
Zea menarik tangan Alvin membawa Alvin pergi keluar dari hotel. Tanpa menggenakan alas kaki, Zea masih saja berlari menyisir pantai. Hingga ia tak kuat lagi dan bernafas dengan tersegal segal. Namun bibirnya masih saja tersenyum.
"Wah!! Aku suka! Rasanya letih tapi disaat begini aku jadi tak ingin memikirkan apapun!!" ujar Zea berteriak sambil memandang jauh kearah lautan yang gelap berpadu dengan sinar bulan.
Zea melepaskan genggaman tangannya pada Alvin, lalu mendekat ke pesisir pantai. Mendekat kearah lautan yang terlihat gelap. Membasahi kakinya dengan dinginnya air laut.
Zea membiarkan kakinya di terjang ombak kecil yang mendekat.
Ia menoleh kearah Alvin yang seperti sedang melamun ditempat.
Ctakk
Zea menendang air dengan kakinya, mencipratkan air laut kearah Alvin lalu tertawa.
"Kamu!!" Seru Alvin tertahan.
"Hahahaha" Zea tertawa keras.
Terkadang ia menjadi kekanakan Kanakan. Gadis itu terus saja melanjutkan aksinya hingga membuat mata Alvin melebar.
"Zea!!" seru Alvin menghalangi wajahnya yang terkena cipratan air.
Alvin bergerak maju mendekat kearah Zea.
Hap
Alvin memeluk tubuh Zea agar berhenti. Mengangkat gadis itu agar kakinya tak lagi bermain dengan air.
"Eh eh eh!! Kamu mau ngapain?" ujar panik Zea saat Alvin membawanya pergi dengan keadaan ia digendong seperti karung beras.
"Alvin! udah turunin aku" pinta Zea tapi Alvin adalah Alvin yang sulit dibantah jika sudah berkehendak.
Zea tak tahu mau dibawa kemana lagi. Ia yang tadinya meminta untuk diturunkan juga sudah tidak bersuara lagi.
Gadis itu hanya memperhatikan pasir pantai yang dilalui oleh Alvin sehingga meninggalkan bercak kaki Alvin.
"Sampai!!" ujar Alvin akhirnya berbicara.
Zea mencoba bangkit dari posisi digendong seperti karung berasnya dengan berpegang pada pundak Alvin.
"Ukhh.." seru Zea berusaha keras untuk bangkit
"Oh dimana ini?" tanya Zea melihat sekeliling yang ramai.
Lagi lagi Zea tak tahu bahwa ada wisata seperti ini. Ia tak menemukan tempat ini bahkan ketika ia mencari referensi tempat saat merencanakan liburan.
Kenapa Alvin selalu saja tahu ada tempat tempat seperti ini? Apakah pria itu pernah tinggal disini? Zea jadi curiga.
__ADS_1
Alvin menurunkan Zea dari gendongannya hingga kaki Zea kembali menginjak tanah.
"Tunggu disini sebentar!" ujar Alvin lalu berlalu pergi.
Zea menunggu sambil melihat sekitar. Rata rata pengunjung disini merupakan turis asing, tapi ada juga beberapa yang terlihat seperti warga lokal. Zea menatapi satu demi satu sambil mencari keberadaan Alvin.
...****************...
Alvin kembali ketempat Zea berada dengan menenteng sepasang sandal untuk Zea yang tak mengenakan alas kaki. Namun ketika pria itu kembali ia tak menemukan keberadaan Zea ditempat semula.
Alvin celingukan mencari dimana Zea berada.
"Alvin!! Disini?!" seru Zea berteriak sambil melambai kearah Alvin.
Alvin yang mendengar suara Zea langsung menoleh dan mendekati gadis itu.
"Pakai!" ujar Alvin meletakan sandal di pasir untuk Zea kenakan.
"Makasih!" balas Zea.
Zea duduk dikursi yang disediakan oleh caffe pantai di sana.
"Oh sini Al!" tutur Zea menggeser tubuhnya agar Alvin bisa duduk di kursi panjang yang ia duduki.
Alvin dengan senang hati duduk disamping Zea.
Keduanya duduk saling berdekatan hanya menyisakan hembusan nafas masing-masing.
Zea menoleh memperhatikan raut wajah Alvin.
"Sebenarnya aku banyak berpikir belakang ini!! Dari pada membiarkan mu maju berbicara dengan mereka akan lebih baik jika aku yang maju berbicara. Bagaimana?" tutur Alvin melanjutkan ucapannya sambil meminta persetujuan dari Zea.
Zea mengepalkan tangannya erat, "Kamu tidak perlu maju!! Setelah liburan ini selesai. Aku yang akan bilang. Percaya sama aku!!" ujar Zea memantapkan hati.
Zea rasa sudah cukup ia dan Alvin berada dalam kondisi canggung. Kini Zea sudah menjanjikan satu hal yang teramat penting pada Alvin. Dan ia dituntut untuk menepatinya.
Melihat keseriusan Zea, Alvin memilih percaya.
"Oke! Akan aku tunggu!" ujar Alvin benar benar melembek pada Zea.
Alvin terus menerus terjerat oleh arus yang Zea bawa.
Hingga hanya ada suara deburan ombak yang berasal dari pantai.
Jrengg
Suara petikan gitar beradu. Zea menoleh dan memperhatikan ada seorang pemusik keliling yang kini memainkan gitarnya dengan suara yang merdu di tepi pantai. Pemandangan yang menakjubkan untuk dilihat dan didengar.
__ADS_1
...****************...
Zea banyak berbicara dengan Alvin dalam canda tawa untuk mengenal satu sama lain lebih jauh lagi. Hingga sunset datang dan tandanya mereka menetap di cafe itu sepanjang malam.
"Hangat!!" ujar Zea merasakan secara langsung sinar matahari menerpanya, setelah malam yang dingin kini pagi yang hangat datang.
Grepp
Alvin tiba tiba memeluknya dari belakang lalu menempelkan dagunya di pundak Zea.
"Gimana? Lebih hangat kan??" ujar Alvin sambil memejamkan mata.
Wangi tubuh dan rambut Zea sangat menenangkan untuk Alvin.
"Kamu pakai parfum apa sih? Kok wangi banget?!" ujar Alvin lagi sambil mengendus dikulit leher Zea.
Zea dengan reflek menciumi aroma tubuhnya.
"Wangi? Wangi dari mana? Orang gak ada bau wangi kok? Lagian aku tadi lari lari, pasti bau keringat" seru Zea berceloteh.
Tapi Alvin tak peduli. Pria itu masih dalam posisi semula bahkan lebih mendekat ke ceruk leher Zea.
Bahkan bibirnya tanpa ragu menempel disana dan sesekali mengecupinya.
"Al!! Geli!" tegur Zea hendak melepaskan pelukan Alvin, tapi tangan Alvin menahan dan balik memeluk tangan Zea.
"Biarin seperti ini! Aku mengantuk, aku ingin memelukmu lebih lama" ujar Alvin membuat Zea terpaku. Ia hanya bisa membiarkan Alvin diposisinya, memejamkan mata seperti tertidur tak bergerak sedikitpun.
Hingga seorang pelayan dicafe itu datang menghampiri untuk membereskan gelas dan piring yang ada dimeja Zea.
Zea menggunakan bahasa isyarat dengan pegawai itu dan mengucapkan terimakasih tanpa bersuara.
1 jam, 2 jam, 3 jam. Zea tak tahu berapa lama waktu berjalan. Tanpa kenyataannya Alvin terlelap dalam waktu yang lama hingga beberapa pengunjung berlalu datang dan pergi.
Sebenarnya Zea tak nyaman dalam posisi sekarang namun ia takut jika ia bergerak hal itu akan membangunkan Alvin.
"Emm.." Alvin bergumam dan sedikit bergerak yang dapat membuat Zea berubah posisi.
Zea menggerakkan tubuhnya membuat Alvin sekarang masih tertidur dibahunya namun dalam keadaan menyamping. Membuat Zea terlihat sedang mendekap Alvin.
"Your boyfriend looks fast asleep miss! (pacarmu terlihat tertidur lelap nona)" ujar salah satu turis memperhatikannya. Zea hanya bisa tersenyum dengan canggung.
"Miss, apa anda ingin teh?" ujar pelayan datang kembali menghampirinya.
"Tentu! Oh ya, apa aku bisa dapat sepotong roti juga untuk breakfast" ujar Zea membalas dan memesan.
"Tentu!" ujar pelayan sambil meletakan gelas dan menuangkan teh untuk Zea, lalu pelayan itu pergi meninggalkan Zea untuk menyiapkan pesanan.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ