My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
147. Cerita


__ADS_3

Alvin menyandarkan tubuh Zea kedalam dekapannya. Ia sedikit melunak hari itu. Entah apakah ini efek setelah turun dari pesawat membuat kesadaran Alvin masih terpendam. Tapi itu bukan masalah, justru Zea merasa ia sedikit terbuai akan perlakuan Alvin.


Alvin mengusap lembut kepala Zea. Pria itu mendongakkan wajah Zea yang penuh air mata, membuat Zea menatap kearahnya.


Cup


Alvin mengecup sudut mata Zea yang berair. namun matanya masih tetap fokus kearah jalanan.


"Maafin aku! Aku yang salah!" tutur Alvin mulai bersuara.


"Hiks" Zea menangis menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvin. Rupanya pernyataan maaf Alvin semakin membuat air mata Zea mengalir.


Alvin membiarkan Zea sejenak sambil sesekali mengecupi wajah dan kepala bahkan tangan Zea.


Alvin juga sesekali melontarkan kalimat minta maaf pada Zea. Sambil menunggu Zea tenang kembali


Kemudian, Zea yang sudah tenang menyudahi Isak tangisnya. Membuat Baju yang Alvin kenakan basah akan air matanya.


Zea tak tahu harus berbuat apa setelah menangis. Ia menutup rapat kedua bibirnya, memilih diam di dalam pangkuan Alvin yang menyetir.


Alvin nampak juga tak bersuara dan seperti orang yang menimbangkan kembali semua yang barusan terjadi.


Zea diam seakan melamun.


"Akan ku turuti!" ujar Alvin tiba tiba. Zea mendongak melihat wajah Alvin yang fokus menyetir. Dahi Zea mengernyit tak paham.


"Akan kuturuti mau mu! Mulai sekarang, Kamu bebas melakukan hal apapun, aku tak akan membatasinya dan aku akan menghilangkan penjagaan ku padamu. Termasuk membiarkan orang-orang ku untuk tidak lagi mengintai mu!" lanjut Alvin membuat Zea takut. Ia tidak percaya bahwa Alvin akan melakukan hal itu.


"Kenapa? Kamu tidak percaya dengan omonganku?" tanya Alvin seakan menebak jalan pikiran Zea.


Zea menundukkan kepala tak menjawab. Mau bagaimana ia bisa percaya? Bahwa setiap kali ia melakukan suatu hal, itu akan di tolak oleh Alvin.


Biasanya perempuan itu selalu benar, tapi dalam kondisi Zea sekarang. Zea menepik itu semua bahwasanya Alvin lah yang selalu benar.


"Akan ku buktikan!" tutur Alvin mengambil handphonenya yang ia simpan.


Ia menekan tombol di handphone, hingga muncul suara panggilan telpon terdengar dan tak lama suara seorang pria menjawab.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pria itu yang tak lain adalah Joe. Zea mengenali suara Joe.


"Mulai sekarang lo gue bebasin tugas dari mengawasi Zea!" tutur Alvin memerintah.


"Ya? Anda serius tuan?" tanya Joe tak percaya.


"Ya! Lo gak perlu mengawasi dan menjaganya lagi. Besok lo bisa pulang kembali ke markas" perintah Alvin pada Joe.


"Baik tuan! Akan saya laksanakan!" balas Joe menerima perintah.


Zea menatap Alvin tak percaya. Pria itu benar benar melakukannya.


"Jangan salah paham! Aku menyuruh Joe untuk pulang besok karena dia yang membawa barang barang mendakiku dan Geo" ujar Alvin menjelaskan.


Padahal Zea sama sekali tidak memikirkan soal hal itu.


Zea hanya bisa mengangguk pelan, berusaha memahami apa yang kini Alvin lakukan.


Zea termenung dan tanpa sadar bersandar di dada bidang Alvin. Sama halnya dengan Zea, Alvin juga ikut termenung memperhatikan jalan didepan.


"Setiap aku melihat ada yang tidak sempurna di depanku atau ada yang tak sesuai dengan apa yang aku inginkan, aku akan kesal dan marah" Alvin melanjutkan. Zea dengar mendengarkan.


"Hingga puncaknya! Ketika aku berkelahi atau melihat darah dari musuhku. Disanalah kamu benar! Aku terlihat seperti iblis tanpa ada belas kasihan yang hanya akan menuruti ego yang aku inginkan, walau aku tau itu salah"


Alvin diam kemudian melirik Zea, ingin melihat bagaimana Zea merespon.


"Apakah kamu mau mendengarkan satu kisah?" tanya Alvin. Zea mengangguk dalam pangkuan Alvin.


Alvin tersenyum tipis merasakan anggukan kepala Zea yang bergesekan di dadanya.


"Baiklah! Akan aku ceritakan sebuah kisah. Ini cerita tentang seorang bocah bernama Vini. Bocah yang hidup dengan bergelimang harta dan kasih sayang, namun juga di sertai didikan yang kuat sejak ia masih kecil, mungkin lebih tepatnya ketika ia sudah bisa berbicara dengan lancar.


Yah karena kekayaannya itu, keinginan sang bocah pun selalu di turuti, hal itu menjadikan bocah itu amat keras kepala bahkan ber-ego tinggi. Tapi hal yang istimewa, bocah itu dapat bersikap mandiri juga berpikir lebih jauh kedepan, dia lebih dewasa dari anak seumurannya. Hingga akhirnya didikan yang bocah itu terima, dapat beradaptasi dengan cara bocah itu berpikir, menjadikan didikan itu menjadi kesenangan pribadi demi menjadi yang terbaik tanpa adanya kesalahan sedikitpun! Seorang yang perfeksionis!" lanjut Alvin sembari tertawa kecil.


"Hidup bocah itu baik baik saja! Bahkan tak ada masalah. Ia merasa dibalik bebannya yang berat, dapat ia seimbangi dengan apa yang ia miliki. Hingga! Identitasnya sebagai bocah kaya harus pula melibatkan nyawanya. Ia menjadi incaran banyak orang." Alvin menghentikan ucapannya sembari merenung.


"Terus?" tutur Zea melihat kearah Alvin.

__ADS_1


"Diumurnya yang ke 7 tahun, tepat ketika Vini kecil pulang sekolah, bocah itu mendapati penculikan. Untungnya semua hal itu dapat digagalkan. Peningkatan keamanan diperketat dan mengawasi setiap apa yang Vini kecil lakukan. Hingga Vini kecil merasa muak dan di umur 8 tahun, Vini kecil yang merasa aman, melarikan diri dari penjaganya. Tapi siapa sangka, suasana yang terasa aman itu menjadi malapetaka baginya. Penculikan yang sempat gagal! Berhasil di hari itu juga, hari ketika Vini membangkang dan tidak menurut."


"Bocah itu diculik dan di sekap. Diberikan siksaan ditubuhnya, hingga beberapa kali bocah itu pingsan. Jika saja hanya dirinya sendiri yang berada di sana! Mungkin hanya dalam sekejap mata, bocah itu akan menjadi gila" Alvin melamun.


Flash back


"Ukhh!" rintih Vini kecil merintih dibalik pukulan yang di berikan oleh penjaga ditempat itu.


Vini kecil kini ditempatkan di sebuah ruangan yang berada di bawah tanah, tempat dengan banyak jeruji besi didalamnya layaknya penjara.


Hari itu Vini kembali mendapatkan pukulan karena sikap Vini yang keras kepala dan sering memberontak membuat penjaga disana geram.


Penjaga itu bersikap acuh melihat keadaan Vini yang merintih kesakitan. Hingga pintu terbuka.


Drtt...


Seorang pria yang terlihat lebih tua dari papinya muncul dari sana.


"Bajingan! Apa yang lo lakuin Ha?" bentak pria itu membuat penjaga itu kaget dan langsung menunduk.


"Maaf Tuan, Saya terbawa emosi" tutur penjaga itu.


Plakk


Pria itu menampar wajah sang penjaga dengan keras.


"Dasar bodoh! Menangani anak kecil seperti ini aja gak becus. Sekarang cepat panggilkan dokter, jangan sampai rencanaku gagal gara gara ketidak becusanmu!" titah pria itu.


"Baik tuan!" jawab sang penjaga.


Pria yang tidak Vini kecil tau siapa itu, menatap Vini yang sedang mengerang dibawa dengan tatapan hina. Setelah itu ia berbalik pergi meninggalkan Vini Kecil.


"Dasar iblis kecil sialan!" Maki sang penjaga setelah sang bos keluar.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2