My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
180. Percakapan dengan kenan


__ADS_3

Zea pov


Mengendarai mobil papa, aku menjemputmu Icha terlebih dahulu. Ku parkirkan mobil papa tepat di depan rumah Icha.


Aku mendial nomor Icha tak berani masuk kedalam.


Panggilan terhubung...


"Cha aku ada diluar nih! Buruan gih!" ujarku.


"Oh oke, gue turun sekarang" ujarnya.


Aku menunggu beberapa saat sambil melihat depan.


Pandanganku tertuju pada pagar yang terbuka, namun bukan pagar rumah milik Icha. Dua orang pria muncul dari sana dan dengan buru buru aku menundukkan kepala takut ketahuan.


Ku intip siapa yang keluar, ternyata Satya dan Geo. Satya mengantar kepergian Geo dari rumahnya. Tepat saat bersamaan pagar rumah Icha terbuka.


Icha keluar dari rumah berpas-pasan dengan Satya.


"Mau kemana Lo?" tanya Satya melihat Icha yang berpakaian rapi.


Aku diam sambil mencuri dengan percakapan keduanya.


"Kepo! Gue mau keluar" jawab Icha.


"Kemana?" tanya Satya lagi.


Tin


Aku tersentak kaget tanpa sengaja tanganku bergerak menekan klakson mobil. Satya dan Icha disana juga ikut tersentak kaget.


"Astaga!" seru keduanya kaget.


Aku mengelus dadaku yang berdentum kencang. Kulihat Icha juga menoleh kearah mobil sambil mengelus dada.


"Yaampun gak sabaran banget sih! Udah gue mau hangout, bye!!" seru Icha salah paham lalu meninggalkan Satya.


Icha naik ke kursi disampingku.


"Dih! Apa apaan penampilan lo ini Ze? Lo mau cosplay jadi detektif?" tanya Icha melihat penampilanku yang tertutup dari atas sampai bawah.


"Gue habis perawatan dan gak boleh kenak sinar matahari! Makanya gue berpenampilan kayak gini!" bohong ku ngaco.


"Perawatan apaan sampai kayak gitu?" tanyanya.


"Adalah itu apa lupa gue namanya!" jawabku juga bingung.


"Hmm okelah" balas Icha dengan mudahnya percaya omonganku.


"Iya!" balasku.


"Sekarang kita jemput Keyla" tuturku mengalihkan perhatian sambil menyalakan mesin mobil.


Mobil menyala.


Lalu aku menekan tuas mobil dan dengan pelan aku menancap gas sambil melirik kearah Satya yang berada di samping mobil, sedang melihat kami.


Aku melihat dari kaca spion tengah dan Satya nampak terpaku ditempat. Aku tak tahu apa yang pria itu pikirkan.


"Kita nyusul Keyla dimana?" tanyaku tak lagi peduli, mengalihkan perhatian pada Keyla.


"Keyla masih tinggal di apartemen Kenan" jawab Icha.


"Oh oke" jawabku.


Dengan segera aku melajukan mobil kearah apartemen Kenan berada.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kami sampai di lobby apartemen.


"Gue tunggu disini ya Cha!" ucapku. Aku tak ingin orang lain mengenaliku disini.


Icha heran, "ohw oke" ujarnya tanpa curiga. Lebih tepatnya tak ingin berpikir lebih jauh.


Icha keluar dari mobil lalu aku manancap gas membawa mobilku ke basement.


Aku memarkirkan mobil, menunggu kedatangan keduanya.


Aku melihat ke sekeliling basement yang sepi, hingga seorang pria muncul di depan mobilku.


Aku melihatnya dengan intens, waspada akan pergerakan pria itu. Hingga langkah kaki pria itu berhenti.


Pria itu nampak menoleh ke sekeliling seakan mencari sesuatu hingga pandangannya bertemu denganku yang menggunakan kacamata hitam.


Ekhm


Seruku berdehem canggung untuk merilekskan tubuh.


Kenan berjalan ke arahku dan mengetuk kaca mobilku.


Aku sedikit gelisah membenarkan masker, kacamata, dan jaket bertudungku menutupi semua.


Tangan ku bergerak membuka jendela mobil.


"Zea!" ujarnya mengenaliku.


'Aku mengernyit heran, segampang inikah aku dikenali?' pikirku


"Iya, Kenapa?" tanyaku membalas.


Kenan nampak terpaku saat melihatku namun pria itu mencoba bersikap datar seperti biasa.


Jika boleh jujur, Kenan emang nampak menawan dimataku. Setiap apa yang ia lakukan dulu emang sangat keren hingga terkadang aku kagum. Tapi dia bukan tipeku.


Aku menoleh ke sekitar dan belum mendapati Icha dan Keyla datang.


"O!!" jawabku bergumam.


Aku melepaskan seat belt yang melekat di tubuhku kemudian membuka pintu mobil pelan, keluar berhadapan dengan Kenan.


"Ada urusan apa?" tanyaku kembali mengalihkan perhatian pada tempat lain.


"Ekhmm!!" Kenan Berdehem meredakan rasa canggungnya.


"Lo beneran nolak gue untuk ikut?" tanyanya.


Ini adalah hal yang aneh buatku. Aku sangat jarang berinteraksi dengan Kenan tapi pria di depanku ini entah kenapa menawarkan diri untuk menjaga ku. Bukankah hal itu terdengar aneh dan membingungkan?


"Gue masih nggak ngerti sampai sekarang! Kenapa lo mau ikut sama gue?" tanyaku.


Kenan termenung, "Em sepertinya lo lupa! Dulu lo pernah bantu gue sekali. Dan semenjak itu gue nggak bisa lepasin lo dari bayangan gue" ujarnya semakin membuatku bingung.


Aku pernah membantunya sekali? Kapan? Dimana? Aku sama sekali tidak ingat!!


"Itu terjadi 2 tahun lalu! Lo nyelamatin gue saat gue hampir mati di keroyok waktu itu" ucapnya menjelaskan insiden itu.


Aku mencoba mengingat dan otakku tertuju pada satu kejadian itu. Tapi aku tidak ingat!!


"Kejadian di trek saat gue menang dan lawan gak terima dengan kemenangan gue" jelasnya.


"Ah jadi itu lo! Sorry gue nggak mengenali lo, karena waktu itu lo pakai helm" balasku mengingat.


Dulu waktu aku masih seorang gadis yang sangat suka dengan kehidupan luar, aku pernah ikut balapan dan yah aku mengingat suatu kejadian dimana seperti yang dibilang Kenan. Aku tak ingin menjelaskan lebih jauh.


Aku diam menunggu reaksi Kenan yang nampaknya juga ikut diam.

__ADS_1


"Karena lo nolong gue waktu itu! Gue bakal ganti kali ini. Gue bisa jaga lo jika sewaktu-waktu Alvin tau keberadaan lo" ujarnya lagi.


Itu adalah tawaran yang cukup menarik tapi aku tak mau lagi harus melibatkan orang lain dalam masalah ini, "Em Ken, gue hargai tawaran lo! Tapi itu tak perlu. Gue mau memulai hidup baru. Gue mau nenangin diri. Jadi gue nggak mau berurusan dengan kalian kalian lagi!" jawabku tegas. Kalian yang aku maksud disini adalah tentang Alvin dan kehidupannya.


"Gue harap Lo ngerti" tambahku lagi.


Aku mentautkan tangan sambil melihat sekitar dengan gelisah. Tidak baik bagiku jika berada di luar lama lama begini.


"Gue masuk dulu! Sebentar lagi Icha sama Keyla datang" ujarku menggenggam knop mobil.


Aku membuka pintu mobil sedikit.


"Gue suka lo!" tutur Kenan membuatku tersentak.


Aku menoleh pada Kenan, "Apa?" tanyaku lagi tak percaya dengan apa yang ku dengar.


Kenan menatap ku serius, "Gue suka lo! Semenjak lo nolongin gue waktu itu, gue udah suka sama lo. Sayang karena Alvin juga tertarik sama lo, akhirnya gue mundur untuk deketin lo!" ujarnya.


Aku tercengang, "Ah.." ucapku tak bisa berkata kata sambil mengangguk kecil.


Sepertinya menjadi orang baik adalah kesalahan buatku.


Aku menggelengkan kepala dan mencubit diriku sendiri.


"Auu!" pekikku sakit. Ini nyata.


"Em makasih udah suka sama gue! Tapi, sorry gue gak bisa balas lo dan gue gak mau terlibat dengan kalian lagi. Gue harap lo bisa ngelupain itu semua" ucapku menolak.


Terdengar tak berperasaan memang, tapi aku harus memberitahukan pada Kenan bahwa aku tak memiliki rasa apapun pada pria itu.


Aku berbalik masuk kedalam mobil.


"Zea!" panggilnya mengetuk pintu kaca.


Aku tak peduli lagi. Ku nyalakan mesin mobil dan segera pergi dari sana meninggalkan Kenan.


Ku bawa mobil keluar dari basement memarkirkan di jalanan dekat dengan apartemen sambil menunggu kedatangan Icha dan Keyla.


Tringg..


Ponselku berbunyi dan langsung kuangkat panggilan setelah mengetahui siapa yang menelpon.


"Lo dimana Ze?" tanya Icha disana.


"Ah gue ada di jalanan luar nih! Gue nunggu disini" jawabku.


"Jauh banget! Yaudah deh gue sama Keyla jalan kesana" ujarnya.


"Iya" balasku mematikan panggilan telpon.


Aku melihat lekat ponsel yang ku genggam. Handphone yang Alvin berikan padaku.


Ku matikan ponselku dan melihat kesekitar. Tepat disamping mobil ku terdapat tong sampah.


Aku bergerak kesana dan membuang handphone itu masuk kedalam.


"Selamat tinggal" ujarku.


Aku menoleh kearah spion tengah, melihat kedua sahabat ku itu berjalan mendekat. Mereka masuk kedalam sambil menatap ku.


"Yuk!" ajak mereka.


Aku mengangguk dan mulai menjalankan mobil.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2