My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
163. Aktivitas setelah naik gunung


__ADS_3

Perjalanan pendakian ke gunung telah selesai. Zea, Keyla, Icha, dan para geng Aodra itu telah sampai di rumah dengan selamat. Mereka juga telah beristirahat di rumah selama sehari semenjak sampai di rumah masing-masing.


Dan Kini Zea masuk kedalam mobil Alvin untuk berangkat menuju sekolah.


"Ukkhh capek banget! Rasanya kayak berhari hari di gunung!" keluh Zea merenggangkan tubuhnya.


Alvin tersenyum tipis mendengar keluhan dari bibir Zea. Alvin mengusap kepala Zea lembut.


"Udah siap?" tanya Alvin memastikan.


Zea mengangguk, melepaskan tangan Alvin di kepalanya. Kemudian ia beralih memasang seat beltnya lalu duduk tegap menghadap depan.


"Siap!" jawab Zea.


Alvin menyungging senyum akan apa yang Zea lakukan. Ia mulai menyalakan mobilnya dan melajukannya menuju sekolah.


Hingga mereka sampai di sekolah. Alvin dan Zea berjalan beriringan menuju kelas.


"Pagi!" sapa Zea pada kedua sahabatnya yang sudah duduk di bangku masing masing.


"Pagi!" jawab keduanya dengan lesu.


"Dih! Loyo amat kalian berdua pagi pagi gini!" seru Zea meletakan tasnya di meja melihat wajah kedua sahabatnya yang nampak muram.


"Hah! Badan gue sakit semua sehabis pulang dari gunung. Rasanya badan gue kayak di pukul pukul pakek tongkat ukhh!" keluh Icha mendesir.


"Sama! Rasanya istirahat gue tadi malem juga nggak cukup buat ngilangin capek yang gue rasain sekarang!" seru Keyla berbalik, terkelungkup ke meja Zea dan Alvin.


"Hmm Gak kalian aja sih! Gue juga gitu! Capek!" balas Zea ikut muram.


Zea tersungkur letih, membaringkan diri dengan posisi duduk di bangkunya, membuat tas yang ia taruh di meja menjadi bantal.


Ketiganya saling bertatapan tatapan dengan pandangan minta dikasihani satu sama lain.


"Apa kita bolos aja ya?" saran Icha dengan ide gilanya.


"Nggak nggak nggak! Bentar lagi kita ujian dan kita udah berapa hari ini absen! Lupain soal bolos bolosan lagi" seru Zea menolak dengan tegas.


Ketiganya kembali merengut.


Ctakk


Keyla menjentikan jari.


"Gue ada ide!" seru Keyla tersenyum lebar.


Zea dan Icha tak bergerak, hanya mengalihkan mata pada Keyla.


"Apaan?" tanya Icha penasaran.


Keduanya menunggu Keyla bersuara.


Keyla yang merasa bangga hendak membuka mulut namun pandangannya teralih pada Alvin. Bibir Keyla terkatup.


"Ntar aja deh gue kasih tau di grup! Nggak enak ada Alvin!" ujar Keyla tersenyum canggung.


"Ha?" seru Zea dan Icha bingung kemudian menoleh kearah Alvin yang sedari tadi diam.


Alvin yang namanya disebut pun juga menjadi bingung, apa hal yang ia tak boleh tau ini?


...****************...


Kring kring.....


Bel pulang sekolah berbunyi. Zea, Keyla dan Icha yang sedari tadi enggan untuk mengikuti pelajaran akhirnya berhasil juga bertahan hingga bel pulang sekolah berbunyi.


"Ayo!" ajak Alvin menggandeng tangan Zea.


"Gue duluan ya Key, Cha!" seru Zea melambaikan tangan.


"Okey! Jangan lupa ya Ze!" balas keduanya. Zea mengacungkan tangan dari luar kelas.

__ADS_1


Kemudian Ia dan Alvin berjalan ber-iringan menuju parkiran.


"Setelah ini mau kemana?" tanya Alvin pada Zea.


Zea mengulum bibir bawanya, bimbang.


"Ah itu! Ntar sore Icha sama Keyla mau ngajak pergi, jadi.." jawab Zea terputus.


"Oh gitu, Aku tau! Nikmati waktumu kalau begitu" balas Alvin mencoba pengertian.


"Emm Makasih" seru Zea tersenyum tipis sembari mengangguk kepala kecil pada Alvin.


Hingga mereka sampai di parkiran. Keduanya menaiki mobil Alvin dan Alvin mengantar Zea menuju ke rumah gadis itu.


Mobil Alvin terhenti tepat di depan rumah Zea. Zea melepaskan seat beltnya hendak turun.


"Makasih udah nganterin!" ujar Zea menoleh kearah Alvin.


"Sama sama!" balas Alvin.


"Aku masuk dulu!" pamit Zea mengulas senyum.


"Iya" jawab Alvin membalas senyuman Zea.


Zea keluar dari mobil. Kemudian ia berdiri menghadap Alvin yang berada di dalam mobil.


"Bye bye!" seru Zea melambaikan tangan.


"Bye! Kamu masuk dulu!" balas Alvin.


Zea mengangguk kecil, "Hati hati!" ujar Zea mengulas senyum.


"Iya!" jawab Alvin mengangguk kecil.


Zea berbalik. Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah ia masuk barulah terdengar deru mobil Alvin yang menyala kian menjauh dari rumahnya.


"Ma! Zea pulang!" tutur Zea berjalan masuk ke dalam rumah.


Ia melihat hanya ada mbok Jum disana.


"Mama mana mbok?" tanya Zea pada mbok Jum.


"Oh non Zea, udah pulang!" Sapa mbok Jum.


"Haus non?" tanya mbok Jum perhatian.


"Nggak usah mbok! Mama mana?" tanya Zea sekali lagi.


"Oh tadi siang Mama non Zea titip pesan, katanya ada keperluan diluar! Nggak tau mau kemana!!" jawab Mbok Jum.


"Oh ya! Non Zea laper? Mau mbok buatin makan?" lanjut mbok Jum bertanya.


"Oh gitu, Nggak usah mbok! Makasih! Nanti Zea makan di luar aja! Sampaiin ke mama kalau Zea udah pulang!" ujar Zea pada mbok Jum.


"Oke non siap! Kalau perlu sesuatu panggil mbok aja!" seru mbok Jum.


"Iya Mbok! Kalau gitu, Zea ke atas dulu ya mbok!" pamit Zea.


"Iya non! Silahkan!" ujar mbok Jum.


Zea naik ke atas menuju kamarnya meletakan tasnya di ranjang. Ia duduk sejenak sembari melamun.


Hingga beberapa saat Zea tersadar. Ia bangkit membuka isi tasnya, mengambil handphone dari dalam tas untuk ia cas.


Setelah itu Zea berjalan menuju kamar mandi. Ia mulai membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah aktivitas seharian.


Kemudian Zea keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat ditubuhnya. Berjalan ke arah lemari, memilih t-shirt hitam yang di padukan dengan celana kulot hitam.


Setelah itu Zea berjalan kearah meja riasnya, mengambil sisir untuk menata rambutnya. Kemudian ia mulai mengoles pelindung di wajahnya. Tak lupa dengan sentuhan lipblam di bibirnya.


"Oke siap!" seru Zea tersenyum di depan cermin.

__ADS_1


Zea menghadap ke cermin, memperhatikan penampilannya saat ini. Kemudian ia melihat kearah jam.


"Udah waktunya jemput mereka!" seru Zea berjalan mengambil tas kecil hitamnya, lalu ia berjalan kearah handphonenya yang tercharger.


Zea mulai mengisi tasnya dengan barang penting yang ia butuhkan saat keluar. Dompet, handphone, lipblam, juga power Bank.


"Mbok! Zea berangkat ya!" pamit Zea setengah berteriak turun dari tangga, mengambil kunci mobilnya di tempat penyimpanan.


"Iya non! Hati hati!" balas mbok Jum menjawab.


Zea keluar rumah dengan menggenakan sneaker putih kesayangannya. Menuju garasi dimana mobil kesayangannya terparkir.


Zea menghela nafas panjang saat kembali mengingat kenangan buruk dengan mobil itu.


"Oke itu udah lalu!" Zea mengangguk, menyalakan kunci mobil. Ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Ia mulai membawanya keluar dari garasi.


Dengan setengah gugup, Zea mengendarai mobilnya menuju ke rumah Icha terlebih dahulu.


Tringg...


Saat sudah hampir sampai rumah Icha, telpon Zea berdering dari dalam tas. Dengan satu tangan Zea mencoba meraih tasnya. Zea handphonenya dari dalam tas dan melihat siapa yang menelponnya.


Keyla Calling


"Halo!" seru Zea menjawab panggilan.


"Halo Ze! Udah sampai mana?" tanya Keyla dari sebrang telpon.


"Ini lagi otw ke rumah Icha!" jawab Zea.


"Ohw kalau gitu lo tunggu aja disana. Biar gue naik ojek atau taksi kesana!" ujar Keyla.


"Nggak mau gue jemput aja Key, sekalian? Ini bentar lagi gue sampai di rumah Icha kok. Dari pada lo naik ojek, mending lo tunggu di rumah aja, nanti gue jemput sesuai rencana!" ujar Zea berpendapat.


"Nggak lama kok Key! Ini udah sampai komplek rumah Icha. Lo tunggu aja di rumah!" lanjut Zea.


"Ohw gitu ya! Yaudah deh. Gue tunggu!" tutur Keyla mengalah.


"Oke! Gue matiin dulu ya telponnya!" seru Zea masih menatap ke jalanan.


"Iya!" balas Keyla.


Zea mematikan telponnya dan tak lama ia sampai di depan rumah Icha. Zea mematikan mesin mobilnya, melepas seat belt yang melekat ditubuhnya.


Zea keluar dari mobil, menekan bel rumah Icha.


"Iya tunggu!" seru Icha dari dalam rumah.


Pintu rumah Icha terbuka dan nampak Icha yang keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.


"Bun Nei pergi dulu ya!" ujar Icha menyalimi sang bunda yang mengikuti dari belakang.


"Iya! Hati hati kalau bawa mobil!" tutur bunda Icha berjalan mendekat kearah Zea yang ada di depan pagar bersama Icha.


Zea mendekati wanita itu dan menyalaminya.


"Kami pergi dulu Bun!" seru Zea pada wanita itu.


"Dadah Bun!" Zea dan Icha melambai sambil berjalan masuk ke dalam mobil.


"Hati hati!" tutur bunda Icha lagi sambil membalas lambaian keduanya.


Keduanya masuk kedalam mobil.


"Ayo Ze! Buru!" tutur Icha dengan terburu buru memasang seat beltnya.


Zea mengangguk, juga memasang seat belt lalu mulai menjalankan mobilnya menuju rumah Keyla.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2