My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
110. Gagal nobar


__ADS_3

"Alvin! Aku mau nonton!" keluh Zea saat Alvin masih mendekapnya.


Alvin tak menjawab tapi makin asik mengacak acak rambutnya.


"Keluar yuk!" ajaknya. Zea lantas menggeleng dalam pelukan Alvin.


"Ayo keluar!" ajak Alvin lagi lebih seperti perintah melepaskan dekapan Zea.


Alvin berdiri menggenggam tangan Zea agar gadis itu ikut berdiri. Melihat Alvin yang berdiri menatapnya, dengan terpaksa membuat ia ikut berdiri.


"Mau kemana?" tanya sahabatnya melihatnya berdiri.


"Kantin" ujar Zea asal jawab.


"Lah padahal masih banyak makanan loh disini" ujar Icha. Zea hanya bisa mengulum senyum menatap Alvin, menandakan Alvin yang mengajaknya. Alvin hanya bisa bersikap cuek dan tak peduli, kemudian membawa Zea melewati mereka.


"Ikut" ujar keduanya hendak bangkit namun dicegah oleh Satya dan Julian.


"Eits mau kemana?" tanya Julian.


"Ikut mereka lah" ketus Icha.


"Nggak usah! Mereka itu mau pacaran. Masa kalian ngintilin terus!" ujar Satya menghentikan.


"Emang mau kalian jadi orang ketiga?" lanjutnya.


"Ya enggak lah! Tapi kalau Zea di apa apain gimana? Dia kan sahabat kami!"


"Yaelah! Nggak bakal di apa apain. Lagian Alvin juga tau batas kali! Tenang aja. Slow!" tutur Julian.


"Tapi.."


"Udah mending kalian duduk anteng aja! Alvin nggak akan ngapa ngapain Zea! Gue jamin!" timpal Geo.


Maybe..., lanjut Geo dalam batin.


Keyla dan Icha hanya bisa saling tatap dan berpikir. Namun karena terus dihalangi akhirnya mereka mengalah. Apalagi sorak sorakan dari belakang terus bersautan karena keduanya menghalangi layar. Padahal mereka tidak menghalangi, yang ada justru Julian dan Satya lah yang menghalangi. Tapi mereka yang ditegur. Rese emang.


Akhirnya keduanya duduk dengan perasaan dongkol dan melanjutkan kembali menonton film yang sempat tertunda.


Alvin membawa Zea kearah belakang sekolah. Sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu untuk pertama kalinya ia mengetahui identitas Alvin.


Alvin mendudukan Zea di sofa. Zea menelisik melihat ke sekeliling. Ruangan yang bersih dan nyaman, itu yang pertama kali Zea kesini.


Alvin ikut duduk disampingnya.


"Ngapain kita ke sini Al?" tanya Zea.

__ADS_1


Alvin tak menjawab, ia merubah posisinya menjadi berbaring di paha Zea, tentu saja Zea kaget. Tapi Alvin yang tak peduli lantas memejamkan mata. Tangan Alvin bergerak menyentuh tangan Zea. Mengarahkan tangan Zea kewajahnya.


Zea paham akan yang Alvin inginkan, tapi ia masih diam.


"Ze.." panggil Alvin lirih.


Mendengar panggilan Alvin ia mulai menggerakkan tangan memberikan sentuhan diwajah Alvin dan sesekali memberikan pijatan.


Selama beberapa saat Zea bermain di wajah Alvin. tangannya ikut bergerak ke rambut Alvin. Ia menyisirnya menggunakan jari jarinya dan sesekali menekankan jari jarinya.


Pandangan Zea terus terfokus menatap Alvin yang kini berbaring. Ia menelisik wajah Alvin yang sudah terlepas dari kacamata. Ia mengamati wajah Alvin dan sekali lagi ia terpaku akan ketampanan Alvin.


Zea mengamati wajah Alvin yang menunjukan ketegasan namun ia tahu bahwa kini Alvin sedang lelah dengan adanya guratan di dahinya. Padahal ia cuma anak sma sama sepertinya, tapi Zea merasa beban yang di bawa pria itu amatlah berat.


Tanpa sadar, Zea menatap Alvin sendu dan hal itu bertepatan dengan Alvin yang membuka matanya. Membuat mereka saling bersitatap. Mungkinkah Alvin sadar? Keduanya saling terpaku satu sama lain. Alvin bangkit dalam posisi duduk ia menghadap kearah Zea.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Alvin ketus.


Alis Zea bertautan, "Menatap bagaimana?" Zea balik bertanya.


Kedua mata Alvin terus menatap Zea, seakan ingin menerobos dan masuk kedalam pikiran Zea.


Alvin lantas membuang muka. Ia tak lagi bertanya.


"Emm, Al! Boleh aku balik ke Aula?" tanya Zea pelan.


Alvin kembali menoleh, menatap Zea.


"Hm Oke" jawab Alvin membuat Zea tersenyum lebar.


"Tapi nanti aja, aku masih mau berduaan sama kamu" lanjut Alvin seakan meruntuhkan senyumnya.


Padahal ia ingin sekali ikut menikmati menonton film yang ia mainkan bersama sama. Gagal sudah deh acara nobarnya.


Zea hanya bisa tersenyum kecut. Ia memang harus lebih banyak bersabar menghadapi Alvin yang semena mena.


Sekarang, Ingin rasanya Zea melempar Alvin ke dasar jurang namun jelas ia tak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Sudah syukur pria itu tak mampir kerumahnya, selepas pria itu mengantarnya pulang sekolah hari hari kemarin. Karena itu ia pun jadi bisa bermain bersama kedua sahabatnya. harusnya ia senang dengan hal itu.


Alvin yang melihat Zea diam, kini mendekatkan diri memeluk tubuh Zea erat. Zea hanya bisa membiarkan apa yang Alvin lakukan. Alvin yang seperti ini terkadang mengingatkannya pada anak anak kecil yang ia temui saat mampir ke rumah jalanan. Sama sama suka dimanja saat bersama dirinya.


"I Miss you" tukas Alvin menghirup wangi dari tubuh Zea. Semakin mengeratkan pelukan.


Zea hanya bisa terpaku dan mencelos dalam hati. 'Orang setiap hari mereka bertemu disekolah, apa yang membuat Alvin rindu padanya. Aneh,' batin Zea.


"Aku aneh bukan? Padahal setiap hari ketemu, tapi rasanya kurang kalau cuma ketemu disekolah. Aku ingin mampir, tapi aku sibuk dengan pekerjaan!" keluh Alvin seakan tau isi hatinya. Zea ber-oh ria dalam hati.


"Walaupun sekarang kamu didekat ku! Ntah kenapa rasanya ada yang kurang. Apa kamu tau apa yang kurang?" Alvin mengangkat kepalanya, menatap Zea dari samping.

__ADS_1


Zea menoleh dan menggeleng.


"Nggak tau" jawab Zea. Ia kembali melihat depan dengan sedikit menunduk, melihat kearah lantai. Pandangan Alvin yang menatapnya kini seakan berbahaya untuknya, jadi ia menghindar.


Alvin juga kembali meletakan kepalanya dibahu Zea. Ia menghela nafas.


"Aku juga! Kamu sudah jadi milikku, tapi entah kenapa aku merasa kamu bisa lepas begitu saja jika tidak selalu kuawasi. Mungkin rasa takut itu yang membuatnya kurang!" ujar Alvin.


Zea menggigit bibirnya dalam. Ia memang masih berandai bisa lepas dari Alvin. Hati Zea tertuju pada Alvin, tapi logikanya menolak bersama pria itu.


Sesaat bersama Alvin yang tenang terkadang bisa membuat Zea lupa, sisi gila dari pria itu. Jadi Zea selalu harus selalu menjaga hatinya.


"Apa kamu masih ingin lepas dariku?" Alvin bertanya lirik ditelinga Zea. Tubuh Zea seketika menegang dengan pertanyaan Alvin yang mendadak. Alvin yang masih memeluk Zea bisa merasakan hal itu.


"Begitu ya!" ujar Alvin berwajah datar.


"Al! Kita kembali ke aula aja yuk! Sekarang!" pinta Zea memohon.


"Hmm oke" Alvin melepaskan pelukannya.


Zea lantas langsung berdiri disusul Alvin. Zea menoleh sedikit kearah Alvin lalu berjalan kearah pintu. Alvin mengikutinya dari belakang.


Hap


Tangan Alvin menahan tangan Zea yang hendak membuka ganggang pintu. Dengan sekali tarikan, tubuh Zea mundur menubruk tubuh Alvin.


Zea lantas mendongak hendak melihat Alvin dan membuka suara.


Cup


Sebuah ciuman mendadak didaratkan Alvin dibibirnya. Mata Zea terpaku merasakan ciuman Alvin yang menuntun. Bisa dirasakan nafas Alvin menderu. Entah apa yang salah dengannya. Pria itu terus memperdalam ciuman mereka.


Membuat Zea seakan mabuk dan memejamkan mata. Alvin yang seakan gila tak kunjung melepaskan ciumannya membuat Zea mengernyit. Zea menepuk nepuk dada Alvin karena nafasnya kian berkurang.


"Hah..Hah..Hah..Hah!!" nafas keduanya saling beradu.


Zea merasakan bibirnya yang seakan bengkak akibat ulah Alvin. Alvin yang sudah menstabilkan nafasnya kian memeluk Zea.


"Kamu milik ku Ze! Hanya milikku!" ujar Alvin memeluk Zea. kemudian ia melepaskan pelukannya, melihat Zea yang terdiam.


Cup


Alvin kembali mengecup singkat bibir manis Zea.


"Jangan berharap untuk pergi oke?!" ujarnya menegaskan, Zea hanya bisa mengangguk. Alvin tersenyum melihatnya, Kemudian menggenggam tangan Zea.


"Ayo!" Alvin membuka pintu, membawanya keluar dari ruangan itu menuju ke aula. Masih dengan Zea yang diam menatap Alvin disampingnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2