
Zea kembali ke kelas dengan muka lesu. Ia menyesal tak bisa menolong Rey. Jika ia menolongnya, Zea yakin, Rey pasti akan mendapatkan masalah lebih besar dari sekarang.
Ia kembali ketempat duduknya setelah mengucapkan terimakasih pada sang guru. Alvin melihat perubahan raut wajah Zea bingung.
"Ada apa?" tanyanya.
"Nggak ada apa apa" jawab Zea membuka bukunya mencatat tulisan yang ada di papan.
Kedua alis Alvin bertautan, memandang kearah Zea yang kini sedang mencatat.
"Alvin!" panggil sang guru, Alvin menoleh.
"Fokus" lanjutnya. Alvin lantas mengangguk kearah sang guru yang sedang mengajar.
Memperhatikan sekilas apa yang diterangkan. Ia sudah menguasai materi yang diajarkan, namun Alvin masih memperhatikan hanya untuk sekedar formalitas saja.
Sepanjang pembelajaran hingga jam istirahat, Zea sama sekali tak bicara padanya. Kini Zea terfokus pada Keyla dan Icha bahkan tanpa melihatnya sedikitpun. Walaupun biasanya Zea suka bercanda tawa dengan kedua temannya tapi sesekali gadis itu meliriknya, mengajak ia berbincang. Tapi kini menatapnya saja enggan. Alvin jadi bingung sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Zea bisa berubah begitu cepat semenjak dari kamar mandi.
Mereka menghabiskan makanan yang tadi mereka pesan. 4 porsi chiken Yakiniku plus nasi dengan sayuran dan saus yang di susun di sebuah wadah seperti tempat makan untuk mereka masing masing. Sistem kantin di Immanuel school terbilang berbeda lantaran. Disana di sediakan satu kedai dan di kedai itu setiap Minggu atau beberapa hari sekali makanannya akan terus berganti, hal itu supaya para murid di Immanuel school tidak bosan dengan makanan kantin yang mereka sajikan.
Zea, Keyla, Icha, dan Alvin yang selesai makan, kembali kedalam kelas. Masih ada beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi namun mereka sudah tak ada urusan lagi, mereka kian menunggu dikelas sambil bercanda tawa. Tentu saja hanya ketiga gadis itu yang kian berbicara, Alvin hanya diam saja memperhatikan.
"Hai guys guys! Ada berita wow dan menggemparkan" ujar Niko selalu heboh masuk kedalam kelas.
Semua orang yang ada didalamnya langsung terfokus pada pria itu.
"Berita apa nik? Pasti gak penting" ujar Shasya sinis.
"Yehh mau dengerin kagak terserah lo. Tapi asal kalian tau, ini benar benar wow. Ini berita tentang kak Rey" sahut Niko melambai.
"Ha? Kak Rey?" tanya Icha berseru.
"Iya! Tau gak kalian. Kak Rey ngundurin diri jadi ketua osis"
"Ha? Serius Lo?!" seru mereka berbarengan.
"Kebiasaan, dua rius gue" Niko menunjukkan dua jarinya, jari telunjuknya dan tengah.
"Bukannya enak ya jadi ketua osis. Ia bisa gunain semua hal di sekolah tanpa larangan! Kok kak Rey malah ngundurin diri sih?!"
"Iya! Kok kak Rey buang buang kesempatan sih? Aneh!"
Zea, Keyla, dan Icha saling bersitatap. "Emang kenapa Nik, kok kak Rey sampe ngundurin diri?" tanya Keyla penasaran.
"Pertanyaan bagus. Ini nih yang bikin heboh! Gue denger denger nih, kak Rey bikin masalah sama geng Aodra makanya sekarang jadi target mereka" ujar Niko sontak membuat mereka heboh bahkan ada yang sampai bangkit menggebrak meja lantaran tak percaya.
"Yang bener Lo nik?!"
"Lo nggak bohong kan Nik?!"
"Lo ngeprank kita ya nik?!"
"Kan kan! Kalian aja nggak percaya. Gue aja tadinya juga gak percaya, sampe gue denger sendiri kalau Rey ngundurin diri gara gara bikin masalah sama Aodra. Tadi aja gue sempet pas pasan sama kak Rey dan asal kalian tahu. Wajahnya babak belur semua, astaga! ih ngeri deh gue!" ujar Niko bergidik.
Semua orang yang berada dikelas seketika membeku. Mereka masih aja ragu dengan apa yang Niko katakan. Namun berbeda dengan Zea, gadis itu percaya Niko 100%. Karena ia sendiri yang mendengar dan melihat bagaimana Rey terluka.
Alvin yang di sebelah Zea memandang terus bagaimana ekspresi Zea. Seketika otaknya menyimpulkan sesuatu.
"Kamu sudah tahu!" ujar Alvin tepat ditelinga Zea membuat Zea sontak menoleh.
"Kamu melihatnya?!" tanya Alvin mendadak membuat mata Zea membelak namun Zea sontak mengerjap berusaha menetralisir untuk menutupi rasa keterkejutannya. Ia menggeleng. Namun sayang seribu sayang, Alvin melihat ekspresi itu diwajah Zea.
"Tes tes satu dua" ujar suatu suara berasal dari spiker siaran yang terletak dipojok atas dinding.
Sontak membuat semua orang disana mendongak kearah sumber suara.
"Selamat siang teman teman semua, maaf mengganggu waktunya. Ada hal yang aku Reynard andreas selaku ketua osis di Immanuel school, ingin sampaikan!" ujar Rey.
"Ha? Itu suara kak Rey kan?" tanya salah satu siswi.
"Stt diem"
"Jangan berisik, gue mau denger kak Rey ngomong apa!" lanjutnya.
"Kalian semua pasti sudah tahu bahwa aku adalah ketua osis saat ini. Dan Hal yang akan aku sampaikan kali ini juga mungkin beberapa dari kalian juga sudah tahu. Bahwasanya saya Reynard andreas saat ini juga mengundurkan diri menjadi ketua osis!" ujar Rey sontak membuat ricuh seluruh sekolah.
"Jika kalian bertanya alasannya, ini adalah alasan pribadi saya sendiri. Jadi saya tak bisa memberitahukan. Kemudian untuk pengganti ketua osis berikutnya, kalian tak usah khawatir karena sudah ada kandidat dan akan diumumkan dalam beberapa hari lagi setelah pertimbangan. Aku juga tak ingin bicara lebih lanjut karena hanya itu informasi yang aku sampaiakan. Last, untuk kalian semua para siswa siswi Immanuel school. Saya Rey Mohon maaf jika selama masa jabatan, saya melakukan kesalahan dan perbuatan juga aturan yang tidak berkenan pada kalian semua. Saya Reynard undur diri dan silahkan menikmati kembali waktu istirahat yang tersisa. Terima kasih"
titttt....
__ADS_1
Tepat setelah Kenan berhenti bersuara, bel tanda masuk berdering diseluruh sekolah. Para siswa yang awalnya bingung, ingin bertanya satu sama lain. Saling mengemukakan pendapat masing masing kini seketika terjeda karena guru yang mulai memasuki kelas.
Tapi mereka yang banyak akal tak berhenti sampai disitu. Mereka saling berkirim pesan melalui grup menyebarkan informasi dan pendapat yang ada melalui pesan.
Handphone Zea yang ia letakan di meja terus bergetar seiring banyaknya pesan pesan yang masuk.
Hancur sudah kelas hari ini karena para murid semua tak lagi bisa fokus kepada pembelajaran namun kini mulai asik berkemuka mengenai Rey.
Hingga sekolah selesai mereka masih terus saja bergosip. Zea mulai mengemasi barang-barangnya, memasukan kedalam tas. Disampingnya Alvin sudah menunggu.
"Ze lo duluan aja. Kita mau cari informasi soal kebenaran dulu soalnya" ujar Icha membuat Zea diam beberapa saat tapi tak lama kemudian Zea menngangguk.
Zea yang mengerti kemudian mengiyakan. Zea tahu bahwasanya kedua sahabatnya itu kini mau ikut nimbrung membicarakan akan Rey yang mengundurkan diri dengan beberapa orang lain yang sefrekuansi.
Keduanya membiarkan Zea pulang duluan karena Zea yang tak suka hal itu juga ada Alvin yang menunggu Zea.
"Gue duluan ya" pamit Zea melambai.
"Hati hati" ujar keduanya ikut melambai.
Zea dan Alvin keluar dari kelas. Dijalan keduanya saling diam. Dari depan ia melihat sosok yang ia kenal.
Deg
Detak jantung Zea serasa berdentum kencang melihat wajah Rey yang kini menjadi tak beraturan. Wajah Rey penuh dengan plester. Zea seketika mengigit bibirnya dalam.
Tangan Alvin seketika mencengkeram tangannya erat. Zea menoleh, melihat wajah dingin datar tak peduli Alvin.
Zea yakin Rey juga melihat mereka. Zea melangkah bersama Alvin. Saat lebih dekat Zea yang tertunduk mengintip. Rey sama sepertinya. Pria itu menunduk melewatinya. Diwajah Rey terpampang ketakutan, bisa ia lihat saat tubuh Rey bergetar ketika melewatinya.
Zea yang ingin menoleh ditahan oleh Alvin.
"Jangan menoleh" Zea seketika terpaku dan mengurung niatnya.
Alvin tetap diam dengan wajah dingin hingga mereka sampai di parkiran dan menaiki motor Alvin meninggalkan sekolah.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Zea kembali ke kelas dengan muka lesu. Ia menyesal tak bisa menolong Rey. Jika ia menolongnya, Zea yakin, Rey pasti akan mendapatkan masalah lebih besar dari sekarang.
Ia kembali ketempat duduknya setelah mengucapkan terimakasih pada sang guru. Alvin melihat perubahan raut wajah Zea bingung.
"Ada apa?" tanyanya.
"Nggak ada apa apa" jawab Zea membuka bukunya mencatat tulisan yang ada di papan.
Kedua alis Alvin bertautan, memandang kearah Zea yang kini sedang mencatat.
"Alvin!" panggil sang guru, Alvin menoleh.
"Fokus" lanjutnya. Alvin lantas mengangguk kearah sang guru yang sedang mengajar.
Memperhatikan sekilas apa yang diterangkan. Ia sudah menguasai materi yang diajarkan, namun Alvin masih memperhatikan hanya untuk sekedar formalitas saja.
Sepanjang pembelajaran hingga jam istirahat, Zea sama sekali tak bicara padanya. Kini Zea terfokus pada Keyla dan Icha bahkan tanpa melihatnya sedikitpun. Walaupun biasanya Zea suka bercanda tawa dengan kedua temannya tapi sesekali gadis itu meliriknya, mengajak ia berbincang. Tapi kini menatapnya saja enggan. Alvin jadi bingung sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Zea bisa berubah begitu cepat semenjak dari kamar mandi.
Mereka menghabiskan makanan yang tadi mereka pesan. 4 porsi chiken Yakiniku plus nasi dengan sayuran dan saus yang di susun di sebuah wadah seperti tempat makan untuk mereka masing masing. Sistem kantin di Immanuel school terbilang berbeda lantaran. Disana di sediakan satu kedai dan di kedai itu setiap Minggu atau beberapa hari sekali makanannya akan terus berganti, hal itu supaya para murid di Immanuel school tidak bosan dengan makanan kantin yang mereka sajikan.
Zea, Keyla, Icha, dan Alvin yang selesai makan, kembali kedalam kelas. Masih ada beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi namun mereka sudah tak ada urusan lagi, mereka kian menunggu dikelas sambil bercanda tawa. Tentu saja hanya ketiga gadis itu yang kian berbicara, Alvin hanya diam saja memperhatikan.
"Hai guys guys! Ada berita wow dan menggemparkan" ujar Niko selalu heboh masuk kedalam kelas.
Semua orang yang ada didalamnya langsung terfokus pada pria itu.
"Berita apa nik? Pasti gak penting" ujar Shasya sinis.
"Yehh mau dengerin kagak terserah lo. Tapi asal kalian tau, ini benar benar wow. Ini berita tentang kak Rey" sahut Niko melambai.
"Ha? Kak Rey?" tanya Icha berseru.
"Iya! Tau gak kalian. Kak Rey ngundurin diri jadi ketua osis"
"Ha? Serius Lo?!" seru mereka berbarengan.
"Kebiasaan, dua rius gue" Niko menunjukkan dua jarinya, jari telunjuknya dan tengah.
"Bukannya enak ya jadi ketua osis. Ia bisa gunain semua hal di sekolah tanpa larangan! Kok kak Rey malah ngundurin diri sih?!"
__ADS_1
"Iya! Kok kak Rey buang buang kesempatan sih? Aneh!"
Zea, Keyla, dan Icha saling bersitatap. "Emang kenapa Nik, kok kak Rey sampe ngundurin diri?" tanya Keyla penasaran.
"Pertanyaan bagus. Ini nih yang bikin heboh! Gue denger denger nih, kak Rey bikin masalah sama geng Aodra makanya sekarang jadi target mereka" ujar Niko sontak membuat mereka heboh bahkan ada yang sampai bangkit menggebrak meja lantaran tak percaya.
"Yang bener Lo nik?!"
"Lo nggak bohong kan Nik?!"
"Lo ngeprank kita ya nik?!"
"Kan kan! Kalian aja nggak percaya. Gue aja tadinya juga gak percaya, sampe gue denger sendiri kalau Rey ngundurin diri gara gara bikin masalah sama Aodra. Tadi aja gue sempet pas pasan sama kak Rey dan asal kalian tahu. Wajahnya babak belur semua, astaga! ih ngeri deh gue!" ujar Niko bergidik.
Semua orang yang berada dikelas seketika membeku. Mereka masih aja ragu dengan apa yang Niko katakan. Namun berbeda dengan Zea, gadis itu percaya Niko 100%. Karena ia sendiri yang mendengar dan melihat bagaimana Rey terluka.
Alvin yang di sebelah Zea memandang terus bagaimana ekspresi Zea. Seketika otaknya menyimpulkan sesuatu.
"Kamu sudah tahu!" ujar Alvin tepat ditelinga Zea membuat Zea sontak menoleh.
"Kamu melihatnya?!" tanya Alvin mendadak membuat mata Zea membelak namun Zea sontak mengerjap berusaha menetralisir untuk menutupi rasa keterkejutannya. Ia menggeleng. Namun sayang seribu sayang, Alvin melihat ekspresi itu diwajah Zea.
"Tes tes satu dua" ujar suatu suara berasal dari spiker siaran yang terletak dipojok atas dinding.
Sontak membuat semua orang disana mendongak kearah sumber suara.
"Selamat siang teman teman semua, maaf mengganggu waktunya. Ada hal yang aku Reynard andreas selaku ketua osis di Immanuel school, ingin sampaikan!" ujar Rey.
"Ha? Itu suara kak Rey kan?" tanya salah satu siswi.
"Stt diem"
"Jangan berisik, gue mau denger kak Rey ngomong apa!" lanjutnya.
"Kalian semua pasti sudah tahu bahwa aku adalah ketua osis saat ini. Dan Hal yang akan aku sampaikan kali ini juga mungkin beberapa dari kalian juga sudah tahu. Bahwasanya saya Reynard andreas saat ini juga mengundurkan diri menjadi ketua osis!" ujar Rey sontak membuat ricuh seluruh sekolah.
"Jika kalian bertanya alasannya, ini adalah alasan pribadi saya sendiri. Jadi saya tak bisa memberitahukan. Kemudian untuk pengganti ketua osis berikutnya, kalian tak usah khawatir karena sudah ada kandidat dan akan diumumkan dalam beberapa hari lagi setelah pertimbangan. Aku juga tak ingin bicara lebih lanjut karena hanya itu informasi yang aku sampaiakan. Last, untuk kalian semua para siswa siswi Immanuel school. Saya Rey Mohon maaf jika selama masa jabatan, saya melakukan kesalahan dan perbuatan juga aturan yang tidak berkenan pada kalian semua. Saya Reynard undur diri dan silahkan menikmati kembali waktu istirahat yang tersisa. Terima kasih"
titttt....
Tepat setelah Kenan berhenti bersuara, bel tanda masuk berdering diseluruh sekolah. Para siswa yang awalnya bingung, ingin bertanya satu sama lain. Saling mengemukakan pendapat masing masing kini seketika terjeda karena guru yang mulai memasuki kelas.
Tapi mereka yang banyak akal tak berhenti sampai disitu. Mereka saling berkirim pesan melalui grup menyebarkan informasi dan pendapat yang ada melalui pesan.
Handphone Zea yang ia letakan di meja terus bergetar seiring banyaknya pesan pesan yang masuk.
Hancur sudah kelas hari ini karena para murid semua tak lagi bisa fokus kepada pembelajaran namun kini mulai asik berkemuka mengenai Rey.
Hingga sekolah selesai mereka masih terus saja bergosip. Zea mulai mengemasi barang-barangnya, memasukan kedalam tas. Disampingnya Alvin sudah menunggu.
"Ze lo duluan aja. Kita mau cari informasi soal kebenaran dulu soalnya" ujar Icha membuat Zea diam beberapa saat tapi tak lama kemudian Zea menngangguk.
Zea yang mengerti kemudian mengiyakan. Zea tahu bahwasanya kedua sahabatnya itu kini mau ikut nimbrung membicarakan akan Rey yang mengundurkan diri dengan beberapa orang lain yang sefrekuansi.
Keduanya membiarkan Zea pulang duluan karena Zea yang tak suka hal itu juga ada Alvin yang menunggu Zea.
"Gue duluan ya" pamit Zea melambai.
"Hati hati" ujar keduanya ikut melambai.
Zea dan Alvin keluar dari kelas. Dijalan keduanya saling diam. Dari depan ia melihat sosok yang ia kenal.
Deg
Detak jantung Zea serasa berdentum kencang melihat wajah Rey yang kini menjadi tak beraturan. Wajah Rey penuh dengan plester. Zea seketika mengigit bibirnya dalam.
Tangan Alvin seketika mencengkeram tangannya erat. Zea menoleh, melihat wajah dingin datar tak peduli Alvin.
Zea yakin Rey juga melihat mereka. Zea melangkah bersama Alvin. Saat lebih dekat Zea yang tertunduk mengintip. Rey sama sepertinya. Pria itu menunduk melewatinya. Diwajah Rey terpampang ketakutan, bisa ia lihat saat tubuh Rey bergetar ketika melewatinya.
Zea yang ingin menoleh ditahan oleh Alvin.
"Jangan menoleh" Zea seketika terpaku dan mengurung niatnya.
Alvin tetap diam dengan wajah dingin hingga mereka sampai di parkiran dan menaiki motor Alvin meninggalkan sekolah.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1