
Istirahat selesai dan mereka mulai kembali keruangan tadi. Sesampainya disana mereka kembali beradu akting berbeda dari tadi yang hanya membaca dan memperbaiki intonansi. Kini mereka mulai memperagakan tokoh yang mereka mainkan.
Waktu berjalan terus mengalir. Kegiatan mereka ini memang kegiatan menyenangkan tanpa harus berkutit dengan otak dan pelajaran. Dibanding capek secara pikiran kini mereka capek secara fisik. Ketika pak Burhan mengomando bahwa latihan selesai dan siap untuk terjun kelapangan 2 hari lagi membuat mereka bernafas lega.
Langit tak lagi terik cerah, kini langit berwarna abu abu dengan untaian angin yang menghembus. Mereka jalan kearah parkiran dan terlihat di sekeliling sekolah nampak sepi karena mereka pulang lebih lambat dari pada murid murid lain.
Sampai diparkiran Kedua sahabat Zea itu berpamitan kepadanya. Zea berjalan berdampingan dengan Alvin yang dari belakang diikuti oleh anggota geng Aodra itu.
Alvin memasangkan helm kepada Zea. Keduanya saling bersitatap dan melempar senyum masing masing.
"Siap pulang?" tanya Alvin.
"Siap dong." jawab Zea.
Keduanya kemudian mengendari motor Alvin keluar dari gerbang sekolah. Disusul dengan anggota Aodra yang lain dan beberapa murid yang ikut dalam partisipasi.
Zea yang memeluk Alvin menoleh kearah belakang. Dahinya mengernyit mendapati para geng Aodra itu tepat berada dibelakang mereka. Seperti seseorang yang sedang mengikuti motor mereka dari belakang.
Zea tak ambil pusing beralih kearah Alvin bercengkrama dengan pria yang sudah menjadi kekasihnya itu. Namun keheranan itu dibuat semakin menjadi ketika dia menegok dan melihat anggota geng Aodra itu masih mengikuti mereka.
Zea menepuk bahu Alvin untuk meminta pria itu memperlambat laju motornya dengan harapan anggota geng Aodra itu mendahului motor mereka.
Kini kali ketiganya Zea menoleh dan melihat mereka sekumpulan pria dengan motor sportnya itu juga ikut memperlambat laju. Zea lantas meminta Alvin mempercepat laju motornya. Alvin dibuat keheranan atas permintaan Zea yang labil, tadi minta lambat sekarang minta cepat. Tapi apa yang gak buat kekasihnya yang manis dan cantik itu, Alvin mengikuti arahan Zea.
Zea kembali menoleh dan melihat para pria disana juga mengikuti laju kendaraan Alvin yang berubah. Jarah antara keduanya dan anggota geng Aodra itu tidaklah dekat maupun berdampingan tapi juga tidak jauh juga.
Kecurigaan bahwa mereka mengikuti motornya dan Alvin kian menjadi tak kala Zea meminta Alvin membelokkan kendaraannya disebuah cafe. Saat keduanya memarkirkan motor mereka juga ikut memakirkan dan ikut masuk kedalam cafe.
Mereka tidak melakukan apa apa kepada keduanya hanya sekedar mengikuti. Kedua duduk dimeja dekat jendela dan mereka duduk tak jauh dari keduanya. Pelayan cafe mendatangi mereka. Zea lantas memesan milkshake strawberry kesukaannya dan juga Alvin dengan minuman berbeda yaitu hot americano.
"Ze, aku mau ketoilet dulu ya." ucap Alvin berdiri.
"Oke, jangan lama lama." Alvin tersenyum mendengar penuturan Zea.
Alvin kemudian pergi meninggalkan Zea. Zea mengawasi kepergian Alvin dan matanya melihat salah satu anggota geng Aodra yang dia kenal bernama Geo juga ikut pergi ke toilet. Matanya terus menelusuri sampai keduanya hilang pertanda mereka masuk kedalam toilet.
Kemudian dirinya kian cemas melihat itu semua akan tetapi Zea menekan egonya dan mencoba percaya bahwa semua akan baik baik saja.
__ADS_1
Sekitar 10 menit, Alvin tak kunjung kembali. Ingin sekali dia menghampiri Alvin kedalam toilet. Tapi itu mustahil. Mana mungkin dirinya masuk kedalam toilet yang jelas disana ada tandanya 'untuk pria' yang ada bisa diamuk massa dianggap sebagai pengintip. Apalagi dirinya perempuan.
Zea yang semakin kalut kini bernafas lega melihat Alvin yang keluar dari bilik toilet. Hal itu juga bertepatan dengan pelayanan cafe mengantar pesannya.
Zea tersenyum manis, "Makasih," membuat pelayan pria itu ikut membalas senyum dengan sempat salah tingkah saat berlalu pergi.
"sama sama, silahkan dinikmati."
Alvin duduk didepan Zea, raut wajahnya merenggut sebal melihat gadisnya melempar senyum kepria lain.
"Jangan suka tebar pesona gitu, aku gak suka." Ucap Alvin membuat Zea yang asik meminum milkshakenya terhenti lantar menatap kearah Alvin tanpa melepaskan bibirnya dari sedotan.
"Kamu tau gak sih, senyum kamu itu bisa buat diabetes orang lain. Makanya mulai sekarang jangan suka senyum ke orang lain." rengut kesal Alvin sambil meminum minumannya dengan kasar.
Zea mengerjapkam mata. Dirinya meletakan minumannya itu dimeja. Zea melipat satu tangannya dan menyandarkan satu tangannya yang lain didagu. Zea menatap Alvin lekat membuat pria itu membalas tatapannya.
"Emang aku semanis itu ya?" tanya Zea sambil melempar senyum mematikan kearah Alvin membuat pria yang awalnya sebal itu menatap Zea tak percaya.
'Ah kalok gini gimana gue bisa tahan!' batin Alvin berusaha menetralkan wajahnya. Tak ingin Zea mengetahui bahwa dirinya telah terpesona.
"Permisi...ini pesanannya. silahkan dinikmati," ucapnya membuat Zea menoleh, dirinya merasa tak memesan apapun lagi.
"Maaf mbak, saya_"
"Aku yang pesan." potong Alvin.
"Kamu yang pesan?" tanya Zea tak percaya, padahal dari tadi dia mengawasi Alvin tak tahu kapan pria itu memesan makanan.
"Iya."
"Kapan kamu pesanannya?"
"Tadi."
"Udah gak usah dipikirin, makan gih!" lanjut Alvin menyodorkan croffle dengan selai strawberry kearah Zea.
Tak hanya itu saja. Kini dimeja terdapat beraneka ragam dessert. Zea termenung menatap pria culun didepannya ini. Belum lagi dia dibuat kebingungan alasan anggota geng Aodra itu mengikuti motor mereka sampai membuat keduanya terjebak dicafe karena sekarang hujan mulai menderai.
__ADS_1
Air hujan telah mengguyur ketempat mereka berada, ditemani suara air hujan terdengar menembus kaca cafe. Membuat ketenangan diantara keduanya dan suasana cafe yang melantunkan musik enjoy membuat Zea tak ambil pusing akan masalah kali ini.
Selalu saja begini, ada saja hal hal yang membuat Zea mengalihkan segala kecurigaan tentang pria itu.
Zea lantas melahap makanan didepannya dengan lahap, mau bagaimana lagi!! rejeki gak boleh ditolak. Walau dirinya bertekat bahwa hari ini dia yang akan membayar.
Dingin yang menerpa kulit Zea membuatnya Zea memeluk tubuhnya sesekali mengusap bahunya. Alvin melihat kearah gadis itu dan menyambar jaket yang ada didalam tas.
Saat Zea melihat Alvin mengambil jaketnya, dia pikir Alvin akan memakaikan jaketnya kepadanya. tapi Alvin malah bertanya pada Zea.
"Jaket kamu dimotor kan?" Zea mengangguk.
"Iya."
"Biar aku ambilkan." Alvin beranjak dari duduknya keluar cafe yang dapat dipastikan bahwa pria itu akan basah lantaran parkiran cafe tidak ada penutupnya.
Alvin menggunakan jaketnya untuk melindungi kepalanya dan mengambil jaket Zea yang tersimpan di jok motor dan kembali masuk kecafe dengan keadaan sedikit basah.
****
Disisi lain...
Anggota Aodra yang dari tadi mengikuti motor Alvin kini duduk dimeja yang dekat dengan tempat Alvin dan Zea. Mereka mengikuti keduanya bukan dengan maksud jahat. Tapi hanya iseng semata. Biasalah orang gabut gak ada kerjaan sampai ngintilin bos mereka yang asik boncengan berduaan dengan sang kekasih.
Mereka sudah tahu bahwa Zea dan Alvin berpacaran karena tadi saat Zea sibuk latihan mereka mendekat kearah Alvin dan wow mereka mendapat kejutan besar. Alvin cowok yang tidak tertarik dengan cewek manapun kini memiliki pacar.
Mereka kini sudah tidak kaget lagi dengan Alvin yang sudah mereka anggap sebagai bucinnya Zea. Bahkan saat melihat bosnya itu rela menerobos air hujan untuk mengambil sebuah jaket rajut berwarna pink yang ada di jok motornya.
"Gue mau heran, tapi ini Alvin!" seru Satya mendapat gelak tawa. Yah mau bagaimana lagi, sikap Alvin emang susah ditebak.
TBC
****
Hai semua!! Beberapa hari ini jadwal bener bener padat banget, sampai molor gini updetnya. Dan untuk beberapa hari kedepan juga bakal sibuk banget, maaf jika telat banget updet (╥﹏╥)
Happy reading ♡♡
__ADS_1