My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
177. Mommy Mira flashback


__ADS_3

Alvin masuk kedalam rumah. Setelah menjernihkan pikiran, ia datang untuk meminta penjelasan pada sang mommy.


"Mau kemana?" suara pria paruh baya mengintrupsi Alvin.


Langkah Alvin terhenti.


"Mom mana?" tanya Alvin.


"Ditaman" jawab sang Daddy.


Alvin hendak melangkah.


"Tunggu!" tutur Daddy Exel menghentikan Alvin.


Alvin terhenti.


"Nih!" ujar Daddy Exel mengajukan selembar foto kearah Alvin.


Alvin bergerak mengambilnya.


Ia menatap kearah foto yang Daddynya berikan.


Deg


Jantung Alvin berdebar kencang. Tangannya memegang selembar foto yang ia bawa dengan kuat.


Nafas Alvin berderu, ia memandang kearah Daddynya itu.


"Dimana?" tanyanya.


"Duduk dulu!" tutur Exel memberi perintah.


Alvin menurut, dengan segera Alvin duduk menghadap Exel.


Alvin menunggu jawaban dari sang Daddy.


Tangan Exel bergerak mengambil kopi yang sudah ada di meja.


Alvin menunggu.


Daddy Exel melirik kearah Alvin yang menanti.


"Sebuah kota yang lumayan jauh dari sini" jawab sang Daddy.


"Dia disana! Menjalani hidup dengan baik" ujar Exel melanjutkan ucapannya.


Alvin terkesima, ia berdiri. Tujuannya adalah mengejar.


"Kau tak ingin dengar lebih jauh!" tutur sang Daddy.


Alvin menatap Daddy Exel berharap. Alvin kembali duduk.


"Awalnya mommy mu ingin memindahkannya ke luar negeri. Tapi yah, mereka bilang tempat terpencil lebih aman untuk putri mereka" ujar Daddy Exel lagi.


"Kenapa Daddy biarin mommy?" tanya Alvin.


"Mommy tak akan bertindak kalau Daddy tak mengijinkan" ujar Alvin melanjutkan ucapannya.


Exel menatap putranya itu dalam, "Anggap saja sebagai penebusan" tutur Exel.


Alvin terdiam akan makna tersirat dari apa yang Daddynya katakan.


Exel bergerak, ia menompang kepalanya dengan kepalan tangan sambil menatap Alvin.


"Beri waktu untuk mereka! Kejar dengan sungguh sungguh kali ini. Jangan menggunakan cara licik untuk mendapatkannya. Ini yang mommy mu harapkan!" tutur sang Daddy.


Alvin mengepalkan tangan, "Kejar dengan sungguh sungguh? Jangan menggunakan cara licik? Apakah bisa? Daddy pasti juga sudah tau berapa kali dia membodohi ku? Harusnya dia yang merasa bersalah padaku!" jawab Alvin tak terima.


"Dasar anak kecil... Itu karena kau saja yang kurang berpengalaman. Mana ada orang mengejar menggunakan kekerasan seperti mu!" tutur sang Daddy.

__ADS_1


"Buktinya Daddy bisa" balas Alvin.


"Hah! Jangan menyamakan orang. Sepertinya gadismu itu jauh lebih sensitif dari pada mommy mu dulu" balas Exel.


Alvin diam, "Aku pasti akan mendapatkannya kembali!" tegas Alvin menekan.


"Sepertinya kau benar benar menyukai gadis itu ya? Daddy lihat tidak ada yang spesial darinya!" ujar Exel.


"Itu karena dimata Daddy hanya ada mommy" ujar Alvin mengejek.


Exel tertawa kecil, "Kau benar!" ujar Exel. Pria yang dingin itu hanya bisa tertawa jika menyangkut istrinya.


Alvin memutar bola mata, tak heran lagi akan sikap sang Daddy.


"Jangan menyalakan mommymu! Dia sudah berbuat banyak demi kebaikanmu dan gadis itu!" ucap Exel membuat Alvin mengernyit.


"Menjauhkan gadisku dari ku itu perbuatan baik?" tanya Alvin heran.


"Bisa dibilang begitu! Tanyakan saja pada mommy mu! Bukannya kau ingin bertemu dengannya?" ujar Exel.


Alvin mengernyit heran. Ia bangkit kembali ke tujuannya pulang yaitu menemui mommynya.


"Alvin" panggil Exel. Langkah Alvin terhenti.


"Ingat jaga sikap!" tutur Exel menegaskan


"Ya" balas Alvin. Alvin kembali melangkah.


Avin datang kearah taman melihat mommynya yang sedang merawat bunga bunga disana. Setelah bercakap cakap dengan sang Daddy ada hal yang membuat Alvin bingung.


'Menjauhkan Zea darinya itu adalah untuk kebaikan? Lelucon dari mana itu' batin Alvin.


"Mom!" panggil Alvin.


Miranda menoleh melihat putranya itu.


Alvin mengangguk.


"Kamu penasaran?" tanya Miranda memandang sang putra.


"Iya!" jawab Alvin datar.


"Kalau begitu ayo duduk dan bicara! Sudah lama kan kita tidak bicara berdua!" ucap Miranda mengajak Alvin.


"Iya" jawab Alvin lagi.


Alvin mengikuti Miranda kearah gazebo. Keduanya duduk menatap lekat ke sekitar taman yang menyuguhi pemandangan menenangkan.


"Kira kira dari mana ya mommy mulai?!" ujar Miranda.


"Dari awal!" jawab Alvin.


Mira tersenyum tipis di sertai kesedihan diwajahnya, "Mommy sudah bicara dengan Zea" ujar Miranda membuat Alvin menegang.


"Apa yang mommy bicarakan?" tanya Alvin penasaran.


Miranda menoleh. Ia menatap lekat kearah Alvin. Kedua bibirnya tersungging senyum.


"Mommy bicara banyak hal dengan Zea juga dengan kedua orang tua Zea" ujar sang mommy.


"Bisa mommy ceritakan!" pinta Alvin.


"Tentu!"


Flashback


Miranda pergi ke rumah Zea setelah mengetahui bahwa putranya itu akan melakukan perbuatan hal yang tidak baik pada gadis yang merupakan penolongnya itu.


Dengan hati hati Miranda datang menekan bel rumah Zea.

__ADS_1


Ting tong


Pintu rumah Zea terbuka. Nampak Mama Tia menunjukkan keheranan akan siapa yang datang.


"Maaf cari siapa?" tanya Mama Tia.


Mommy Mira mengulas senyum, "Saya Miranda, saya mau cari Zea. Apakah dia ada di dalam?" tanya Miranda.


Mama Tia melihat Miranda dari atas kebawah. Dari yang ia perhatikan, wanita di depannya itu nampak sederhana namun Mama Tia yakin beberapa barang yang wanita itu gunakan nampak tak sesederhana penampilannya.


"Silahkan masuk" ujar Mama Tia menyambut.


Mommy Mira melangkah mengikuti langkah Mama Tia ke ruang tamu.


"Ada siapa ma?" tanya Hendra datang dari dalam.


Mama Tia menggeleng lantaran ia tak tahu siapa wanita di depannya itu.


"Silahkan duduk!" tutur Mama Tia mempersilahkan.


Mommy Mira mengangguk dengan sopan, duduk dihadapan kedua orang tua gadis yang ia harapkan untuk menjadi menantunya itu.


"Maaf atas kedatangan saya kesini yang tiba tiba. Perkenalkan saya Miranda, saya... ibunda dari Alvin" tutur Miranda memperkenalkan diri.


Mama dan papa Zea yang tadinya menyambut dengan hangat tiba tiba berubah dingin.


"Untuk apa anda kesini?" tanya Papa Hendra pada wanita itu.


Mommy Mira berwajah muram akan perubahan ekspresi keduanya yang tiba tiba.


"Pertama tama saya kesini untuk minta maaf. Sebagai orang tua Alvin, saya tidak bisa mendidiknya dengan baik. Alvin menjadi seperti itu adalah kesalahan kami yang mendidiknya terlalu keras hingga ia bersikap melewati batas" ujar mommy Mira dengan tulus.


"Mungkin perkataan maaf saya ini tidak dapat menggantikan kerugian yang kalian terima akibat putra kami. Namun saya kesini benar benar dengan tulus meminta maaf atas apa yang terjadi" ujar mommy Mira.


Mommy Mira bangkit dari duduknya. Ia berlutut di hadapan kedua orang tua Zea. Mommy Mira tak bisa mengangkat wajahnya dihadapan keduanya.


"Saya minta maaf" tutur Miranda dengan mata berkaca-kaca.


Sebagai sesama wanita, Mama Tia yang melihat sikap mommy Mira tertetegun. Ia dengan segera bangkit memegang pundak mommy Mira yang berlutut dihadapannya.


"Ah anda tak perlu seperti ini. Kita bicarakan baik baik" tutur Mama Tia panik. ia dengan segera membantu mommy Mira duduk kembali.


Kedua orang tua Zea saling bersipandang, mereka tak menyangka bahwa wanita di depannya ini akan muncul dihadapan mereka hanya untuk melakukan hal seperti ini.


Mama Tia menghirup nafas panjang. Ia menggenggam tangan mommy Mira dengan perasaan campur aduk. Harusnya ia marah karena apa yang putra wanita didepannya ini lakukan pada putrinya. Tapi melihat sikap Miranda sekarang, apakah ia harus berpikir ulang?


Tuk tuk tuk


Suara langkah kaki mendekat.


"Ada siapa ma?" tanya Zea datang.


Zea mendekat melihat siapa yang berkunjung.


"Tante? Kenapa Tante disini?" tanya Zea saat tahu siapa yang datang.


Zea kaget, tubuhnya tak bergerak melihat kearah Miranda.


Miranda bangkit akan kedatangan Zea. Mata Miranda menatap Zea dengan sayu.


Miranda mendekat kearah Zea. Wanita itu langsung memeluk Zea dengan erat.


"Maafin Tante ya Zea!" tutur Miranda dengan tulus memeluk Zea.


Wanita itu nampak berkaca kaca.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2