My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
74. Laporan


__ADS_3

Tok tok tok


Pintu kamar Zea diketuk, sontak Zea menatap kearah pintu. Zea bertanya tanya siapa orang yang mengetuk pintunya? dan Apakah dirinya ketahuan? Hal hal buruk muncul dari benaknya, seakan dirinya telah menyembunyikan kejahatan besar. Zea diam hingga orang dari balik pintu bersuara.


"Nona apakah anda sudah bangun?" tanya Joe dari luar.


Zea menatap ke arah pintu ragu apakah dirinya harus menjawab.


"Oke gue harus berusaha senatural mungkin, seakan hal itu tak pernah terjadi!" gumam Zea lirih.


"Nona!" panggil Joe lagi, tak mendengar balasan dari Zea.


"Sudah Joe!" balas Zea.


"Saya masuk!" ucap Joe.


Joe membuka pintu kamar, masuk kedalam melihat kekasih tuannya itu sudah duduk tenang dan menampilkan senyum.


"Apa anda ingin makan sekarang?" tanya Joe masih dengan ekspresi datar.


Zea menggeleng, "Nanti saja Joe, aku lagi tak berselera" jawab Zea.


"Baik, Jika anda sudah lapar atau menginginkan sesuatu anda bisa memberitahu saya diluar!" Zea mengangguk.


"Saya permisi!" ujar Joe.


"Emm Joe!" panggil Zea. Joe yang ingin pergi, membalikkan badan melihat Zea.


Zea mengulum bibirnya, "tadi aku memanggilmu, tapi kamu tak membalas. Dimana kamu saat itu?" tanya Zea memastikan bahwa Joe tak mengetahui aksinya itu.


"Maaf! Saya tadi pergi keluar! Kenapa anda mencari saya?"


Ia menggeleng, "tak ada, aku hanya merasa bahwa disini sepi saja. Makanya aku memanggil mu" jawab Zea.


"Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya.


"Tidak, Kamu boleh pergi Joe!" Joe membungkuk hormat pada Zea, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Zea dikamar.


Melihat Joe yang menghilang dari balik pintu. Zea menghembuskan nafas, merasa lega bahwa apa yang ia lakukan tidak ketahuan. Dan sekarang Zea berpikir bagaimana dirinya bisa pergi dari sini dengan penjagaan diluar yang seketat itu.


Joe keluar dari kamar Zea dengan wajah datar. Ia pergi dari sana kesebuah ruangan dilantai bawah. Pintu ruangan tersebut terbuka menampakan buku buku, meja dan kursi seperti ruangan kerja.


Joe mendekat kearah buku buku yang tertata di rak. Ia menekan tombol tersembunyi didalam rak membuat rak itu terbuka. Joe masuk kedalam ruangan tersembunyi itu. Didalamnya hanya sebuah ruangan kosong.


Tangan Joe bergerak ke arah saklar lampu. Ia menekan saklar lampu memberikan dorongan, membuat saklar lampu itu masuk kedalam.


Lantai dibawah tanah itu tiba-tiba bergerak. Muncul tangga yang terhubung ke ruangan bawah tanah. Langkah kaki Joe bergerak turun kebawah. Ia sampai kedalam ruangan itu, menekan tombol lampu membuat ruangan itu menjadi terang benderang, juga otomatis menutup jalan masuk yang terbuka.

__ADS_1


Joe menoleh, menatap ke arah layar layar canggih yang terpampang jelas dikedua matanya. Kaca layar tersebut menampangkan dengan jelas keseluruhan pergerakan di tempat tersebut.


Joe! Pria itu menyaksikan seluruh aksi Zea dimulai dari gadis itu keluar dari kamar hingga saat Zea menyelusuri ruangan ruangan yang ada disana. Ia juga melihat secara langsung Zea yang masuk kedalam ruangan dimana ia berada, namun Joe hanya bisa menyaksikan Zea dan mendengar saat Zea jatuh. Bisa ditebak gadis itu hendak kabur dari jendela. Tapi gadis itu tersentak kaget akan penjaga diluar vila yang memang sangat ketat.


Joe mengeluarkan handphone dari sakunya menghubungi sebuah nomor yang menjadi prioritasnya.


Panggilan terhubung!!


"Halo tuan! ada hal yang ingin saya laporkan" ucap Joe.


"Katakan!"


"Seperti yang anda duga sebelumnya, nona Zea masih belum menyerah. Ia berusaha kabur!" ucap Joe melaporkan apa yang Zea perbuat.


Hening! Tak ada satu kata suara yang terdengar dari Alvin, membuat Joe melihat ke layar ponselnya, memastikan apa panggilannya masih terhubung.


"Tuan!" panggil Joe memecah keheningan.


"Jalankan sesuai rencana!" ujar Alvin terasa dingin dari suaranya.


Panggilan tersebut langsung terputus sebelum Joe kembali menjawab. Alvin mematikan panggilan mereka. Joe mematikan ponselnya, menyimpan handphonenya disaku. Kembali menatap aktivitas diseluruh tempat itu, kecuali dikamar Zea yang memang tidak terpasang cctv tersembunyi, karena Alvin tak ingin Zea ditatap lama oleh pria lain termasuk itu Joe sekalipun.


Disisi lain..


Alvin yang mengetahui kabar Zea berusaha untuk kabur menggenggam erat handphonenya.


pyarr


"Akan ku beri tahu padamu Ze, bahwa kau sudah salah bermain main denganku!" ujar Alvin menajam.


"Akan ku buat kau menyesal!"


Rahang Alvin mengeras dan tangannya mengepal erat tak memperdulikan bahwa tangannya terluka dan meneteskan darah.


tit tit tit tit cklekk


Suara pin ditekan dilanjutkan dengan suara pintu yang terbuka. Geo masuk kedalam apartemen Alvin. Matanya membelak melihat Alvin yang kini menatapnya tajam dan tangan terkepal yang meneteskan darah.


"Kenapa lo?" tanya Geo melewati Alvin. Ia tak ingin dekat dengan Alvin yang masih tersulut amarah. Geo berjalan menyelusuri ruangan mencari keberadaan kotak p3k.


Alvin menghela nafas kasar, membuang muka, melangkah kakinya untuk duduk di sofa.


Geo datang dengan kotak p3k yang sudah ia temukan, meletakannya di meja. Duduk di sofa yang berbeda dengan Alvin.


"Mau gue bantu?" tanya Geo lagi, tapi Alvin tak menjawab. Alvin membuka kotak p3k. Mengambil apa apa saja yang ia butuhkan, mengobati lukanya sendiri.


Geo yang melihat Alvin mengobati lukanya sendiri mengendikan bahu, membiarkan Alvin mengobati lukanya dengan wajah datar seakan pria itu tak merasakan rasa sakit sedikitpun.

__ADS_1


"Zea?" tanya Geo menebak alasan pria itu seperti ini. Alvin menghentikan kegiatannya menatap tajam kearah Geo.


"Oke gue diem!" ujar Geo mengangkat tangan.


Alvin kembali berpaling ke telapak tangannya. Ia membalut lukanya yang sudah ia beri salep dengan sedikit usaha. Geo hanya mengawasi apa yang Alvin lakukan. Alvin menyelesaikan mengobati lukanya.


"Si@l!" umpat Alvin menyandarkan kepalanya menutup kedua matanya dengan lengan tangannya.


Setelah beberapa menit Alvin dalam posisi itu, Alvin kian bangkit. Ia berdiri dan berjalan ke arah kamar. Pria itu mengganti pakaiannya, merapikan penampilannya, memakai kaca mata, dan menyematkan jaket ditubuhnya.


Alvin mengambil kunci motor maticnya, keluar dari kamar. Melewati Geo yang masih duduk disofa. Geo bangkit mengikuti Alvin yang berjalan kearah pintu.


"Woy Al! Mau kemana?" Geo mengikuti langkah Alvin yang mengarah keluar dari apartemen.


Alvin tak menjawab Geo hingga mereka sampai di basemant. Alvin mengambil motor maticnya mengendarai motor itu meninggalkan Geo begitu saja.


"B@ngke!" ujar Geo tercengang menatap kepergian Alvin.


...****************...


Motor Alvin berhenti di depan rumah Zea. Ia mamarkirkan motor sembarangan, melepaskan helm dan berusaha terlihat bahwa dirinya dalam keadaan berantakan dan frustasi.


Alvin menekan bel rumah Zea, kemudian pintu terbuka. Alvin melihat mbok Jum yang membukakan pintu.


"Aden! Masuk masuk den!" ujar Mbok Jum mengijinkan Alvin masuk. Setelah beberapa kali mampir kerumah Zea, Alvin jadi kenal dengan asisten rumah tangga Zea ini.


Alvin mengikuti langkah mbok Jum.


"Semuanya kemana mbok?" tanya Alvin karena dirasa rumah itu sepi.


"Semuanya lagi pergi den, tapi den Arka tadi pesen. Kalau Aden Alvin kesini, suruh masuk aja katanya!" jelas mbok Jum, Alvin mengangguk mengerti.


"Duduk den!"


Alvin duduk disana sambil menunggu kedatangan keluarga Zea yang pergi entah kemana.


"Aden mau minum apa?" tanya mbok Jum.


"Nggak usah mbok, nanti kalau saya haus, saya akan panggil!" ujar Alvin.


"Oke den, saya tinggal dulu kebelakang!"


Mbok Jum pergi meninggalkan Alvin. Alvin termenung disana masih mencoba merendam emosinya supaya lebih stabil.


Alvin melihat kedepan kearah nakas yang terdapat foto Zea dan keluarganya yang terpajang disana. Alvin bergerak Mengambil salah satu foto Zea dinakas.


Alvin kembali ketempat ia duduk dan menatap kearah foto yang ia pegang.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2