
Para gadis itu duduk begitu saja di kursi taman yang tersedia disana.
"Siapa yang ngijinin kalian kesini?" tanya Satya tajam pada para gadis itu.
"Loh! Mereka saja boleh kesini masa kita gak boleh Sat. Harus adil dong!" tutur Shasya.
"Kalian pikir kalian siapa ha? Berani banget kalian nentang aturan kami!" balas Satya masih dengan wajah galaknya.
Icha yang ada disana menahan tawa saat melihat wajah pias para gadis yang sudah bangkit itu. Para gadis yang kini menunduk dengan perasaan takut.
"Mampus!" ejek Icha tanpa suara.
"Apa lo Cha? Jangan sok ikut campur!" Sentak Sisi salah satu anggota geng Vara yang juga ada disana.
"Brisik!! Siapa lo berani bicara lantang disini?!" bela Satya.
"Maaf" pinta Sisi.
Vara yang melihat Sisi terkena amuk berdehem.
"Ekhmm... Ayolah Sat! Lo harus adil. Mereka aja bisa duduk disana, masa kita nggak boleh. Kita kan tadi udah dukung kalian, setidaknya biarkan kami disini sebagai bentuk apresiasi atas dukungan kami" Vara membuka suara dengan nada lemah lembut.
"Dih jijay!" ujar Keyla dan Icha bersama akan sikap Vara yang sangat terlihat jelas bermuka dua.
"Iya betul tuh! Ayolah A'a Jul, A'a Kenan, boleh ya kami disini?" manja salah satu gadis yang ikut datang ke taman Aodra itu.
"Iya boleh ya kami disini?!"
"Boleh ya? Hanya kali ini aja!" para gadis gadis memohon bersahut sahutan.
Kenan, Julian, dan Satya cengah mendengar suara berisik para gadis itu menatap kearah Geo, agar Geo yang menyelesaikan. Geo yang ditatap balik menatap kearah Alvin. Ia ingin jawaban dari Alvin karena nyatanya taman itu dibuat untuk Alvin dan hanya Alvin yang berhak apakah mengijinkan atau tidak.
Tapi Alvin tak membalas hanya berwajah datar. Sibuk dengan dunianya sendiri dengan Zea. Geo menghela nafas karena kodenya tidak diperhatikan.
"Gimana Ze! Boleh gak?" tanya Geo tak ada pilihan lain. Ia harus melibatkan Zea karena para gadis gadis itu masih tetap ngotot untuk bergabung.
"Eh kok gue?" Zea mengernyitkan dahi. Ia bingung kenapa Geo ingin pendapatnya. Sedangkan para gadis itu sibuk menatap Zea. Wajah mereka biasa saja namun sorot mata mereka menunjukan permusuhan pada gadis itu. Juga sedikit permohonan.
"Ze boleh ya kita disini!" pinta salah satu gadis berharap jika ia memohon langsung pada Zea ia akan diijinkan untuk tetap disana.
"Gimana boleh gak?" tanya Geo lagi.
"Jangan Ze! Jangan!" ujar Icha dan Keyla membuat tanda silang dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Zea beralih menatap Alvin yang kian menatapnya tapi tak memberikan kode. Zea mengulum bibi. Dirinya kebingungan. Jika ia tidak mengijinkan, jelas ia akan kena cacian dan makian dari para gadis itu. Sedangkan jika ia mengijinkan, dirinya akan kena omel kedua sahabatnya itu. Bisa saja kedua sahabatnya itu akan ngambek bebek padanya.
"Bolehin aja!" balas Alvin melihat wajah Zea yang kebingungan dengan berbagai pertimbangan. Bisa saja jika Zea tak mengijinkan, gadisnya itu akan terkena bullying dan Alvin tak ingin Zea terluka sedikitpun.
Jika seperti ini siapa yang akan disalahkan? Jelas Geo yang membuat Zea terlibat dalam hal ini. Padahal Geo bisa saja langsung menolak mereka dengan diamnya Alvin, tanpa harus melibatkan Zea.
Tatapan tajam Alvin terasa menusuk kearah Geo membuat pria itu menelan ludah. Sepertinya pertandingan tadi membuat otaknya tak bisa berjalan lurus.
"Yaudah boleh!" Zea menyampaikan kembali ucapan Alvin.
"Yes!" sorak gembira para gadis gadis itu.
"Yah Ze!" keluh Icha dan Keyla tak terima.
"Ekhmm!" Geo berdehem.
"Hanya untuk kali ini saja kalian bisa memasuki wilayah ini. Jika gue melihat kalian kembali kesini lagi. Jangan harap kalian bisa sekolah dengan tenang disini" jelas Geo tegas menatap tajam kearah gadis gadis itu. Ia harus memperbaiki kesalahan yang ia buat.
Para gadis itu mengangguk dan mengembangkan senyuman. Mereka kemudian bergabung namun berbeda meja. Keyla dan Icha masih cemberut memakan croffle yang masih tersisa dengan kasar.
"Sorry Cha, Key!" pinta Zea.
"It's okay Ze" balas keduanya. Mau marahpun terlalu kekanak-kanakan bagi keduanya.
"Hai Al!" sapa Shasya mendekati kearah Alvin. Rupanya Shasya kini ingin gencar mendekati Alvin setelah melihat kehebatan Alvin.
Shasya yang dicueki Alvin menghentak hentakan kaki namun ia tak menyerah begitu saja. Gadis itu semakin berani mendekat bahkan duduk di bangku yang sama dengan Zea dan Alvin bahkan ia duduk disamping Alvin.
"Wah perang dunia ketiga nih!" seru Julian memasukan camilan keripik kentang kedalam mulutnya.
"Minggir!" tegas Alvin bernada dingin.
"Kenapa sih kamu cuek banget! Kita kan belum sempat kenalan waktu itu. Kenalin gue Shasya. Kita sekelas lo!" ujar Shasya menyodorkan tangannya.
"Cih!" decak Alvin tak membalas uluran tangan Shasya, bahkan pria itu sontak berdiri.
"Ayo Ze! Kita pergi!" ajak Alvin tanpa basa basi menggengam tangan Zea. Menarik Zea meninggalkan tempat yang sekarang menjadi memuakkan itu. Padahal ia ingin berduaan bersama Zea disana. Tapi gagal sudah rencananya semenjak kehadiran kedua sahabat Zea dan terus dan terus bertambah.
"Zea!" pekik Keyla dan Icha melihat kepergian Zea.
Keduanya sontak berdiri dan mengikuti Zea dari belakang.
"Yah gini doang! Bubar bubar! Gara gara kalian nih!" ujar Satya dan Julian dingin saling bersautan mengusir semua orang dari taman. Anggota Aodra itu pergi meninggalkan taman disusul tim basket Alvin.
__ADS_1
"Ini semua gara gara lo! Gue jadi gagal pendekatan sama geng Aodra kan" Seru Vara marah pada Shasya.
"Tauk! Minggir lo!" Nia yang merupakan teman Vara itu, menyenggol bahu Shasya hingga Vara terlonjak ke belakang hampir jatuh. Shasya menatap kesal pada Nia. Tapi ia baru menyadari bahwa pandangan para gadis lain yang mengekori ia kemari juga menatap kesal bercampur amarah padanya.
"Sha, Lo gak papa!" panik Jasmine, gadis yang menjadi teman Shasya dan sebelumnya sempat memberitahukan pada Shasya mengenai kesan pertama Alvin terhadap dirinya yang jelas tak akan berhasil jika Shasya melakukan pendekatan, memegang pundak Shasya memastikan temannya itu baik baik saja.
Shasya yang masih dalam rasa kesalnya menyentakan tubuhnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Jasmine yang termenung ditaman sendiri.
"Awas aja lo Zea!" amarah Shasya setengah berlari dengan menyimpan dendam. Ia selalu iri jika Zea memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan dirinya.
"Gue akan rebut Alvin dari lo!" Lanjutnya dengan tekat.
...****************...
Disisi lain Alvin menarik Zea kelantai atas. Zea menurut mengikuti Alvin yang membawanya pergi entah kemana. Anak demi anak tangan yang ia lewati membuat Zea ketar ketir.
'Apakah Alvin hendak membunuh gue dengan mendorong gue dari lantai atas?!' batin Zea mulai berpikir negatif.
"Zea! Ze" pekik kedua sahabatnya yang setia mengikuti dirinya dari belakang. Zea tak bisa menghentikan langkahnya karena langkah Alvin yang terus berjalan dan Alvin yang masih menggenggam tangannya. Mau tak mau Zea harus mengikuti pria itu.
"Hosh hosh hosh hosh!" nafas ketiga gadis itu ngos-ngosan saat kini mereka sampai dilantai paling atas.
"Ngapain sih kita kesini?" tanya Icha yang juga menjadi hal yang ingin Zea tau.
Alvin menekan tombol di pintu yang terkunci itu. Titt! Kunci berhasil terbuka. Tangan Alvin terulur membuka kenop pintu didepan mereka.
Cklekk
Pintu itu terbuka terlihat pemandangan langit biru. Ditengah tengah rooftop itu terdapat meja dan kursi yang bisa mereka duduki.
Keempat orang itu masuk langsung diterpa hembusan angin yang menyejukkan karena matahari masih belum terik teriknya.
"Keren banget! Udah lama gue sekolah disini tapi gue gak tau kalau ada ruangan kayak gini!" ujar Keyla takjub.
"Hooh keren banget!" sahut Icha.
Mereka kemudian duduk di kursi yang ada disana. Melihat Alvin yang notabenenya selalu tau tentang kondisi sekolah membuat mereka curiga. Apalagi setelah tahu bahwa Alvin itu pria tampan dan keren diluar penampilannya yang dari awal masuk merupakan pria culun.
"Lo itu siapa sih Al?!" tanya keduanya memincingkan mata.
Deg deg..
Jantung Zea berdebar kencang pernyataan spontan keduanya.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ