
Satya mamakai bajunya kembali selepas Geo mengobatinya.
"Gue pergi nyelesaiin ini dulu!" ujar Satya bangkit dari duduknya.
"Tunggu! Lo mau nyelesaiin sendirian?" cegah Geo.
"Ini masalah gue, gue yang harus selesaiin" ucap Satya matanya menajam. Geo melepaskan cekalan membiarkan Satya pergi.
Satya keluar dari ruangan itu.
"Jul! Ikuti dia" tutur Geo.
"Sekarang?" tanya Julian.
"Ya" jawab Geo singkat tak ingin bercanda.
"Oke" ujar Julian. Ia berdiri menyusul Satya.
Satya menuju tempat motornya diparkir. Ia menaiki motor merahnya itu, memakai helm.
"Oi Sat, mau kemana lo?!" tanya Julian setengah berteriak.
"Ngapain lo?" Satya balik bertanya.
"Gue ikut!" ujar Julian menaiki motor Satya memeluk pinggang Satya.
"Njir! Jijik gue! Gak usah peluk peluk napa!" seru Satya menggoyangkan tubuhnya.
"Ck!" Julian berdecak melepaskan pelukannya.
"Pakai motor lo sana, ngapain sih lo ngikutin gue!" ujar Satya.
"Gak ah, mager. Udah buruan jalan atau lo mau gue peluk lagi" ancam Julian.
"Bang*sat lo emang!" ujar Satya menyalakan motornya.
Motor Satya mengeluarkan deru. Kemudian ia melaju meninggalkan basecamp. Motor itu dengan kencang membelah jalan sampai di perempatan lampu merah.
"Sat Sat!" ujar Julian menepuk bahu Satya saat melihat beberapa pria dengan seragam kepolisian disebrang jalan melambai kearah mereka.
Dan benar saja. Motor Satya diberhentikan dipinggir jalan.
"Permisi bisa tunjukkan surat suratnya! Dan mas dibelakang ini kenapa tidak memakai helm!" ujar pria tersebut membuat Satya menoleh.
Sontak Satya menoleh kebelakang, "****! Helm lo mana?" umpat Satya kearah Julian, sembari bertanya.
"Ha? Helm, nih dikepala gue" ujar Julian memegang kepalanya lantas membuat ia tersadar.
"Ah! Helm gue ketinggalan Sat!" ujar Julian menepuk dahi. Ia kemudian menatap Satya menampilkan senyum memperlihatkan deretan giginya.
"Bang*sat lo jadi temen. Nyusahin lo!" ujar mendelik kearah Julian.
"Ekhm!" suara batuk pura pura dari polisi itu saat merasa dirinya tak dianggap.
"Cih!" Satya mengeluarkan surat suratnya yang lengkap dari dalam dompetnya.
"Nih pak!" ujarnya menyerahkan.
"Baik, saya cek dulu!" ujar polisi itu.
"Lo yang bayar!" ujar Satya menyenggol Julian.
"Dih ogah, kan ini motor lo!" sinis Julian.
"Kan gara gara lo gue kena tilang!" ujar Satya.
__ADS_1
"Ya i don't care!" balas Julian.
"****** lo emang!" keluh Satya mendelik lamtas mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Udah kan pak? Nih pak saya buru buru. Ambil aja!" ujar Satya memberikan beberapa lembar uang merah mengambil surat suratnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Dasar gak sopan!" ujar polisi itu saat kendaraan Satya kian melaju.
Satya melajukan kendaraannya dan disebrang jalan Satya melihat toko yang menjual helm dan memberhentikan motornya disana.
"Ngapain berhenti?" tanya Julian.
"Noh, beli helm dulu sono!" ujar menunjuk dengan dagunya.
"Njir ogah! kepala gue ini mahal, lo suruh gue pakai helm begituan!" sirik Julian.
"Tai lo, kebanyakan gaya! Buruan beli, atau lo mau gue tinggalin disini!" ancam Satya. Entah beberapa kali ia mengumpat karena pria di belakangnya itu yang gayanya selangit.
"Iya iya, gitu aja marah!" gerutu Julian turun dari motor Satya.
"Jangan lo tinggal!" ujar Julian berbalik menatap Satya.
"Berisik lo! Buruan!" bentak Satya yang kesal akan kelakukan Julian.
Dengan langkah cepat Julian masuk kedalam toko itu. Ia memilih sekiranya tanpa melihat dan langsung membayar, takut Satya meninggalkan dirinya.
"Udah Sat" ujar Julian mendekat.
"Buruan pakek" balas Satya.
Julian membuka bungkus helm itu dan melihat isi didalamnya. Sebuah helm bogo dengan motif di pinggirannya.
"Dih! Helm apaan nih! Ini mah helm cewek. Ada bunga bunganya segala pula!" keluh Julian melihat penampakan helm yang baru saja ia beli.
"Gue mau tuker!" keluh Julian hendak pergi.
"Eh, Gak usah! Buru, pakai aja tuh helm!" ujar Satya.
"Njir, lo mau gue malu?" umpat Julian.
"Lo naik sekarang atau gue tinggal" ancam Satya kembali.
"Cih! Iya iya gue naik" ujar Julian dengan kesal naik ke motor Satya.
"Tukang ngancem" lanjutnya merengut kesal.
"Bodo!Gunain helm lo! Gue gak mau kena tilang lagi" tutur Satya.
Julian dengan terpaksa mengenakan helmnya mengabaikan rasa malu.
"Udah" ujar Julian.
Satya melajukan motornya kembali. Julian kesal setengah mati dalam hati, memegang pinggang, meletakan kepalanya ditubuh Satya. Mengabaikan tingginya dengan Satya.
Motor Satya berderu seiring laju kendaraannya. Ia fokus kejalanan.
"Nge-gay ya mas!" ujar salah satu pengendara mendekat kemotornya.
Satya yang tak dapat mendengar mengernyit dahinya.
"Ganteng ganteng kok gay sih mas!" ujar teman si pengendara lumayan keras membuat Satya membelak.
Sontak ia menoleh pada Julian dibelakangnya yang menyenderkan kepalanya ditubuhnya. Pantas ia merasa berat.
"Ciee!! Gak papa mas! Cocok! Semoga langgen ya mas!" goda pengendara motor itu tersenyum.
__ADS_1
"Mari!" ujar teman si pengendara. Motor pengendara itu melaju mendahului Satya.
"Oii Julian anak setan lo, bang*ke!" ujar Satya menggoyangkan goyangkan tubuhnya dengan tangannya karena Julian memejamkan mata menikmati udara yang menerpanya.
Julian yang sedang memejamkan mata terganggu.
"Apaan sih lo Sat!" ujar Julian berdecak sebal.
"Lo yang apaan anjir! Pakek tidur tiduran segala. Nih apaan pula! Lepas tangan lo!" omel Satya menampik tangan Julian, melihat keadaan pria itu, sambil sesekali melihat jalan didepannya.
Julian melepaskan tangannya. " Gitu aja ngamuk!" ujar Julian bersidekap berwajah masam.
Satya sama halnya dengan Julian. Sama sama berwajah masam. Satya yang kesal melajukan motornya dengan cepat karena tak ingin terus menggoncang Julian. Walau buka hanya itu alasannya. Ia ingin segera sampai tujuan, dimana ia bisa menemukan sumber informasi tentang apa yang terjadi. Karena Alvin tak memberitahunya dengan detail. Hanya mengatakan intinya saja dan ia harus mencari tahu sendiri
"Ngapain kesini?" tanya Julian saat Satya memberhentikan motornya di sebuah club malam.
"Brisik! Turun!" ujarnya turun dari motor setelah Julian.
Satya berjalan memasuki club memberikan kuncinya ke penjaga disana untuk diparkiran. Ia dan Julian tak perlu lagi menunjukkan kartu identitasnya karena nyatanya dulu ia sering kemari.
"Ngapain sih lo kemari! Mau minum? Ntar malem aja, gue temenin! Sekarang mah gak enak" tutur Julian.
Satya tak memperdulikan ocehan Julian, langsung memasuki tempat itu, mencari keberadaan seseorang. Matanya menajam saat dirasa ia melihat orang yang ia cari lantaran lampu ditempat itu dibuat remang remang.
"Oii" ujar Satya menyapa pria itu.
Pria itu menaikkan salah satu alisnya. Ia berfikir sejenak mencoba mengingat ingat siapa pria didepannya kini.
"Satya?!" tanya pria itu menunjuk.
"Hm" jawab Satya.
"Oii Satya, udah lama gak ketemu! Mau minum?" tanya pria itu bangkit merangkul bahu Satya untuk duduk dimeja.
Julian yang mengikuti Satya sedari tadi juga ikut duduk tanpa disuruh.
"Kenapa lo kesini? Kenapa gak ke club utama aja?! Disana kan lebih rame" tukas pria itu.
Memang club yang ia datangi kini adalah club cabang dan Satya pernah datang kesini dengan pria disebelahnya itu untuk bersenang senang. Dulu.
"Gimana kabar lo?!" tanya Satya berbasa basi.
"Tentu baik, lo gak lihat gue sekarang!" pria itu merentangkan tangan agar Satya bisa melihat bagaimana dirinya berubah.
"Ya! Perubahan lo emang dasyat" ujar Satya dan pria itu terkekeh.
"Gue bekerja keras sampe diposisi sekarang!" ujarnya.
"I see" gumam Satya.
"BTW, Kenapa lo kesini? Mau ajak gue gabung geng lo? Tapi lo tau gue gak bisa" ujar pria itu.
"Bukan" jawab Satya cepat.
"Terus?!" pria itu bertanya.
"Gue mau tau soal Icha" pria itu mengernyitkan dahi.
"Maksud lo?" tanyanya.
"Gue mau tau soal pembulian yang dialami Icha saat kita masih sekolah dulu! Lo pasti tau kan!" ujar Satya dengan raut wajah serius. Sorot matanya tegas tanpa unsur candaan sedikitpun.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1