
"Lo beneran pacarnya king?" tanya gadis yang mengendarai motor di depan Zea.
"Em! Bisa dibilang begitu!" jawab Zea mengulas senyum tipis.
"Oh!" gumam Kuina.
"Lo sendiri? Sejak kapan jadi anggota geng Aodra?" Zea bertanya balik.
"Bukan! Gue bukan anggota geng Aodra!" jawab Kuina.
"Terus?" seru Zea.
"Kakak gue bawahan langsung ketua Geo. Jadi kadang kala gue bisa masuk sesuka hati ke markas, terus ya gitu deh. karena sering main, jadi akrab sama mereka. Lagian Aodra gak nerima cewek!" jawabnya.
"Ohw!" seru Zea.
Bisa di bilang Kuina cukup istimewa karena bisa masuk sesuka hati ke markas Aodra.
"Terus Lo? Udah berapa lama kenal King?" tanyanya lagi.
"Baru beberapa bulan" jawab Zea. Kuina melirik kearah spion motornya memperhatikan ekspresi Zea.
"Lo suka Alvin?" tanya Kuina mendadak.
Zea terkesima beberapa saat hingga ia menjawab, "Iya!" jawab Zea.
Setelah itu Kuina dan Zea terdiam tak ada pembahasan diantara keduanya hingga mereka tiba di markas Aodra.
Zea turun dari motor Kuina.
"Makasih!" ujar Zea ramah.
"Tunggu!" ujar Kuina menghentikan langkah Zea yang hendak pergi.
Kuina melepaskan helmnya, memarkirkan motornya lalu mendekat pada Zea.
"Sebelumnya gue belum berkenalan dengan baik. Kenalin gue Kuina dan gue suka sama Alvin, dari dulu!" Kuina mengulurkan tangan pada Zea memperkenalkan diri.
Zea menatap tangan Kuina tak bisa berkata kata, hingga Kuina menarik tangannya untuk berjabat tangan.
Kuina menatap Zea dengan sorot mata permusuhan.
"Zea kan? Gue ingetin satu hal. Walaupun lo pacar King sekarang, tapi gue gak bakal nyerah gitu aja. Gue bakal berusaha ngerebut King dari lo! Jadi lo hati hati dan waspada, karena gue gak akan kalah. Gue bilang ini semua karena gue gak suka main dibelakang! Jadi lo harus jaga dia baik baik!" ujar Kuina melanjutkan ucapannya dihadapan Zea.
Zea terkesima dengan ucapan Kuina.
Puk puk
Bahu Zea di tepuk membuat Zea tersentak.
"Ze!" ujar Keyla dan Icha di belakangnya.
Kuina berbalik meninggalkan Zea.
"Kuina!" panggil Zea membuat gadis itu berhenti dan menoleh.
"Good luck!" ujar Zea lagi mengulas senyum pada gadis itu.
Kuina menatap Zea aneh. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya lalu menggeleng dan pergi dari sana. Padahal ia memberi Zea peringatan tapi gadis itu yang ada malah terlihat gembira.
"Ngapain masih berdiri disini? Ayo masuk!" ajak Satya pada ketiganya.
"Iya!"
Mereka masuk kedalam markas. Di sepanjang jalan banyak anak buah Alvin yang berjaga menatap kearah ketiganya. Satya membawa mereka ke ruangan di mana Alvin dan kawan kawannya berada.
Cklekk
Satya membuka pintu membuat semua orang yang ada di dalam menoleh.
"Kejutan!" ujar Satya masuk kedalam bersama ketiga gadis itu.
__ADS_1
Alvin yang menoleh melihat kearah Zea yang berdiri di samping pintu.
Keduanya saling bersitatap.
"Lihat! Apa yang gue temuin? Gue temuin mereka duduk di pinggiran jalan! Karena lesu akhirnya gue bawa kesini deh! Gimana?" tutur Satya menjelaskan.
Satya melangkah menuju sofa dimana teman temannya itu berada dengan langkah tegap.
Icha yang mendengar perkataan Satya langsung mencebik.
"Dih!" ujar Icha.
"Masuklah!" ujar Alvin mempersilakan Zea dan kawan kawan masuk.
Zea yang nampak canggung ikut masuk bersama Keyla dan Icha.
Gadis itu tak berani menatap ke sekitar dimana anak buah Alvin menatapnya dengan intens.
Keyla dan Icha yang merasakan hal yang sama menggandeng lengan Zea.
"Ze! Pulang yuk, kok gue jadi ngeri gini!" bisik Keyla takut karena suasana geng Alvin sangat seram dan kacau bagi ketiganya.
Apalagi Icha saat ini tak bisa berkata kata sebab ia mengetahui bahwa geng Alvin telah melewati perkelahian. Dimana sekarang adalah masa masa intens mereka.
"Hai! Sini sini, duduk!" ujar Julian menyingkir dari sofa membiarkan ketiga gadis itu duduk.
Zea mengawasi. Ia tak berani bergerak terlebih dahulu.
"Duduk aja!" ujar Alvin merasakan ke gelisah Zea.
Alvin menggerakkan tangan. Mengkode untuk semua anak buahnya pergi dari sana. Anak buah Alvin yang memahami itu, segera meninggalkan ruangan itu.
"Apa kita ganggu?" tanya Zea pada ke lima pria yang masih di depannya.
"Nggak kok! Tadi cuma lagi berbincang kecil aja!" jawab Alvin melunak.
Zea mengangguk mengerti, tapi tak mudah percaya. Sedangkan ketiga kawan Alvin itu terkesima.
"Ini kekuatan cinta bro! Pawangnya datang langsung melunak!" bisik Julian di telinga Geo.
"Ekhmm!!" Keyla berdehem menghilangkan kecanggungan. Ia merasa aneh dengan situasi saat ini.
Zea dan yang lainnya menoleh kearah Keyla. Zea ingat bahwa ia harus menyelesaikan masalah Keyla. Kalau tidak, bisa saja Keyla kembali ke dunia malam seperti dulu, padahal mereka sudah meninggalkannya dengan tenang.
"Ken!" panggil Alvin pada Kenan.
Zea ingin bicara tapi Alvin mendahului.
"Iya?" jawab Kenan.
"Apartemen lo kosong?" tanya Alvin melirik pria itu. Kenan mengangguk kecil.
"Ntar lo bawa temen Zea buat tinggal di apartemen lo untuk sementara. Bisa kan?" tutur Alvin membuat mereka melongo termasuk Kenan sang pemilik Apartemen.
"Ha?" Keyla terkejut bahkan gadis itu sampai membelak.
Keyla menggeleng kuat, "Nggak usah nggak usah!" tolak Keyla.
"Gue bisa cari hotel! Gak perlu sampai ngerepotin Kenan segala!" seru Keyla.
Keyla merasa kedatangannya ini bukanlah hal yang tepat.
"Ha-ha-ha, kayaknya gue salah tempat! Gue beneran gak perlu! Em, gue pergi dulu!" ujar Keyla canggung menatap Zea dan Icha mengajak keduanya keluar.
Keyla berbalik hendak pergi dari sana.
"Tunggu!" seru Kenan membuat langkah Keyla terhenti.
"Lo bisa tinggal di tempat gue!" tegas Kenan sontak Keyla menoleh melihat kearah Kenan.
'Serius? Demi apa?' seru Keyla dalam batin antara senang dan shock.
__ADS_1
"Ah! Gak perlu Ken! Gue_" ucapan Keyla terpotong.
"Gue gak nerima penolakan!" seru Kenan melihat tajam kearah Keyla.
Keyla benar benar terdesak dan canggung saat ini. Gadis itu membeku.
Sedangkan Zea yang peka akan situasi terkini, sontak berdiri.
"Hahahaha, kayaknya disini panas banget. Bener gak? Gue gerah! Gue mau cari angin dulu diluar. Kita keluar dulu ya!" ijin Zea menarik Icha agar mendekat padanya. Zea tersenyum manis pada mereka termasuk pada Alvin.
"Permisi!" tutur Zea melewati Alvin dengan terburu buru Zea membawa Icha juga Keyla yang telah menjadi patung, keluar dari ruangan itu.
Zea membawa kedua sahabatnya itu keluar.
Brukk
Pintu tertutup dan ketiganya berhenti di depan pintu.
Entah kenapa suasana di dalam membuat mereka seperti kekurangan oksigen dan kini ketiganya bernafas lega.
"Kok kalian ada disini?" ujar Kuina mendekat.
Sontak Zea menegakan badannya menatap kearah Kuina.
"King ada di dalam?" tanya Kuina pada ketiga gadis itu.
"Iya!" jawab Zea.
Gadis itu mengangguk, melewati Zea, Keyla, dan Icha tanpa bicara lagi. Ia masuk begitu saja kedalam ruangan yang di tempati oleh bos Aodra itu.
"Lo mau masuk Ze?" tanya Keyla memperhatikan Zea yang terus memandang kearah pintu yang tertutup.
Zea menggeleng, "Nggak! Yuk cari udara di luar" ajak Zea kepada ketiga. Zea mengapik kedua lengan sahabatnya itu membawa mereka pergi keluar.
Sedangkan itu..
Kuina masuk kedalam dengan senyuman lebar. Ia memperhatikan Alvin yang melihat kearahnya namun seperkian detik pria itu membuang muka membuat Kuina kecewa.
"Hai!" sapa Kuina masih menampilkan senyum.
Kuina mendekat pada Alvin. Gadis itu tanpa ragu duduk di samping Alvin.
"Udah lama nggak ketemu ya Al!" seru Kuina menyapa pria di sampingnya itu.
Kenan, Geo, Satya, dan Julian yang melihat itu langsung membuang muka. Sedangkan Alvin menjauh karena ia tak ingin perhitungan dengan seorang gadis seperti Kuina. Ia sedang memaklumi karena kebiasaan kuina dari dulu.
"Ada urusan apa kesini?" tanya Alvin datar.
"Kok gitu! Ish! Asal lo tau, gue yang nganterin cewek lo loh tadi! Lo gak mau berterima kasih sama gue?" ujar Kuina kembali mendekat, ia tanpa segan bersandar pada Alvin, namun langsung di tepis oleh pria itu.
"Geo!" seru Alvin keras menatap tajam kearah Geo dan dengan segera Geo berdiri mencekal tangan Kuina.
Walau Alvin memaklumi tapi sikap Kuina sekarang membuat Alvin risih dan tak bisa menahan diri.
"Eh eh tunggu, tunggu! Tunggu!" tekan Kuina saat dirinya di tarik menjauh dari Alvin oleh Geo.
Geo terhenti dan membiarkan Kuina.
Kuina melepaskan cekalan tangan Geo di lengannya.
"Huft!" cebik Kuina.
Kuina menatap kearah Alvin lalu bersidekap tak kenal takut.
"Lo tau kan gue suka sama lo! Gue gak akan berhenti deketin lo sampai lo bisa nerima gue. Gue tau lo udah punya pacar dan gue udah ngomong ke dia kalau gue suka sama lo! Gue bukan pengecut!" tutur Kuina membuat Alvin menoleh tak percaya dengan apa yang gadis itu katakan.
"Dan lo tau apa reaksi cewek lo itu pas gue kasih tau kalau gue suka sama lo.... Dia bilang 'God luck' ke gue." Kuina tersenyum smirk. "So, Gue gak bakal nyerah gitu aja! Lo tunggu aja! Gue akan nahklukin lo!" seru Kuina lalu menghentakkan kaki dan membalik badan meninggalkan mereka.
Alvin yang mendengar itu wajahnya memerah dan pria itu mengepalkan tangan marah. Perasaannya semakin campur aduk dan meluap kemana mana.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ