
Zea menyendok sepotong desert yang di siapkan oleh pelayan untuknya. Karena sudah di siapkan, tak sopan jika ia tak menyentuhnya.
"Kapan kamu akan pergi?" tanya mommy Mira.
"3 hari lagi Tan" jawab Zea.
Mommy Mira mengerti, "Keluarga kamu?" tanya mommy Mira lagi.
Zea seketika lesu, "Mereka juga ikut pindah!" ujar Zea dengan penuh penyesalan. Gara gara dia keluarganya ikut terlibat, termasuk abangnya yang kini sedang menjalankan kuliahnya. Ia merasa sangat bersalah.
Mommy Mira merasakan penyesalan Zea, ia menggenggam tangan Zea.
"Jangan khawatir, Tante akan bantu" ujar mommy Mira tersenyum lembut penuh arti.
Zea membalas senyuman Miranda tak kalah lembut. Zea menggeleng , "Nggak usah Tan! Tante sudah cukup membantu Zea untuk pindah sekolah, Zea tak mau Tante terkena masalah karena Zea. Itu sudah cukup!" ujar Zea dengan penuh ketulusan.
Mommy Mira ikut muram melihat Zea yang seakan putus asa. Ia seakan kehilangan gadis pemberani yang dulu pernah menolongnya.
"Oke" jawab mommy Mira tak ingin bicara lebih lanjut tentang ini.
Mommy Mira tersenyum kearah Zea, seakan mengabaikan perkataan tadi.
"Em Ayo makan lagi! Kamu coba ini! Ini kesukaan Tante" ujar mommy Mira menyodorkan hidangan yang ada dimeja kearah Zea.
Zea mengangguk menerimanya agar kecanggungan mereka mereda.
"Enak?" tanya mommy Mira saat Zea memasukum sesuap cake kedalam mulutnya.
"Iya" jawab Zea mengulum sendok cake dibibirnya.
Keduanya tersenyum satu sama lain dengan tulus. Hingga mereka selesai makan dan berjalan pergi meninggalkan restoran.
Mommy Mira, Zea, dan Marko berjalan keluar restoran.
"Terimakasih pelayanannya hari ini Marko" ujar Mommy Mira dengan langkah terhenti di dekat mobilnya.
"Terimakasih" ucap Zea.
"Sama sama! Senang anda berdua puas dengan pelayanan kami. Kami menunggu kedatangan anda kembali!" jawab Marko membuka pintu mobil untuk mommy Mira.
Mommy Mira mengangguk singkat lalu menatap Zea. Keduanya masuk kedalam mobil, memberi salam terakhir pada Marko sebelum meninggal restoran.
Mobil mommy Mira berjalan mengantar Zea pulang.
Hingga mereka sampai di depan rumah Zea. Dari depan pintu, kedua orang tua Zea nampak menunggu kedatangan keduanya.
Mommy Mira ikut Zea keluar dari mobil. Ia dan Zea berdiri berhadapan.
"Makasih untuk hari ini Tan" ujar Zea.
"Sama sama" jawab mommy Mira.
Mommy Mira melihat Zea dengan perasaan mengganjal.
"Zea!" panggil mommy Mira.
"Iya?" balas Zea menoleh.
Mommy Mira menatap Zea lembut, tangannya bergerak mengelus rambut Zea seperti putri kandungnya sendiri.
"Maafin Tante! Tante hanya bisa menahan Alvin sampai kalian lulus! Setelah itu Tante tak bisa lagi menahan Alvin, kamu harus hadapi sendiri!" ujar Miranda.
"Sekali lagi Maafin Tante tidak bisa menghentikan Alvin dengan benar dan membuat kamu kesusahan" lanjutnya.
__ADS_1
Zea tersentuh, ia menggenggam tangan Miranda yang menyentuh kepalanya.
"Nggak papa Tan! Itu sudah cukup. Sekarang Zea akan menenangkan diri lebih dulu. Setelahnya Zea akan lebih berani menghadapi Alvin!" ujar Zea dengan yakin.
Zea menggenggam tangan Miranda erat lalu ia menoleh kepada kedua orangtuanya yang sedang menunggu.
"Kalau begitu Zea masuk dulu ya Tan! Mama papa sudah nunggu Zea! Terima kasih banyak untuk hari ini" ujar Zea melepaskan genggaman tangannya dari Miranda.
"Iya. Hati hati" Miranda mengangguk kecil.
Zea mengulas senyum, ia mengalami mommy Mira kemudian berbalik melangkahkan kaki masuk menerima sambutan kedua orangtuanya.
Mommy Mira melambaikan tangan pada Zea sebelum gadis itu dibawa masuk oleh kedua orangtuanya.
"Karena masalah ini di sebabkan putraku, sebagai orang tua aku juga ikut andil dalam hal ini" gumam mommy Mira.
Ia melangkah masuk kedalam mobil meninggalkan rumah Zea.
Flashback off
...****************...
Zea pov
Hari ini mommy Alvin datang. Ia ingat betapa menawannya wanita itu saat pertama kali bertemu. Yah walau dikala itu Tante Mira sedang kesusahan.
Aku masuk kedalam kamar setelah menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan mama papaku tentang apa yang kami lakukan. Aku menjawab dengan jujur sembari menenangkan mereka. Aku tahu bahwa mereka sekarang cemas akan keadaanku dan membuat setiap hal yang kulakukan selalu membuat mereka khawatir. Itu salahku! Salahku yang selalu membuat mereka khawatir.
Aku merebahkan diri di kasur. Melihat atap kamar yang selalu kupundangi setiap malam. Tiba tiba aku menjadi melow.
Kuraih handphone yang ada di nakas. Menghubungi dua nomor secara bersamaan.
Panggilan terhubung...
"Ze! Lo beneran mau pindah?" tanya Icha merasa sedih.
"Iya" jawabku tegas tak ingin mereka gelisah.
Mereka tak menjawab, menatap ku dengan sedih.
"Kenapa mendadak sih Ze? Lo gak beneran pergi karena ada masalah kan Ze?" tanya Keyla khawatir.
Aku menggeleng mencoba bersikap biasa, "Nggak! Kan waktu itu udah gue bilang papa pindah tempat kerja. Jadinya gue juga ikut mereka pindah! Gitu deh!" aku berbohong.
Walaupun mereka sahabat terbaikku, aku tak bisa cerita karena tak ingin mereka terlibat.
Keduanya terlihat menyayangkan, "Harus ya lo ikut?" tanya Icha masih tak rela.
Aku tak bisa menjawab.
"Iya" hanya jawaban singkat yang keluar dari mulutku.
"Cha! Zea mungkin emang harus ikut pergi!" tegur Keyla menghentikan Icha.
"Hmm" gumam Icha menyayangkan.
Aku melihat kearah keduanya tak enak hari terutama Keyla, "Sorry Key!" ujarku. Padahal dulu aku sempat membantu Keyla agar ia tak ikut pergi bersama kedua orangtuanya. Namun kini aku yang ingin pergi mengabaikan persahabatan kami. Aku merasa aku telah mengkhianati mereka.
Keyla mengulas senyum sebagai balasan, "Yaealah Ze! Santai aja kali, lagian gak selamanya lo pergi. Lagian dunia ini udah canggih, kita masih bisa Vidcall-an kalau lagi kangen! Em begitu" ujar Keyla tahu apa yang kupikirkan.
"Kapan lo akan berangkat Ze?" tanya Icha.
"3 hari lagi tapi mungkin gue akan berangkat sendiri besok" jawab ku.
__ADS_1
"Loh kenapa?" tanya keduanya heran dan setengah terkejut.
"Gue ingin berangkat lebih awal. Gue masih perlu adaptasi disana" jawabku jujur. Alasan lainnya karena aku takut jika sewaktu-waktu Alvin muncul kembali.
"Oh begitu" ulas keduanya.
Aku memandang keduanya, "Lo serius gak mau bagi tau alamat kepindahan Lo Ze?" tanya Keyla mengulang pertanyaan yang sama ketika aku memberi tahu soal kepergian ku pada mereka pertama kali, yaitu saat aku menyampaikan kepindahanku sekitar 10 hari lalu sembari mempersiapkan berkas pemindahan sekolahku dengan bantuan mommy Mira.
Aku menggeleng tak bisa menjawab. Bukannya tak ingin tapi aku tak bisa, karena dengan mereka tahu tentang keberadaan ku mungkin saja Alvin dengan mudah juga bisa ikut melacakku.
Walau aku tahu tak bisa 100% kabur dari Alvin. Tapi setidaknya aku ingin lebih lama tak melihat dirinya. Biarkan diriku ini tenang seperti semula tanpa kehadiran Alvin walau harus kehilangan banyak hal.
"Maaf" ucapku lagi pada keduanya dengan menyesal.
"Oh" keduanya tanpa kecewa dengan jawabanku.
Aku melirik kearah jarum jam di dinding.
"Em girls, mau keluar bentar gak sebelum gue pergi besok?" tanyaku menawarkan. Anggap saja ini sebagai pertemuan terakhirku dengan mereka.
"Beneran? Boleh! Tentu!" jawab mereka bersamaan dengan antusias.
"Oke! Biar gue yang jemput kalian" ujarku menawarkan.
"Oke kita tunggu" jawab keduanya serentak.
Aku mengangguk mematikan panggilan telpon lalu bersiap siap untuk keluar menemui mereka.
Aku mengganti pakaian dan mengenakan jaket dengan tudung, lalu memakai masker dan kacamata. Jika bersama mommy Alvin tadi, aku merasa aman dan tak perlu melakukan hal seperti ini. Namun kini berbeda, aku akan keluar sendiri dan hal itu membuatku sedikit trauma. Aku hanya berjaga agar tak ada yang mengenali diriku diluar sana.
Aku menuruni tangga menemui kedua orang tua ku untuk berpamitan.
"Pa, Ma!" panggilku.
Keduanya menoleh, "Kamu mau kemana lagi?" tanya Mama melihat penampilan ku.
Aku mendekat, "Zea mau ketemu Keyla sama Icha ma" jawabku.
Mama terlihat cemas dan takut, "Kenapa kamu gak suruh mereka kesini aja?" ujar Mama. Seperti inilah sekarang jika aku ingin pergi pergi, kedua orang tua ku itu akan lebih waspada dan aku mengerti akan hal itu.
"Zea bakal berangkat kesana besok Ma, Pa. Jadi, kalau mereka kesini mungkin mereka bakal memaksa menginap disini dan Zea gak sanggup kalau harus melihat mereka saat Zea pergi" jawabku sesuai dengan apa yang kurasakan. Aku tak tega dan masih tak sanggup untuk melepaskan semua kenangan ku di tempat ini.
Papa nampak menyetuh bahu mama Tia agar mengiyakan, "Nggak papa ma! Sebentar lagi mereka bakal susah ketemu! Ijinkan saja untuk terakhir kali" bela Papa.
Papa menghadap ke arahku.
"Nih! Pakai mobil papa aja jangan mobil kamu. Ingat harus jaga jaga dan jangan pulang terlalu lama. Saat makan malam, kamu sudah harus dirumah" ujar papa membatasi diriku sambil menyerahkan kunci mobil.
"Iya pa, makasih" balasku mengambil kunci mobil yang diberikan papa.
"Kalau begitu Zea pergi ya" pamitku lagi.
"Hati hati!" jawab keduanya.
Aku menyalimi keduanya.
"Zea pergi!" pamitku.
"Kalau ada apa apa langsung telpon mama" tutur Mama berpesan.
"Iya ma" jawabku mengerti.
Aku pergi ke garasi mengambil mobil papa didalam sana lalu pergi menyusul kedua sahabat ku yang pastinya sudah menunggu kedatanganku.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ