
Alvin mengendarai mobil Zea. Mengantarkan gadis itu pulang dengan Joe yang mengikuti dibelakang.
Zea memang datang menemuinya dengan menggunakan kendaraan sendiri. Bahkan gadis itu menolak keras ia menjemputnya.
Didalam mobil keduanya saling diam dengan Alvin yang fokus mengendarai mobil.
"Kenapa memilih tinggal di tempat seperti ini?" tanya Alvin memulai pembicaraan sekaligus bertanya, karena ia tak paham kenapa dari banyaknya tempat Zea memilih pedesaan seperti ini. Apalagi jika ia lihat jalanan di sini gelap karena minimnya penerangan.
Zea menoleh merespon pertanyaan Alvin, "Nggak kenapa napa! Hanya ingin saja, em hanya ingin" jawab Zea tak masuk akal.
Alvin menoleh, "Hanya ingin? Yang benar saja. Kalau kamu memang ingin lari dariku, setidaknya pilih tempat yang bagus. Kenapa harus menyusahkan diri seperti ini coba!" tegur Alvin membuat lubuk hati Zea tergores.
Zea melotot kearah Alvin yang fokus kejalan. Ia sangat kesal dengan pria itu.
"Kenapa? Marah?" tanya Alvin tiba tiba moleh dan sekian detik ekspresi Zea berubah menjadi lembut kembali.
"Ahh nggak! Siapa yang marah!" jawab Zea menyangkal.
Alvin melirik kearah gadis itu. Ia tahu perkataannya tadi membuat Zea sentimental. Tapi ia tak peduli.
Tiba tiba pandangan Alvin tertuju pada leher Zea yang berbecak merah. Pria itu terus memandangnya membuat Zea risih.
'Ntah apa yang dipandangnya!' batin Zea.
"Al! Jangan lihat aku terus, tolong lihat jalan. Ntar nabrak!" tegur Zea agar Alvin fokus kembali. Ia tak ingin mereka sampai kenapa napa.
"Oh!" jawab Alvin menurut, kembali melihat jalan.
Mereka memasuki wilayah dengan penuh sawah sawah disekitar mereka dengan rerimbunan seperti hutan tepat dibelakang sawah.
Alvin fokus mengemudi kendaraan. Namun tiba tiba saja ia teralih saat Zea mengetuk ketuk kaca dengan jarinya. Ia tak bisa fokus kembali akan tingkah Zea yang sepertinya gelisah.
'Kenapa?' batin Alvin mencoba mencari tahu apa yang salah dari Zea secara tiba-tiba. Ia terus melirik gadis itu.
Sedangkan Zea, awalnya ia biasa saja selama perjalanan. Namun saat hampir dekat rumahnya kini, ia terus memikirkan bagaimana menjelaskan pada orang tuanya tentang keterlambatannya.
"Ckk.." Zea berdecak, pasrah dengan apa yang nantinya terjadi dirumah. Tak masalah jika ia nanti harus kena omel.
Zea menoleh karena merasakan tatapan dari mata Alvin.
"Kenapa?" tanya keduanya bersamaan.
Zea terpaku dan menggeleng sebagai balasan. Ia kembali melihat depan.
"Alvin awas!!" teriak Zea keras menunjuk ke depan. Ia melihat ada hewan yang melintas.
Teriakan Zea sontak membuat Alvin menoleh dan mencoba untuk mengerem mobil.
Cittt.... Brakk..
Terlambat, Suara tabrakan dari depan membuat jantung Zea berdebar kencang.
"Shitt!!" umpat Alvin kesal saat tau ia menabrak.
"Aku keluar lihat dulu!" ujar Alvin sambil mematikan mesin mobil.
Alvin melepaskan seat beltnya kemudian turun dari mobil. Pria itu melihat apa yang terlindas oleh mobil Zea.
"Ada apa tuan?" tanya Joe ikut turun dari mobilnya saat mobil yang dikendarai Alvin berhenti.
__ADS_1
Alvin tak menoleh, ia menyalakan lampu senter dihandphonenya menyoroti ban mobil Zea sambil menunjukan pada Joe apa yang terlindas.
"Babi!" ujar Joe memperhatikan.
Sedangkan Zea masih di dalam mobil dalam keadaan shock bukan main. Ia bahkan enggan untuk turun mengingat ia melihat secara jelas, mobilnya bertubrukan dengan hewan entah apa itu, karena berlalu dengan cepat.
Sedangkan Alvin dan Joe berada di depan memastikan apa hewan didepannya ini bisa di singkirkan mengingat bentuknya yang sudah tidak karuan.
"Saya harus bagaimana tuan?" tanya Joe siap dengan apa yang Alvin suruh, termasuk jika ia harus disuruh membersihkan bangkai didepannya itu.
Alvin menoleh sambil mengawasi sekitar yang gelap bahkan tak ada orang sama sekali disana. Kemudian ia melihat kearah Zea yang berdiam diri di dalam mobil sendirian.
"Hah! Lupakan saja! Kayaknya Zea shock! Lo antar Zea pulang aja!" tutur Alvin menyuruh Joe mengantar Zea.
"Ya?" ujar Joe tak jelas dengan perintah Alvin.
Alvin bersidekap menatap pria itu, "Gue mau lo anter Zea pulang, gue tunggu disini. Bilang aja ke orang tua Zea kalau Zea habis nubruk dan lo kebetulan melintas. Jelas?" tutur Alvin menjabarkan perintahnya walau tak begitu detail.
"Saya mengerti. Tapi apa tak apa saya semobil dengan nona?" tanya Joe takut menyinggung Alvin.
"Lakukan saja apa yang gue suruh!" jawab Alvin enggan bertele tele.
"Baik tuan!" seru Joe. Ia dengan patuh menuruti perintah Alvin.
Zea yang sudah sadar kembali akhirnya turun dari mobil. Ia melihat Joe yang sudah balik ke mobilnya.
"Gimana?" tanya Zea mencoba memastikan.
Ia tak berani melihat kearah hewan yang mati di bawah mobilnya itu dengan darah yang bercecer dijalanan.
Alvin menyadari hal itu, ia melihat kekhawatiran di wajah Zea.
"Gak perlu khawatir! Ini biar aku yang beresin. Sekarang kamu naik ke mobil dan Joe akan antar kamu pulang" ujar Alvin membuat Zea memandang pria itu.
"Ha? Joe antar aku pulang kerumah?" tanya Zea tak percaya. Bagaimana jika orang tuanya mengenali Joe.
"Iya dan sekali lagi kamu tak perlu khawatir. Orang tuamu tak pernah menemui Joe dan anggap aja Joe orang lewat yang bantu kamu. Lagian sekarang juga udah malam, kamu cepat pergi dan istirahat. Besok aku chat kamu setelah sampai rumah. Okay?" seru Alvin sambil membelai wajah Zea dalam pelukannya.
Cup..
Alvin mengecup mata Zea lama membuat gadis itu memejam. Walaupun sudah tidur siang tadi, sekarang ia masih mengantuk.
"Pergilah sekarang! Ini kunci mobilnya. Kita bertemu lagi Minggu depan. ya?" ujar Alvin sambil melepaskan pelukannya dan menyerahkan kunci mobil pada Zea. Zea menerimanya sambil mengangguk paham.
"Iya" kata Zea.
Alvin menuntun Zea mengarahkan Zea masuk kedalam mobil yang didalamnya ada Joe dengan perasaan tak rela.
Zea masuk dengan patuh. Kemudian Alvin melambaikan tangan padanya sebagai perpisahan dan Zea membalasnya dengan lambaian tangan.
"Hati hati!" tutur Alvin kearah Joe.
"Baik tuan!" jawab Joe.
Joe menyalakan mobil kemudian dengan perlahan ia meninggalkan Alvin sendirian disana dan mengantarkan Zea pulang kerumahnya.
...****************...
Joe mengantar Zea sampai di depan rumah. Pria itu memberitahu Zea yang masih diam bahwa mereka sudah sampai.
__ADS_1
"Oh makasih Joe!" ujar Zea sambil melepaskan seat beltnya.
Zea melihat kearah luar kaca mobil dimana kedua orangtuanya, pakde Tejo, dan Budhe Lastri beserta Ayu nampak cemas seperti sedang menunggu kedatangannya.
Zea turun dari mobil.
"Bi! Itu Zea Bi!" seru Ayu melihat Zea turun.
Mama Tia melihat kearah Zea begitupula Papa Hendra. Keduanya sangat lega dengan kepulangan Zea dengan segera menghampiri gadis itu dan memeluknya.
"Zea! Kamu dari mana aja? Mama Papa khawatir tau nggak?" ujar Mama Tia marah bercampur cemas. Ia memeluk Zea dengan erat.
Joe yang mengantar Zea pulang ikut turun dari mobil dan menyapa orang tua Zea dengan sopan. Seperti tak pernah mengenal sebelumnya.
"Permisi!" sapa Joe.
Papa Hendra dan Pakde Tejo dengan segera melihat kearah pria itu karena apa yang mereka pikirkan kini, Zea diantar oleh laki laki tidak dikenal pulang! Dan mereka waspada terhadap Joe.
"Kamu siapa?" tanya Papa Hendra dengan tegas.
Joe melirik kearah Zea yang juga sedang menatapnya.
Joe mengulas senyum palsu kearah kedua orang tua Zea agar mereka percaya bahwa ia pria baik baik.
"Ah begini Pak Buk! Waktu saya melintas tadi, saya tidak sengaja melihat nona ini duduk di depan mobil. Saya pikir ada masalah karena malam malam begini ada gadis duduk disana sendirian. Jadi saya hampiri dan ternyata mobilnya melindas hewan sepertinya babi hutan. Karena sepertinya nona ini juga shock, saya menawarkan diri mengantar mengingat nona Zea ini bilang tidak bisa menghubungi keluarga. Begitu!" ujar Joe berbaur dengan mulus mencampur kebenaran dengan kebohongan.
"Ah! Jadi masnya ini nganterin Zea karena Zea nggak sengaja ngelindas babi hutan" ujar Pakde Tejo mencerna kata kata Joe sambil saling pandang dengan Hendra.
"Iya betul!" jawab Joe sambil mengulas senyum.
Sebenarnya tak ada gunanya juga ia berpura-pura seperti ini, namun ia rasa sebagai orang baik hati yang menawarkan bantuan pada Zea, mau tak mau ia harus menjadi orang yang ramah, sopan, dan baik untuk memperkuat karakternya.
"Ck ck ck kamu ini ada ada aja nduk! Disana emang rawan! Untung ada mas ini yang nolongin!" tutur Budhe Lastri sambil mengusap bahu Zea yang ada di dekapan Mama Tia.
Zea mengulas senyum sebagai balasan.
"Kalau gitu, mas ini namanya siapa?" tanya Papa Hendra menanyakan nama Joe.
"Richard Pak, nama saya Richard" jawab Joe mengambil nama belakangnya.
"Mas Richard, Saya Hendra, Papa Zea! Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak telah menolong Zea. Nggak tau jadinya kalau mas Richard tidak nolongin anak saya. Kalau begitu mas Richard, Mari singgah dulu. Kita ngobrol sebentar!!" ujar Papa Hendra berterima kasih sambil mengajak Joe masuk untuk menjamu pria itu.
"Iya mas! Ayo masuk dulu!!" ujar Pakde Tejo juga menawarkan.
Joe tersenyum dengan ramah, "Ah tidak perlu Pak Hendra! Saya masih ada urusan habis ini. Jadi saya harus pergi! Maaf dan terimakasih tawarannya!" ujar Joe menolak dengan halus.
"Oh begitu, kalau begitu ini!" Papa Hendra mengeluarkan dompet dari saku belakangnya kemudian mengambil sejumlah uang dari sana.
"Anggap sebagai ketulusan kami!" lanjut Papa Hendra menyerahkan uang pada Joe
Jo menyilangkan tangan, "Ah tidak perlu Pak Hendra. Saya tulus nolongin! Saya..." Joe menolak tapi Papa Hendra dan Pakde Tejo memaksa.
"Udah Mas ini bawa aja. Pak Hendra tulus kasihnya. Lagian lumayan toh buat rokok! Benerkan pak?" ujar Pakde Tejo menggenggamkan uang Papa Hendra ketangan Joe sambil menoleh kearah Hendra.
Joe tak bisa berbuat banyak karena ia harus segera pergi ketempat Alvin
"Baiklah saya terima! Terimakasih kalau begitu. Mari!!" Joe menunduk menyapa semuanya termasuk Zea yang ada disana mengawasi bagaimana sikap Joe yang berubah untuk beberapa saat.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ