My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
196. Zea menyebalkan


__ADS_3

Zea Pov


Ku lihat dari jauh Joe yang sedang memegang tangan Ayu dengan kasar. Dengan segera aku berlari menghampiri mereka.


"Kamu gak papa Yu?" tanyaku sambil memegang tangan Ayu yang memerah.


"Nggak papa!" Ayu mengangguk.


Ku lihat Joe dengan amarah. Aku tak suka jika ia menyakiti orang disekitar ku.


Aku melihat kearah Alvin masih dengan wajah datarnya. Inginku marah tapi aku tak memiliki kesempatan untuk itu.


Puk puk


Seseorang menepuk bahuku dari belakang membuatku menoleh.


"Em Ra! Ini siapa Ra?" tanya Dea padaku.


Aku hendak buka mulut tapi Alvin mendahului.


"Kenalin, gue Alvin. Pacar Zea!" ujarnya membuatku bungkam.


Mereka nampak membelak tak percaya, melihatku dengan tatapan 'Apa itu benar?' ku anggukan kepala sebagai balasan.


Diantara kami tak ada pembicaraan lagi. Hingga telpon dari saku Joe berdering.


Pria itu dengan sigap menerima panggilan telpon, setelah itu mematikannya dan mendekat pada Alvin. Membisikkan hal yang tak bisa ku dengar.


"Aku tahu" balas Alvin.


Aku membuang muka saat Alvin melirik ku.


"Kamu masih ingin main?" tanya Alvin padaku.


Ku lirik kearah teman teman ku apakah mereka masih betah ada disini.


"Mungkin iya" jawabku tak pasti.


Alvin masih melihat kearah ku dengan tatapan dalam yang tak ku mengerti.


"Berikan handphone mu" ujar Alvin dengan suara seperti menyuruh.


"Nggak punya" jawabku apa adanya.


Alvin memincing dan menatap ku curiga, seperti aku sengaja menyembunyikannya.


"Beneran! Tanya aja ke mereka kalau gak percaya" ujarku menjelaskan bahwa aku memang tidak memiliki handphone.


Alvin melirik kearah ku tak senang.


"Joe" panggil Alvin lagi, dengan nada memerintah.


"Baik tuan! Akan saya belikan" tanggapnya lalu pergi meninggalkan kami.


Aku menghela nafas. Lagi lagi sikapnya seperti ini, suka memerintah dan menyuruh.


"Kalian duduk aja! Nikmati waktu kalian! Gak usah memikirkan gue" ujar Alvin menyuruh teman temanku untuk duduk.


Melihat semua sikap Alvin tadi, mereka terpengaruh dan menuruti kemauan Alvin. Duduk di tempat semula.


Alvin menarik kursi duduk di sampingku. Rasanya sunyi diantara kami. Tak ada lagi canda tawa seperti semula.


Tap


Tubuhku menegang saat Alvin tiba tiba memegang tanganku. Tanganku bergerak mendarat dibibir Alvin.


Cup


Ku pejamkan mata rasanya malu diperlakukan seperti ini.


Ku tarik tanganku kemudian ku kipas ke wajahku.


"Ah panas banget! Gerah! Minumku mana tadi ya? Aku haus" ujarku mengalihkan perhatian.


Ku buka kantong plastik yang berisi satu cup minuman yang belum tersentuh. Selebihnya sudah dibagi pada masing masing.


"Minum minum" ujarku lagi pada teman temanku untuk menikmati agar tidak tegang.

__ADS_1


Ku tusuk penutup minuman dengan sedotan kemudian mendaratkan ke bibirku menegaknya dengan berat.


Lagi! Tiba tiba tangan Alvin bergerak menyentuh bibirku, mengusap bekas air yang tersisa disana.


"Uhukk uhukk" Ayu disamping ku tiba-tiba tersedak akan kelakuan Alvin.


Aku segera menjauh, mendekatkan diri pada Ayu. Ku tepuk punggungnya untuk meredakan.


Bahaya!!! Ini bahaya. Otakku seperti menangkap sinyal bahwa aku tak bisa dekat dengan lebih lama.


"Em Al! Apa kamu lapar? Pasti kamu lapar ya kan? Bisa tolong belikan makanan?" ujarku membuat alasan agar Alvin pergi.


Aku tersenyum lebar dari balik masker agar Alvin pergi. Namun pria itu seakan tidak menggubris kode yang kuberikan.


"Aku gak lapar. Kamu lapar? Akan kusuruh Joe belikan jika kamu lapar" balasnya.


Aku hampir tak bisa menahan ekspresi wajahku untuk terus tersenyum.


Aku menggeleng sebagai balas, "Nggak jadi! Lupakan saja" ujarku.


Aku berlapang dada dengan ketidak pekaan Alvin saat ini.


Aku duduk dengan berpangku tangan tak menatap kearah Alvin.


Ku biarkan saja teman teman ku yang asik berbisik untuk berbicara dan Alvin yang memandang ku.


'Bosan' batinku.


Aku berpindah tangan menoleh kearah Alvin melihat mata hitam legamnya.


Tiba tiba suatu pengalihan terbesit dibenakku.


Aku bangkit merapikan pakaian ku yang sedikit tertekuk. Semua perhatian tertuju padaku.


Aku menoleh pada teman temanku.


"Em kalian mau jalan jalan gak? Dari pada nunggu disini panas panas. Lebih baik kita kedalam yuk! Lagian tadi juga belum puas kan lihat lihatnya!" ujarku mengajak.


Dengan cepat mereka menyetujuinya jika tidak mereka tak akan tahan dengan mode diam saat ini.


Mereka bangkit begitu pula Alvin. Ia menggenggam tanganku dari samping.


"Em kamu gak mau nungguin Joe Al?" tanyaku berharap Alvin tetap tinggal disini.


Alvin menatap ku dingin, "Nggak perlu, dia bisa sendiri" ujarnya.


Aku menghela nafas sambil mengangguk angguk.


"Ayo!" ajaknya melangkah kaki dulu mengawali.


Aku dan Alvin berjalan di depan dan yang lainnya mengikuti di belakang seperti tak ingin berdekatan dengan kami.


Tubuhku menegang setiap saat oleh kelakuan Alvin. Mulai dari ia tiba tiba memeluk pinggangku, membenarkan rambut ku yang tertutup topi, bahkan tak segan ia mencuri ciuman di pelipisku yang terhalang topi. Aku memejamkan mata pasrah, 'mau ditaruh dimana mukaku ini?' mana yang lain lihat lagi.


Seperti kali ini aku mencari masalah sendiri, padahal sedari tadi Alvin hanya diam saja melihatku namun sekarang ia menjadi berani.


Bisa saja, bagi mereka mungkin hal yang kulakukan ini keterlaluan mengingat perbedaan pergaulan di desa dan kota tempat ku dulu tinggal.


"Al! Jangan gini, banyak yang lihat. Malu!" ujarku menegur Alvin dengan pelan


Tapi seperti tak ada wajah, Alvin tak menghiraukan bahkan mengeratkan pelukannya kepinggang ku.


Aku menggenggam telapak tangan dengan kesal, seakan aku bersiap untuk memukul pria disampingku ini.


"Hei lihat! Itu cantik banget. Kesana yuk, lihat lihat" ujar Febi dibelakang tertuju pada toko aksesoris di samping.


Aku menghela nafas lega, melepaskan pelukan Alvin dengan keras, kemudian tersenyum kearah pria itu. Segera ku tinggalkan Alvin menuju kawan kawanku. Aku menerobos kearah mereka untuk berada di tengah tengah.


Ku buat ekspresi senatural mungkin, melihat lihat beberapa aksesoris di depan dengan antusias sambil menyahuti omongan mereka.


"Sttt Yu!" Panggil ku sembari berbisik ditengah kami melihat lihat.


Ayu menoleh melihat kearah ku. Aku tersenyum lebar dengan antusias sebagai pengalihan.


"Tolong cari alasan buat pulang! Aku udah gak sanggup disini lagi" ujarku dengan suara pelan.


Aku menoleh kebelakang, melihat Alvin yang mengawasi. Ku arahkan senyumku padanya, memperlihatkan benda ditanganku dan ia mengangguk sebagai balasan.

__ADS_1


"Oh oh oke siap" jawab Ayu terbata namun mengerti.


"Ini bagus! Cocok gak?" tanya Maya pada kami.


"Ah iya, itu bagus. Cocok cocok!" jawabku menanggapi.


Aku melihat lihat kemudian memilih salah satu dengan asal untuk mengakhiri.


"Aku ini aja deh!" ujarku mengambil sebuah kalung dengan gantungan kupu kupu.


Aku mengarah ke kasir, meletakannya di etalase kasir.


Seseorang mendekat, lalu menyodorkan kartu ATM ke arah penjaga kasir.


"Pakai ini aja!" ujar Alvin dengan nada cuek.


"Ah gak usah! Aku bisa bayar sendiri" ujarku menolak dengan tegas.


Tapi lagi dan lagi Alvin menatap ku tanpa bisa ku tolak.


"Sekalian sama yang lain" ujarnya tak ingin dibantah.


Aku hanya bisa mengiyakan dan membiarkan Alvin membayar. Setelah itu kami pergi meninggalkan toko.


"Tuan!!" panggil Joe saat kami keluar dari toko aksesoris. Rupanya pria itu telah kembali.


"Maaf saya lama!" tambahnya segan.


Ku lihat ia menyerahkan barang yang dibeli pada Alvin. Kemudian Alvin menatap ku.


Aku tau barang itu akan diberikan padaku. Bukan apa, aku hanya takut isi didalamnya menjadi pengikat yang tak bisa ku putus karena pria di depanku ini suka sekali mengawasi pergerakan ku.


"Ambil!" ujarnya.


Aku melirik pada teman temanku yang matanya nampak berbinar binar.


"Makasih!" ujarku menerima.


Aku memegangnya tanpa mengecek isi didalam kantong.


Ku lihat jam tangan di pergelangan tanganku. Masih belum terlalu sore untuk pulang, waktu seakan berjalan lambat. Tapi aku sudah tak ingin disini lagi.


Aku mendekat kearah Ayu, menepuk pinggang belakang Ayu pelan. Ayu tersentak sedikit maju kedepan.


Ia menoleh kearah ku namun tak paham dengan maksudku. Aku memejamkan mata berharap Ayu mengerti.


"Oh ya! Zeara aku lupa. Kalau Ibuk nyuruh aku nganter bekal ke bapak. Ah mana udah jam segini lagi!" ujarnya membuat alasan.


Konyol!! Bukankan itu terlalu aneh untuk menjadi alasan.


"Ah iya ya! Aku juga baru inget mama nyuruh aku pulang jangan sore sore. Em teman teman, kita pulang sekarang aja gimana?" tanyaku mengabaikan Alvin yang terus menatap ku.


Aku tak bisa berkutip akan sikapku yang menyebalkan saat ini. Namun menyikap kejutan yang datang hari ini membuatku mau tak mau harus melakukanya walau terdengar aneh.


"Mau pulang sekarang?" tanya Dito sedari tadi diam. Ia bahkan tak bertegur sapa dengan Alvin sebagai sesama pria yang biasanya akrab dalam hitungan detik.


"Yah udah mau pulang? Terus teman kamu ini gimana Ra?" tanya Maya menunjuk Alvin.


'Kenapa malah nunjuk Alvin sih?' batinku kesal.


Aku menjaga sikapku mendekati Alvin.


"Gak papakan aku pulang sekarang?" ujarku tak seperti bertanya pada Alvin, lebih tepatnya meminta ijin darinya.


"Terserah!" jawabnya membuatku bingung.


'Boleh nggak nih?" batinku.


'Ah udahlah! Pasang muka tebal aja deh!' lanjutku kembali membatin.


"Oh yaudah kalau gitu! Bye bye! Aku pulang dulu ya. Dah!" pamitku melambaikan tangan, berbalik menggandeng lengan Ayu dan segera meninggalkan tempat ini.


Teman temanku mengikuti di belakang.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2