
Didalam bus suasana diam. Tak ada suara ricuh yang terdengar. Zea masih dalam mode ngambeknya karena Alvin berusaha menghalang perkelahiannya dengan Vara.
"Masih ngambek!" Alvin menatap kearah Zea yang asik melihat pemandangan dari luar jendela.
"Gak"
"Boong banget" Zea masih memilih diam tak menjawab Alvin.
Alvin tak mendapat jawaban dari gadis itu menghela nafas berat. Dirinya tak tau harus bagaimana menghadapi Zea yang sedang ngambek.
"Ssstt Al" panggil Keyla membuat Alvin menoleh.
"Gue mau duduk sama Zea!" tunjuk Keyla kebangkunya membuat Alvin mengeryit.
Mereka sengaja mau misahin gue sama Zea, pikir Alvin.
"Aku juga mau duduk sama Keyla" cetus Zea mengusir Alvin.
Dirinya menatap sebal kearah sahabat Zea itu. karena tak bisa menolak permintaan Zea, Alvin beranjak kebangku paling belakang tempat anggota gengnya itu berada.
"Kok kesini Al?" tanya Satya.
Teman temannya itu memberi ruangan untuk Alvin supaya dirinya bisa duduk ditengah. Alvin duduk dengan mood yang buruk. Menyenderkan kepalanya disandar yang tersedia.
"Kenapa? Diusir baby Ze gue ya?" Mulut Julian yang tidak bisa dikontrol meluncur membuat Alvin menatap tajam pria itu.
"Mampus lo! Habis lo Jul" Ucap Satya meledek kearah Julian. Membuat Julian mendelik membalas.
"Sorry Al, gak sengaja. Keceplosan"
"Gini deh, gue punya ide biar Zea gak marah" ucap Julian memberi saran supaya big bosnya itu tidak marah lagi.
"Ide apaan Jul? Ide Lo kan gak pernah bener" Ungkap Kenan mendapat gelak tawa dari lainnya, Alvin menatap datar teman temannya itu.
"Lagian King Aodra masa gak bisa nyelesain masalah sepele kek gini" Geo berujar.
"Tau lo, parah. Alvin itu pro soal masalah! bener kan Al?" tanya Satya membuat keempat orang itu menatap kearah Alvin.
Alvin berwajah datar menatap kearah Julian, "Jadi, gimana caranya?" tanya Alvin, membuat keempat orang itu berekspresi cengo, membelak tak percaya. Alvin!! King yang selalu menyelesaikan masalah apapun dengan sempurna dibuat bingung hanya karena seorang gadis bernama Zea.
Ingin sekali mereka memberikan Zea penghargaan karena bisa membuat Alvin Exelino Immanuel kebingungan.
"Ehm, jadi gini.." Ucap Julian merapat kearah teman lainnya berbisik agar tidak ada yang mendengar obrolan mereka.
"Serius Lo?"
"Wah mulai nggak bener nih orang"
"Udah deh Jul, lupain ide lo. yang ada ntar kita pulang pulang habis ditangan Alvin"
"Cih, kalian kok pada nyosor aja. Alvin aja belum jawab setuju atau gak!" seru Julian.
"Jadi gimana Al?" tanya Julian. Mereka menatap kearah Alvin, penasaran mengenai keputusan akan ide gila Julian.
"Oke, lakuin" jawab Alvin.
Sepertinya mereka harus siap mental akan sikap Alvin yang berbeda mengenai hal hal yang berkaitan dengan Zea. Gadis yang menjadi incaran sang King Aodra.
****************
Mereka sudah sampai di suatu tempat dengan hamparan tumbuhan hijau yang membentang. Mereka dipandu didepan sebuah Vila.
"Anak anak ini adalah lokasi dimana nanti kita bakal syuting." ucap pak Burhan memberikan penjelasan.
"Bapak sudah dengar gambaran kasar mengenai alur ceritanya. Tema dari lomba film yang akan kita buat adalah mengenai perubahan. Kata pak kepala sekolah alur cerita kita mengenai kehidupan orang desa, soal ceritanya saya sendiri juga belum tau"
"Disini kalian saya tugaskan untuk memotret lokasi lokasi yang ada disini"
"Ha? Lokasi seluas ini wajib dipotret semua pak?" kejut mereka.
"Iya, kalian akan saya bagi menjadi beberapa tim. supaya bisa memotret semua wilayah disini yang nantinya akan dipilih sebagai lokasi syuting"
"Yah pak item dong kulit saya kalok panas panas gini." omel Vara mengeluh.
"Iya nih Pak, masa kita yang cantik ini disuruh panas panasan" keluh Sisi teman
"Bisa kusut kulit kita pak, mahal nih biaya perawatan kita. Ya gak Var Si?"
"Gak usah ngelu bisa gak sih, berisik tau gak" Timpal Zea mendegar keluh kesah Vara end the geng.
"Apa lo?" gertak Vara ke Zea.
Zea hanya bisa diam ketika Alvin menghalangi gadis itu supaya tak membalas Vara. Zea memalingkan wajahnya enggan melihat pria itu lantaran kesal dengan Alvin yang terkesan membela Vara. Padahal Alvin tidak membela Vara.
"Udah udah ini kalian kenapa sih!!" Seru pak Burhan melerai kedua orang yang memang tak pernah akur itu.
"Sekarang saya bagi kelompok" Kata Pak Burhan membacakan deratan pembagian kelompok.
Zea, Alvin, Geo, dan Kenan satu kelompok. Keyla, Icha, Satya, dan Julian satu kelompok. Sedangkan Vara dan teman temannya bersama Rey. juga anggota OSIS dan beberapa orang yang sudah dibagi yang nantinya akan sebagai panita maupun pemain figuran.
"Yah pak kok kami sama kak Rey doang sih" ungkap Vara tak terima ketika melihat Zea, Keyla, dan Icha berkelompok dengan anggota Aodra.
"Bapak tidak terima protes, sekarang bapak akan bagi wilayah yang harus kalian tinjau"
Selepas pembagian wilayah mereka bubar untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh pak Burhan.
"Ayo Ze bareng, males gue dekat deket sama mereka" ajak Icha menatap sinis kearah Satya, Zea yang mengerti tabiat dari Icha menyetujui dan berjalan agak jauh dari para laki laki itu.
****************
__ADS_1
Zea menikmati suasana segar, asri, Walaupun sinar matahari menerpa kulitnya yang putih, namun hembusan angin menyegarkan yang membuat semua itu ternetralisir. Kesenangannya membuatnya tidak sadar saat kumpulan laki laki yang mengikuti dibelakangnya itu sedang merencanakan sesuatu.
Kini kelompoknya dan kedua sahabatnya berpisah, karena wilayah yang mereka dapat berlainan arah. Mereka memfoto tempat tempat yang ada sembari menganggumi hamparan hijau disana.
"Wah tempatnya bagus banget sumpah" kagum Zea ketika dia melihat kearah rumah pohon yang ntah milik siapa membuat mata gadis itu terpukau melihatnya. Zea memfoto tempat itu.
"ehm Ze, Ge, Ken. Gu-e kebelet, gu-e mau ketoilet sebentar" ucap Alvin dibuat segugup mungkin karena selama ini sikapnya yang seenaknya dapat membuat Zea curiga.
"tunggu, gue ikut" sahut Geo diangguki Alvin.
"Oke, kalian hati hati" ujar Zea melihat kepergian kedua orang itu.
Zea kembali memotret motret tempat disana ditemani oleh Kenan. Alvin sebenernya enggan meninggalkan Zea dan Kenan berduaan, namun dia berusaha menekan rasa cemburunya demi melihat gadis itu tak ngambek lagi padanya walau dengan cara ekstrim.
Beberapa menit berlalu dan Zea tak kunjung melihat Alvin kembali bersama Geo.
"ZEA!" Sapa Keyla dan Icha melambaikan tangan. Wajah Zea sumringah membalas lambaian tangan keduanya.
"Bro" Sapa Satya dan Julian beradu tos dengan Kenan.
"Gimana udah selesai?" tanya Geo yang datang bersama keempat orang itu.
"Udah" jawab Zea dan Kenan.
"Alvin mana Ge?" tanya Zea celingukan, ketika tak melihat keberadaan pria yang membuatnya ngambek itu.
"Eh iya Alvin kok gak ada?" tanya Geo kembali, ekspresinya dia buat khawatir seakan tak tau apa-apa.
"Bukannya seharusnya dia sama lo?" tanya Zea kembali.
"Gue emang sama dia tadi, tapi dia pergi duluan, takut lo nungguin! Terus setelah gue selesai gue ketemu sama mereka makanya gue bareng mereka. Gue pikir Alvin Udah sampai duluan malahan." jawab Geo menjelaskan dan berusaha meyakinkan gadis itu.
Zea merasa perasaannya berdesis resah ketika tak mendapati sosok pria yang mulai merasuki jiwa raganya itu.
"Kita tunggu aja, siapa tau dia nyasar." Ucap Kenan menengahi.
"Iya Ze lo tenang aja, mungkin dia nyasar." Keyla mengusap bahu Zea berusaha menenangkan gadis itu.
"Iya Ze, Alvin kan bukan bang toyib dia pasti pulang kok." Ucap Icha bercanda supaya suasananya tak tegang.
Mereka menunggu selama 10 menit, Zea yang tak sabaran kekeh untuk mencari keberadaan pria itu. Mereka Mengikuti langkah Zea dan ikut mencari keberadaan Alvin.
"Alvin"
"Alvin"
Teriak mereka disepanjang hamparan hijau menyelusuri untuk menemukan keberadaan Alvin.
"Oyy Oyy itu bukan sih" tunjuk Julia heboh kearah pria yang dari kejauhan sedang duduk menyender kepalanya dipohon. namun karena jarak yang lumayan jauh tak dapat melihat jelas raut wajah pria itu.
"Iya itu deh Ze kayaknya, seragamnya sama kayak kita" ucap Icha menyipitkan matanya mempertajam penglihatannya.
"Wih dicariin malah enak enakan tidur disana" Decak Satya memanas manasi.
Beberapa orang itu mencoba menghampiri kearah pria itu. Zea terlihat kesal saat dirinya khawatir, Alvin malah duduk dibawah pohon sembari menyandar.
"Cih dasar tukang tidur, disekolah tidur disini tidur. Kalok dibawa ke kuburan, mungkin dia juga tidur juga. Sekalian tidur sambil dikelonin mbak kunti" gumam Zea sembari berdecak .
Mereka menghampiri kearah pria itu, wajah pria itu menyamping membuat mereka tak dapat melihat ekspresi culun yang selalu melekat padanya.
Alvin menyender dipohon sambil menggenggam kaca mata bulatnya.
"Alvin!" Seru Zea berlari menuju pria itu.
"Awas saja kubikin jadi pepes lo karena bikin gue khawatir" tukas Zea pelan berlari kearah pria itu.
"Alvin" panggil Zea lagi dari dekat membuat orang yang punya nama menoleh.
Zea yang ingin memarahi pria itu dibuat kaget ketika melihat wajah Alvin yang dipenuhi lebam dengan sudut bibir yang berdarah.
"Al lo kenapa? siapa yang lakuin ini ke lo?" tanya Zea khawatir menangkup wajah Alvin. Pria itu tersenyum kecil, senang rasanya dirinya diperhatikan oleh Zea.
"Lo masih marah sama gue?" tanya Alvin membelai rambut legam Zea.
"Lo kok malah bahas itu sih, lagian lo kok bisa bonyok kayak gini?" tanya Zea kembali.
Gimana dia bisa marah sama Alvin kalok dia melihat kondisi lemah dari pria itu sekarang.
"Lo kenapa Al? Bukannya lo tadi bilang duluan" Geo bertanya menghampiri Alvin yang duduk bersandar dibahu Zea yang kini duduk disampingnya.
Temannya lain memutar bola mata menatap pria itu sinis. Bisa bisanya luka kek gitu bikin king Aodra terkapar lunglai, bisa banget dia akting.
"Lebih baik kita bawa ke Vila aja deh" ucap Satya tak tahan melihat Alvin yang asik mencari perhatian Zea.
mereka memapah Alvin dan membawanya ke Vila. Disana ada pak Burhan yang ikut cemas melihat Alvin yang dipapah.
"Ada apa nih astaga! Ayo bawa masuk" tuntun pak Burhan kedalam Vila. Mereka mendudukan Alvin di sofa panjang.
"Ini sebenarnya ada apa? Kenapa Alvin bisa jadi seperti ini?" tanya Pak Burhan.
"Saya tadi ketemu preman pak dan mereka yang bikin saya kek gini" jawab Alvin.
"Kok bisa memang kamu ngapain sampe mereka buat kamu bonyok kayak gini?" tanya Pak Burhan kembali.
"Saya gak tau pak, mereka tiba tiba nyerang saya" jawab Alvin lagi.
"Gila mereka itu, awas aja kalok ketemu. Gue jadiin mereka daging cincang" murka Zea yang masih setia disamping pria itu.
"Nih pak p3knya"
__ADS_1
"Biar saya yang obati pak" ucap Zea mengambil Kotak itu.
Zea membukanya dan mengambil obat untuk luka Alvin. Alvin sesekali meringis saat Zea mengobatinya, padahal dia tak merasakan rasa itu karena sudah terbiasa.
"Sakit Ze" manja Alvin memelas ke gadis itu.
"Gue bakal lebih pelan." ucap Zea masih membersihkan luka Alvin dan memberi obat untuk luka Alvin.
"Tugas kalian sudah selesai kan? kalok sudah saya tinggal urus anak anak yang lain dulu kalau begitu. Habis itu kita makan lalu pulang" Ucap pak Burhan meninggalkan anak didiknya itu.
Zea menyentuh luka disudut bibir Alvin, Alvin meringis ketika Zea menyentuhnya.
"Sakit ya?" tanya Zea, Alvin mengangguk Memelas kearah gadis itu. Keduanya saling bertatapan.
"Ehm, maaf disini ada jomblo!" seru Icha melihat kedekatan Zea dan Alvin.
"Dunia terasa milik berdua ya baby Ze!" kekeh Julian menatap keduanya.
"Ih apaan sih" ucap Zea malu, tak sengaja menekan luka sudut bibir Alvin yang akan dia tempeli plaster luka.
Alvin meringis saat lukanya ditekan.
"Aww Ze, sakit!" keluh Alvin.
"Maaf Al gak sengaja" ucap Zea mengelus rahang Alvin.
Dari depan terdengar derapan langkah beberapa orang yang memasuki Vila itu.
"Widih ada apa nih!" seru Vara melihat kearah sekumpulan Itu.
"HAHAHAHA wajah Lo kenapa tuh? Muka udah ancur makin dibikin ancur HAHAHAHA" Gelak tawa Vara dan anak anak lain menghina Alvin.
"Udah Ze gak usah didengar" cegah Alvin mendekap Zea yang emosi.
"Tapi dia ngehina lo Al" bela Zea tak terima.
"Biarin aja, orang gak penting jangan lo urus. Anggep aja orang utan yang nyasar" ucap Alvin serius membuat mereka tertawa.
"Ngakak banget sih omongan lo!" Seru Keyla.
"Tau lo kalok ngomong kok suka bener." lanjut Icha selepas tertawa.
"Lucu juga lo jadi cowok." puji Satya kepada Alvin.
"Tauk lo, cocok juga jadi pelawak." tambah Julian lantaran mendengar gurauan Alvin yang jarang mereka dengar.
Padahal Alvin tak bergurau, bagi Alvin sosok Vara dan teman temannya itu sama dengan orang utan.
Vara kesal mendapat hinaan namun tak dapat berbuat apa apa karena pak Burhan yang mendekat kearah mereka.
"Anak anak kita makan dulu, habis itu kita pulang. Yang cowok cowok ikut bapak nata makanan sama ambil tikar. kita makan dilesehan" ucap Pak Burhan mengkoordinasi para muridnya.
Mereka duduk dilesehan, sedangkan Vara dan temannya juga ikut. sebenarnya mereka ogah, namun mereka menjaga image didepan anggota geng Aodra itu.
"Ze suap, tangan gue sakit" Ucap Alvin kepada Zea membuat gadis itu menepuk bahu Alvin malu karena disana ada pak Burhan.
Rey yang menyukai Zea menatap kearah Alvin dengan mata menyala. Dirinya bener bener tak suka dan membenci pria itu.
"Suap Ze." pinta Alvin saat Zea selesai mengambil makanan. Zea yang mendengar permintaan Alvin menurut, untung lagi sakit.
"Ehm ehm, maaf" deham Geo menatap Alvin yang bersikap manja kepada Zea. Tak dipedulikan oleh Alvin.
"Lo makan juga Ze" ucap Alvin lantaran gadis itu hanya menyuapinya.
"Nanti aja, malu kalok makan sepiring berdua" bisik Zea kepada Alvin supaya suaranya tidak terdengar.
"Waktu itu juga kita makan batagor sepiring berdua, buat apa malu" tukas Alvin membuat Icha yang sedang makan tersedak
"Uhuk uhukk air" Ucap Icha mengambil Air sembarang dan meminumnya.
"Itu air bekas gue Cha" ungkap Satya membuat Icha membelak dan mengusap bibirnya berharap bibirnya tak terinfeksi oleh virus.
"Gaya lo sok sok an ngelap bekas gue, lo ngempeng dot bekas gue aja pernah" tambah Satya membuat Icha murka dan menyerang Pria itu.
"Ampun Cha ampun" pinta Satya mengaduh.
"Sabar Cha sabar" Keyla menenangkan memberikan air pada Icha membuat Icha meminum air itu menetralisir emosinya.
"Sialan Lo, gak usah nginget nginget waktu jaman orok bisa gak sih. awas kalok Lo bilang lagi" ancam Icha ke Satya.
"CK CK CK kalian ini ribut mulu, saya berasa tak dianggap disini. Tadi Zea sama Alvin mesra mesraan sekarang Icha sama Satya" Ucap pak Burhan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Pak Burhan kayak gak pernah muda aja" timpal Julian.
"Ralat pak, saya gak pernah mesra mesraan sama dia. Yang ada saya bawaannya pengen bunuh dia" Tunjuk Icha kepada Satya dengan wajah kesal.
"Udah udah lanjutkan makan kalian habis itu kita pulang"
"Baik Pak"
...****************...
Mereka memasuki bus yang membawa mereka pulang. Sedari dibus Alvin memanjakan dirinya kepada Zea.
Alvin menyandarkan kepala Zea kebahunya dan menyandarkan kepalanya ke kepala Zea. Tangannya menggenggam tangan Zea tak ingin melepaskan tangan gadis itu.
Rey yang melihat kemesraan keduanya menggeram marah.
'Awas aja lo Alvin, gue bakal bikin perhitungan sama lo' batin Rey menatap tajam kearah Alvin.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ