
Keduanya kembali ke apartemen dan Berjalan menuju dapur. Kenan meletakan belanjaan milik Keyla ke meja dapur.
Keyla mendekat, lalu membuka kembali belanjaannya.
"Gue ke kamar!" pamit Kenan datar hampir tidak menatap Keyla.
Keyla menoleh, "Eh tunggu!" ujar Keyla membuat langkah Kenan terhenti. Kenan menoleh.
"Lo... Lo mau makan apa?" ujar Keyla ragu ragu.
"Gak perlu!" jawab Kenan cuek kembali berjalan meninggalkan Keyla sendirian di dapur.
Keyla menatap kepergian Kenan, ia tersenyum kecut akan sikap Kenan. Tapi Keyla memaklumi karena memang seperti inilah Kenan, cuek, dingin, dan hampir tidak tersentuh.
Keyla menatap belanjaannya. Ia mulai mengatur dan menata beberapa bahan makanan yang ia beli ke seisi dapur.
Keyla tersenyum puas ketika bahan makanan seperti buah, sayur, daging dan lainnya yang ia beli telah tersusun di dapur milik Kenan. Membuat seisi dapur yang tadinya kosong kini mulai terisi.
"Walau dia bilang gak perlu! Tapi karena gue baik, gue bakal tunjukkin keahlian gue!" Keyla tersenyum, "Saatnya beraksi!" seru Keyla melipat lengan bajunya.
Keyla mengambil celemek yang entah kenapa sudah tersedia di sana dan mulai berkutat dengan urusan dapur.
Hingga 1 jam berlalu...
Keyla menatap bangga dengan beberapa hidangan yang ia buat. Ia mulai menghidangkan, menatanya di meja yang terhubung dengan dapur.
puk pukk
"Oke selesai!" ujar Keyla menepuk kedua tangannya kemudian melipat tangannya bangga.
Keyla melepaskan celemek yang ia pakai kemudian menatap keluar dapur.
Tak ada tanda tanda kehadiran Kenan disana.
"Okey! Gue cuma manggil buat makan!" gumam Keyla.
Dengan tekat Keyla berjalan menuju kamar Kenan. Dengan ragu Keyla menatap pintu kamar Kenan. Tangan Kanannya bergerak hendak mengetuk pintu kamar.
Cklekk
Pintu kamar Kenan terbuka dan pria itu berdiri tepat di depan Keyla dengan raut wajah aneh. Kenan seperti sudah bersiap untuk pergi melihat jaket yang ia kenakan.
Kenan melewati Keyla begitu saja.
Krepp!!
"Tunggu! Mau kemana? Gue udah nyiapin makan!" tutur Keyla memegang jaket Kenan.
Kenan menatap Keyla datar, "Gue ada urusan! Lo makan aja sendiri!" ujar Kenan tanpa basa basi melepaskan cekalan Keyla begitu saja.
Pria itu pergi dari hadapan Keyla. Meninggalkan Keyla yang termenung kecewa akan perlakuannya.
...****************...
Kenan pergi setelah menerima telpon dari Geo yang menyuruhnya datang lantaran ada hal mendesak yang ingin Geo bicarakan mengenai seseorang. Tentu hal ini juga karena Geo memaparkan satu kalimat yang membuat ia menegang.
"Oh! Gue kesana sekarang" ujar Kenan terburu buru.
Pria itu pergi dari apartemen mengabaikan Keyla yang telah menyiapkan makanan untuknya.
Dengan motor sport hijaunya. Kenan melaju cepat ke tempat yang di kirimkan oleh Geo melalui chat.
Sekitar 1 jam perjalanan. Jauh dari tempat mereka tinggal. Lebih tepatnya di sebuah tempat terpencil yang jarang di kunjungi orang. Kenan turun dari motornya sambil menatap sekitar.
__ADS_1
Ia melihat kearah tebing tinggi yang menjadi salah satu tempat rahasia dirinya dan Geo.
"Lo udah nyampe!" ujar Geo tanpa menoleh merasakan kehadiran Kenan.
"Dari mana lo tau?" ujar Kenan menatap Geo yang tak memandang dengan menelisik. Wajah yang selalu membeku itu dalam sekejap berubah. Pria yang biasanya tidak gampang cemas kini menjadi siaga di hadapan teman karibnya sendiri.
Geo berbalik menatap kearah Kenan.
"Ada seseorang yang ngasih tau gue!" jawab Geo.
"Siapa?" tanya Kenan.
Geo menggeleng enggan menyebutkan siapa itu, "Gue gak bisa kasih tau karena dia juga nggak ngasih tau kalau itu lo! Tapi dengan kedatangan lo kesini itu artinya kecurigaan gue benar?" tutur Geo menjawab.
Kenan terpaku.
"Apa lo bakal bilang ini ke Alvin?" tanya Kenan cemas.
Geo memandang lekat kearah Kenan. Ia menggeleng.
"Nggak! Justru gue manggil lo kesini karena gue butuh bantu lo dan ini harus tanpa sepengetahuan Alvin" ujar Geo.
"Butuh bantuan gue?!" seru Kenan mengernyit.
"Gue mau lo nyembunyiin Zea!" tutur Geo to the point.
Kenan membelak menatap Geo tajam.
"Lo bercanda kan?!" seru Kenan tersenyum smirk.
Geo menggeleng, "Gue serius!" ujar Geo mantap.
"Hah!!!" Kenan mendesah tak menyangka, bibirnya tersungging lantaran tersentak oleh ucapan Geo. Ia memegang pelipisnya yang mulai berdenyut.
Ia menoleh menatap Geo serius.
"Lo bisa mikir gitu!" jawab Geo datar.
"Kalau gue tolak apa lo bakal kasih tau ini ke Alvin?" seru Kenan.
"Nggak! Karena lo nggak bakal nolak hal ini! Gue tau lo lebih dari siapapun! Lagian lo tipe yang sama dengan Alvin, walau Alvin lebih segalanya dari pada lo!" tutur Geo menyentuh lubuk tergelap di hari Kenan.
Kenan terkesima akan perkataan Geo, "Kau benar! Alvin lebih segalanya dari gue!" ujar Kenan mendesis tak bisa mengelak.
Geo mendekat kan jarak dengan Kenan.
"Gue kasih lo kesempatan untuk ngalahin Alvin! Lo bawa Zea pergi dan saat lo bawa dia. Lo coba takhluk-in hati Zea selama masa itu. Gimana? Ini seperti menembak dua burung dengan satu batukan?!" ujar Geo sengit pada Kenan.
"Kau benar! Gue ingin ngalahin Alvin! Tapi gue gak mau Zea jadi kunci dari ini!" tutur Kenan.
Geo diam tak membalas.
"Tapi gue terima untuk bawa Zea pergi! Alvin semakin lama semakin gila! Gue udah rasain itu di camp tadi, terus lo cari gue sekarang! Itu tandanya Alvin makin parah, takutnya Zea bakal menderita gara gara Alvin yang gak bisa menggunakan perasaannya dengan benar!" ujar Kenan menjabarkan tentang situasi.
"Gue tau lo bakal nerima!" seru Geo menepuk bahu Kenan.
"Terus apa rencana lo? Lo gak bakal nyuruh gue kesini tanpa rencana kan? apalagi mengingat Zea masih punya keluarga!" ujar Kenan.
"Soal itu udah gue pikirin dan tentu gak hanya lo aja yang gue panggil!" tutur Geo.
Kenan mengangkat satu alisnya, "Siapa?" tanya Kenan.
"Tuh!" ujar Geo menunjuk dengan dagunya ke belakang Kenan.
__ADS_1
Kenan menoleh melihat siapa yang datang. Matanya menajam melihat pria yang mendekat dari kejauhan.
"Seperti kata lo! Salah satu keluarga Zea juga harus ikut terlibat" ujar Geo kembali.
Pria yang baru saja datang itu menghadap keduanya.
"Kalian yang manggil gue kesini?" tanya pria itu dengan wajah pias penuh emosi.
"Lebih tepatnya, Gue yang panggil!" jawab Geo tanpa ragu.
Arka mendekat, mencengkeram kerah baju Geo dengan erat.
"Jadi lo? Apa maksud lo bilang kalau adik gue dalam bahaya? Jelasin!" Seru Arka murka.
Kenan hendak mendekat membatu Geo namun Geo menahan Kenan dengan mengacungkan tangan agar tidak mendekat.
"Kalau lo ingin penjelasan, Lo lepasin dulu cengkraman lo ini Bang! Baru gue akan ngomong!" tutur Geo menatap kedua mata Arka tegas.
Arka yang ditatap, menghela nafas. Ia melepaskan Geo dan menatap pria itu kembali dengan tegas.
"Jelasin!" tutur Arka kembali melipat tangannya.
Geo merapikan bajunya yang kusut dicengkeram Arka. Ia menepuk nepuk pakaiannya. Kemudian menatap kearah Arka.
Ia menghela nafas karena ini bakal panjang.
"Alvin sekarang menggila!" ujar Geo menatap keduanya bergantian.
Arka mengernyit bingung.
"Alvin kembali ke hole" lanjut Geo menatap Kenan serius.
Tubuh Kenan menegang mendengar hal itu. Ia tersentak kaget bahkan sampai membeku dengan kenyataan yang Geo paparkan. Ia pikir ini hanya masalah biasa tapi tak disangka hal ini cukup serius.
"Hole? Lubang? Apa itu? Kenapa lo panik?" tanya Arka bingung akan sikap Kenan.
"Itu tempat pelatihan!" ujar Geo.
"Tempat pelatihan iblis!" lanjut Kenan.
"Selebihnya gue gak bisa kasih tau" tutur Geo.
Arka terdiam sejenak, "Terus apa hubungannya adik gue dengan Alvin yang kembali hole, apalah itu?!" tanya Arka menyelidik.
Geo menatap pria itu lekat.
"Lo harus dengerin baik baik! Gue bakal cerita ini dari awal!" tutur Geo menatap Arka tegas.
Arka mengangguk seraya menanti.
Geo menarik nafas dalam sebelum mulai menceritakan segalanya pada Arka. Tentu dengan berbagai pertimbangan dan juga ada beberapa hal yang tidak ia sebutkan. Seperti adanya Joe didalam aksi Alvin. Karena ia tahu bahwa untuk sekarang Alvin masih menyembunyikan Joe bahwa pria itu merupakan bawahannya.
Arka mengepalkan tangannya kuat hingga buku buku jarinya memutih saat cerita mengalir dari mulut Geo. Urat urat di tubuh Arka mulai mencuat karena kemarahan pria itu yang mendalam.
"Dasar iblis!" seru Arka geram akan kenyataan bahwa pria yang selama ini berbincang dengannya ternyata adalah sosok keji yang telah mengurung adiknya.
"Gue harus lapor polisi!" tutur Arka hendak pergi.
"Itu percuma!" teriak Geo membuat langkah kaki Arka terhenti.
"Apa maksud lo? Jangan jangan lo juga komplotan sama brengsek itu?" ujar Arka curiga. Arka melotot melihat Geo.
Geo tak membalas.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ