My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
189. Nilai tambahan


__ADS_3

Zea Pov


Aku duduk termenung dibangku ku sambil melamun.


"Kalau ada yang sudah, bisa langsung dikumpulkan dan istirahat diluar terlebih dahulu. Nanti di jam terakhir kita bahas bersama sama" ujar guru itu.


Dengan segera aku bangkit, lagian untuk apa aku disini. Berlama lama di kelas yang sedang menegang membuat suasana disini jadi tidak enak.


Aku berjalan menuju meja guru meletakan soal dan jawabanku dihadapan guru fisika ku.


"Saya sudah pak!" ujarku menyerahkan kertas ujianku.


"Oh baik! Kamu tadi murid baru ya? Siapa tadi namanya?" tanya guru itu melupakan namaku.


"Iya pak, nama saya Zeara pak!" jawabku.


"Oh ya ya Zeara! Em ini udah selesai? Udah yakin mau dikumpulkan?" tanya beliau sambil melihat kertas ujianku.


"Iya pak, yakin" jawabku singkat.


"Kalau begitu saya permisi ya pak!" ujarku datar.


"Iya silahkan" Balasnya. Dengan cepat keluar aku keluar dari kelas mengabaikan murid murid lain yang menatapku. Aku yakin tatapan mereka seperti meminta pertolongan.


Aku keluar dari kelas disambut dengan rentetan pertanyaan bagaimana ujian itu. Apakah sulit? Apakah susah? Soal mana saja yang keluar?!! Yah seperti itulah.


Aku hanya bisa tersenyum tipis menjawab singkat tentang inti dari soal yang keluar.


"Zeara Ra, boleh ajarin bentar gak?" tanya Dea sedikit memaksa dengan mata berbinar binar kepadaku.


Dea memegang tanganku membuatku segan untuk menolak. Padahal aku ingin langsung pergi ke tempat tenang setelah ujian ini. Aku akhirnya mengangguk dan Dea tersenyum lebar.


Dea membawaku pada segerombolan temannya yang juga ada Febi dan Maya disana.


Aku duduk diantara mereka dan mulai melihat buku Dea yang bersisi catatan mengenai ujian kali ini.


Ku jelaskan secara singkat dan jelas mengenai apa apa saja yang penting juga memberi mereka sedikit tips agar menghafal rumus yang ada didalamnya.


Murid murid didalam kelas satu persatu mulai keluar dari kelas.


"Wah makasih banget loh Ra! Aku langsung paham setelah kamu jelasin!" puji Dea padaku.


"Nggak masalah" jawabku sambil bangkit.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya! Doain!" ujar Dea meminta semangat padaku.


"Zeara makasih ya!! Aku masuk dulu!" diikuti dengan Febi, Maya, dan beberapa kawan lainnya.


Aku menoleh kearah mereka yang sudah menyelesaikan ujian dengan muka lesu dan tak bertenaga. Tiba tiba pandangan ku bertatapan dengan pria tadi.


"Dit, gimana ujian barusan? Parah ih nggak ngasih contekan" ujar seorang pria yang kudapati mencontek dengan handphone saat ujian tadi.

__ADS_1


Yah walau begitu tidak ada urusannya dengan ku.


Aku pergi dari sana. Dari pada aku duduk menyendiri disini, aku memilih untuk pergi ke kantin.


Saat aku tiba di kantin. Jelas kantin di sekolah ku terlihat sepi. Tak ada murid yang terlihat disana.


Aku berjalan ke salah satu penjual yang ada disana. Ada beberapa makanan disini yang tak jauh beda dari sekolah lamaku dulu. Contohnya batagor dan siomay. Langsung ku pesan saja makanan itu plus dengan es teh, karena disini tak menyediakan jus strawberry kesukaan ku seperti disekolah lama.


"Makasih Buk!" tuturku ramah sambil berjalan kearah meja meja yang ada disana.


Ku pilih saja tempat dipaling pojok agar aku nantinya tak terlihat jika ada orang yang lewat. Aku letakan piring dan gelas berisi pesanan ku pada meja kayu di depanku.


Hingga suara berisik datang dari arah sana. Dejavu, itulah yang tiba tiba kurasakan.


Langsung saja kuhabiskan makanan di piring dengan cepat dan dengan beberapa kali teguk es teh manisku habis seketika.


Aku bangkit melewati para gerombolan itu.


"Zeara! Sini ayo gabung!!" ajak gadis yang ku temui pagi tadi.


Aku menggeleng dengan cepat, "Ndak kalian aja!" ujarku dan langsung meninggalkan kantin dengan cepat.


Dapat ku pastikan beberapa dari mereka tak menyukai sikapku yang datar ini, tapi ini juga yang kuinginkan.


...****************...


Aku yang tak memiliki tujuan tiba tiba saja terpikir untuk kembali ke ruangan yang berada di lantai paling atas.


Aku berjalan kesana dan benar saja ruangan itu terbuka dan tidak terkunci.


Ku petik gitar itu dan memainkan beberapa lagu.


"Keren!!" ujar seorang pria membuatku tersentak kaget.


Aku bangkit dengan cepat dan meletakan gitar itu kembali.


Pria itu tersenyum kearah ku dan aku melihatnya dengan wajah datar.


"Hehehe Maaf ganggu! Aku ketua kelas dikelas kita, namaku Dito. Sebelumnya kita belum sempat kenalan karena kemarin aku ijin" ujarnya dengan ramah.


Aku tak membalas dan hanya mengangguk singkat sebagai tanda salam kenal.


"Em itu! Sekali lagi aku minta maaf, tapi ini udah jam segini dan guru suruh balik ke kelas" seru Dito memberitahukan.


Aku melihat jam di tanganku dan tersentak kaget. Benar saja, Rupanya sudah hampir satu jam aku disini. Bernyanyi nyanyi hingga sekarang aku merasakan tenggorokanku terasa kering.


Dito bergerak membuka jalan kearah luar.


"Makasih!" tutur ku sembari melewatinya dengan cepat, mendahului Dito untuk pergi ke kelas.


Tak ingin berinteraksi aku berjalan dengan cepat menuruni anak demi anak tangga hingga aku sampai dan benar saja semua sudah masuk dikelas.

__ADS_1


Ku tundukan kepala dan berjalan kearah mejaku.


Guru kembali memberikan soal dimana kita ujian tadi.


"Oke anak anak! Soal udah dibagi. Sekarang kita bahas tapi bapak mau kalian yang cari jawabannya. Sekarang kalian boleh open book dan silahkan tulis jawabannya dipapan, jika kalian tahu dan jika benar akan saya kasih nilai tambahan" ujar sang guru membuat para murid dikelas tak melewatkan kesempatan ini.


Seisi kelas mulai mencari-cari jawaban sedangkan aku memandangi soal itu dengan datar dan malas. Aku tak ingin mengerjakan ulang.


Namun tiba tiba Dea datang padaku dengan kertas dan buku ditangannya. Ia memandang ku dengan senyuman anehnya. Seketika Dea duduk disampingku.


"Boleh kasih tau caranya lagi ya Ra!! Waktu ujian tadi aku bisa tapi nggak yakin, jadi sekarang mau berharap sama nilai tambahan. Tolong bantuin ya?! Bimbingan aja deh biar aku bisa! Please!" ujarnya jujur dengan penuh harapan.


Aku memandanginya dari atas kebawah dan aku menghela nafas.


"Oke" balasku. Padahal aku ingin menolak karena tak ingin dekat, namun sampai kini batin ku menolak.


Dea tersenyum senang duduk disampingku. Aku mulai mengajari Dea bagaimana mengerjakannya. Seperti yang ia bilang, tak ku beri Dea jawaban langsung karena aku ingin Dea paham akan apa yang ia kerjakan.


Ku pinta Dea untuk menghitung hasilnya sendiri dengan beberapa contoh bagaimana cara menghitungnya.


Aku mengangguk saat Dea bertanya apakah hitungannya benar.


"Wah! Makasih!" ujarnya berseru senang sambil memegang tanganku.


Dea bangkit dari bangku sambil mengangkat tangan, "Pak saya mau mengerjakan nomor 2 b" ujar Dea dengan segera maju kedepan.


Kulihat beberapa orang yang juga bergerombol menjadi satu, mencoba mencari kesempatan.


Ku pandangi mereka tanpa minat dan menenggelamkan wajahku di bangku. Rasanya kelas ini terlalu bising untuk telingaku.


Hingga seseorang menepuk pundaku. Aku mengangkat wajahku dan melihat siapa itu. Ku lihat Dea yang tersenyum kembali padaku.


"Bener jawabannya Ra! Aku dapat nilai tambahan" ujarnya senang lalu duduk di samping bangkuku.


Aku menanggapi dengan anggukan singkat.


"Bagus deh!" tutur ku.


Aku tak berbicara lagi dan Dea juga seperti menunggu reaksiku.


"Ngomong-ngomong aku belum tau, kamu asalnya pindahan dari mana sih Ra?" tanya Dea membuatku seketika membeku.


Badanku menegang akan jawaban yang akan kuberikan padanya.


"Ibu kota!! Aku dulu tinggal disana" jawabku tak menjelaskan secara detail.


"Ohw ibu kota! Ibu kota bagian mana?" tanyanya lagi begitu penasaran.


Aku mengulas senyum tipis dan langsung bangkit, "Em aku mau maju dulu ya De! Aku mau cari nilai tambahan" ujarku dengan segera mengalihkan perhatiannya.


Aku mencari kesempatan untuk menghindari dengan maju kedepan menghindari pertanyaan Dea. Ku tinggalkan Dea yang terdiam di mejaku.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2