My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
188. Ujian dadakan


__ADS_3

Zea Pov


Aku duduk dibangku paling pojok sembari menunggu. Kulihat ke arah pergelangan tanganku yang terdapat jam tangan.


'Masih 30 menit lagi!' batinku bosan.


Aku menatap sekitar dimana teman sekelas ku yang lain sedang asik dengan dunia mereka.


"Mungkin kesana oke kali ya" aku bangkit dan berjalan keluar kelas.


Ku langkahkan kaki ku ke ruangan sederhana yang berada di lantai atas.


cklekk cklekk


"Loh kok?!" seruku saat menyadari bahwa ruangan itu dikunci.


Ku pandangi keseluruhan pintu dan melihat ada jendela diatas pintu.


Aku mencoba melompat lompat untuk melihat apakah ada keanehan didalam ruangan. Aku hanya penasaran dan...


Brukk


"Auu!" aku terjatuh dengan keras karena terpeleset saat berpijak.


Aku meringis saat merasakan rasa ngilu akibat benturan.


"Ishh!" desisku.


Ctakk ctakk Cklekk


Tiba tiba suara kunci pintu diputar dan pintu terbuka terdengar di telingaku. Aku melihat kearah depan karena kurasa itu berasal dari pintu di depanku.


'Ada orang?' batin ku, kemudian aku melihat seorang pria berdiri di depanku.


Aku menatapnya dan ia menatap ku yang terduduk dilantai.


Dia seperti heran kenapa aku disini.


"Kamu nggak papa?" tanyanya.


Dengan buru buru aku bangkit, "Nggak papa! Sorry gue ganggu!" ujarku segan.


Aku yang merasa tidak nyaman dilihat orang pria itu dengan buru buru segera pergi dari sana.


"Eh!" serunya masih bisa ku dengar, namun aku lebih memilih mengabaikan.


"Rupanya ruangan itu udah ada yang pakai" ujarku kecewa karena tempat bersembunyi yang ku temukan ternyata sudah menjadi milik orang lain.


Karena bingung tak tau kemana lagi mengingat sekolah ini tak begitu besar akhirnya aku mulai kembali ke kelas dan menunggu.


Hingga murid murid lain sudah berdatangan.


Kulihat Dea juga datang dan melihat ke arah ku. Aku mengulas senyum sebagai tanda bahwa tak apa aku duduk disini.


Dan akhirnya bel berbunyi. Murid murid yang berada diluar kelas mulai berdatangan memasuki kelas.

__ADS_1


Ku lihat kearah mereka dan ku lihat cowok tadi diantara mereka.


'Rupanya kami sekelas' batinku.


Namun aku tak peduli karena aku disini hanya ingin fokus pada pembelajaran yang akan datang.


Aku keluarkan buku dari dalam tasku sambil menunggu guru yang akan datang.


tok tok tok


"Permisi! Zearanya ada?" tanya seorang gadis membuat seisi kelas menoleh.


"Zeara dipanggil tuh!" ujar Febby dibangkunya berteriak.


Aku bangkit dari bangkuku dan menuju kearah gadis yang tak ku kenal itu.


"Zeara?" tanyanya memastikan identitasku.


"Iya!" jawabku mengangguk.


"Ah itu kamu di suruh keperpustakaann buat ngambil buku, sekarang" ujarnya.


"Oh oke, Makasih!" jawabku mengulas senyum tipis.


"Sama sama" jawabnya.


Gadis itu pun pergi dan aku juga ikut meninggalkan kelas sejenak untuk pergi ke perpustakaan.


Sampai disana aku bertemu dengan penjaga perpustakaan.


Tok tok tok


"Permisi Bu! Saya kesini untuk mengambil buku" ujarku mengatakan maksud kedatangan ku.


"Ohw Zeara ya! Tunggu sebentar" ujar penjaga perpustakaan mulai mengambilkan buku buku yang ku butuhkan.


Aku menunggu beberapa saat hingga buku buku tertata didepanku. Aku membelak melihat sebegitu banyaknya buku yang diberikan.


"Ini yang dibeli dan ini yang di pinjamkan dari sekolah. Dijaga baik baik ya! Terus kamu tanda tangan disini sebegai bukti penerimaan" ujarnya membuatku mengangguk.


Aku menorehkan tanda tangan di buku catatan sang penjaga perpus.


"Itu ada kantong kresek, kamu masukin situ biar mudah bawanya" tuturnya.


"Makasih Bu!" balasku mulai mengisi buku buku yang diberikan kedalam kantong besar.


"Ukhh!!" seruku saat merasakan betapa beratnya buku buku yang kubawa.


"Mari Bu!" ujarku tersenyum sopan, berpamitan pada guru penjaga perpus itu. Beliau mengangguk dan ikut tersenyum sebagai balasan.


Aku dengan segera pergi dari perpustakaan menuju kelas. Sesampainya dikelas guru sudah berada didalamnya.


Namun suasana kelas nampak ribut.


"Permisi!" ujarku sambil memasuki kelas.

__ADS_1


Aku mendekat kearah guru itu dan sedikit menjelaskan alasan ku telat, "Maaf pak saya habis dari perpustakaan!" ujarku. Guru yang tak ku kenal itu mengerti dan langsung menyuruhku duduk.


Segera aku kembali ke bangku ku yang berada di pojok. Oh ya! Aku tak memiliki teman sebangku dan karena itu aku meletakkan buku buku yang kudapat pada kursi disampingku.


"Udah anak anak kembali ke awal! Kita adakan ujian yang ganjil silahkan mulai dulu dan yang genap silahkan menunggu diluar" ujar guru itu. Sekarang aku tau kenapa kelas menjadi ribut seperti tadi.


"Yah Pak!" keluh beberapa siswa.


"Pak masak gak kasihan sama Ara pak! Dia murid baru loh, masak langsung dikasih ujian pak!" ujar seorang murid tiba tiba menudingku.


Aku hanya bisa duduk diam sembari melihat beberapa murid yang mulai membicarakanku juga menjadikan ku sebagai alasan.


Guru di depanku itu melihatku.


"Oh ada murid baru! Siapa namanya?" tanya guru pria itu.


"Zeara pak!" jawabku.


"Oh Zeara! Zeara siap ujian?" tanya guru itu.


Seketika pandangan seluruh kelas tertuju padaku dengan mata berbinar binar. Aku jadi tak enak hati untuk menjawabnya.


"Gak papa! Di coba aja dulu. Sekalian kita tes pembelajaran Zeara disekolah lamanya" ujar guru itu langsung membuat semua murid kecewa.


Akhirnya ujian dadakan terjadi.


Sebagian dari mereka berbondong-bondong untuk keluar.


Karena jumlah muridnya ganjil dan aku berada di absen terakhir maka aku tetap dikelas untuk mengikuti ujian.


"Zeara bapak kasih dispensasi! Kalau mau kamu bisa ambil kloter kedua, bapak ijinkan. Kamu bisa belajar sebentar diluar" kata guru yang ku tak ketahui namanya itu.


Aku menolak, "Saya ikut yang pertama aja pak!" balasku.


"Oke good kalau begitu!" ujarnya.


Guru itu mulai membagikan kertas ujian pada meja depan dan dari depan mengopernya kebelakang hingga sampai ketempat ku.


Aku mengeluarkan tempat alat tulisku dan mengambil bulpoin didalamnya. Kemudian kulihat soal yang berada di meja.


'Fisika!' pikirku saat melihat soal didalamnya.


Dengan sigap aku kerjakan dengan sepenuh hati.


"Jangan ada yang mencontek ya anak anak! Kerjakan apa adanya agar kita bisa tahu bagaimana kalian mencerna pelajaran yang telah bapak berikan!" ujar guru itu mengantisipasi.


Semua orang yang ada di kelas diam tak ada yang menjawab. Aku fokus pada kertas ujian yang ada di mejaku dan mulai mengisi dari nomer satu hingga lima. Walaupun nomor soalnya hanya ada lima namun setiap soal memiliki lebih dari satu pertanyaan yang harus ditentukan.


Aku mulai memutar otak, menghitung dengan benar jawaban di kertas. Hingga akhirnya aku selesai.


"Hah!" aku menghela nafas lega melihat setiap soal sudah ku isi dengan yakin.


Aku melihat kearah depan dimana guru itu sedang mengawasi murid murid lain yang sedang mengerjakan. Ku pandangi murid murid lain dan kulihat dari posisiku dengan jelas beberapa dari mereka sedang berbuat curang.


Tapi yah itu bukan masalahku dan itu hal biasa. Aku menyilangkan tangan dan melihat ke samping dimana murid sekelasku disana sedang menunggu dan nampak membaca baca kembali buku mereka.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2