My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
85. Apartemen Alvin 2


__ADS_3

"Kok kalian ada disini?" tanya Geo melihat keberadaan ketiga temannya itu.


Mereka tak menjawab. Sedangkan Satya dan Julian menatap kresek besar yang Geo bawa.


Keduanya kemudian bangkit berlari mendekat kearah Geo.


"Njir!" umpat Geo saat dirinya diserbu oleh kedua mahluk itu.


"Gue duluan Sat!"


"Gue dulu Jul!"


"Gue yang duluan!"


"Jangan ngeyel deh Jul, orang gue yang duluan!"


Kedua pria itu saling tarik tarikan memperebutkan siapa duluan yang membuka isi kantong tersebut.


"Rusuh lo berdua! Sini biar gue aja" lerai Kenan merebut belanjaan Geo dari keduanya.


Kenan membawa kantong itu kemeja dan mengeluarkan isi didalamnya. Hal itu kembali menjadi rebutan oleh keduanya.


"Gue mau yang ini Jul"


"Gue juga mau Sat"


"Dih, orang gue duluan yang ambil!"


"Gue yang pertama kali lihat"


Zea hanya bisa terkekeh melihat perdebatan keduanya yang seperti anak kecil.


"Kalian mau diem sekarang atau mau gue hajar dulu baru kalian mau diem?" tukas Alvin mengancam keduanya membuat kedua orang itu berhenti bertengkar.


Kenan dan Geo yang melihat keduanya cekikikan menertawakan tingkah mereka.


Geo kemudian berjalan mendekat kearah Alvin.


"Nih pesenan lo!" ujar Geo memberikan bungkus paper bag pada Alvin.


"Apaan tuh?!" tanya Julian penasaran.


"Kepo!" jawab Geo kembali tertawa melihat wajah cemberut Julian. Geo mengambil botol minuman kemudian duduk di sofa. Ia menegak habis isi didalamnya.


"Nih! Buat kamu!" ujar Alvin memberikan paper bag itu pada Zea.


"Buat aku?" tanya Zea bingung.


"Ambil!" Zea menerima paper bag dari Alvin dan bertanya tanya apa isi didalamnya.


"Apa ini?" tanya Zea menatap kearah Alvin.


"Buka aja!" ujarnya.


Zea membuka isi paper bag karena penasaran. Zea melongo saat mengetahui apa isi didalamnya. Sebuah handphone mahal keluaran terbaru. Ia menatap kearah Alvin.


"Aku gak mau" ujar Zea menyerahkan balik pada Alvin. Zea tak ingin dianggap cewek matre yang menerima barang barang mewah dari pacarnya.


"Aku gak menerima penolakan!" ujar Alvin mememberikan kembali paper bag yang Zea serahkan. Zea diam tak bisa membantah.


Drtt Drtt


Handphone Alvin bergetar dari dalam tas pria itu yang tergeletak dilantai dengan tas Zea disampingnya. Alvin kemudian mengambilnya dan melihat handphonenya yang sedang ia mode getar itu menerima sebuah panggilan dari ratu Immanuel alias mommynya.


"Aku angkat panggilan dulu!" ujarnya meninggalkan Zea.


Zea yang duduk di sofa dengan adanya teman teman Alvin yang juga ikut bergabung itu menoleh kearah Geo. "Emm! Lo Geo Kan?" tanya Zea pada pria itu.


"Iya, kenapa? Masa lo lupa? Padahal kita udah kenalan sebelumnya" balasnya mengulas senyum. Zea ikut tersenyum tipis.


"Gue mau minta tolong!" tutur Zea.

__ADS_1


"Tolong apa?" Geo mengangkat alisnya sebelah.


"Gue mau lo balikin hp ini! Gue gak mau. Lo kan tadi yang beli hp ini!" Ketiga teman Alvin yang lain hanya diam mendengar percakapan keduanya.


"Wah kalau itu gue gak bisa Ze!" seru Geo.


"Kalau lo gak mau, biar gue aja yang balikin Lo cukup kasih alamat tokonya aja" ujar Zea.


"Bukan itu masalahnya Ze! Pokoknya gue gak bisa, Lo tau sendiri Alvin gimana! Udah lo terima aja" tukas Geo membuat Zea bungkam.


Ia kurang lebih sudah tahu Alvin bagaimana. Ia merasa dirinya terlalu memaksa kehendak dan kini ia mulai melewati batas.


Zea akhirnya hanya bisa mengalah dan menyimpan handphone yang Alvin berikan kedalam tasnya.


Nyatanya kenyamanan sesaat dengan Alvin tadi membuatnya lupa bagaimana sosok Alvin yang sebenarnya. Ia masih terbayang bayang akan sosok nerd Alvin yang ia kenal.


'Apa sih yang gue harepin! orang faktanya sudah gue lihat sendiri, Kalau Alvin tuh bukan cowok nerd' batin Zea melongos.


Tak lama kemudian Alvin kembali pada mereka.


"Siapa Al?" tanya Satya penasaran siapa yang menelpon Alvin.


"Mom" jawabnya. Keempat pria itu mengangguk angguk mengerti.


Zea lupa mengenai sosok wanita yang pernah ia tolong itu. Kini ia baru menyadari bahwasanya wanita itu bukanlah majikan Alvin melainkan ibunya. Bodohnya dia! Bisa percaya begitu saja.


"Ngapain tanmi nelpon?" tanya Geo saat Alvin kembali duduk. Alvin memberikan camilan di meja untuk Zea makan.


"Aku udah kenyang!" jawabnya.


"Oke" balas Alvin.


Alvin menatap ke Geo sekilas, "Mom nyuruh gue pulang!" jawab Alvin.


"Ngapain tanmi nyuruh lo pulang Al? Tumben" ujar Julian.


Alvin diam tak menjawab menatap datar kearah Julian.


Kenan yang sedari tadi diam memincingkan mata ketika menyadari sesuatu.


"Zea udah tahu siapa lo ya?" pandangan mereka semua langsung menatap Zea.


Zea yang ditatap menelan ludah kasar.


"Udah" jawab Alvin.


"Oh! Pantes" ujar Kenan.


"Gue juga baru sadar bege!" sahut Julian.


"Sama!" sahut Satya.


Setelah keterkejutan. Zea, Alvin, Kenan, Geo, Satya, dan Julian menghabiskan waktu dengan melihat film yang ada didepan mereka itu. Ntah film yang di pilih secara random oleh Alvin itu bagus atau tidak, mereka akhirnya menontonnya sampai selesai.


"Al! Ini udah selesai kan? Gue sama Satya mau ngegame nih!" seru Julia menatap Alvin.


"Lo pakek aja yang dikamar!" tolak Alvin.


"Lo aja yang dikamar, sekalian kan bisa ehem ehem sama Zea dikamar" ujar Julian.


Pletak


Tangan Satya melayang menabok mulut Julian.


"Mulut lo Jul! Mau mati cepet lo?" tanya Satya.


Kenan dan Geo hanya bisa menggeleng geleng kepala akan mulut Julian yang lemes itu. Apalagi saat merayu perempuan dengan gombalan! Lancar jaya tutur Julian.


Zea yang mendapat godaan dari Julian hanya bisa menunduk kikuk. Ia merasa canggung sedari tadi. Apalagi Alvin yang dengan terang terangan memeluk bahkan mengecup puncak kepalanya maupun pipinya itu membuat ia malu dihadapan teman teman Alvin.


"Ayolah Al! Gue mau ngegame disini!" rengek Julian tak mengindahkan ucapan Satya.

__ADS_1


"Biar dia pakek Al. Aku mau pulang sekarang, takut mama cariin. Keyla sama Icha juga mau nginap nanti malam!" ujar Zea mencoba memberi Alvin pengertian.


Alvin menghela nafas berat, "Oke, aku antar pulang!" ucapnya.


"Aku bisa pulang sendiri kok Al! Kamu kan ada mereka!" ujar Zea menunjuk teman teman Alvin.


"Aku antar kamu, gak ada bantahan!" ujar final Alvin.


Zea menatap keempat pemuda itu tak enak hati karena Alvin harus pergi meninggalkan mereka.


"Lo tenang aja Ze, kita udah biasa disini tanpa Alvin!" ujar Geo seakan tau kegelisahan gadis itu.


Zea mengangguk dan menampilkan senyum manisnya pada Geo.


"Makasih!" ujarnya


Alvin yang melihat itu menggeram marah menatap tak suka dengan apa yang gadis itu lakukan.


"Jangan suka senyum sembarang. Aku gak suka!" tukas Alvin.


"Ayo!" Alvin menarik Zea keluar apartemen.


"Dasar bucen!" ucap mereka meledek kearah Alvin yang keluar apartemen.


Zea menurut mengikuti Alvin ke basemant lebih tepatnya ke arah motor pria itu.


Keduanya berdiri disamping motor Alvin saling berhadapan.


"Aku gak suka kamu tebar senyum kayak tadi! Baru aja tadi aku bilang jangan dekat dan bicara sama cowok lain. Udah kamu langgar ucapan aku!" ujar Alvin setengah menggebu.


Ia terbakar cemburu saat Zea tersenyum pada pria lain selain dirinya.


"Maaf, aku gak sengaja" ucap Zea.


"Aku maafin kali ini karena ini Geo, jika kamu seperti itu lagi pada pria lain. Aku gak akan diam aja!"


"Aku gak akan gitu lagi" ucap Zea.


"Aku pegang omongan kamu," tegas Alvin.


Alvin memasang helm di kepala Zea dan gadis itu diam menurut dan tak membantah. Kemudian ia beralih kehelmnya sendiri.


"Naik!" sambungan Alvin sudah berada diatas motor.


Zea menurut dan menaiki motor Alvin. Ia menghela nafas panjang di balik punggung Alvin saat motor Alvin meninggalkan area apartemen.


Hingga kini motor Alvin sampai di depan rumah Zea.


"Ingat! jangan pergi kemana mana setelah ini! Jangan lupa hubungi aku lewat handphone yang aku berikan! Kamu mengerti?" tanyanya.


"Iya Al!" jawab Zea.


"Kamu masuk dulu!" suruh Alvin.


"Makasih udah nganterin. Aku masuk dulu!"


"Sampein salam ku ke semua"


"Iya" Zea mengangguk.


"Bye Al!" sambungan Zea.


Alvin mengangguk melihat kepergian Zea yang masuk kedalam rumah. Ia memastikan beberapa saat bahwa Zea sudah tak terlihat akan keluar lagi dari rumah.


Motor Alvin kemudian bergerak menyelusuri wilayah sekitar rumah Zea.


"Jaga dia, laporkan jika dia keluar dari rumah" perintah Alvin sebelum meninggalkan tempat itu pada beberapa anak buahnya yang sengaja ditempatkan Alvin disana.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2