
Pagi ini Zea yang selesai berganti seragam duduk dimeja makan. Setelah makan dini hari lalu, Zea tak lagi bisa tidur. Ia menghabiskan waktunya dengan berselancar di sosial media.
Bahkan pesan Alvin yang dini hari lalu masuk ke handphonenya juga belum ia balas lantaran tak ingin dirinya menjadi semakin kacau karena Alvin.
Zea yang selesai makan pagi bersama keluarganya, mengambil tas di dalam kamarnya sambil menunggu Alvin di teras rumah. Zea memasang sepatunya sambil sesekali matanya melihat kedepan apakah Alvin sudah datang.
Zea mengecek handphonenya mungkin saja ada pesan masuk dari Alvin yang mengatakan pria itu tak bisa menjemputnya. Zea membaca pesan pesan yang dikirim oleh Alvin, tapi isinya hanya sekedar menanyakan apakah dia sudah bangun dan sebagaimana. Tidak ada tanda tanda yang menunjukkan bahwa Alvin sibuk dan tidak bisa mengantar Zea kesekolah.
brmm
Suara deru mobil berhenti tepat didepan rumahnya. Kemudian seorang pria turun dari mobil.
"Joe?" gumam Zea.
Pria itu mendekat kearah Zea.
"Tuan ada kesibukan pagi ini dan akan sampai ke sekolah nanti siang, tuan menyuruh saya untuk mengantar anda ke sekolah" jelas Joe.
"Ah iya" balas Zea.
Zea lantas membuka pintu rumah, masuk sedikit kedalam rumah.
"Ma, Pa, Bang, Zea berangkat ya!" seru Zea setengah berteriak.
"Alvin udah datang?" tanya Mama Tia menghampiri.
"Alvin lagi ada acara ma, ini Joe! Alvin minta Joe buat nganterin Zea" ujar Zea sembari menunjuk Joe.
Joe hanya tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat kearah Mama Tia.
"Oh yaudah, hati hati! Buat Joe maaf ya jadi ngerepotin!" ujar Mama Tia.
"Tak masalah" jawab Joe.
Zea menyalimi Mama Tia. Joe yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa mengangguk singkat.
"Zea berangkat ma" ujar Zea melambaikan tangan.
Keduanya mendekat kearah mobil Joe. Joe yang mendahului, membukakan pintu bagian belakang untuk Zea.
"Gue bisa duduk di depan kok" ujar Zea.
"Anda duduk dibelakang nona, Tuan melarang saya berdekatan dengan anda" ujarnya.
Zea hanya bisa tersenyum kikuk menuruti kemauan Joe, masuk kedalam mobil. Mobil Joe melaju mengantarkan Zea ke sekolah.
"Apa ada yang ingin anda tanyakan?" tanya Joe merasakan tatapan Zea yang mengarah padanya.
"Em nggak" jawab Zea seraya menggeleng.
Keduanya kembali diam.
"Tuan lagi ada urusan di kantor, menggantikan Tuan Exel memimpin rapat." jelas Joe lagi pada Zea.
"Dan mungkin juga, sambil mengurus dokumen dokumen yang tertumpuk di kantor" lanjutnya
"Makasih" ucap Zea setelah mendapatkan informasi dari Joe.
Mobil Joe terus melaju dengan kecepatan sedang hingga mereka sampai didepan gerbang sekolah Zea.
"Makasih sudah mengantar Joe" ujar Zea seraya keluar dari mobil.
"Sudah tugas saya" jawab Joe.
Saat Zea sudah turun dari mobil, Zea menunggu kepergian mobil Joe.
"Anda masuk dulu, baru saya akan pergi" ujar Joe. Zea yakin ini juga atas suruhan Alvin.
__ADS_1
Zea pun hanya bisa mengangguk kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam sekolah.
"Dorr" sentak Keyla dan Icha merangkul pundaknya dari belakang, membuat Zea tersentak kaget.
"Mana Alvin kok sendiri?" tanya Keyla.
"Dia ijin, lagi ada urusan" jawab Zea.
"Ohh" keduanya berjalan melewati lorong.
"Kalian berdua tumben baru dateng?" tanya Zea.
"Hehehehe, gara gara gue!" Icha hanya bisa terkekeh menjawab Zea.
"Kebiasaan" Zea berdecak saat tahu apa yang membuat keduanya datang tak seperti biasanya.
Mereka kemudian masuk kedalam kelas sambil saling berbincang satu sama lain. Mengikuti pembelajaran dengan cermat walau terkadang bergurau pelan ditengah tengah pembelajaran. Bel berbunyi menunjukan waktu istirahat. Bahkan setelah selesai istirahat pun, Alvin masih belum datang.
Akhirnya Zea kembali mencoba fokus memahami apa yang guru terangkan. Hingga pembelajaran selesai, Alvin juga tak kunjung datang.
"Lo pulang sama siapa Ze?" tanya Keyla saat mereka mulai mengemasi buku buku, memasukan kedalam tas.
"Alvin" jawab Zea.
"Alvin jemput lo? Katanya ada urusan?" tanyanya kembali.
"Gue nggak tau, bilangnya sih bakal jemput gue. Lagian hari ini gue nemenin Alvin latihan" jawab Zea.
"Oh Alvin jadi ikut basket?" tanya Icha.
"Iya" jawab Zea memakai tasnya dipunggung.
Suara ribut dari luar kelas terdengar, hingga teman sekelasnya yang masih berada dikelas juga ikut berseru.
Zea, Keyla, dan Icha sontak menoleh kearah sumber yang diributkan. Mereka melihat Alvin yang kini berjalan kearahnya dengan jersey basket dan rambut yang berantakan.
"Yuk!" Alvin menggenggam tangan Zea membawanya keluar kelas.
"Cha, Key, gue duluan ya!" pamit Zea melambaikan tangan.
"Lah kita ditinggalin? Kita ikut oii!" seru Icha buru buru memasukan barangnya kemudian mengikuti kemana Alvin membawa Zea bersama Keyla.
Alvin membawa Zea kelapangan basket yang terletak didalam ruangan. Mendudukan Zea di sofa yang sudah ada di pinggir ruangan itu.
Lapangan itu terlihat ramai namun belum semuanya hadir disana. Keyla dan Icha yang mengikuti langsung ikut duduk disamping Zea.
"Loh nggak pulang?" tanya Zea.
"Yaiya dong, kita kan mau cuci mata" ujar Icha menampilkan senyum gigi pada Zea.
"Belum makan siang kan? Mau makan apa?" tanya Alvin seraya menatap Zea.
Zea menggeleng, "Nggak usah" jawabnya.
"Al!" panggil Geo dari tengah tengah lapangan. Alvin lantas menoleh.
Alvin mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
"Telpon Joe kalau kamu ingin sesuatu, passwordnya tanggal kita jadian" ujar Alvin seraya menyerahkan handphonenya pada Zea.
"Aku kesana dulu" lanjutnya meninggalkan Zea menuju kearah Geo yang kini sedang berbincang dengan seorang pria.
"Joe siapa Ze?" tanya Keyla mendengar percakapan keduanya.
"Teman Alvin" jawab Zea.
Zea melihat kearah Alvin yang kini sedang berbincang serius dengan Geo, Kenan, Julian, dan Satya, juga seorang pria yang Zea pikir adalah pelatih basket immanuel school.
__ADS_1
"Ze, Ze" ujar Icha membuat Zea menoleh.
"Pesen pizza Ze, kayaknya enak" lanjut Icha seraya mengerlingkan mata.
"Nanti deh Cha" balas Zea.
"Oke" balas Icha.
Zea kembali menoleh kearah tempat Alvin berada. Kedua teman temannya juga sedang asik berseru memandang sekitar. Menganggumi para pemain basket immanuel school dengan jersey yang melekat ditubuh mereka.
Zea yang memandangi Alvin dari jauh melihat perubahan raut wajah Alvin yang terlihat jelas.
"Cih sial" umpat Alvin mendekat membuat Zea mengernyit.
Zea menatap Alvin yang terlihat kesal sambil mengerjap.
"Ada apa?" tanya Zea.
"Al, ayolah!" seru Julian mengejar Alvin.
"Kenapa sih Jul?" tanya Keyla penasaran.
"Ini nih Alvin lagi ngamuk gara gara pelatih ngadain pertandingan persahabatan secara mendadak dan Alvin disuruh main kali ini" Alvin menatap Julian tajam.
"Ralat, buka sengaja sih kita yang rekomendasi Alvinnya buat main!"
"Bukannya bagus ya kalau gitu? Alvin bisa dipandang sama pelatih. Kok lo malah marah sih Al?" tanya Keyla heran.
"Alvin nih marah karena jam pertandingannya diluar dari jam latihan. Katanya lebih milih deketan sama lo, Ze dari pada ikut tanding main basket" jawab Julian menjelaskan.
"Ah!" Keyla dan Icha berseru paham.
"Bujuk dia dong Ze, tolongin kita!" ujar Julian memohon.
Zea yang disuruh membujuk memandang kearah Alvin. Gadis itu menautkan jarinya sambil menatap Alvin yang kini berdiri tinggi didepannya.
Alvin yang ditatap Zea hanya bisa menghela nafas.
"Oke fine" ujarnya menyerah.
"Ha? Beneran? Yes! Tuh kan! Belum aja lo ngomong, dianya udah mau. Hebat lo Ze! Padahal kita yang nyuruh Alvin ikut eskul basket aja butuh seharian penuh buat bujuk dia. Ini cuma dengan sekali pandang" ujar Julian takjub.
"Lebay lu" ujar Icha.
"Oii Jul, gimana?" teriak Satya dari sebrang lapangan dengan jersey yang melekat di badannya. Disana juga ada Kenan dan Geo yang juga sudah berganti ke Jersey.
"Aman" ujar Julian mengacungkan jempol tersenyum senang.
Pritt pritt
Suara peluit dari pelatih memanggil mereka untuk segera berkumpul.
"Kamu tetap disini jangan kemana mana. Kalau laper minta belikan Joe, jangan order yang aneh aneh" pesan Alvin.
"Iya" balas Zea.
"Al buruan" sahut Geo dari jauh.
"Aku kesana dulu" ujar Alvin.
"Iya, semangat" tutur Zea sambil mengulas senyum kearah Alvin.
Alvin mengacak-acak rambut Zea sebelum pergi ke tengah lapangan, berkumpul dengan anggota basket yang lain.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1