
Pada pagi hari buta, Alvin sudah siap dengan pakaian yang ia kenakan. Ia datang menghampiri Zea yang masih tertidur lelap dikasur. Tangan Alvin terulur menyentuh helaian rambut Zea yang jatuh menutupi wajah Zea yang tertidur pulas.
Wajah Alvin kian mendekat mendaratkan kecupan selamat pagi untuk Zea. Tapi bukannya terbangun Zea justru hanya merubah posisi tidurnya membuat Alvin tertawa renyah.
Alvin mendekap tubuh Zea yang masih tidur, mendaratkan kecupan dalam pada gadis itu. Tak rela rasanya ia jika harus meninggalkan Zea. Ingin rasanya ia selalu bersama gadis itu selama 24 jam.
Alvin menghela nafas berat, menjauhkan dirinya dari Zea, menutupi tubuh Zea dengan selimut. Jika terus berada di dekat gadis itu, Alvin yakin ia akan mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali menemani gadis itu.
Alvin melangkah keluar kamar dengan wajah datarnya, menitipkan Zea pada Joe sebelum pergi meninggalkan tempat itu dengan motor sportnya.
Motornya itu terus menderu sampai Alvin tiba di basemant apartemen. Alvin melangkah kaki dengan santai memasuki apartemen. Kedua matanya memincing mendapati seseorang yang ia kenal.
"Dad!" ujarnya. Daddy Exel yang peka akan sekitar menatap Alvin balik.
Alvin menghampiri pria itu, mengajaknya masuk kedalam apartemennya.
Keduanya duduk saling berhadapan saling bersipandang satu sama lain.
"Ada urusan apa Daddy kesini?" tanya Alvin tanpa basa basi.
"Mommy khawatir!" jawab Daddy Exel membuat Alvin tahu alasan pria itu kemari.
"Ohw, sudah kuduga! Tapi bukan itu jawaban yang kumau, kenapa Daddy sendiri yang kemari?" tanyanya.
"Apa ada yang salah seorang ayah mengunjungi putranya?!" Ingin rasanya Alvin muntah saat itu juga.
Exel menatap wajah sang putra yang terlihat datar, tapi di balik sikapnya itu Alvin kesal dengannya. Daddy Exel yang tau hal itu ingin lebih menggoda Alvin. Mau bagaimanapun, walau sikap keduanya dingin satu sama lain, tapi hubungan antara ayah dan anak itu masih ada.
"Daddy bukan tipe orang yang mengunjungi ku tanpa alasan, jadi langsung aja katakan apa yang Daddy inginkan?!" ucap Alvin.
"Banyak orang ingin berlama lama duduk denganku, tapi kau malah mengusirku!" ujar Daddy Exel tak menghiraukan ucapan Alvin.
Alvin diam tak ingin memperpanjang pembicaraan mereka. Ia bersidekap menatap datar Daddy Exel.
Kedua pria dengan paras yang hampir sama itu saling menatap satu sama lain. Seakan tidak ada yang mau mengalah baik Alvin maupun Exel.
Waktu terus berjalan, akhirnya Daddy Exel menyerah karena waktunya bisa habis dan berakibat pekerja yang menumpuk jika terus meladeni sang putra.
"Oke Daddy pergi!" ucap Daddy Exel berdiri. Alvin ikut berdiri mengikuti.
Kedua pria itu berjalan kearah pintu apartemen. Langkah kaki Daddy Exel terhenti, begitu pula dengan Alvin.
__ADS_1
"Daddy cuma mau bilang, Kamu bertaruh dengan taruhan yang besar Alvin!" ujar Daddy Exel berbalik menatap kearah Alvin.
"Aku akan memenangkannya!" balas Alvin.
"Kau terlalu percaya diri!" ucap Daddy Exel dengan smirk diwajahnya.
"Aku tak akan gagal!" ungkap Alvin menajam.
"Selamat berusaha! Jangan lupa kembali ke rumah, mommy menunggu!" Daddy Exel menepuk nepuk pundak Alvin, setelah itu membuka hendel pintu, pergi dari apartemen Alvin.
Seperti itulah Daddy Exel yang Alvin kenal. Sosok pria yang tergila-gila pada mommy-nya. Namun di luar menjadi sosok yang kejam dan tak pandang bulu.
Dan kedatangannya kali ini menjadi peringatan baginya. Daddy tak akan memperingatinya jika bukan karena sang mommy. Pria itu tau bahwa sang mommy menyukai Zea, tapi ia tak melakukan gerakan apapun karena ia tak ingin ikut campur dalam masalah Alvin.
Taruhan yang dimaksud Daddy Exel adalah taruhan mengenai apakah dirinya bisa meluluhkan Zea dan membuat gadis bersama dengannya. Jelas Alvin dengan percaya diri akan memenangkannya.
Senyum mengembang dibibirnya, ia akan menantikan hari dimana dirinya dan Zea saling menatap penuh cinta satu sama lain.
...****************...
Kedua mata Zea mengerjap, ia tak mendapati Alvin disana. Zea terbangun dari tidur nyenyaknya, mulai merenggangkan tubuhnya. Zea menyibak selimut, segera menuju kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Harum menyegarkan dari sabun dan shampo yang Zea kenakan nampak menyerbak keluar. Gadis itu mengenakan pakaian santai ala rumahan. Ia menyisir rambutnya dan menabur bedak tipis diwajahnya.
"Apa gue coba keluar aja ya?" Zea menimang nimang.
Zea beranjak dari kasur dengan langkah pelan. Ia berjalan tanpa suara sampai didepan pintu. Tangan Zea bergerak memegang kenop pintu.
Cklekk
Dengan gerakan perlahan pintu terbuka. Zea mencoba mengawasi situasi terlebih dahulu. Seperti yang ia duga, bahwa tidak ada siapapun yang menjaga diluar.
Satu langkah kaki berhasil dia daratkan keluar dari kamar yang mengurungnya. Langkah itu terus bertambah beriringan dengan Zea menyelurusuri bangunan itu.
Mula mula Zea menyelusuri bagian lantai kedua tempat dimana ia berada. Zea membuka masing masing pintu ruangan di lantai itu perlahan lahan. Apa yang ia lakukan saat ini memiliki resiko yang amat besar! Karena bisa saja ada orang didalam ruangan itu. Tapi Zea bersyukur bahwa seluruh ruangan ditempat itu kosong.
Kedua mata Zea terus mengamati keseluruhan ruangan di lantai kedua. Ia mencari apakah ada ruangan yang terdapat jendela guna dapat ia gunakan untuk kabur. Tapi naasnya tak ada satupun jendela di lantai itu yang tak berpagar.
Zea tak ingin menyerah begitu saja.
Ia selesai menyelurusuri seluruh ruangan yang ada di lantai 2, kini ia akan menuju lantai pertama. Jantungnya terus berdetak kencang seiring bertambahnya langkah yang ia pijak.
__ADS_1
Rasa gelisah dan cemas itu jelas ia rasakan. Zea terus memunculkan keringat dingin. Ia berharap apa yang ia lakukan tak akan ketahuan.
Zea mengijinkan kaki di lantai pertama dengan aman. Seperti yang ia lakukan sebelumnya ia memasuki berbagai ruangan yang ada dilantai itu dengan aman tanpa ada penjaga satupun.
Tapi tiba tiba suara derapan kaki melangkah terdengar di telinganya. Membuat jantung Zea semakin mencuat dan bertambah kencang. Ia mencari tempat untuk bersembunyi tepat di samping tembok penghalang kedua ruangan.
Langkah kaki kian mendekat membuat Zea tak berhenti melantunkan doa supaya ia bisa lolos. Dan Yap! Sang pemilik langkah kaki itu hanya melewatinya begitu saja
Zea menghembus nafas berat, memegangi dadanya demi memastikan jantungnya aman. Untung saja ia tak memiliki riwayat sakit jantung.
Tapi rasa penasaran Zea muncul. Ia mengintip ke ruangan yang dilewati sang pemilik langkah kaki. Ia shock ketika melihat penjaga yang ada diruangan itu.
Zea berpikir bahwa tempat itu terhubung dengan pintu keluar utama, makanya penjagaan disana diperketat. Zea mengurung langkah kakinya kembali masuk kedalam. Ia kembali menyelusuri ruangan di lantai satu yang tertinggal. Ia semakin dibuat gelisah karena nyatanya ia tak mendapati jendela terbuka atau apapun untuk bisa kabur. Ia berpikir jalan masuk dan keluar hanya terdapat dipintu utama.
Zea semakin terpuruk karena tak ada secerca harapan untuknya melarikan diri. Ia kembali memasuki sebuah ruangan dengan murung. Ia tak lagi berharap bahwa ruangan itu ada jalan untuk ia bisa melarikan diri. Beberapa kali ia berharap dan beberapa kali ia kecewa.
cklekk
Pintu terbuka dan yang pertama kali ia lihat adalah sebuah tempat dipenuhi dengan buku buku dan terdapat meja dan kursi seperti ruangan kerja. Zea kembali menghela nafas, ia melihat ruangan lain disana.
Ia membukanya dan tempat itu adalah kamar mandi. Pandangan Zea tak dapat teralihkan dari tempat itu. Ia menemukannya, jendela ventilasi tak berpagar yang bisa menjadi jalannya untuk ia keluar.
Zea bergegas menuju ke arah jendela. Ia membuka jendela itu dengan tergesa-gesa. Ia mencondongkan kepalanya, menoleh kearah kanan lalu menoleh kearah kiri. Saat ia menoleh saat itu juga kedua matanya membola.
brakk
Zea mendorong tubuhnya kebelakang membuat ia terjatuh dengan pantat yang menyentuh lantai. Ia kembali senam jantung. Memang benar bahwa didalam bangunan itu tak terdapat satu pun penjaga. Tapi nyatanya diluar bangunan itu banyak sekali orang yang menjaga tempat itu.
Zea bangkit dari keterkejutannya tak menghiraukan rasa sakit yang ia dapat. Ia kembali menutup jendela itu dan berlalu pergi dari sana. Zea berlari dengan langkah cepat kembali ke lantai dua sambil mengawasi apakah ada penjaga atau tidak di sekitar tempat itu.
Ia kembali mendekat ke penjaranya dan tak mendapati siapapun disana, seperti pertama kali ia disini. Bahkan Joe yang ditugaskan menjaganya tak tahu ada dimana batang hidungnya.
Pintu kamarnya ia tutup dengan rapat. Ia menyadarkan tubuhnya dipintu sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia melihat ke arah kasur, berjalan cepat ke tempat itu. Berbaring di atasnya, menutupi dirinya dengan selimut.
"Oke tenang Ze, lo aman! Gak ada yang lihat aksi lo. Dan penjaga diluar juga sepertinya tak sadar akan keberadaan lo tadi!" gumam lirih Zea membatin sambil memejamkam mata.
"I am safe!"
Pikir Zea. Tapi apa yang tak Zea tahu adalah setiap langkah yang dilakukan gadis itu terpampang jelas di sepasang mata yang terus mengawasi gerak-gerik gadis itu.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ