kenan menepuk bahu Geo, bahwa dia tak membuat kesalahan apapun.


...****************...


Alvin mengendarai motornya dengan perasaan mencekat didadanya. Menyadari fakta bahwa orang yang disukai Zea adalah sosok nerdnya dan bukan dirinya yang asli membuatnya terasa ditampar oleh fakta.


Orang yang dia suka Zea adalah si nerd Alvin. Bukan Alvin Exelino Immanuel yang merupakan dirinya yang sebenarnya. Membayangkan itu membuat jantungnya mencekat. Perasaan tak enak yang tak dia tahu apa artinya semua ini.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


Hai, balik lagi. Akhirnya bisa balik ngetik lagi. Maaf, beberapa hari ini sibuk banget, makanya baru bisa up sekarang.


Happy Reading♡


__ADS_2