
Setelah beberapa perdebatan akhirnya Keyla setuju untuk menginap di apartemen milik Kenan. Gadis itu di bonceng oleh Kenan menuju apartemen dimana Kenan biasanya tinggal.
Titt..
Bunyi kunci apartemen Kenan terbuka. Kenan menekan hendel pintu, lalu ia membuka pintu apartemennya, mengajak Keyla masuk.
"Masuk!" ujar Kenan datar melangkah masuk kedalam apartemen.
Keyla menatap kesekitar, mengikuti Kenan masuk dengan tas besar yang ia bawa.
Cklekk
Kenan membuka pintu salah satu kamar di apartemennya itu.
"Lo bisa tinggal disini!" ujar Kenan memperlihatkan kamar bercat putih yang nampak sederhana namun berkelas di mata Keyla.
"Em Thanks!" ujar Keyla.
"Sorry ngerepotin!" lanjutnya lagi.
"Hm!" balas Kenan datar.
Keyla tersenyum canggung, ia melangkah masuk kedalam kamar itu. Meletakkan tasnya di ranjang.
"Kalau butuh sesuatu cari aja gue! Gue ada di kamar satunya" ujar Kenan.
"Iya" balas Keyla.
Kenan melirik sedikit kearah Keyla, sebelum pria itu pergi dari kamar yang Keyla tempati.
Disisi lain...
Alvin mengantar Zea pulang. Pria di sampingnya itu tak bersuara sedari tadi, hanya diam fokus menatap jalan dengan ekspresi yang tak dapat Zea tebak.
"Makasih!" ujar Zea melepaskan seat beltnya.
Alvin diam tak membalas, pria itu nampak termenung.
"A, aku masuk dulu ya!" pamit Zea pada pria di sampingnya itu.
"Tunggu!" ujar Alvin menghentikan pergerakan Zea.
Zea menoleh kearah Alvin.
Alvin menatap Zea secara intens. Tiba tiba tatapan itu berubah, Alvin menghela nafas panjang lalu memegang keningnya.
Dahi Zea mengerut melihat itu.
"Ada apa?" tanya Zea.
Alvin menoleh melihat kembali ke arah Zea.
"Aku temani kamu masuk!" ujar Alvin melepaskan seat beltnya.
Zea mengernyit heran dengan apa yang Alvin lakukan. Gadis itu mengikuti langkah Alvin, ia keluar dari mobil. Lalu berjalan masuk kedalam rumah.
Cklekk
Alvin membuka pintu rumah. Ia masuk kedalam rumah Zea dengan Zea di belakangnya.
Hingga langkah Zea terhenti dikala kedua orangtuanya kini sedang menatap kearahnya setajam silet.
"Zea!" seru Mama Tia mendekat.
Nyali Zea langsung ciut dikala wanita itu mendekat. Zea bersembunyi di belakang tubuh Alvin.
Grepp
Tanpa halangan dari Alvin. Telinga Zea di tarik oleh Mama Tia secara sepontan.
"Aduh duh! Ma, mama ampun!" pekik Zea merintih mengikuti Mama Tia yang membawanya menuju sofa.
Sedangkan disisi Alvin, pria itu memandang tanpa ikut campur mengikuti Mama Tia, Zea, dan Papa Hendra duduk di sofa.
__ADS_1
Zea mengusap telinganya yang panas oleh jeweran mama Tia.
Wajah gadis itu cemberut namun tak berani menatap balik kedua orangtuanya.
"Dimana Keyla?" tanya Mama Tia tegas pada keduanya.
"Pergi" jawab Zea lesu.
"Pergi kemana?" seru Mama Tia geram.
Zea melirik kearah Alvin.
"Keyla menginap di tempat teman Alvin Tan!" jawab Alvin membuat Zea melotot kearah pria itu karena mengadu.
"Huftt.. Mama kecewa sama kalian! Bisa bisanya ada masalah malah kabur kayak tadi. Mama gak tau harus gimana ke kalian! Mama udah capek" ujar Mama Tia mendesah frustasi.
Mama Tia memijat pelipisnya kemudian menatap sang suami agar berbicara.
Papa Hendra yang ditatap, mengusap belakang kepalanya resah.
Sorot yang ramah tamah itu seketika berubah. Papa Hendra menatap kearah Alvin dan Zea dengan tegas.
"Apa Keyla baik baik saja? Apa dia aman?" tanya Papa Hendra pada keduanya.
Alvin mengangguk, "Dia aman! Teman Alvin bisa di percaya, Om" balas Alvin.
"Yakin?" ujar Hendra kembali memastikan.
"Yakin!" jawab Alvin tegas.
"Yaudah kalau gitu! Gak ada yang harus dikhawatirin!" ujar Papa Hendra.
"Pa!" tegur Mama Tia.
"Ck! Udah! Yuk, masuk! Biarin mereka berdua. Papa capek! Anak muda punya masanya sendiri!" seru Papa Hendra menuntun Mama Tia agar menjauh dari keduanya.
"Eh mama belum selesai bicara!" seru Mam Tia. Tapi seakan tak mendengar Hendra terus mendorong istrinya masuk kedalam.
Zea melirik pada Alvin.
"Sekali lagi makasih! Makasih udah bantu aku" ujar Zea tulus pada Alvin.
Alvin diam tak membalas.
"Em, kamu mau minum?" Zea bangkit. "Aku ambilin minum di dapur dulu ya, bentar!" ujar Zea hendak pergi.
Alvin menahan tangan Zea.
Zea berbalik menatap kearah wajah Alvin yang berbeda dari biasanya. Pria itu nampak tajam dan keras untuk saat ini.
"Apa ada yang salah Al?" tanya Zea pada pria itu.
Alvin melihat ke dalam rumah Zea mengawasi.
"Ayo bicara diluar!" ujar Alvin bangkit.
Alvin menarik Zea, membawanya ke luar rumah. Zea mengikuti langkah Alvin yang terus berjalan hingga mereka sampai di taman wilayah kompleks rumah Zea berada.
Alvin menarik Zea ketempat sepi yang tak dapat terlihat oleh siapapun.
"Kita ngapain kesini?" tanya Zea was was.
Brukk
Alvin mendorong tubuh Zea, menahan tubuh Zea di pohon. Pria itu menatap Zea dengan tajam dan nampak berapi api.
Zea yang merasakan itu seketika takut.
'Ini beda!' seru Zea dalam batin.
Alvin mendekat, memajukan badannya dan menyisakan jarak satu inci dengan tubuh Zea. Zea dapat merasakan nafas Alvin yang berhembus tertahan di wajahnya.
"Kamu mau apa?" seru Zea memejamkan mata takut.
__ADS_1
Alvin menyentuh wajah Zea agar bertatapan dengannya.
"Buka matamu dan lihat aku!" seru Alvin menekan Zea agar melihatnya.
Zea yang merasakan sakit akhirnya membuka mata. Ia menatap mata hitam legam tajam milik Alvin.
"Kamu_" ujar Zea terjeda.
Alvin menyungging senyum sinis pada Zea.
"Apa yang kau katakan pada Kuina tadi? God luck? Huh!" seru Alvin.
Otak Zea berputar kembali mengingat.
"Sepertinya kamu lupa karena aku sangat terlalu baik belakang ini!" wajah Alvin mengeras, pria itu tak menunjukan keramahan sama sekali pada Zea.
"Aku tak suka di permainkan Zea!" tekan Alvin lagi menahan leher Zea, hingga gadis itu tak dapat meraup udara.
Zea panik.
"Alvin Al!" seru Zea memegang tangan Alvin.
Zea meronta, nafasnya melemah. Pandangan Zea mulai buram dan gadis itu melemas. Melihat Zea yang hampir memejamkan mata, Alvin melepaskan pegangannya membuat Zea jatuh ke tanah.
"Hah hah uhukk uhukk!" Zea menghirup udara sebanyak banyaknya.
Jantungnya berdegup kencang dengan situasi saat ini.
Zea mendongak, menatap kearah Alvin. Tak ada lagi wajah ramah dari sorot mata Zea. Perasaan yang selama ini Zea tahan muncul kembali.
"Kenapa? Sudah tak mau berpura pura lagi?" ujar Alvin pada gadis itu.
Zea menampilkan senyum smirk di bibirnya. Ia membuang wajah enggan menatap Alvin.
"Pantas kepala sekolah milih lo jadi pemeran utama! Bahkan gue pun bisa tertipu sama lo!" seru Alvin memandang kearah Zea.
Zea bangkit dihadapan Alvin. Ia menepuk pakaiannya, menghilangkan debu yang menempel.
"Terus kenapa? Lo muak? Lo benci? Lo ngerasa terhianati?" seru Zea menatap tajam kearah Alvin.
Alvin menyungging senyum, menatap Zea tajam. Keduanya saling bersitatap tak ada yang mau mengalah.
"Ini udah yang keberapa kali Zea? Berapa kali kamu masih mau terus dan terus seperti ini!" seru Alvin mengepal tangannya kuat.
"Karena itu! Ini udah kesekian kian kalinya Alvin" Zea membalas.
Brukk
"Diam!" bentak Alvin meninju pohon dibelakang Zea.
Otot otot Alvin mengeras.
"Gue heran sama lo! Apa selama ini lo nggak ada perasaan se-dikit-pun ke gue? Apa hati lo itu batu, nggak pernah goyah sedikitpun sama apa yang gue lakuin?" ujar Alvin dengan amarah.
Zea terdiam lalu membuang muka.
"Nggak! Nggak sedikitpun!" ujar Zea kembali menatap Alvin.
"Pembohong!" seru Alvin.
"Gue bisa melihatnya, Lo berbohong!" ujar Alvin dengan nafas menderu.
Zea bersidekap, menyandar ke pohon di belakangnya.
"Terus? Kalau gue berbohong lo mau apa? Lagian gue heran sama lo! Lo ngerasa gak sih Al. Gimana canggungnya hubungan kita selama ini. No feel Al, No Feel. Gak ada perasaan sama sekali dan lo lihat itu!" seru Zea menjabarkan.
"Coba lo tanya itu ke diri lo sendiri! Apa lo emang cinta ke gue atau itu cuma perasaan kagum lo aja karena gue cewek pertama yang ngelakuin hal-hal aneh atau apalah itu di hadapan lo! Lo cuma terobsesi Al, not love! Lo harusnya sadar!" ujar Zea lagi.
Tapi Alvin nampak tak mau mengalah sedikitpun.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1