My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
193. Keluar Desa


__ADS_3

Zea siap dengan pakaian serba tertutupnya. Ia melihat kearah jam di pergelangan tangannya bahwa kini menunjukan pukul 07:45. Masih ada waktu mereka menunggu sebelum teman temannya datang.


"Yu!" panggil Zea sambil berdiri disamping Ayu.


Ayu melihat Zea sudah tidak kaget lagi. Zea selalu seperti itu. Selalu memakai pakaian tertutup seakan ada yang mengenalinya jika ia membuka diri.


"Kedepan yuk Yu! Aku mau manasin mobil bentar sekalian kita nunggu yang lain" tutur Zea mengajak Ayu keluar.


"boleh" kata Ayu menuruti Zea.


Zea dan Ayu keluar rumah dari depan rumah menuju ke samping rumah.


Zea memegang kunci gembok rantai yang menjadi penghalang di garasi rumahnya. Garasi rumahnya ini benar benar sangat minim. Hanya berdinding kayu yang bahkan bisa di lewati olehnya dan beratap genteng untuk menjegah agar mobil mereka tak terkena panas dan hujan.


Zea memanaskan mobil ditemani Ayu disampingnya.


Hingga dari jauh beberapa suara memanggil.


"Ara! Ayu!" panggil mereka membuat keduanya menoleh.


Zea tersenyum ikut melambai menyapa mereka.


Dito, Dea, Febi, dan Maya datang. Tapi Zea dan Ayu tak melihat kedatangan Agung dan Tejo.


Keduanya celingukan, "Agung sama Tejo mana?" tanya Ayu kepada mereka.


"Ah Tejo gak jadi ikut, dia kata harus bantuin emaknya hari ini disawah. Terus agung tadi udah kita samperin. Dia sakit, mules mules gitu perutnya. Bilangnya sih kebanyakan makan cabe" ujar Dea menjelaskan.


"Betul! Terus ini Dito tadinya mau nggak jadi ikut karena Tejo sama Agung gak ikut. Tapi kami paksa biar kita ada yang jaga" lanjut Febi sambil menunjuk ke Dito yang seperti segan.


Zea hanya bisa mengangguk mengerti penjelasan mereka.


"Ohw oke! Em tunggu sebentar ya! Aku mau kedalam ambil tas. Sekalian nunggu mobilnya panas" ujar Zea sembari menunjuk kedalam rumah.


Tapi tak melihat arah yang Zea tunjuk, Febi dan Maya disana terlihat tercengang melihat kearah mobil Zea. Lebih tepatnya mobil papa Zea.


Mereka tak menggubris Zea dan hanya Dito serta Ayu yang mengiyakan.


Zea masuk kedalam rumah lebih tepatnya kedalam kamarnya, mengambil tas yang telah ia siapkan. Serta tak lupa Zea mengambil dan memakai hodienya yang memiliki penutup kepala.


Zea keluar dari kamar berhadapan langsung dengan mama Tia yang seperti akan masuk ke kamar Zea.


"Ma!" ujar Zea menyapa.


Mama Tia melihat kearah Zea, kemudian ia cemas. Karena apa? Putrinya yang cantik kini menjadi sangat penutup dan tidak percaya diri lagi.


Tangan Mama Tia bergerak menyentuh pipi Zea yang tertutup masker.


"Hati hati ya!" ujar Mama Tia pada Zea.


"Iya Ma! Pasti" ujar Zea sembari tersenyum membuat matanya menyipit.


Mama Tia membalas senyuman Zea.

__ADS_1


"Oh ya ini, dari papa!" Mama Tia menyerahkan amplop coklat yang terlihat tebal pada Zeam


Zea bingung melihat kearah mama Tia sambil mengangkat alisnya.


"Apa ini Ma?" tanya Zea menerima apa yang Mama Tia berikan.


"Uang buat kamu beli handphone" ujar Mama Tia membuat Zea membelak.


"Ah mama! Apaan sih! Zea gak perlu handphone. Udah, ini mama ambil lagi aja" ujar Zea menyerahkan uang itu kembali pada mama Tia. Bukannya tidak perlu, Zea lebih ke takut untuk memegang benda itu kembali.


Mama Tia menggeleng menekankan pada Zea, "Kamu ambil aja! Walaupun kamu gak ingin menghubungi siapa siapa. Tapi siapa tau nanti kamu butuh! Udah ambil uangnya dan beli. Nanti kalau uangnya sisa kamu traktir teman teman kamu. Udah sana teman teman kamu nungguin tuh!!" ujar Mama Tia mendorong Zea pergi.


Zea masih tak terima. Ia merasa ia tak butuh. Tapi mama Tia terus memaksa dan akhirnya Zea menuruti dan ikut keluar rumah menemui teman temannya yang sedang menunggu.


"Tan!" sapa teman teman Zea melihat kedatangan Mama Tia.


Mereka satu persatu menyalami Mama Tia.


"Em kalau gitu Zea berangkat ya Ma!" tutur Zea sambil menyalami Mama Tia.


"Iya! Hati hati dijalan" balas Mama Tia tersenyum ramah.


Zea mengangguk kemudian berjalan kearah pintu mobil.


"Aku keluarin bentar ya!" ujar Zea sembari masuk kedalam mobil yang masih terparkir di garasi.


Zea menekan tuas lalu ia menancap gas dengan perlahan keluar dari garasi. Saat sudah keluar, satu persatu kawan Zea masuk.


Dito diam ditempat seperti serba salah. Ia terjebak diantara para gadis itu.


"Lo Yu! Kok kamu di belakang" ujar Zea melihat Ayu berada dibangku paling belakang bersama Dea.


"Nggak papa Ze! Biar Dito di depan. Kasihan dia kalau dibelakang sendiri. Terus, Dito tau jalan kok" ujar Ayu menjelaskan kenapa kini ia duduk di kebelakang.


Zea terdiam tak bisa berkata.


"Dit! Kok masih disitu! Buruan masuk. Nunggu apa lagi toh nih anak!" ujar Febi melihat Dito yang masih berada diluar.


Dito bergerak masuk ke dalam mobil, duduk di samping Zea.


Zea tersenyum tipis dibalik maskernya, "Hah! Yaudah deh" ujar Zea pasrah.


"Kalian semua jangan lupa pasang sabuk pengaman, biar aman!" ujar Zea mengingatkan.


"Oke siap" Teman teman Zea mulai memasang sabuk pengaman masing masing.


Zea membuka jendela mobil.


"Ma! Zea berangkat ya!" pamit Zea kembali pada Mama Tia.


"Dadah Tante. Kami berangkat!" lambai teman teman Zea pada mama Tia.


"Hati hati" teriak Mama Tia sebelum Zea menancap gas meninggalkan rumah.

__ADS_1


...****************...


Zea mengemudi dengan cermat melewati jalan jalan desa yang tak rata. Sedangkan kawan kawannya di belakang itu asik mengobrol ria.


"Mau tanya! Sejak kapan kamu bisa ngendarai mobil Ra? Kok kayak jago banget!" tanya Dito memecah keheningan antara dirinya dan Zea.


Zea menoleh kemudian kembali fokus kedepan, "Kapan ya? Pertama kali itu kayaknya waktu SMP deh!" jawab Zea mengingat.


"SMP?!" seru Dito tak percaya.


"Em iya! Smp, itu Abang yang ngajarin. Terus jadi ketagihan deh bawa mobil sendiri dan sering juga keluar bawa mobil walau gak punya SIM" ujar Zea memperjelas.


"Wah Anak kota beda ya! Smp udah bisa bawa mobil" seru Maya dibelakang.


Zea menengok, ternyata para gadis dibelakangnya itu menyimak percakapannya dan Dito.


Zea hanya bisa tersenyum tipis dibalik maskernya tak menjawab.


"Oh ya Ra! Setahu ku di kota itu banyak geng geng motor kayak di tipi tipi. Emang iya ya?" tanya Febi sedikit membuat Zea tersentak.


"Em iya ada beberapa" jawab Zea dengan jujur.


"Duh bahaya dong!" seru Maya menyahut.


Zea mengangguk singkat kemudian fokus kembali pada jalan di depannya, mengemudi melewati jalan dengan banyak sawah sawah di sampingnya.


...****************...


Sedangkan di sisi Alvin....


Alvin dan Joe kini sedang menaiki mobil menuju lokasi dimana sekolah baru Zea berada. Sebelumnya mereka sempat menunda dulu untuk tidak langsung menuju kesana, mengingat perjalanan dari bandara ke lokasi masih amat jauh.


Jadilah Alvin dan Joe berangkat dimalam hari setelah istirahat sejenak. Lalu kini sudah menjelang pagi saat mereka sudah tak jauh dari lokasi yang ditentukan.


Joe mengendarai mobil dengan fokus. Ia melihat mobil hitam yang ada di depan, hendak lewat.


Dengan terpaksa Joe sedikit menepi mengingat jalanan yang kecil. Pandangan Joe memandangi kearah mobil yang lewat. Ia melihat orang orang didalam mobil itu. Ia membelak dan menoleh kebelakang.


"Ada apa?" tanya Alvin heran melihat Joe yang berhenti dan menatap kebelakang.


"Itu tuan sepertinya saya melihat pria yang sama seperti di pencarian!" ujar Joe menyampaikan.


"Dimana?" tanya Alvin. Alvin menoleh ke belakang dan hanya melihat mobil hitam yang kini kian menjauh.


"Dan sepertinya ada beberapa orang lain juga disana. Tak berkemungkinan nona Zea juga ada disana" tutur Joe berpendapat.


Alvin terkesima sejenak, kemudian ia mengambil keputusan.


"Putar balik! Kita ikuti mereka" perintah Alvin dengan tegas.


Joe mengangguk, "Baik tuan" Joe menurut. Ia menekan tuas mobil, kemudian menancap gas, memutar balik mobil.


Joe menancap gas mengikuti mobil hitam yang menjadi perhatian mereka tadi. Dan sepertinya mobil itu mengarah keluar dari desa ini.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2