My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
198. Minggu pertama bertemu


__ADS_3

Zea Pov


"Sudahlah mari jalani hari dengan baik!" batinku bangkit setelah merenung memikirkan kejadian tadi.


Aku bangkit kemudian melepas jaket, topi, dan masker yang masih melekat. Aku duduk di depan cermin lalu membersihkan riasan di wajahku yang masih tersisa.


"Huft!!" ku hembuskan nafas tak berdaya, melihat bagaimana diriku yang kurasa sangat menyedihkan ini.


'Mungkin guyuran air dingin dapat membuatku relaks' pikirku kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Aku berjalan kearah kamar mandi sambil melihat sekeliling rumah.


"Mama papa pergi kayaknya!" gumam ku merasa rumah ku kini menjadi sangat sepi.


Tak lagi memperdulikan itu. Aku berjalan ke kamar mandi membasuh tubuhku yang lelah.


skipp..


Sudah beberapa hari berlalu. Kini waktu yang di janjikan tiba. Alvin yang memintaku datang seminggu sekali akhirnya kembali.


Dengan alasan membeli handphone yang sempat tertunda, aku meminta ijin kedua orang tuaku untuk keluar. Sebenarnya aku tak ingin berbohong namun aku juga tak bisa berkata jujur bahwa kini aku akan bertemu dengan Alvin.


"Sudah sampai?!" ujar Alvin menunggu ku di depan lobi.


Bukan dimall, saat pertama kali bertemu setelah sekian lama. Alvin mengajakku bertemu di gedung apartemen.


Aku berjalan masuk kearahnya. Aku juga sudah siaga sedari tadi dengan membawa semprotan merica yang ku buat secara mendadak dirumah.


Alvin mendekat kearah ku dan merangkul ku kedalam pelukannya.


"Ayo!" Alvin mengajakku masuk.


Aku tetap menurut sambil menggenggam sempotan merica yang ku bawa di sakuku. Melihat bagaimana Alvin yang bahkan tak tersenyum ketika melihatku.


Aku mengikuti Alvin masuk kedalam salah satu ruang apartemen. Ku lihat di sekitar ruangan nampak seperti baru dengan berbagai forniture yang bahkan dapat ku cium baunya.


"Duduk disana! Buat dirimu nyaman" ajak Alvin mengarahkan ku ke sofa putih yang lembut. Sedangkan ia berjalan ke dapur yang bisa ku lihat dari sini.


Apartemen ini memang tak seluas apartemen Alvin yang sebelumnya, namun juga bukan apartemen yang murah mengingat luasnya ruangan ini hampir seperti luasnya rumahku yang baru.


"Kamu menyewanya?" tanyaku merasa penasaran saat Alvin datang dengan minuman.


Alvin meletakan minumannya di meja dan duduk disampingku. Ia bersandar di sofa sambil melihatku.


"Aku membelinya" jawab Alvin membuatku terkejut.


Aku menoleh kearah Alvin namun pria itu nampak acuh.


"Oh!" seruku tak bisa berkata kembali menatap lurus kedepan membiarkan Alvin yang terus memandangku. Karena aku juga tak bisa melarangnya.


"Di minum minumannya!!" ujar Alvin kembali membuatku terkesima.


Aku melihat segelas jus strawberry yang ada di meja. Tapi aku ragu untuk meminumnya. Diriku terus siaga setiap saat.


Tak..


Alvin mengambil gelas itu dimeja membuatku menoleh. Ia meminumnya hingga isi didalamnya berkurang sedikit.

__ADS_1


Tak.. Alvin meletakan gelasnya kembali dimeja.


"Lihat! Aku baik baik saja dan aku tak menambahkan racun. Jadi minumlah! Tak perlu khawatir" ujarnya seperti bisa membaca jalan pikirku.


Aku menelan ludah kasar, sejujurnya aku juga haus. Aku mengambil gelas itu kemudian menegaknya.


"Makasih!" balasku.


Dengan perlahan aku meminumnya sambil mengawasi Alvin yang terus menatap tanpa henti.


"Ada apa?" tanyaku mengernyit tak mengerti, kenapa pria itu terus saja memandangku seperti itu.


Aku meletakan gelas kembali di meja.


"Kau tak memakai riasan?!" tanyanya seketika membuat ku tersadar.


"Ah iya" jawabku.


"Kenapa?" ia bertanya kenapa.


"Em itu karena tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Jadi, tak ada gunanya aku memakai riasan" ujarku jujur menjelaskan pada Alvin.


"Oh!" begitulah tanggapannya.


Aku mengangguk angguk singkat sebagai balasan.


Kembali ku ambil jus yang ada di meja, meneguknya sebagai penghilang rasa tegang yang kini kurasakan.


"Keyla dan Icha! Sahabat mu itu. Apakah tau kamu disini?" tanyanya kembali membuatku terhenti.


Aku tiba tiba teringat. Sudah sering aku merasa bersalah karena mencemaskan keduanya. Mereka pasti juga ikut cemas karena aku yang tiada kabar selama ini.


Bahkan jika aku kini memegang handphone. Aku masih tidak memiliki keberanian untuk menelpon mereka setelah sekian lama menghilang.


"Pantas!" ujar Alvin menanggapi.


Aku kemudian hanya diam menunggu Alvin berbicara lagi.


"Kemari, mendekatlah dan lihat aku" ujarnya tak ku mengerti maksudnya. Bukankah aku sudah cukup dekat dengannya kini.


Alvin menarik tanganku membawaku benar benar dekat dengannya, bahkan hampir tak menyisakan jarak.


"Cih!! Apa kamu hanya ingin diam diam saja disini dan mengabaikan ku?" tutur Alvin sangat dekat hingga aku tak bisa bernafas.


Aku menahan nafasku tak bergeming menatapnya sambil mengatup bibir dengan rapat.


"Aku merindukanmu" Alvin mengungkapkan perasaannya.


Tangan Alvin bergerak menyentuh rambutku dan mengelusnya dengan pelan. Hingga pria itu lebih mendekat dan aku tak sanggup lagi. Aku memejamkan mata. Dapat kurasakan nafas Alvin di diwajahku.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar membuatku membuka mata kembali. Alvin sudah sedikit menjauh dariku.


Ku lihat pria di depanku ini sedang kesal dan dari tatapannya seperti ingin menerkam seseorang dibalik pintu itu.


Alvin bangkit dan berjalan menuju pintu. Ku hembuskan nafas lega karena tak terjadi apa apa.

__ADS_1


Brakk


"Astaga!"


Suara pintu tertutup dengan kencang hingga membuatku kaget. Aku menoleh dan melihat Alvin kembali dengan kantong makanan. Ia meletakannya dihadapanku.


"Mengganggu saja!" ujarnya kesal sambil berkacak pinggang.


Aku melihat ekspresi marah Alvin yang seperti ini ingin tertawa. Ia yang menahan marah seperti ini sangat lucu. Berbeda dari biasanya.


Ia menoleh menatap ke arahku dan langsung ku tutup bibirku dengan tangan agar ia tak melihat senyumku.


"Kamu tertawa?!" ucapnya seperti kaget melihat kearah ku.


Dengan cepat aku menggeleng dan membatah, "Nggak!" seruku.


Alvin menajam, ia kembali duduk disampingku. Memegang tanganku menjauhkannya, kemudian ia beralih memegang wajahku, melihat ekspresi ku secara langsung. Dengan susah payah aku menahannya.


Wajahnya merenggut namun itu semakin terlihat lucu, tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku.


Cup..


Kecupnya tiba tiba membuatku membelak. Aku membeku akan apa yang pria itu lagi.


Cup..


Lagi! Ia menciumku yang masih dalam keadaan membeku tanpa aba aba ini.


Aku menggenggam sofa dengan erat kemudian memejamkan mata. Sensasi Alvin menciumku benar benar menghanyutkan ku.


Aku seketika sadar dan bergerak mundur, menjauhkan bibirku dari bibir Alvin.


"Berani sekali berbohong!" ujarnya sambil mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari.


Aku tak bisa berfikir, aku juga tak bisa menanggapi. Aku merasa panas di seluruh wajahku.


'Ada apa ini? Apa aku demam!' batinku sambil menyentuh pipiku yang sedikit hangat.


Aku tak paham dengan diriku sekarang. Jika aku membencinya kenapa tadi aku membalas ciumannya.


Aku merasa diriku konyol dan ingin tertawa.


Ku tatap Alvin dengan seksama. Pria itu mengulas senyum smirk diwajahnya. Lihat betapa senangnya ia setelah mempermainkan ku.


"Aku lapar! Boleh aku makan?" tanyaku mengalihkan suasana.


Alvin tersenyum manis kearahku, "Makanlah!" ujarnya sambil mengeluarkan makanan dari dalam kantong.


Junk food, sebuah big burger dari restoran berlambang M yang terlihat menggoda. Aku menerimanya dari tangan Alvin.


"Makasih!" ujarku lalu menyuap gigitan pertama kedalam mulut dengan senang hati.


Aku terlalu fokus pada makananku hingga tak memperhatikan Alvin.


Tiba tiba dapat kurasakan tangan Alvin membelai kepalaku, "Makanlah yang banyak! Setelah ini kamu harus menyenangkan!" ujar Alvin setengah berbisik di telingaku.


Aku kembali menegang, menoleh dan dengan jelas kulihat pria itu tersenyum licik di depanku.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2