
Mereka terkesipa ditempat. Saling menatap satu sama lain dengan wajah membelak dan tentunya kaget.
"Kok lo disini Al?!" tanya Julian melihat kedatangan Alvin, juga Zea dan kawan kawan.
Duk
Bahu Julian tersenggol.
"Bego! Ini kan apartemennya" ujar Kenan.
Alvin menghela nafas, "Masuk" kata Alvin pada para gadis itu. Ia melangkah maju.
Zea, Keyla, dan Icha masih terpaku ditempat. Apalagi Icha yang kini mematung saling bersitatapan tatapan dengan Satya.
"Cha!" panggil Keyla dan Icha disebelahnya.
"Kemari kemari gabung yuk sama kita!" ucap Geo bersikap ramah, menyisihkan tempat untuk ketiga gadis itu.
Zea dan Keyla saling bertatapan, lantas mengangguk. Mereka menuntut Icha untuk duduk bersama geng Aodra itu.
Canggung tentunya. Keempat pria tadi yang mulanya berseru ria asik memainkan game kini juga ikut diam.
Mereka tidak ada yang mau menatap satu sama lain. Dan Alvin entah kemana masuk lebih dalam ke dalam apartemen pria itu.
"Ze! Gue belum siap!" bisik Icha takut ditelinga Zea. Ia meremas tangan Zea menyalurkan guratan kepedihan yang ia rasakan. Kemana lagi ia harus mengadu tentang apa yang Alvin lakukan hingga membuat ia sekalut ini jika bukan pada Zea? Walau ia harus menerima apapun hasilnya nanti.
"Oke lo tenang aja, gue akan coba bujuk Alvin lagi!" ujar Zea menenangkan. Mata Zea beralih menatap kedalam, menelisik apakah Alvin terlihat dipandangannya.
Zea diam beberapa saat hingga beberapa menit mencoba mengawasi situasi yang pas, sebelum bertanya.
"Alvin mana?" tanya Zea pada para pria itu.
"Didalam mungkin, cari aja!" ujar Geo menoleh. Ia bicara langsung agar Zea tak perlu sungkan masuk kedalam apartemen kekasihnya sendiri seperti hal nya mereka.
"Gue temuin Alvin bentar!" Zea bangkit dari duduknya diangguki para pria itu juga kedua sahabatnya.
Mereka yang diam dalam keheningan kembali bermain game, mencoba mencari kesibukan masing masing tanpa suara.
Seperti halnya Icha dan Keyla yang bermain ponsel entah apa yang dilihat mencoba mengabaikan para pria itu.
Disisi lain
Zea melangkah masuk lebih dalam ke apartemen Alvin yang luas. Ia mencari Alvin kearah dapur tapi Alvin tak ada disana.
Ia menyelurusuri apartemen dengan langkah pelan kemudian menatap kearah tangga lantai dua.
'Apa Alvin ada disana ya?' batin Zea bertanya.
Ia lantas menaiki anak tangga demi anak tangga. Ia mengetuk pintu ruangan yang ada disana memanggil nama Alvin.
"Alvin!" panggil Zea namun tak ada balasan.
Zea mengetuk pintu lagi tapi juga tak ada balasan. Zea membuka kenop pintu mengintip bukan ia memastikan apakah Alvin ada disana atau tidak.
Nyatanya, ruangan itu kosong dan Alvin tak ada disana. Zea mencoba memastikan agar lebih jelas. Ia masuk kedalam ruangan yang seperti kamar tidur itu itu. Ia menatap dua pintu yang ada disana.
Zea yakin salah satunya adalah kamar mandi tapi tak ada suara gemericik air dari sana. Pandangan Zea yang menelisik kemudian tertuju pada bingkai foto di nakas pria itu.
Itu adalah fotonya bersama Alvin dengan senyum. Zea mengingat hal itu.
Kemudian pandangan Zea kembali teralih kenakas yang berbeda. Disana pun sama terdapat foto fotonya yang terjajar rapi. Hati Zea berdebar melihatnya. Tapi ia mencoba mengabaikan dan menahan. Ia tak ingin Alvin merasa menang. Sudah cukup Alvin memiliki jiwa raganya, Zea tak ingin hatinya pula dimiliki oleh Alvin.
__ADS_1
Kemudian Zea menatap pintu yang sedikit terbuka dari salah satu pintu itu.
"Apa Alvin disana?" gumam Zea bertanya.
Tok tok tok
Zea mengetuk pintu itu.
"Alvin" panggil Zea, tapi lagi lagi tak ada sahutan didalam sana. Zea yang merasa penasaran membuka pintu itu sedikit lebih lebar agar ia bisa menyusupkan kepalanya kedalam.
Dahi Zea mengeryit heran kearah ruangan gelap itu. Dibalik gelapnya ruangan Zea dapat melihat ada komputer disana, juga ada beberapa gambar yang tertempel ditembok tapi Zea tak dapat melihat dengan jelas.
Zea yang semakin penasaran masuk lebih dalam, meraba-raba, mencari saklar lampu.
Brakk
"Zea!" panggil Alvin membuat Zea tersentak kaget langsung keluar dari ruangan itu, mengurung niatnya.
"Alvin! Dicariin juga!" keluh Zea mencibir memanyunkan bibir seolah ia marah.
"Aku tadi ada dikamar bawah!" Alvin mendekati Zea.
"Kamu ngapain disini?" tanya Alvin. Tangannya terulur menutup ruangan yang tadi dimasuki oleh Zea.
"Cariin kamu lah!" jawab Zea.
Mata Alvin menatap Zea dengan selidik, "Kamu lihat apa diruangan itu?!" tanyanya dengan sorot mata tajam.
"Cuma lihat ada komputer, tadi akan raba raba dinding gak nemu tombol lampu. Emang disitu ada apa sih? Gelap banget!" ujar Zea penasaran.
"Nggak ada apa apa! Udah! Ayo kebawah!" Alvin membawa Zea keluar dari kamar. Zea menoleh ke pintu itu sambil mengikuti langkah Alvin, rasa penasarannya masih tersisa di pikiran Zea.
Ia mengikuti langkah Alvin yang menuruni tangga.
"Kenapa?" tanyanya ikut menghentikan langkah.
"Apa kamu akan bilang pada Satya mengenai Icha?" tanya Zea seraya menggigit bibirnya dalam.
"Tentu, kenapa tidak?!" jawab Alvin membuat mata Ze tertuju langsung pada Alvin.
"Bisa tidak jangan hari ini?!" pinta Zea memohon dengan mata sendu.
"Beri aku alasan, kenapa jangan hari ini?!" Tanya Alvin.
"Itu, Icha, Icha masih belum siap Al!" jawab Zea sejujurnya. Ia sangat gugup menghadapi Alvin saat ini.
"Dia tak akan pernah siap jika tidak ada yang maju Ze!" ujar Alvin membalas.
"Tapi, setidaknya jangan memberitahu Satya kebenarannya didepan Icha sekarang. Itu terlalu cepat untuk Icha Al, Please! Ya?!" pinta Zea dengan tulus.
"Berikan aku bayaran dan aku akan melakukan seperti yang kamu mau!"
"Bayaran?!" Zea mengernyitkan.
"Ya" ujar Alvin.
"Kamu mau uang?" tanya Zea.
"Apa aku semiskin itu?" Alvin balik bertanya.
Zea menggeleng, jelas ia tau seberapa kaya Alvin. Seorang pewaris tunggal dari perusahaan ternama juga seorang pemimpin geng.
__ADS_1
"Terus kamu mau apa?" Zea bertanya serius pada Alvin.
"Apa yang bisa kamu berikan padaku?" Alvin tak menjawab namun balik bertanya.
"Aku tak tahu! Kamu memiliki segalanya Al! Apa yang bisa kuberikan padamu?" Zea bertanya dengan serius.
"Berikan saja aku satu permintaan dan kamu harus mengabulkan permintaanku ini" jawab Alvin.
"Apa yang kamu mau?" Zea bertanya. Ia harus tau apa yang Alvin inginkan darinya.
"Untuk sekarang belum ada. Tapi nanti, jika aku menginginkan sesuatu darimu kamu harus mengabulkan. Deal?!" Zea menimang nimang sebentar. Ia merasa aneh dengan apa yang nantinya akan diminta Alvin.
"Kau tak menjebakku kan Al?" Zea curiga.
"Memang kamu ingin ku jebak bagaimana?Sudah! Aku tak punya toleransi lagi! Deal atau tidak?" Alvin mendesak. Zea menghela nafas berat. Melihat Icha yang terdiam dan tak lagi ceria membuat Zea tak tega jika sahabatnya itu kembali terpuruk dan akhirnya mengiyakan Alvin.
"Oke, deal!" jawab Zea.
Keduanya saling berjabat tangan. Alvin tersenyum senang.
Zea ingin menyudahi jabatan tangannya. Tapi Saat Zea ingin melepaskan Alvin justru menarik tangannya membuat ia ambruk di tubuh Alvin.
"Al!" pekik Zea saat Alvin mendekapnya.
Alvin mengusap kepala Zea dengan sayang. memegang wajah Zea membuat gadis itu mendongak kearahnya.
"Akan ku gunakan satu kesempatan ini sebaik mungkin" ujar Alvin dengan senyuman yang terbesit dibibirnya.
'Apa ia sudah membuat kesalahan?!' batin Zea berseru.
"Ayo!" Alvin menariknya kembali keruangan depan.
Mereka menoleh melihat kedatangan Zea dan Alvin. Keyla dan Icha menatap Zea penasaran bagaimana hasilnya. Zea tersenyum dan mengangguk membuat keduanya bernafas lega.
"Kenapa?" tanya Geo melihat Keyla dan Icha menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
Keduanya menggeleng, "Gak papa" jawab keduanya.
Geo mengendikan bahu acuh. Alvin mengajak Zea duduk di salah satu sofa. Ia melihat teman teman Alvin yang sudah menikmati keseruan bermain game.
"Mau coba main?" tawar Alvin menyaksikan Zea yang melihat teman temannya yang sedang asik main game diponsel mereka. namun alur permainan terhubung dengan layar televisi didepan mereka. Memperjelas apa yang mereka lakukan.
Zea menggeleng, "Nggak ngerti!" ujarnya. Alvin terkekeh sekilas.
"Nih coba!" ujar Alvin memberikan handphonenya pada Zea yang sedang memuat game yang akan mereka mainkan.
"Eh eh, aku gak bisa" ujar Zea menolak handphone Alvin.
"Aku ajarin" ujar Alvin mendekat kearah Zea. Memeluk gadis itu dari samping.
"Nih kalian mau mau coba nggak? Mumpung gue baik!" tawar Geo menyodorkan handphone yang ia miliki pada Keyla dan Icha.
Icha mendongak kemudian, Icha dan Keyla saling bersitatap. Keyla mengangguk agar Icha ikut mengiyakan. Mereka kembali menatap kearah Geo.
"Boleh" jawab keduanya menerima handphone Geo.
Jadilah mereka bermain game merasakan keseruan game yang telah perusahan Alvin kembangkan itu. Mereka saling asik bermain menghilangkan ketegangan.
Tapi dibalik kesenangan itu. Selama permainan itu Icha dan Satya tak ada saling tenggang rasa. Berbicara satu sama lain saja tidak. Icha lebih memilih berbicara pada Geo atau Kenan diantara para pria itu. Dan sesekali membalas Julian.
Namun mereka menikmati permainan walaupun ada batas antara Icha dan Satya. Dan Alvin pun menepati kata katanya untuk tak berbicara pada Satya. Pria itu asik bermanja ria pada Zea, menikmati bermain game dengan gadisnya itu.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ