My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
55. Dikejar


__ADS_3

Zea bersenandung sambil menyetir mobilnya. Ia mencari cari apakah ada minimarket yang buka, namun saat ditemukan ternyata, tutup. Heran sekali dirinya, karena setahunya minimarket itu buka 24 jam. Tapi kini tak ada satupun yang bukan.


Zea terus mencari disepanjang jalan, mobilnya terus melaju dengan kecepatan sedang. Ia mencari menengok kanan kiri berharap menemukan minimarket ataupun toko yang buka. Matanya memfokuskan kejalan dengan teliti apakah ada minimarket yang terlewat, namun saat ia mulai kehilangan fokusnya, Zea tiba tiba teringat pesan Icha yang untuk tidak keluar malam ini.


"Ah, Gue lupa kalau Icha nginget jangan keluar malem" gumam Zea berseru.


"Maaf ya Cha! Gue gak nurutin lo, situasi gue lagi kepepet ini. Lagian ini pada kemana sih kok tumben gak ada satupun minimarket yang buka" ucap Zea dengan wajah merengut.


"Hah! Gimana ya enaknya? Masa gue harus kesupermarket. Dari sini ke supermarket market lumayan jauh lagi. Kesana gak ya?" ucap Zea menimang nimang dengan dirinya sendiri.


"Lanjut aja deh! udah keluar rumah juga. Masa balik. Siapa tahu ada minimarket buka waktu dijalan" lanjutnya.


Zea menyetir ditemani alunan musik yang masih terdengar sedari tadi dengan santai sambil menyenderkan tubuhnya dijok mobil.


Dirinya tak merasa takut akan langit yang gelap dan jam yang menunjukan bahwa kini sudah larut malam, karena di sepanjang jalanan yang kini ia lewati terdapat beberapa kendaraan kendaraan yang lewat. Jadi tak terlalu creepy.


Lagian tak mungkin kan aksi antar geng yang tak ia tahu bagaimana acaranya itu terjadi dijalanan seperti ini.


Zea terus melajukan mobilnya kearah supermarket sambil mencari cari minimarket yang buka, namun tak ada satupun dan kini akhirnya ia sampai di supermarket.


Ia memasuki parkiran supermarket yang hanya terdapat beberapa mobil yang dapat ia hitung dengan jari. Zea melepaskan seatbeltnya dan bernafas lega karena selama perjalanan tidak terjadi masalah.


Ia melangkahkan kakinya kedalam supermarket, mengambil troli yang tersedia disana, mendorongnya menyusuri deretan barang yang ada disana.


Karena perjalanan yang hampir memakan waktu, akhirnya Zea mencoba menyenangkan diri. Zea berjalan kearah yang merupakan deretan camilan berada. Sesekali tangannya terulur mengambil apa yang ia suka.


"Isi ulang camilan buat ngedrakor!" seru Zea.


Gadis itu terus berjalan sampai akhirnya sampai dikawasan roti bantal. Zea mengambil barang itu dengan sedikit kalap.


"Biar kagak kehabisan lagi!" seru Zea melihat barang belanjaan ditrolinya.


Setelah Zea memastikan barang belanjaan beres tak ada yang tertinggal dan tak ada yang ia butuhkan lagi. Gadis itu kembali ke mobil.


Dengan kantong belanjaan penuh ditangan. Zea membuka pintu mobilnya, meletakan belanjaan yang tadi ia beli dikursi samping. Zea memasangkan seatbelt, sebelum ia selesai memasang. Ponselnya bergetar.


klikk


Suara seatbelt terpasang. Zea mengambil handphonenya yang memang tidak ia bawa masuk kedalam supermarket.

__ADS_1


Zea melihat siapa yang menelponnya, menggeser tombol hijau, mengangkat panggilan telpon dari sang mama.


"Halo ma!" sapa Zea kepada Mama Tia yang ada disebrang panggilan.


"Halo Zea, kamu kemana aja? Katanya bentar kok dari tadi mama tunggu gak balik balik" tanya Mama Tia khawatir dari balik telpon.


"Iya ma, ini udah mau pulang kok. Tadi gak ada minimarket yang buka jadi Zea ke terpaksa pergi ke supermarket" jawab Zea pada mama Tia.


"Yaudah, kamu cepet balik, jangan mampir kemana mana. Mama khawatir, perasaan mama gak enak sedari tadi" tutur Mama Tia.


"Iya ma, mama tenang aja, Zea pasti balik kok. Mama tidur aja dulu!" kata Zea menenangkan mama Tia dari balik telpon.


"Hati hati bawa mobilnya, kalau gitu Mama balik tidur dikamar dulu. Jangan lupa kunci pintu!" ucap Mama Tia pada Zea.


"Iya ma. Bye ma, selamat berduaan sama papa. Night!" canda Zea dengan tawa langsung mematikan panggilan telponnya. Meletakan handphonenya ditempat semula.


Kemudian Zea melajukan mobilnya meninggalkan area supermarket. Disepanjang jalan, Zea dihadapkan dengan dua jalur pulang. Zea berpikir harus mengambil jalur yang mana.


"Enaknya lewat sini apa sana ya? kalau lewat sana pasti lama, mana udah malem lagi. Lewat sini aja deh! biar lebih cepet sampe rumah!" gumam Zea menimang nimang.


Akhirnya Zea melewati jalan yang lebih dekat dari rumahnya. Jalanan yang ia lewati begitu sepi dan hanya ada tiang lampu disepanjang jalan.


Sepanjang jalan tidak ada mobil atau motor yang lewat dijalan itu. Benar benar sepi. Zea terus melajukan mobinya. Beberapa saat kemudian, dari arah belakang terdengar suara deruan motor beserta sorot cahaya lampu yang menyilaukan dari kaca spion mobil.


"Apa jangan jangan begal ya?!" ujar Zea semakin dibuat tak karuan. Zea menambah kecepatan mobilnya, melaju cepat supaya motor motor yang ia sangka begal tak semakin dekat.


Zea terus menancap gas sampai sebuah motor melaju tepat disampingnya. Zea menoleh kearah motor itu dan matanya membola.


"Alvin!" gumam Zea saat mengetahui siapa pengguna motor disampingnya. Ia memalingkan wajahnya detik itu juga.


Alvin yang semula ada disampingnya langsung melesat begitu saja, meninggalkan mobilnya, disusul dengan motor motor lain yang sepertinya mengejar pria itu.


"Ikutin gak ya?" gumam Zea ikut khawatir.


Akhirnya setelah pergejolakan batin Zea mengikuti kearah mana motor Alvin dan orang orang yang mengejar pria itu dari jarak jauh. Supaya tak ketahuan oleh mereka.


...****************...


Disisi lain Alvin yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju acara tahunan geng tiba tiba dicegat begitu saja. Alvin yang tak ingin berurusan menggunakan sedikit trik untuk lepas dari cegatan mereka. Alhasil kini dirinya dikejar.

__ADS_1


Alvin memang tak berangkat dengan anak buahnya yang lain. Karena dia sudah mengira hal seperti ini akan terjadi.


Alvin terus memacu motornya dengan cepat mengabaikan mereka yang mengejarnya sambil berteriak, mengeluarkan kata kata kasar.


Ia melewati daerah yang sepi. Dari arah depan ia dapat melihat sebuah mobil yang merk dan warnanya sama seperti mobil sang mantan pacar tepat didepannya. Mobil itu yang awalnya melaju santai, kini tiba tiba melaju semakin kencang.


'Boleh juga!' ujar Alvin melihat mobil didepannya melaju dengan kecepatan tinggi.


"Woy King, berhenti Lo!" teriakan para pria dari arah belakang. Alvin menatap mereka dari kaca spion, dia tersenyum smirk.


"Orang rendahan!" hina Alvin menyungging senyum.


Alvin kembali fokus kedepan, matanya menajam menancap gas lebih kencang menargetkan mobil didepannya. Akhirnya mobil itu terkejar. Ia menyamakan laju motornya dengan mobil itu.


Dirinya menoleh melihat sang pengendara mobil namun dia tak dapat melihatnya karena kaca mobil itu berwarna gelap.


'Hah! Gue apa apaan sih! Gak mungkin itu Zea. Lagian gadis itu gak akan keluar malam ini!' batin Alvin sedikit meradang, masing mengingat saat Zea memutuskan hubungan mereka.


Entah kenapa saat mengingat Zea emosinya yang semula sudah tenang, kembali memuncak. Dirinya tak bisa menerima Zea memutuskan hubungan mereka begitu saja. Apakah Alvin merasa Zea merusak harga dirinya? mungkin saja. Tapi bukan itu yang membuat ia marah dan emosi hingga kalut seperti dirinya akan menggila detik itu juga.


Apa yang membuat Alvin marah adalah saat ia merasa bahwa Zea tak lagi ada digenggamnya. Bahkan kini rasanya ingin sekali dia menculik dan membawa gadis itu pergi ketempat dimana tak ada seorang pun ketahui.


Kini Alvin tahu kenapa Zion nekat sampai menculik Zea. Alvin merasakan hal yang sama. Rasa ingin terus bersama gadis itu. Jika dibandingkan Zea itu sama seperti narkotika, sekali dia mencoba. Sulit rasanya untuk lepas begitu saja.


Semua aliran ditubuh Alvin seketika mendesir ia langsung menggas motornya dengan kecepatan maksimal yang bahkan sulit dikejar oleh orang orang dibelakangnya.


Musuhnya terus mengejarnya dari belakang. Mencoba mengkikis jarak dengan motor Alvin. Motor Alvin memang sudah melaju pesat kedepan. Namun para gerombolan orang itu masih mengejar karena mereka masih memiliki rencana lain untuk menghalangi Alvin agar pria itu tak bisa hadir dalam acara tahunan.


Kehadiran Alvin dalam acara tahunan bagaikan bencana, sangat meresahkan geng geng yang lain. Karena dengan hadirnya Alvin akan mencoret wajah mereka dan itu adalah sebuah penghinaan besar bagi mereka. Alvin dengan segala kemampuannya akan menunjukkan perbedaan jarak kemampuan dari setiap pemimpin geng bahkan semua orang yang berada disana.


Apalagi dalam pertarungan kemampuan berdasarkan posisi mereka di geng masing masing. Pertarungan posisi adalah pertarungan berdasarkan kemampuan yang didasari oleh nomor. Ketua dinomor 1, dilanjut dengan pengikut paling setia dinomor 2, dan seterusnya. Itu artinya jika para ketua geng saling bertarung dan akhirnya dikalahkan oleh satu orang meski bekerja sama, hal itu merupakan aib terburuk bagi mereka dan harus dihindari, karena rasanya jika dihapuskan itu menjadi sulit. Dan Alvin orang yang selalu melakukan hal itu disetiap acara tahunan yang datang.


Tapi sekedar informasi saja, bahwa geng Alegiance selalu absen dalam posisi tersebut.


Joe tak ingin menggantikan posisi tuannya, walaupun kini dia dikenal sebagi pemimpin geng Alegiance. Dedikasinya itu mutlak.


Maka dari itu di setiap pertarungan atau kompetisi geng acara tahunan seperti ini, ia selalu berada di posisi nomor dua. Yang artinya diposisi itu dia harus berhadapan dengan Geo. Dan jika keduanya diadukan akan terjadi pertarungan yang sangat sengit yang alurnya tak dapat ditebak, lebih menegangkan dari pada melihat siapa yang terbaik diposisi ketua geng, karena sudah dapat ditebak bahwa Alvinlah yang terbaik.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2