
Kegiatan latihan eskul basket dimulai dengan pemanasan terlebih dahulu. Zea, Keyla, dan Icha terlihat asik mengobrol juga sesekali menganggumi pria pria tampan yang penuh keringat didepan mereka.
"Cha, ini gue mau pesen makanan. Lo mau nggak?" tanya Zea.
"Ya jelas dong mau, pakek ditawarin segala" jawab Icha merengut. Zea mengangguk.
"Lo key?" tanya Zea.
"Tentu gue juga" jawab Keyla.
Zea mengambil handphonenya hendak memesan go food.
"Lah kok lo pesen go food Ze, bukannya.." ucapan Icha terjeda.
"Stt, biar! gue gak mau ngerepotin" seru Zea dengan suara pelan.
"Kalau Alvin tau gimana?"
"Ya makanya lo diem, jangan sampe tau"
Zea yang bandel terus menerus niatnya. Bukan apa apa, Zea hanya tidak mau merepotkan karena pastinya Joe juga memiliki kesibukan sendiri.
Saat Zea hendak menyetujui pemesanan Alvin datang kearahnya.
"Ngapain?" tanyanya.
Zea sontak gelagapan dan hal itu lantas membuat handphone Zea jatuh tepat didekat kaki Alvin, membuat ketiganya menelan ludah.
Alvin mengambil handphone Zea yang terjatuh merasa aneh akan sikap ketiganya. Apa perlu sekaget itu saat ia datang? Lantas Alvin yang memegang handphone Zea melihat layar handphone yang menampilkan aplikasi pemesan makanan. Tentu saja hal itu membuat dahi Alvin mengernyit.
Alvin menatap kearah Zea.
"Aku nggak mau ngerepotin Al!" jujur Zea sebelum kena amuk Alvin.
Alvin hanya bisa memandang kearah Zea dengan pandangan yang sulit dimengerti.
"Handphone" pinta Alvin menyodorkan tangannya.
Zea yang melihat kearah Alvin lantas mengambil handphone Alvin yang ia pangku dipahanya, memberikan pada Alvin secara perlahan.
Pria itu menerima handphone dari Zea, menelpon Joe dengan sekali tekan, panggilan itu langsung terhubung. Dengan segera Alvin menyebutkan apa saja yang Zea pesan di layar handphone gadis itu.
Kemudian Alvin memberikan kedua handphone itu pada Zea.
"Udah aku pesenin, jangan diulangi lagi" ujar Alvin. Zea menerimanya sambil mengangguk.
Keyla dan Icha yang sedari tadi berada didekat keduanya tak berani bersuara.
"Al, ayo!" seru Geo memanggil.
Di lapangan sudah di bagi menjadi dua kelompok untuk latihan tanding antar sesama pemain Immanuel school.
Alvin lantas berbalik tak berucap lagi, kembali ke lapangan. Ketiga gadis itu menghela nafas lega.
"Gue kira bakal marah!" seru Icha mengelus dadanya.
"Sama" ujar Keyla.
__ADS_1
"Lo sih Ze, bikin takut aja" omel Icha pada Zea.
"Sorry, gue gak mau ngerepotin Cha" bela Zea.
"Untung cowok lo sabar" ujar Keyla.
Zea hanya bisa tersenyum tipis. Sabar? Apakah Alvin emang sesabar itu? Benarkah pria itu tidak marah? Zea tak yakin.
Ketiganya kemudian saling diam tak berbicara. Pandangan mereka fokus melihat pertandingan basket didepan mereka, dimana kini Alvin berada di tengah lingkaran hendak menangkap bola yang akan dilambungkan. Yap! Tentu saja Alvin berhasil menepisnya dan bola itu jatuh pada Geo.
Geo yang sedang menggiring bola dihadang oleh Kenan, dengan sigap Geo mengoper pada Alvin. Alvin yang menerima bola menggiringnya dengan cepat melewati orang orang yang menjaganya.
Hap
Bola itu masuk membuat peluit sang pelatih berbunyi. Menambah skor untung tim Alvin.
Zea terus mengawasi setiap pergerakan yang Alvin lakukan sesekali bibir Zea berseru saat Alvin kembali menyetak skor.
Pertandingan seru itu terus berlanjut.
"Al!" Panggil Satya didepannya saat pertandingan sedang berlangsung.
Alvin yang fokus menatap kearah Satya hendak melewati pria itu.
"Zea ngelihatin noh!" ujar Satya sontak membuat Alvin gagal fokus menoleh kearah Zea. Peluang itu dijadikan Satya mencuri bola dari Alvin.
Alvin yang menoleh kearah Zea melihat bagaimana bibir Zea menganga lantaran bola Alvin dicuri. Tapi saat Zea menyadari Alvin menatapnya bibir Zea kembali terkatup.
pritt
Suara bunyi peluit ditiup, saat Satya berhasil mencetak skor. Alvin lantas menoleh kearah ring timnya yang berhasil di masuki.
Alvin menoleh kearah Julian penuh tanya. Herannya pria itu marah padanya, padahal timnya berhasil meraih skor.
Satya datang dengan membusungkan dada.
"Curang Lo Sat" seru Julian mendorong pelan Satya.
"Eits! Nggak dong, itu namanya stra-te-gi" ujar Satya membela diri. Julian hanya bisa mencebik.
"Hahahaha, jangan lupa kalian berdua hutang 500 ribu ke gue" ujar Satya bergelak tawa sambil menunjuk kearah Julian dan Kenan.
"Cih" Kenan membuang mukanya, kesal dengan wajah Satya yang seakan meledek.
"Mereka taruhan Al" ujar Geo datang dari samping. Alvin seketika paham maksud dari Geo hanya bersikap acuh dan membiarkannya. Sudah biasa melihat mereka melakukan hal itu.
"Oii Kalian, Ayo lanjut! Malah bergerombol disana" seru sang pelatih mengintrupsi.
Mereka kemudian kembali keposisi masing masing. Mulai melanjutkannya pertandingan.
Hanya menjelang beberapa menit saat pertandingan kembali dimulai. Dari luar pintu suara ucapan dan seruan orang orang berbicara membuat permainan mereka terhenti.
Mereka yang tadinya bermain ikut menoleh kearah sumber suara, begitupula Zea dan kawan kawan.
Segerombolan laki laki dan beberapa perempuan mengikuti mereka dari belakang. Mereka masuk kedalam ruangan.
Seorang pria yang sepantaran dengan pelatih Immanuel school mendekat, saling menyapa.
__ADS_1
"Zea" seru seorang pria dari gerombolan itu mendekat cepat kearah Zea yang berdiri dari duduknya, bersama Keyla dan Icha.
Zea yang didekati memandang, siapa kira kira pria didepannya ini. Alvin yang mengawasi dari tengah lapangan melihat jelas bagaimana Zea didekati seorang pria, darahnya mendesir. Ia yang memegang bola seakan ingin menghancurkannya.
"Hai, gak nyangka gue bisa ketemu lo disini!" sapa pria itu.
"Siapa Ze?" tanya Keyla berbisik ditelinga Zea.
Zea seketika menggeleng dan mencoba mengingat ingat siapa gerangan pria didepannya ini.
"Kayaknya lo nggak inget deh sama gue, emang udah lama sih!" ujar pria itu.
"Maaf, Lo..??" tanya Zea. Dia benar-benar tidak mengingat siapa pria didepannya ini.
"Gue Danial, kita pernah ketemu waktu SMP. Lo ngasih gue saputangan waktu itu. Apa lo inget?" pria itu memberikan clue bagaimana dia pernah bertemu dengan Zea.
Zea seketika menerawang kembali ke masa itu dan seketika Zea mengingat.
"Ah!" seru Zea. Pria itu tersenyum saat Zea mengingat siapa dirinya.
"Siapa By?" tanya Alvin mendekat membuat mereka menoleh.
"Temen" jawab Zea tak tahu harus menyebut pria itu bagaimana. Lantaran seingat Zea, walaupun samar. Zea hanya pernah bertemu dengan pria di depannya ini sekali.
"Dan! Lo kenal dia?!" tanya seorang pria dari pihak Daniel mengalungkan tangannya di bahu Daniel.
"Ini Zea! Cewek yang pernah gue ceritain ke lo!" jawab Daniel.
"Oh jadi dia, cewek misterius yang gak bisa bikin lo deket sama cewek lain" ujar teman pria itu menggoda. Daniel langsung menyikut perut temannya membuat pria itu merintih.
"Rese lo!" decak Daniel pelan. Kemudian ia kembali menatap Zea dengan senyuman.
Alvin yang mendengar itu dengan jelas menautkan alisnya. Tapi Alvin yang cerdas tentu bisa mencerna semuanya. Alvin paham bahwa pria didepannya termasuk hama, dalam hubungannya dengan Zea. Tentu saja hal itu membuat Alvin semakin emosi. Ia amat benci dan resah saat mengetahui ada pria lain yang mengharapkan kekasihnya itu.
Alvin yang ingin meledak ditahan oleh Geo.
"Permisi! Lebih baik kalian siap siap dulu deh, semua sedang menunggu" ujar Geo membuyarkan mereka.
"Eh iya sorry" ujar Daniel dan temannya.
"Ze! Kita siap siap dulu ya. Jangan lupa tonton aku" ujar Daniel menebarkan senyum pada Zea. Sambil berjalan menuju sebuah ruang.
Alvin benar benar sudah mencapai batas kesabaran hendak mengejar pria itu.
"Zee!" seru Geo menahan Alvin sambil melirik kearah Alvin berharap Zea peka.
Zea seketika paham bahwa Alvin sedang marah menggenggam tangan Alvin.
"Mau kemana Al? Kamu pasti haus kan?" tanya Zea pada Alvin. Dengan sigap Zea mengambilkan botol minum yang selalu tersedia di dalam tasnya.
Mendengar Zea memanggilnya tentu saja membuat Alvin mengurung niat.
Zea memberikan botol minumnya pada Alvin. Alvin menerimanya seketika emosinya yang ingin meledak menjadi sedikit menghangat walau tak sepenuhnya sirna.
"Alvin kalau marah serem ih! Untung gak baku hantam mereka" seru Icha berbisik ditelinga Keyla.
"Iya!" jawab Keyla.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ