
"Ha-ha-ha itu akibatnya kalau macam macam denganku! Sekarang giliran kau bocah sialan" ujar Freddy mengeluarkan pistol yang ia simpan di dalam bajunya.
"Padahal aku tak mau menggunakan ini! Tapi melihat kelakuan kalian, tanganku jadi gatal ingin membunuh kalian berdua" ujar Freddy menodong senjatanya kearah Joe. Raut wajah Freddy terlihat seram di kedua mata Joe.
Joe gemetaran hingga ia jatuh terduduk di tanah.
Melihat itu Freddy tersenyum senang.
"Oh ya bocah! Kalau diingat kembali ada hal yang harus ku katakan sebelum kau mati dan bertemu dengan kedua orang tuamu itu. Em! Apakah kau tau bagaimana kedua orang tuamu tiada? Hahaha Keduanya mati bocah dan ayahmu itu dibunuh oleh bos yang melukaimu selama ini." Wajah Joe memucat.
"Kalau di pikir pikir lucu juga! Aku hanya sedikit memprovokasi bos, bahwa jika menginginkan ibumu ia harus membunuh ayahmu dan wala.. Itu berhasil. Ish! Sayang sekali ya bocah! Kau tak bisa membalas dendam. Apalagi sekarang kau terancam terbunuh oleh orang yang membunuh ibumu Hahahaha" Freddy tertawa senang.
Mata Joe membola, "Apa maksudmu?" tanya Joe penuh emosi. Tangan Joe mengepal dengan marah.
"Kau tanya bocah apa maksudku?! Ish! Itu hanya masalah kecil sih sebenarnya. Jangan salahkan aku bocah, itu perintah bos! Walau memang ada sedikit campur tanganku juga sih didalamnya. Yah! Salah ibumu sendiri tak mau melayani ku dan menentang perintah bos! Padahal aku menjanjikan kebebasan kalau ia menurut" ujar Freddy mengungkapkan fakta.
"Kau!" tekan Joe marah, kedua mata Joe mulai menitihkan air mata.
"Oke cukup basa basinya! Karena aku sudah memberitahumu, Ini saatnya kamu pergi! Selamat tinggal bocah! Good bye!" tutur Freddy memposisi pistolnya ke arah kepala Joe.
Freddy tersenyum smirk ingin menarik pelatuk.
Grepp!!
"Akhhh! Apa apaan kau!" teriak Freddy menoleh kearah Alvin yang mengigit tangannya.
"Bagaimana?" tanya Freddy merasakan tangannya mulai mengeluarkan darah.
Freddy menghentakkan tangannya, memegang rambut Alvin untuk menjauhkan Alvin.
Tak!
Pistol yang di bawa Freddy jatuh begitu juga dengan Alvin yang mendapat dorongan dari Freddy.
Namun tak berhenti sampai di situ. Alvin yang putus asa berusaha bangkit kembali mengambil pistol Freddy yang terjatuh.
Dorr!
Suara memekak terdengar di telinga Alvin, Joe dan Freddy.
Freddy membelak menatap Alvin dan Joe. Ia memegang dadanya yang mulai berkucur darah.
"Dasar Iblis pembunuh ukhh!" ujar Freddy menatap Alvin sebelum ia terjatuh terkapar di tanah.
Mendengar dan melihat hal itu Alvin menjadi panik. Ia menatap pistol yang ia bawa dengan nanar. Kedua tangannya gemetaran hingga Alvin menjatuhkan pistol yang ia pegang.
Namun Alvin seakan tak memiliki waktu untuk bersantai. Dengan keputusan cepat, ia beralih menatap Joe yang sesenggukan menangis deras sambil memandang dirinya.
Plakk!!
Alvin menampar pipinya agar dirinya sendiri tersadar. Ia mendekat kearah Joe, memposisikan dirinya jongkok membelakangi Joe.
"Ayo naik! Kita harus pergi dari sini" tutur Alvin pada Joe. Joe yang masih shock tak bisa berkata kata maupun bergerak.
"Cepat naik Joe! Kau mau mati disini?!" Bentak Alvin keras pada Joe. Joe yang mendengar itu tak menghiraukan. Ia sudah kehilangan arti dirinya.
'Apa gunanya aku hidup sekarang!' pikir Joe.
Alvin menoleh, "Kau harus balas dendam kan? Akan ku bantu kau balas dendam. Maka dari itu ayo naik!" tutur Alvin masih menunggu Joe untuk naik.
__ADS_1
"Balas dendam?" ujar Joe menatap Alvin.
"Iya! Balas dendam untuk kedua orang tua mu! Maka itu kau harus selamat dulu! Sekarang naiklah! Cepat" perintah Alvin mendapat tanggapan Joe.
Joe yang semula kehilangan arti untuk apa ia harus hidup kini mulai kembali. Ia harus balas dendam.
Joe mulai menaiki gendongan Alvin dan Alvin dengan sigap menahan tubuh Joe yang berat dengan badannya yang sudah melemas.
Alvin mengambil pistol yang semula ia gunakan untuk membunuh musuh untuk pertama kalinya. Kemudian sebelum para penjaga yang lain datang, Ia mulai berjalan dengan Joe di gendongannya.
Alvin berjalan dengan langkah pelan namun pasti sembari menompang tubuh Joe. Tak peduli berapa lama ia terus berjalan hingga sesekali jatuh. Alvin terus bangkit hingga Alvin melihat cahaya lampu dari jalanan di dekat hutan yang ia masuki.
Tin tin...
"Aku lolos.." ujar Alvin.
...****************...
Alvin tersadar dalam lamunannya. Ia mengerjapkan mata. Sudah berapa lama ia termenung seperti ini? Kemudian ia menatap Zea. Dan sedari kapan pacar yang selalu membuatnya mabuk kampayang ini tertidur. Alvin tak sadar bahwa selama itu ia terus memikirkan masa lalunya.
"Hah! Aku masih belum bisa lupa ya?!" tutur Alvin.
"Ya pada akhirnya semua berakhir baik" gumam Alvin menyentuh rambut Zea dipelukannya.
Tangan Alvin bergerak terus memegang rambut Zea, memberikan usapan pada gadis itu. Membiarkan satu tangannya menyetir dan lengannya yang lain menompang tubuh Zea.
"Sepertinya kau menikmati dongeng yang ku ceritakan sayang!" tutur Alvin tersenyum melihat Zea yang terlihat pulas bahkan tak bergerak ketika ia mengusap rambutnya.
"Nyenyak sekali tidurnya!" ujar Alvin.
Alvin kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan. Walau kemampuan drivernya bagus, tapi ia tak mau sampai membahayakan Zea yang sedang tertidur. Zea sang pujaan hati yang mampu membuat debaran di hatinya menjadi hangat dan melupakan banyak hal.
Tak terhitung berapa wanita yang mendekatinya dengan segala cara, tapi hanya gadis di dalam pangkuannya inilah yang mampu membuat debaran di hati Alvin tanpa usaha.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mobil yang Alvin kendarai kini sampai juga di penginapan beserta mobil mobil yang lain.
Alvin memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Julian. Alvin beralih menatap Zea yang masih pulas. Tangan Alvin bergerak menyentuh helaian rambut Zea yang masih terlelap. Alvin menangkup wajah Zea, menepuknya pelan untuk membangunkan gadis itu dengan lembut.
Ia tahu bahwa Zea akan merasa malu jika ia menggendongnya masuk. Kini, Alvin sedang berusaha memahami Zea.
"Ze! Sayang! Bangun yuk! Dah sampai" tutur Alvin sambil mengusap rambut Zea kebelakang.
Beberapa kali Alvin menepuk pipi Zea da mengusap rambut Zea. Gadis itu tak juga kunjung bangun. Gadis itu malah asik mencari tempat bersandar di dada bidang Alvin.
Alvin menangkup pipi Zea kembali, menahan kepala Zea dengan lengannya.
"Tak ada cara lain!" ujar Alvin.
Cup!!
Alvin ******* bibir Zea dalam, hingga beberapa saat membuat Zea mendesis merasakan rasa perih di bibirnya.
Perlahan mata Zea terbuka dan gadis itu tersentak kaget mendorong Alvin menjauh. Membuat ciuman Alvin terlepas.
"Kamu!" ujar Zea dengan mata membelak. Alvin melempar senyum.
Zea menatap sekitar dan dengan buru buru Zea turun dari pangkuan Alvin bergerak ke kursi samping.
Ia membuka pintu mobil Alvin tanpa berkata kata. Zea keluar dari mobil dengan jantung yang berdentum kencang.
__ADS_1
"Ze!" teriak Icha dari depan melambai.
Zea menoleh kearah samping, melihat Alvin yang juga keluar dari mobil. Tak menunggu lagi, Zea yang gugup pergi meninggalkan Alvin menuju Icha dan Keyla yang berada di depan.
"Kenapa Ze?" tanya Keyla heran. Zea mengernyit.
"Muka lo, kenapa? Kok merah? Bibir lo juga, kok bengkak gitu?" tanya Keyla memperhatikan wajah Zea yang agak aneh.
"Ah itu!" gugup Zea mengulum bibirnya dalam.
"Gue tadi habis bangun tidur! Terus pas bangun bibir gue gak sengaja kepentok, makanya agak bengkak. Iya hahaha!" dalih Zea. Keduanya mengangguk percaya.
"Kalian semua! Ayo kumpul!" tutur Arka mengajak.
Mereka semua berbondong bondong berbaris di depan penginapan setelah Arka dan kawan kawan selesai berbincang dengan pemilik penginapan.
Zea menatap tempat mereka kini menginap. Tempatnya hanya seperti penginapan biasa yang tak begitu luas seperti Vila saat Zea shooting dulu. Walau begitu, seperti tempatnya nyaman untuk digunakan istirahat.
"Guys, diem dulu ya! Okay" tutur Bram memimpin.
"Okay!" jawab yang lain berseru.
"Tanpa basa basi, karena gue gak suka yang basi. Sesuai kesepakatan sebelumnya. Yang cewek bisa pakai kamar! Sedangkan kita para cowok tetap diluar kamar"
"Asik!" sorak para cewek.
"Yah!" seru para cowok.
"Buat para cowok! Jangan macem macem buat ngintip atau masuk ke kamar ya! Ingat kesopanan dimanapun kita berada guys. Kalian pasti paham kan?" tukas Bram.
"Paham Bram hahaha!" Jawab mereka serentak.
"Oh ya! Apa ada pertanyaan?" ujar Bram menatap ke sekeliling.
"Saya kak!" ujar Satya.
"Ya! Kamu" tunjuk Bram.
"Dari yang saya lihat kayaknya penginapanmya kecil, Kenapa kita gak sewa Vila aja sih kak? Apa muat buat orang sebanyak ini?" ujar Satya merasa risih dan tak bersemangat.
Sedari awal Satya memang tak bersemangat untuk ikut mendaki jika bukan karena ia harus menjaga Icha.
"Sat!" tutur Icha menatap Satya tajam.
"Ini cuma untuk tempat istirahat sementara. Ntar malem kita langsung lanjut ke lokasi dan gabung sama pendaki pendaki disana. Lagian nantinya kita bakal camping di gunung, jadi untuk nyewa Vila itu tak terlalu diperlukan. Kalaupun gak muat, di muat muatin ajalah, pasti bisa!" ujar Bram menanggapi dengan ramah.
"Ohw" jawab Satya. Icha memberikan lirikan tajam pada Satya.
"Yaudah! Silahkan yang cewek bisa masuk dulu!" tukas Bram mendahulukan beberapa perempuan untuk istirahat lebih dulu.
"Sil! Titip adik gue sama teman temannya ya!" ujar Arka pada Silvi.
"Oke" balasnya.
Zea, Keyla, dan Icha ikut masuk kedalam, mereka masuk ke sebuah ruangan dengan beberapa kasur didalamnya. Karena sangat lelah saat perjalanan beberapa jam. Mereka langsung merebahkan tubuh masing masing di atas kasur.
Sedangkan untuk para pria. Mereka juga ikut masuk kedalam, namun hanya sampai ruangan depan saja. Mereka memilih duduk di karpet yang di sediakan pemilik penginapan dengan beberapa hidangan dan kopi hangat yang tertata disana.
Jam terus berlalu hingga mereka mulai mengasikan diri satu sama lain. Mulai berbincang dan berbicara tentang satu sama lain. Begitupula untuk geng Aodra yang mulai mengakrabkan diri dengan teman kampus Arka.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ