
Alvin mengendarai mobilnya menuju markas Aodra. Pria yang seakan bangkit kembali itu mengumpulkan informasi demi informasi seakan mengira ngira apa yang terjadi.
"Coba saja kalau berani main main denganku!" gumam Alvin tanpa ekspresi memandang kedepan.
Mobil Alvin terus melaju hingga pria itu sampai di markas.
Pria itu berjalan masuk membuat suasana seketika langsung mencengkeram. Anak buah Alvin yang melihat kedatangannya seketika tak dapat bergerak. Mereka semua diam dengan tubuh yang menegang.
Alvin masuk lebih dalam, membuka ruangan yang biasanya menjadi tempat ia dan kawan kawannya itu berkumpul.
Lengkap!!
Ada Geo, Satya, Julian, dan Kenan disana.
Mata Alvin bertemu dengan Geo dan mendekati pria itu.
"Dimana?" tanya Alvin pada Geo.
"Dia pergi sendiri! Dia nggak nerima bantuan gue" jawab Geo serius.
Alvin menatap Geo tajam mencari apakah pria di depannya ini sedang berbohong atau tidak.
Melihat Geo yang seakan tak bercanda Alvin mengangguk.
"Oke" ujar Alvin.
Ia berbalik dan menoleh kesamping melihat kawan kawannya itu. Pandangannya tertuju pada Kenan.
Alvin mendengus sekaligus tersenyum smirk. Ia berjalan pergi tanpa menyapa.
Melihat sikap Alvin sekarang keempatnya saling tatap dan hanya bisa memaklumi.
"Gue temenin Alvin dulu! Kalian jaga kondisi markas, jangan sampai berulah!" tutur Geo menginterupsi.
"Oke!" jawab mereka menyetujui.
Geo pergi keluar markas mengikuti langkah Alvin. Ia mendekati Alvin yang sudah sampai di mobilnya kembali.
"Al!" panggil Geo mendekat.
Geo menyentuh pintu mobil Alvin,
"Masuk!" ujar Alvin memerintah.
Geo mengangguk, "Biar gue yang nyetir" ujar Geo.
Namun seakan tak menghiraukan Alvin langsung masuk kedalam pintu kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.
Melihat Alvin yang tidak bisa dibantah bahkan sedikitpun, Geo hanya bisa tersenyum kecut menuruti kemauan pria itu.
Geo berbalik masuk menuju pintu di samping Alvin. Ia memasang seat belt duduk dengan tenang bercampur tegang di samping Alvin.
Alvin mulai menancap gas. Ia mengemudikan mobilnya meninggalkan markas.
"Ekhmm!! Ini mau kemana Al?" tanya Geo berdehem mencairkan suasana.
"Sekolah" jawab Alvin datar.
"Ha?!" ujar Geo tersentak lantaran ia dan para soibnya itu sengaja membolos karena tau Alvin akan datang. Namun sekarang Alvin bilang ingin ke sekolah disaat sekolah sedang berlangsung.
"Lo mau coba cari data tentang Zea?" tanya Geo menoleh melihat Alvin.
__ADS_1
Alvin tak membalas.
"Percuma! Surat pindahan Zea udah diurus dan udah di sembunyiin dari lo" ujar Geo melanjutkan.
citt..
Alvin mengerem mobilnya menoleh kearah Geo. Alvin menatap Geo dengan ganas.
"Jangan tatap gue seperti itu! Lo sendiri yang nyuruh gue bawa dia pergi kalau gue ngerasa lo berbahaya" tutur Geo membalas.
Nafas Alvin memburu, nampak pria itu sedikit kesal dengan hal ini.
Alvin kembali menatap depan dan melajukan mobilnya.
"Coba aja kalau pria tua itu nggak mau bilang!" gumam Alvin kekeh dengan pendiriannya.
Alvin sekarang yang lebih mempercayai dirinya sendiri dan apa yang ia lihat tetap pergi ke sekolah.
"Terserah!" balas Geo.
Geo hanya bisa mengikuti dari belakang saat mereka sampai di sekolah dan melihat bagaimana Alvin masuk kedalam ruangan kepala sekolah tanpa permisi.
"Gue tunggu disini" ujar Geo berdiri tepat di depan pintu masuk tanpa ikut Alvin masuk.
Alvin menutup pintu ruangan itu dan Geo bersandar pada tembok di samping pintu menunggu Alvin.
Geo menatap kearah jam tangan di pergelangan tangannya, mengira ngira kapan Alvin akan keluar.
"Siapa yang mengijinkan?" ujar Alvin bersuara keras sampai terdengar di telinga Geo.
Geo mengulum bibirnya rapat. Ia yang sedikit penasaran bergerak membuka pintu dan mengintip di sela sela pintu melihat kedalam.
Terlihat sang kepala sekolah yang berusaha menjelaskan pada Alvin.
Geo tersentak kembali ke posisi.
Sang kepala sekolah membukakan pintu untuk Alvin.
"Saya tak akan bilang! Kamu silahkan keluar!" Tuturnya mengusir Alvin dengan tegas.
Alvin bangkit, ia menatap tajam pria yang bekerja untuk keluarganya itu.
"Semoga anda tak menyesal nantinya!" ancam Alvin keluar dari ruangan itu.
Kepala sekolah itu nampak menghembuskan nafas berat ketika bertatapan dengan Geo.
Alvin pergi dari sana disusul oleh Geo. Geo mengikuti Alvin setiap langkah demi langkah.
Mereka masuk kembali kedalam mobil. Pria di samping Geo itu lebih banyak diam dari sebelumnya.
Geo terus menerus melirik Alvin, ia penasaran dengan apa yang Alvin pikiran dan lakukan tentang masalah ini.
"Katakan!" ujar Alvin tanpa menoleh.
"Apa?" tanya Geo tak mengerti.
"Caramu menyembunyikan" ujar Alvin kembali.
Setelah sampai di ruangan kepala sekolah tadi Alvin mengambil kesimpulan bahwa ada seseorang di tempatnya yang bisa menekan kepala sekolah sampai pria itu tak mau menurutinya. Orang itu pasti lebih tinggi darinya. Siapa dia?? Alvin merasa Geo tau jawabannya.
"Bukannya kau bisa menyelidiki sendiri" ujar Geo tak ingin bilang.
__ADS_1
"Sepertinya kau benar benar tak ingin bilang ya!" ujar Alvin tak menggubris perkataan Geo.
"Bukannya tak ingin! Gue sendiri juga gak tau dia kemana" balas Geo.
"Termasuk Kenan?!" ujar Alvin membuat Geo tersentak. Alvin memberi ancaman padanya.
"Jadi lo udah tau?" balas Geo kembali memasang wajah seperti biasanya mencoba tak terprovokasi.
"Apa yang kalian tau mungkinkah gue gak tau?!" seru Alvin menjawab.
"Bener juga" ujar Geo mengerti.
"Tapi Kenan gak ikut dalam hal ini! Keluarga Zea menolak" ujar Geo melanjutkan ucapannya sembari memberi alasan.
Alvin berpikir sejenak, "Sepertinya banyak yang kau lakukan ya Ge dalam 2 minggu ini" ucap Alvin menyindir.
Geo mengulas senyum, "Bukannya lo yang sengaja pergi selama 2 Minggu buat gue ngelakuin ini!" tutur Geo.
Kemudian keduanya saling diam membisu hingga Geo angkat bicara.
"Apa lo bakal lakuin sesuatu ke Kenan setelah tau ini semua?" tanya Geo penasaran dan sedikit cemas.
"Menurut lo?" Alvin bertanya balik.
"Gue nggak tau! Gue nggak bisa nebak" jawab Geo jujur.
Jika ini Alvin yang dulu mungkin Geo bisa menebak bahwa Alvin akan melepaskan Kenan, tapi kalau sekarang ia tak yakin.
"Kalau begitu lihat saja nanti!" jawab Alvin membuat penasaran.
Alvin mengendarai mobilnya entah kemana hingga Geo menyadari daerah yang ia masuki itu saat melihat pepohonan tinggi yang tak asing.
"Ini?!" seru Geo menatap sekitar.
Alvin diam terus melajukan mobilnya hingga mobilnya itu berhenti di sebuah bangunan dengan seseorang yang berdiri tepat di depan pintu gerbang.
Alvin mematikan mesin mobil dan ia turun dari mobil diikuti oleh Geo.
Geo melihat kesekitar dan melihat beberapa alat berat nampak terparkir disana.
Joe, pria yang berdiri di depan pagar itu mendekat pada keduanya. Geo melihat keduanya tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Saya akan melenyapkan buktinya untuk anda tuan!" tutur Joe berprilaku sopan pada Alvin. Joe membungkuk sebagai salam pada Alvin.
Kemudian Joe berjalan menuju alat berat itu dan menaikinya.
Tinn tinn
Brukk...
Bangunan itu seketika hancur.
Geo yang menonton di samping Alvin seketika lemas. Pria itu berjongkok ditanah memegang kepalanya.
"Hahaha Gila!" seru Geo tertawa sumbang melihat bagaimana Joe yang merusak rumah besar itu.
Geo melirik dari ujung matanya melihat betapa gilanya apa yang dilakukan Joe sekarang. Bangunan sebesar itu dengan santainya dihancurkan oleh Joe.
"Karena keluarga Zea juga sudah tahu! Maka layaknya bangunan ini! Gue hanya perlu menghancurkan semuanya untuk memulai yang baru!" ujar Alvin tepat di samping Geo.
Geo melirik Alvin. Ia tercengang hanya bisa menatap sekitarnya dengan wajah muram.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ