
Alvin telah sampai di apartemennya. Luka disekujur tubuhnya dan lebam diwajahnya bukan apa apa baginya.
Pria itu memang sengaja mendatangi geng geng terdekat, agar alur rencananya menjadi lebih nyata. Karena ia tahu Bang Arka akan mencurigainya.
Alvin mengistirahatkan tubuhnya dikasur. Ia membuka layar handphonenya menghubungi Joe, ingin tau keadaan Zea.
"Halo tuan!" sapa Joe dari balik telpon.
"Bagaimana gadisku?" tanya Alvin tanpa basa basi.
"Gadis anda baik baik saja tuan. Nona Zea hanya berbaring di tempat tidur dan tak berbuat apa apa," jawab Joe memberitahu apa yang kini Zea lakukan pada Alvin.
"Apa dia meminta sesuatu?" tanya Alvin lagi tak puas dengan jawaban Joe.
"Tidak tuan! Gadis anda hanya bergerak jika ingin ke kamar mandi dan saat makan siang tadi saja tuan. Selebihnya hanya duduk dan berbaring di kasur!" jawab Joe lebih detail.
"Katakan padanya jika gue akan pergi kesana besok. Bilang juga! Jika dia ingin sesuatu, gue akan berikan apapun itu. Kecuali kebebasan!" ucap Alvin memerintah Joe.
"Baik tuan akan saya sampaikan!"
"Jangan lupa kirim laporan tentang apa yang gadisku lakukan setiap setengah jam sekali" perintah Alvin lagi.
"Siap tuan, akan saya laksanakan!"
Alvin kemudian mematikan panggilan telpon dengan Joe. Ia beranjak dari kasur, berjalan kearah nakas. Tangannya terulur mengambil foto Zea yang ia letakan disana.
Semenjak Alvin mulai mengakui bahwa dirinya menyukai Zea. Pria itu menempatkan foto foto Zea ditempat terdekatnya. Alvin selalu membayangkan gadis itu berada didekatnya.
Sampai sampai dirinya kini memiliki hobby mengumpulkan foto foto Zea dari berbagai media sosial gadis itu maupun dari Joe yang selalu memantau saat Zea tak bersamanya.
Dirinya memang sudah tergila gila akan cinta oleh gadis itu. Atau mungkin bisa dibilang obsesi? Entahlah. Alvin tak menyukai kata itu, ia lebih suka bahwa rasa yang ia miliki karena 'Ia begitu mencintai Zea' sampai pikirannya dan hatinya hanya tertuju pada gadis itu.
Alvin kembali berbaringan di kasur bersama foto Zea yang ia gengam.
"My girl" gumam Alvin lirih dengan senyuman melihat foto Zea yang juga tersenyum disana.
...****************...
Hari sudah menggelap. Tepat pukul 9 malam Alvin terbangun dari tidurnya. Pria itu tanpa sadar tertidur saat sedang asik memandangi foto Zea juga melihat Vidio pengintaian Joe mengenai Zea disaat dirinya tidak ada didekat gadis itu dari handphonenya.
Alvin kini beranjak dari kasur pergi kedalam kamar mandi. Setelah beberapa saat, pria itu keluar dari kamar mandi dengan badan yang basah, juga handuk menengger dipinggangnya, terlihat jelas perut Alvin yang terdapat abs alias otot perut yang menggugah selera.
Alvin berjalan kearah lemari untuk memilih pakaian. Pria itu memilih pakaian simple yang tersimpan dilemari.
__ADS_1
Setelah mengenakan pakaian, pria itu menatap dirinya di cermin, membiarkan rambutnya yang berantakan dan memakai kacamata bulatnya yang ia simpan sebelum ke kamar mandi.
Mata hitam tajam yang tersembunyi di balik kacamata itu, terus menelisik melihat bagaimana penampilannya, sebelum ia meninggalkan apartemen.
Dalam kepura-puraan mencari Zea, ia tidak boleh setengah setengah. Ia harus berusaha semaksimal mungkin selayaknya orang yang sedang kehilangan seseorang paling berharga dalam hidupnya.
Alvin terus menulusuri jalanan, mencari keberadaan Zea. Bahkan pria itu mengunjungi supermarket sekitar guna memastikan Zea sempat berada disana. Namun segala pencarian yang ia telusuri tak dapat menemukan gadis itu. Dan hal itu membuat Alvin tersenyum senang karena tak ada jejak mengenai gadis itu.
Sampai dering dari ponselnya membuat lamunan Alvin buyar. Pria itu menepi menghentikan motornya.
"Oyy Al!" sapa Satya dari sebrang telpon.
"Kenapa? Gue sibuk! Jangan telpon gue!" ucap Alvin mematikan panggilan tanpa mau tau apa yang ingin Satya bicarakan.
Alvin yang ingin menyimpan hpnya kembali, dibuat terhenti karena bunyi dering terdengar dari sana.
Alvin mengecek siapa yang memanggil dan ternyata Arka lah yang menelpon dirinya.
"Halo bang, kenapa?" tanya Alvin mengangkat panggilan.
"Halo Al! Lo dimana?" tanya Bang Arka tanpa menjawan pertanyaan Alvin.
"Gue dijalan bang, gue lagi nyari petunjuk soal Zea. Gimana bang? Apa lo udah dapat petunjuk soal Zea?" jawab Alvin sembari bertanya kepada bang Arka.
"Hmm bisa dibilang begitu. Tapi bukan gue yang nemuin, tapi detektif suruhan papa. Lo bisa kesini kalau lo mau!"
Alvin menyimpan kembali handphonenya disaku. Melajukan motornya dengan wajah datar tanpa ekspresi ke rumah Zea.
...****************...
"Om, Tan, Bang!" sapa Alvin kepada ketiga orang terpenting dalam hidup Zea. Alvin menghampiri mereka mencium tangan mereka.
"Udah datang Al! Cepet banget!" ucap Mama Tia sambil mengusap rambut pacar putrinya itu saat Alvin mendekat.
"Kebetulan lagi di jalan Tan!" ujar Alvin.
"Yaudah duduk dulu! Kita lagi nunggu detektifnya datang!" Ucap Mama Tia menyuruh Alvin duduk.
"Gak perlu Tan, saya berdiri aja!" tolak Alvin.
"Udah duduk aja! Om denger waktu Arka telpon kalau kamu habis cari Zea ke jalanan! Pasti capek!" ujar Papa Hendra.
"Betul tuh nak Alvin, sini duduk disebelah Tante!" ucap Mama Tia menyuruh Alvin duduk disebelahnya. Alvin dengan muka lesu namun berusaha tersenyum duduk disamping mama Tia.
__ADS_1
Sejujurnya dalam hati Alvin senang karena dia berhasil merebut hati kedua orang tua Zea, walaupun keduanya sudah mengetahui fakta bahwa dirinya sempat membohongi Zea bahwa ia orang miskin. Kini tinggal menaklukkan macam pelindung Zea yang duduk di single sofa dengan mata yang terus terarah padanya. Siapa lagi kalau bukan Arka, kakak Zea.
Pria itu terlihat tenang dan bersahabat dari luar, namun didalamnya Bang Arka tak setenang itu. Pria itu tak percaya pada siapapun termasuk Alvin.
'Gue harap lo bukan dalang dibalik ini semua Al!' ucap Bang Arka dalam batinnya masih mencurigai Alvin.
Tak lama kemudian detektif suruhan Hendra datang membuat situasi sedikit tegang.
"Bagaimana tentang petunjuk yang anda dapatkan?!" tanya Papa Hendra tanpa basa basi.
Mereka semua walaupun bersikap tenang namun jauh di lubuk hati terdalam sangat amat mengkhwatirkan Zea.
"Baiklah langsung saja saya mulai. Sekarang tolong lihat vidio yang saya dapatkan!" ujar detektif itu memperlihatkan rekaman video pada keluarga Zea juga Alvin.
"Zea!" Pekik Mama saat melihat mobil Zea dihadang oleh seorang pria yang keluar dari mobil itu.
Dan nampak seorang wanita yang postur tubuh dan jaket yang Mama Tia kenal, keluar dari mobil membuat Mama Tia makin histeris ketika gadis yang membelakangi kamera itu ditarik paksa masuk kedalam mobil sang laki laki.
"Mohon maaf! Hanya ini petunjuk yang saya peroleh untuk saat ini. Dan untuk pria di vidio ini kami telah menemukan identitas dari pria tersebut, nama pria itu adalah Zion. Apakah kalian kenal dengan pria ini?" tanya detektif pada mereka. Sambil menunjukan selembar foto Zion.
Keluarga Zea yang sudah menduga siapa pria itu menegang karena dugaan mereka benar. Tangan Papa Hendra, Bang Arka, juga Alvin mengepal, raut wajah mereka benar benar terlarut dalam emosi. Sedangkan mama Tia terisak ketika mengetahui siapa yang terlibat dalam menghilangnya Zea.
Papa Hendra mencoba menenangkan diri menggenggam tangan Mama Tia yang terisak disebelahnya. Sebagai kepala keluarga ia tak boleh terlalu kalut dalam kemarahan, ia harus mengendalikan diri karena anak dan istrinya membutuhkan dukungan dirinya.
"Saya kenal pria itu! Dia adalah pria yang sempat membuat putri ku menderita dan pria itu memang mengincar putri saya sedari dulu!" ucap Papa Hendra menjelaskan.
"Baik terima kasih informasinya, akan saya selidiki lebih lanjut! Kalau begitu saya permisi dulu, saya ingin segera melanjutkan penyelidikan!" ucap sang detektif.
"Terima kasih banyak, saya tunggu kabar baik tentang putri kami! Arka tolong antarkan detektif Ed keluar" Suruh Papa Hendra.
"Eh tidak perlu pak Hendra! Kalian pasti masih syok tentang kabar ini! Saya akan pergi sendiri, Kalau begitu saya permisi!" tolak detektif Ed memperhatikan mama Tia yang menangis, lalu meninggalkan ruangan itu.
"Silahkan!" ujar papa Hendra memperhatikan kepergian detektif itu. Kemudian pandangan papa Hendra beralih kepada sang istri.
"Hiks hiks pa! Zea pa! Ini salah Mama, Zea harus bertemu lagi dengan pria itu!" ucap Mama Tia dengan Isak tangis dipelukan sang suami.
"Udah Ma! Jangan salahin diri Mama sendiri! Papa anter mama istirahat ke kamar ya? Mama pasti capek!" ucap Papa Hendra merangkul bahu Mama Tia untuk berdiri.
"Papa tinggal ya Ar, Al!" pamit Papa Hendra meninggalkan kedua pria itu menuntun Mama Tia yang terpuruk dalam kesedihan ke kamar.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Segini dulu ya!! 。◕‿◕。
Happy Reading ♡♡