
Setelah makan kini mereka terbagi menjadi dua. Ada yang memii langsung pulang dan ada yang memilih menetap di taman belakang resto. Termasuk Zea, Keyla, Icha dan Alvin yang sekarang sedang duduk menikmati indahnya malam di taman belakang restoran.
Mereka berjalan di sekitar taman.
"Dingin!" keluh Icha bersindekap sambil mengusap usap badannya. Zea dan Keyla menoleh.
"Baju lo terlalu tipis Cha, makanya dingin!" ujar Keyla menanggapi.
"Iya, salah pilih baju kayaknya gue!" keluh Icha mengusap usap kedua tangannya.
"Kita gak ada yang bawa jaket lagi!" ucap Zea melihat sekitar.
"His! Andai aja ada cowok tampan yang rela ngasih jaketnya ke gue. So sweet banget ya kan? Mungkin aja kalau tuh cowok jadi jodoh gue, kan, kan?!" ujar Icha berangan angan.
"Ye! Halu nih anak!" sahut Zea.
"Halu lo Cha, Halu!" seru Keyla, Ia dan Zea pun cekikikan.
"Bisa aja kan beneran kejadian! Ingat omongan adalah doa!" balas Icha menghayati.
"Terserah deh Cha! Suka suka lo!" seru Keyla.
Mereka akhirnya terus berjalan, menghilangkan isi perut yang mengganjal karena kekenyangan.
"Ze! Udah jalannya, ayo duduk disana. Jangan sampe kamu lelah" ujar Alvin masuk dalam pembicaraan ketiganya.
"Iya Al" Zea mengangguk menurut.
"Boleh tuh, gue juga udah capek" sahut Icha.
Mereka akhirnya duduk di bangku taman sambil melihat lihat sekitar mereka, melihat teman satu sekolah mereka asik berfoto ria mengabadikan moment.
"Ze!" panggil Alvin.
"Hmm!" balas Zea menoleh.
"Aku tinggal dulu ya, sebentar!" ujar Alvin.
Zea menggangguk, "Iya" jawabnya tanpa bertanya lebih lanjut.
Alvin lalu pergi meninggalkan ketiganya.
"Alvin mau kemana Ze?" tanya Keyla menoleh.
Zea mengendikan bahu, "Nggak tau, toilet mungkin" jawab Zea.
"Oh" Keyla mengangguk anggukan kepala.
Mereka terdiam beberapa saat.
"Emm Cha, Ze!" panggil Keyla. Keduanya menoleh.
"Gue kebelet juga nih! Gue mau ketoilet bentar ya" lanjutnya.
__ADS_1
"Oh ayo kita temenin" ujar Zea hendak bangkit.
"Eh Gak usah, kalian disini aja. Bentar doang kok! Kalian tunggu disini aja" ujar Keyla.
"Yakin?" tanya Zea.
"Iya, bentar doang kok! Gue pergi, Udah kebelet banget nih!" Keyla melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Keduanya menatap kepergiannya Keyla. Icha menghela nafas panjang.
"Huft,,, Wahai pria tampan berikan gue jaket mu dong dan akan gue anggap engkau jodoh cewek yang imut dan cantik ini!" seru Icha meracau.
"Dingin banget emang ya?" tanya Zea mendengar racauan Icha.
"Iya! Dinginnya udara malem, sampe ketulang" seru Icha meratap.
"Yaudah sini deketan biar nggak dingin" ujar Zea.
Icha menggeser tubuhnya mendekat kearah Zea.
Srukk
Sebuah jaket dilempar diatas kepala Icha. Icha merabah keatas kepalanya, mengambil jaket menoleh kearah sang empu yang melempar jaket.
"Apaan nih?!" tanya Icha menelisik kearah Satya.
"Pake! Udara malem, nggak baik" ujar Satya kemudian berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Ha?" Icha melongo bingung.
Icha membulatkan mata lantas menggeleng.
"Nggak, ini nggak mungkin! Ish, ini gak bisa dibiarin!" seru Icha lantas bangkit setengah berlari mengejar Satya.
"Cha mau kemana? Cha!" seru Zea berteriak memanggil Icha, tapi Icha sama sekali tak menoleh.
Zea akhirnya sendirian ditaman itu. Ia diam sambil menunggu Keyla atau Alvin kembali.
"Sendirian aja Ze!" sapa seorang pria duduk disamping Zea. Zea seketika mengernyit dan menjaga jarak.
"Iya kak" balas Zea menunduk sopan.
"Mana yang lain?" tanya pria itu.
"Ke kamar mandi" jawab Zea.
"Ohw kok kamu nggak ikut?" tanyanya.
"Nggak" jawab Zea.
"Gimana makanannya, enak?" tanya pria itu.
"Enak" jawab Zea singkat. Pria itu terus menerus melempar pertanyaan yang membuat Zea risih.
__ADS_1
"Kok kamu mau sih pacaran sama Alvin?" ujar pria itu bertanya, Zea lantas tak menjawab. Ia lebih memilih diam dan memikirkan cara untuk bisa pergi. Karena ia tau Alvin tak kan suka melihatnya duduk dengan pria lain.
"Kok diem? Aku tanya, kenapa kamu mau pacaran sama dia? padahal aku lebih segalanya dari dia!" Zea menatap pria di sampingnya waspada tanpa menjawab.
"Apa bener ya yang di bilang Shasya kalau kamu itu tau aslinya Alvin, makanya kamu mau deketin dia. Murahan!" ujar Pria itu membuat Zea membelak.
"Apa maksud kak Rey bicara gitu?!" ujar Zea sontak berdiri.
Rey ikut berdiri. "Dari reaksi kamu, ternyata bener ya! Seperti yang Shasya bilang, kamu itu manfaatin cowok cowok kayak Alvin, Cowok cupu yang mudah di bohongi. kamu rayu dan deketin dia, agar bisa meras dia kan?" tuduh Rey secara gamblang.
Zea membelak tak percaya, "Hey kak! Jangan sembarang tuduh ya! Gue bukan orang yang seperti itu" seru Zea.
"Tentu saja lo nggak bakal ngaku! Hari gini mana ada maling ngaku" ujar Rey semakin sengit. Ternyata pria di depannya ini sama aja seperti Shasya, suka seenaknya sendiri.
Zea menatap pria didepannya itu tajam,
"Terserah kak Rey mau ngomong apa! Tapi asal kak Rey tau, aku bukan orang yang seperti kak Rey tuduhkan! Permisi" tukas Zea tak ingin memperpanjang. Zea hendak pergi meninggalkan Rey tapi tangan Rey menahannya.
"Mau kemana kamu! Kamu pikir masalah ini selesai begitu aja!" ujar Rey sengit mencekam tangan Zea.
"Ukh Kak lepasin!" seru Zea mencoba melepaskan cekalan Rey yang semakin menguat.
"Kenapa Ze? Kenapa?" gumam Rey menatap Zea tajam. Pria itu menggila.
"Kenapa lo lebih milih dia dari pada gue yang selama ini suka dan nunggu lo buat suka balik sama gue! Kenapa Ze, kenapa?" Sentak Rey tangannya mencekal erat tangan Zea, Dan satunya lagi menahan pundak Zea, mengguncang tubuh Zea.
Zea menatap sekitar ingin meminta tolong, tapi entah dimana orang-orang yang tadi ia lihat. Karena di sekitar mereka sudah sepi tak lagi ada orang.
Zea lantas berbalik memandang Rey, Zea memikirkan ucapan Rey. Sejujurnya ia sendiri juga tidak tahu kenapa saat ia melihat Alvin pertama kali pandangannya tertuju pada pria itu. Apa mungkin ini semua karena pesona Alvin yang terlalu kuat membuat ia bisa merasa ingin mendekat? Apa mungkin Alvin terlihat berbeda dengan pria pria lain saat itu membuat pandangan Zea tertuju pada pria itu? Zea sendiri juga tidak yakin, karena tidak ada alasan khusus untuknya mendekati Alvin saat itu.
"Kalau lo emang ingin meras! Gue juga bisa Ze, gue juga bisa ngasih ini itu ke lo. Tapi lo sendiri bahkan enggan untuk mandang gue balik. Katakan Ze, kenapa? apa yang kurang dari gue?" Rey semakin keras mencetak kedua pundak Zea, ia mengguncang Zea sambil menatap sengit pada gadis itu.
"Kenapa? Kenapa nggak jawab Ze? Zea!" bentak Rey frustasi melepaskannya cekalannya dari pundak Zea. Mendorong tubuh Zea ke belakang.
Untung saja Zea dapat menyeimbangkan tubuhnya hingga ia tak jatuh ke tanah. Zea melihat pria didepannya datar.
"Kalaupun sejak awal gue emang meras, gue seharusnya udah jadian sama lo atau cowok lain dari dulu kak. Tapi sayang! Gue gak ada perasaan sama kak Rey ataupun cowok lain. Dan soal Alvin! kak Rey sendiri pasti tau dari rumor, bagaimana Alvin dipandang saat pertama kali masuk? Bagaimana gue yang jadi bahan ejekan karena mau maunya sama cowok culun kayak Alvin, apalagi saat Alvin nganter jemput gue pakek motor maticnya!" ujar Zea membuat Rey balik menatap Zea.
"Menurut kak Rey gue tau bahwa Alvin itu pria tampan atau kaya seperti yang saat ini kakak lihat sekarang? Gue juga gak tau kak! Tapi dengan gampangnya kakak percaya sama apa yang Shasya ucapkan" Zea semakin menatap Rey sengit.
"Dengan hal itu aja bisa membuktikan bagaimana kak Rey Mandang gue! Mungkin itu yang buat gue nggak bisa nerima kak Rey selama ini"
Rey seketika tersadar bahwa ia kini terlampau emosi bahkan mudah percaya hingga sekarang Zea menatapnya dengan pandangan sinis padanya.
"Ze! Bukan kayak gitu. Gue gue, gue tadi cuma nggak terima_" ucapan Rey terpotong.
"Cukup kak, kak Rey nggak perlu jelasin. Gue uda ngerti!" Zea berbalik pergi meninggalkan Rey.
Rey seketika gelagapan hendak mengejar Zea. Tapi sebuah tangan menahannya dari belakang. Rey menoleh dan melihat pria yang kini menatapnya tajam bahkan terlampau emosi. Alvin berdiri di belakang Rey dengan buku buku jari yang mengeras bahkan rahangnya ikut menguat dan menggertak.
"Ikut gue!" perintah Alvin tanpa bantahan sedikitpun. Ia berjalan berlawanan arah dengan arah yang dituju Zea. Rey melihat pria didepannya itu lantas mengikuti.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ