My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
66. Menggila


__ADS_3

Keesokkan harinya Alvin kembali ke rumah Zea guna menyapa keluarga Zea sebagai bentuk menampakan diri.


"Eh Alvin! kok gak sekolah Al?" tanya Mama Tia melihat kedatangan Alvin.


"Alvin mau fokus cari Zea tan, percuma juga ke sekolah kalau pikiran Alvin selalu tertuju sama Zea!" jawab Alvin.


"Tapi kan kamu gak bisa bolos gini. Ntar kalau kamu ketinggalan pelajar gimana? Kalau orang tua kamu tau kamu gak ke sekolah bagaimana?"


Alvin seketika memelas mendengar pertanyaan yang Mama Tia lontarkan.


"Tante bukannya gak ngebolehin kamu cari Zea. Tapi tante gak mau pendidikan kamu terganggu" bujuk Mama Tia.


"Emm maaf Tan, untuk kali ini biarin saya fokus cari Zea. Saya janji hal ini gak bakal ganggu sekolah Alvin! Saya mohon!" ucap Alvin masih dengan ke keras kepala-annya.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Yaudah! Alvin pasti belum makan. Makan bareng yuk!" ajak Mama Tia, Alvin tersenyum tipis namun menggeleng. Menolak ajakan Mama Tia.


"Nggak usah Tan! Alvin kesini cuma mau nyapa aja sekalian nemuin bang Arka. Alvin ingin tau info lebih lanjut soal pencarian Zea!" jelas Alvin.


"Oh yaudah, yuk masuk dulu!" ajak Mama Tia.


Alvin duduk di sofa sedangkan Mama Tia kembali ke dapur. Tak lama kemudian Bang Arka turun menghapiri Alvin.


"Bang!" sapa Alvin berdiri menjabat tangan Bang Arka.


"Pagi bener!" ujar Bang Arka, Alvin hanya bisa tersenyum.


"Gimana bang?" tanya Alvin langsung.


"Duduk dulu!" pinta Bang Arka, Alvin menurut kembali duduk di sofa. Alvin terus menatap wajah Arka tak sabaran. Bang Arka menghela nafas, seakan tau apa yang diinginkan Alvin.


"Selepas kesini kemaren malam detektif suruhan papa langsung cari keberadaan Zion detik itu juga dibantu sama polisi. Dan di cek dari cctv di beberapa daerah, Zion terakhir dilihat ada di suatu alamat. Alamatnya udah gue kirim ke lo! Habis itu gak ada jejak sama sekali! Gue bener bener khawatir soal keadaan Zea sekarang!" jelas Bang Arka frustasi.


"Oke, makasih infonya Bang. Gue akan pergi kesana sekarang!" ucap Alvin sambil berdiri.


Bang Arka mendesah, "Hah! Gue tau lo bakal gini. Makanya baru tadi pagi gue kasih info ke lo!" ungkap Bang Arka. Alvin diam tak membalas.


"Loh kok berdiri?!" seru Mama Tia menghampiri ke arah dua pemuda itu dengan nampan berisi minuman.


"Alvin mau pergi Tan!" ucap Alvin.


"Loh jangan dulu. Ini minum dulu. Duduk dulu!" tawar Mama Tia meletakan minumannya dimeja.


Alvin menimang nimang. Ia tak enak hati untuk menolak mama Tia kembali, akhirnya menurut. Tangannya terulur mengambil minuman buatan mbok Jum.


Tak lama kemudian Papa Hendra datang keruangan itu.

__ADS_1


"Loh ada Alvin! Udah lama?" tanya Papa Hendra. Alvin menghampiri Papa Hendra menyalimi pria itu.


"Barusan Om!" jawab Alvin.


"Permisi nya, tuan, den. Sarapannya udah siap" ucap Mbok Jum menyela.


"Oh iya mbok habis ini kesana!"


"Kalau gitu Alvin permisi ya Om, Tan, Bang" pamit Alvin ingin meninggalkan kediaman itu.


"Eh eh mau kemana? Makan dulu!" cegat Papa Hendra.


"Gak usah Om!" tolak Alvin.


"Nggak nggak ayo sarapan dulu! Kamu pasti mau langsung ke tempat terakhir bajingan itu terlihat kan?!" tebak Papa Hendra. Alvin menunduk seakan mengiyakan ucapan Papa Hendra.


"Makan dulu, baru lo boleh pergi!" sahut Bang Arka.


"Iya nak Alvin, makan dulu!" ucap Mama Tia.


Alvin yang ditahan oleh keluarga Zea tak bisa menolak. Akhirnya ikut makan bersama keluarga mantan pacarnya itu.


"Jadi ambil cuti Bang?!" tanya Papa Hendra pada Bang Arka disela sela makan.


"Jadi pa!" jawab Bang Arka.


"Pelan pelan makannya Al!" tegur Mama Tia.


"Iya Tan"


Mendapat teguran dari mama Tia Alvin sedikit memelankan makannya. Mama Tia, Papa Hendra, dan Bang Arka seakan melihat ketulusan pria itu.


(aduh jinjay amsyong! ketulusan dibilang. punten!! numpang lewat, yang ngetik greget kalau bayanginnya!)


...****************...


Selepas dari rumah Zea, Alvin kini melajukan kendaraannya. Pria itu datang ke tempat dimana Zion terakhir terlihat. Ia kesana hanya sekedar menampakan diri seakan ia benar benar mencari Zea.


Setelah hampir satu jam ia melakukan hal hal tak berguna. Alvin akhirnya menyerah.


Ia menyerah untuk melakukan hal hal bodoh ini karena hatinya sudah tak kuat menahan rindu. Akhirnya Alvin menelpon Joe untuk menyuruh anak buahnya membawakan motor sportnya ke lokasi yang ia kirim. Dengan sigap Joe mengiyakan.


Sambil menunggu motornya datang, Alvin kembali melanjutkan bertanya tanya ke warga sekitar apakah mereka pernah melihat Zea. Jelas jawaban mereka tak tahu karena Zea sama sekali tak pernah berada disana.


Sampai akhirnya motornya datang dengan sigap Alvin menaiki motornya. Ia melaju kencangkan motornya menikung disetiap belokan.

__ADS_1


Alvin tak sabar untuk bertemu Zea. Ia melajukan motornya sekencang yang ia bisa. Menyalip kendaraan kendaraan yang menghalanginya. Sampai akhirnya setelah melewati pohon pohon yang berdiri tegak. Alvin sampai di vila mewah ditengah hutan dimana tempat ia mengurung Zea.


Dengan hati yang berbunga, Alvin memasuki vila itu. Sedangkan penjaga yang ditempatkan Joe menunduk saat ia lewat.


Saat sudah didalam vila, sayup sayup Alvin mendengar suara dari arah dapur yang terhubung dengan ruang makan. Alvin mengikuti arah suara yang ia kenal.


Dan saat Alvin semakin dekat, ia melihat Zea sedang duduk di kursi meja makan dengan Joe yang berdiri disamping gadis itu.


Joe yang mendengar suara langkah kaki Alvin menoleh dan tersentak kaget.


"Tuan!" sapa Joe dengan hormat. Zea seketika menoleh melihat Alvin dengan wajah padam bercampur emosi disana.


Tangan Alvin mengepal, buku buku jarinya memutih, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya tajam mengarah kearah Joe.


Zea berdiri dari duduknya menautkan jarinya takut bercampur ngeri melihat ekspresi Alvin. Ia menggigit bibir bawahnya menyalurkan rasa takut disana.


"Nona Anda sebaiknya menjauh!" ujar Joe memberi peringatan.


Langkah kaki Alvin mendekat, Alvin berjalan kearah keduanya dengan Joe yang menatap sambil sedikit menunduk kepala.


Sedangkan batin Zea sudah ketat ketir. 'Haruskah ia menahan Alvin? Tapi kalau kena hantam gimana? Pasti sakit! Gimana ya?' ujar Zea dalam batin yang tak kunjung mendapat solusi hingga Alvin sudah hampir mendekat kearah mereka.


Saat jarak keduanya makin mendekat, Joe menggeser tubuhnya sedikit berjarak pada Zea. Kemudian Alvin melangkah cepat kearah Joe.


Bugh


Sebuah hantaman di wajah Joe membuat Zea memekik kaget. Kedua mata Zea membola melihat Alvin yang tanpa henti memukuli Joe.


'Aduh gimana nih?' batin Zea gelisah.


Tak tahan lagi melihat Joe dipukuli Alvin yang sedang kesetanan, Zea bergerak menahan Alvin dengan memeluk pria itu dari belakang.


"Alvin stop, Please!" seru Zea tak kuat lagi akan aksi bruntal Alvin.


"Alvin gue mohon, berhenti!" pinta Zea memelas di belakang tubuh Alvin.


Zea menarik tubuh Alvin dari belakang mencoba menarik pria itu untuk menjauh dari Geo. Namun apa daya yang tenaganya yang kalah kuat dari Alvin.


Zea yang melihat Alvin terus memukuli Joe akhirnya menetes air mata. Ia merasa bersalah.


"Hiks hiks aku mohon berhenti! Aku yang salah!" ungkap Zea dengan derai air mata.


Alvin yang menggila dibuat sadar akan isakan tangis Zea dan pelan pelan tenaganya tak sekuat semula, membuat Zea berhasil menarik Alvin, menjauh dari Joe yang merintih kesakitan.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2