My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
141. meminta ijin


__ADS_3

"Marahin Satya Pi, marahin. Dia itu suka banget gangguin Nei, sampai Nei kesel sama dia" ujar Icha mengadu pada papi Satya.


Icha ikut bergabung dengan ketiga orang itu. Duduk di samping papi Satya.


"Kamu ini Sat! Suka banget gangguin Nei. Jangan sampe, Nei muak sama kamu dan buat kamu menyesal" ujar papi Satya menasehati.


"Dengerin tuh!" sahut Icha.


Satya melirik kearah Icha, menatap Icha dengan cemberut. Kemudian ia menoleh ke sang papi.


"Iya Pi" jawab Satya.


Mami Satya hanya bisa diam dan geleng geleng kepala.


"Udah! Sekarang mana bunda sama papa mu itu, kok lama banget gak kesini sini?" tanya mami Satya sambil memandang kearah luar, siapa tau aja calon besannya itu sudah datang.


"Mungkin bentar lagi datang Mi, sabar aja!" ujar Papi Satya meminta mami Satya agar lebih bersabar.


"Hallo spada!" ujar papa Icha masuk dengan bunda Icha kedalam rumah.


"Tuh apa papi bilang" ujar papi Satya melihat kearah calon besannya itu.


"Kenapa nih? Kenapa?" tanya papa Icha menatap kearah keempat orang yang sedang ada di ruang tamu itu.


"Nih! Bini gue ngamuk, kalian berdua sih kelamaan" ujar papi Satya menjelaskan.


"Ish apaan sih Pi!" ujar mami Satya menatap sebal sang suami.


"Maaf! Kita lama ya gara gara mas ini! Mandinya lama banget" jelas Bunda Icha.


"Persis kayak anaknya" Satya menyahut.


"Maksud lo, Gue?!" ujar Icha kembali menatap Satya tak terima.


"Kan emang kenyataannya begitu" balas Satya menyeringai.


"Serah lo deh! Gelap" ujar Icha cuek memalingkan muka.


Icha marah tapi ia tak bisa marah. Karena apa yang di katakan Satya adalah kenyataan.


"Satya! Jangan mulai!" tegur sang papi menatap sengit ke arah Satya.


"Iya Pi! Maaf" ujar Satya memalingkan muka.


"Udah nggak papa kok Fa! Yuk mulai makan aja. Kita juga udah laper!" ujar papa Icha mencairkan suasana.


"Yaudah yuk makan! papi juga udah laper, ayo Mi" ajak Alfa papi Satya diangguki oleh sang istri.


Mami Satya menuntun Icha untuk pergi bersama ke arah meja makan. Sudah biasa bagi mereka untuk makan malam bersama. Ntah itu di rumah Satya ataupun di rumah Icha.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam ruang makan. Kemudian mata para laki laki di ruangan itu mengernyit, melihat makanan yang membuat mereka melongo.


"Ini menu dinner hari ini Mi?" tanya Alfa dengan dahi yang mengernyitkan, menoleh pada sang istri.


"Iya, ini mami sama Sitha yang buat. Kalian cobain dan kasih nilai buat menu hari ini" jawab mami Satya.


Ketiga pria itu langsung bergedik ngeri. Makanan full tumbuhan yang ada di depan mereka membuat ketiganya seakan kehilangan nafsu makan.


Berbeda dengan Icha yang nampak bersahabat karena salah satu makanan disana adalah makanan yang ia suka.


"Yuk duduk" seru mami Tia mulai duduk di kursi meja makan.


Satu persatu dari mereka mulai duduk di meja makan. Icha yang berada di samping Satya hanya diam, menganggabaikan pria di sampingnya itu seakan akan tidak ada.


Mami Satya memberikan masing masing makanan yang sudah di siapkan.


Hap


Satu suapan masuk kedalam mulut satya. Bisa ia lihat raut wajah Satya yang berubah ekspresi.


"Gimana?" tanya mami Satya meminta pendapat.


Papi Satya, Papa Icha, dan Satya lantas memberikan senyuman dengan terpaksa.


"Enak kok mi, enak" jawab papi Satya.


"Seriusan?" tanya mami Satya lagi dan di jawab dengan anggukan.


"Yaudah lanjutin makannya, ayo kita juga ikut makan Tha" ujar mami Satya mengajak bunda Icha untuk makan bersama.


Para wanita makan bibimbap khas Korea dan para pria dengan terpaksa memakan pea pesto pasta yang rasanya aneh di mulut mereka.


"Kayaknya ini kurang daging deh, dikit banget dagingnya. Nggak kerasa!" ujar mami satya berkomentar.


"Iya! Kayaknya tadi ada daging sisa deh di dapur. Kan emang sengaja gak kita semuain agar sama persis kayak digambar" sahut bunda Icha ikut berkomentar.


"Oke bentar ya! Ku ambilin dulu dagingnya" Mami Satya masuk ke dapur yang tak jauh jauh dari ruang makan.


Ia kembali dengan semangkok daging yang tersisa. Membaginya ke tiga mangkok bibimbap. Dirinya, bunda Icha, dan Icha. Hal itu membuat para pria kembali melongo.


"Makasih mi!" ucap Icha menerima daging slide yang sudah dibumbui.


"Kita mi?" tanya Alfa meminta karena di makanan mereka tidak tersedia apapun kecuali pasta yang di lumuri dengan saos hijau yang tidak mereka tahu apa itu.


"Papi makan itu aja biar sehat, lagian ini daging buat bibimbap" jawab mami Satya tak berperasaan.


Icha yang ada di sana dapat melihat bagaimana kekecewaan para pria itu, apa lagi melihat ekspresi Satya yang nampak tak bersemangat membuat Icha ingin sekali menggoda pria itu.


Icha mencampur adukkan seluruh isi di mangkoknya, nasi dengan sayur sayuran plus telur, plus daging. Icha menyendoknya isi dimangkoknya sambil menunjukan daging diatasnya. Melirik kearah Satya dengan smirk diwajahnya, memasukan kedalam mulut. Icha meluncurkan aksi balas dendamnya.

__ADS_1


Sungguh penyiksaan yang amat teramat kejam membuat Satya menelan ludahnya kasar, kemudian ia melihat kearah makanannya sendiri yang amat tidak selera dimulutnya. Hatinya meringis melihat itu.


Sedangkan disisi lain. Papa Icha yang melihat kearah mangkok sang istri seketika iri dan berharap.


"Bun bagi dagingnya dong!" pinta papa Icha memelas.


Bunda Icha yang tahu rasa dadi pasta yang ia dan mami Satya buat, karena telah mencicipinya merasa kasihan dan tak tega akan sang suami.


Ia membagikan daging dimangkoknya keatas piring pasta sang suami.


"Makasih Bun, makin cinta deh papa sama bunda!" goda papa Icha seraya memeluk sang istri dari samping.


"Hoek, cinta cinta, narsis tau nggak! Dikamar aja sono kalau mau main cinta cintaan!" sarkas Mami Satya menatap sebal pada papa Icha lantaran ia dulu sempat tak terima sahabatnya yang polos bisa mendapatkan pria yang modelnya seperti papa Icha. Untung pria itu amat mencintai sahabatnya, alias bunda Icha. Hingga ia bisa merestui pria itu untuk sahabatnya.


"Gak usah iri An, minta aja sana ke suami kamu kalau mau juga" bela bunda Icha untuk sang suami.


"Dasar bucen!" sahut mami Satya sambil cemberut.


"Mama iri? Mama mau juga? Bilang aja ke papi nanti papi turutin, tapi bagi dagingnya dulu" ujar papi Satya seraya berharap sama persis seperti yang papa Icha lakukan.


"Dih ogah! Udah lanjut makan sana. Papa tuh jangan kebanyakan makan daging, kolesterol. Makan itu aja, sehat" tutur Ansya, mami Satya menasehati?! Enak aja minta bagi daging. Gak tau apa kalau kesehatan itu penting, makanya mami Satya itu menyarankan untuk membuat makanan sehat serba tumbuhan.


Dengan terpaksa kedua ayah dan anak itu menerima pasta polos tanpa tambahan lauk apapun.


Mereka hanya bisa menyaksikan ke empat orang lainnya menikmati daging di dalam makanan mereka masing-masing. Mereka menggulung mie tanpa semangat. Memakannya tanpa rasa.


"Pa! Bun! Ada yang mau Icha omongin nih!" ujar Icha dengan ragu ragu mulai melanjutkan aksinya untuk meminta ijin yang sempat tertunda.


Mereka yang sudah menyelesaikan makannya, bersantai di ruang keluarga rumah Satya ditemani secangkir teh dan camilan.


"Bilang aja Cha! Pakek ragu ragu segala. Kamu ada buat masalah?" tanya papa Icha pada sang putri semata wayangnya itu.


Icha menggeleng cepat, "Nggak!" jawab Icha tak kalah cepat.


"Ya terus?" tanya sang papa.


Icha menautkan jarinya, menatap kearah sang bunda dan sang papa.


"Itu! Icha mau minta ijin" ujar Icha.


"Ijin? Ijin apa?" tanya sang bunda ikut penasaran, karena tak biasanya putrinya itu meminta ijin.


"Icha mau ikut Zea pergi Bun" jawab Icha memberitahukan niatnya.


"Ikut kemana?" Bunda Icha semakin penasaran.


"Icha mau ikut Zea pergi mendaki Bun, Pa!" jawab Icha dengan jantung dag dig dug, menjelaskan niatnya.


Ia menunduk tak berani menatap keduanya.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2