
Zea yang masih dalam keadaan trauma pasca penculikan dibawa kembali untuk menjalani pemeriksaan. Alvin selalu ada disamping gadis itu, menemaninya setiap saat. Melihat bagaimana kepedulian Alvin pada Zea membuat orang tua Zea termasuk Arka mempercayai pria itu sepenuhnya.
Untung saja saat menjalani pemeriksaan tubuh Zea tidak terluka parah bahkan nyaris tanpa luka. Zea hanya mengalami bengkak di telapak kakinya karna terlalu lama berjalan, kelelahan, juga mental yang sedikit kacau walau tidak separah dulu.
"Zea, Ayo masuk!" ujar Mama Tia menuntun Zea masuk kedalam rumah setelah pemeriksaan.
Kedua matanya kembali sendu mengingat bahwa dia telah kembali kerumah. Tapi hatinya masih menggelap karena ia masih belum bisa bebas. Setelah kejadian itu, Zea sudah tak sanggup lagi untuk membantah, ia ingin menyerah.
Zea melangkahkan kakinya dan dituntun menuju lantai atas kearah kamarnya. Ia terus memaksakan kakinya melangkah dengan sekuat tenaga, karena jika tidak Alvin akan menggendongnya.
"Kamu istirahat ya, pasti capek!" ujar Alvin menyelimuti gadis yang telah terbaring dikasurnya itu. Zea hanya diam tak menjawab menatap Alvin dalam.
"Yaudah Al, Key, Cha, biarkan Zea istirahat. Sekarang kita kedepan yuk!" ajak Mama Tia. Selain keduanya disana juga ada Icha dan Keyla yang juga ikut naik mengikuti Zea dari belakang.
Keyla dan Icha mengangguk.
"Lo istirahat ya Ze, kita ada diluar kalau lo butuh sesuatu!" ujar Keyla.
"Cepet sembuh ya Ze!" lanjut Icha.
Keduanya keluar dari kamar diikuti mama Tia dan Alvin ke arah pintu.
"Tan Alvin mau bicara sebentar sama Zea, bolehkan?" tanya Alvin meminta persetujuan. Matanya terlihat ketidak relaan harus pergi dari Zea. Mama Tia yang tau hal itu mengangguk.
"Boleh Al, kayaknya Zea juga lagi butuh kamu, kamu temani aja dia. Tante tinggal kebawah ya!" pamit Mama Tia.
"Makasih Tan!" Pintu kamar Zea tertutup menyisakan Zea dan Alvin yang berdua didalam kamar. Alvin mendekat kearah Zea yang berbaring.
Zea memalingkan wajah takut melihat Alvin. Tangan Alvin terulur membelai rambut juga wajah Zea.
Kedua mata hitam tajam Alvin menatap Zea lama, "Kamu takut padaku?" tanya Alvin tapi tidak ada jawaban dari Zea.
"Aku anggap itu "Iya" "lanjutnya. Suasana kembali hening.
"Kamu tau kan aku awalnya tak seperti ini. Kamu yang membuat semuanya menjadi rumit!" ujar Alvin. Zea merapatkan bibirnya seakan menahan sesuatu untuk tidak keluar.
Kembali tak ada respon dari Zea. membuat Alvin mendekat wajahnya pada Zea. Zea yang awalnya memalingkan muka menoleh melihat Alvin yang kian mendekat hingga Zea memejamkan mata Alvin dan saat itu juga mencuri sebuah kecupan diwajah Zea.
"Buka matamu, lihat aku dan dengarkan apa yang akan aku katakan!" ujar Alvin menahan wajah Zea untuk tidak berpaling kembali. Zea membuka matanya dan tatapan matanya dan Alvin saling tertuju.
"Jika detektif atau polisi datang ke sini, diam saja dan jangan berbicara sedikitpun. Hanya itu yang perlu kamu lakukan. Dan dengan begitu kamu tidak akan pernah bertemu dengan pria yang dulu pernah menyakitimu itu! Mudah bukan?!" Zea tertegun dan mengangguk sekilas.
"Tapi jika kamu memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi itu tak masalah buat ku. Seperti Zion yang dulu bisa lolos, aku pun juga begitu. Bahkan jika aku bebas, aku dapat melakukan hal hal yang lain untuk dapat memilikimu! Kau tak mau itu terjadi bukan?"
__ADS_1
Alvin berbicara panjang lebar pada Zea membuat nafas Zea tercekat. Zea mengangguk bahwa ia tak mau terkurung lagi.
"Ja, jangan kurung aku lagi!" mohon Zea memelas pada Alvin. Alvin menyungging senyum.
"Tergantung bagaimana kamu bersikap!" Mata bulat Zea semakin memelas, pikiran dan hatinya sudah terlalu lelah untuk memikirkan rencana. Ia sudah pasrah.
Alvin yang melihat Zea pasrah mengecup hidung Zea dan menggigitnya kecil dengan gemas.
"ukhh!" rintih Zea membuat Alvin tertawa renyah.
"Aku tak akan pernah bisa melepaskanmu. Kamu terlalu menggemaskan untuk ku lepas!" Alvin mengusap rambut Zea sebelum mendaratkan kecupan singkat didahi Zea.
"Istirahatlah, aku pergi dulu!" Alvin membenarkan selimut Zea sebelum pergi meninggalkan Zea dikamar sendirian.
...****************...
Kini 3 hari telah berlalu dan Zion telah dinyatakan bersalah telah melakukan tindakan penculikan. Sebelumnya Zion sempat membantah namun karena Zea yang tak berbicara serta dengan sedikit ancaman dari Alvin, akhirnya pria itu pasrah dan memilih mendekam di penjara.
Zea sudah mengenakan seragam untuk berangkat kesekolah. Sudah beberapa hari ia absen dan kini ia kembali untuk mengejar pelajaran yang tertinggal. Walau diawal Alvin mengatakan untuk tidak memperdulikan mengenai sekolah, namun mengenai pengetahuan Zea sangat serius.
tok tok tok
"Ze! Udah ditungguin Alvin tuh. Buruan, kamu juga belum sarapan kan!" ujar Mama Tia mengetuk pintu kamar Zea.
"Iya ma ini udah selesai kok!" balas Zea keluar dari kamar dan turun kebawah bersama Mama Tia.
"Pagi!" sapa Zea kepada semuanya. Walaupun kejadian waktu itu membuat ia trauma, namun Zea berusaha menyembunyikan itu semua agar kedua orangtuanya juga abangnya tidak khawatir.
Ia menatap ke arah pria disamping abangnya, yang kini juga sedang menatap kearah dirinya.
"Ma, Pa, Bang, Zea berangkat dulu ya! Zea takut telat kalau sarapan dirumah!" ungkap Zea pada mereka. Sebenarnya ia tak nyaman melihat kedekatan Alvin dengan keluarganya yang terkesan menipu.
"Kamu sih susah bangun, yaudah Mama bawain bekal aja ya?" Zea kembali menggeleng walau tak enak hati.
"Gak usah Ma, Zea makan disekolah aja!"
"Yuk Al!" ajak Zea. Pria itu bangkit.
"Ma, Pa, Bang, Kami berangkat dulu!" ujar Alvin. Sejak dua hari yang lalu panggilan Alvin kepada kedua orangtuanya berubah dan hidupnya juga berubah. Kini keluarga Zea mempercayakan Alvin untuk menjaga gadis itu dan dengan senang hati Alvin menerima.
"Hati hati ya!"
"Jagain adek gue, bro!" ujar Arka.
__ADS_1
"Pasti!" jawab Alvin.
Alvin dan Zea menyalimi secara bergantian kemudian keluar dari rumah.
Alvin mengambil helm yang biasa Zea pakai. Ia memajuk tangannya ingin memakaikan Zea helm, Zea menghentikan Alvin karena dia bisa memakai sendiri. Tapi Alvin yang sekarang tak ingin dibantah sedikitpun, akhirnya Zea mengalah membiarkan Alvin memasangkan helm dikepalanya. Alvin memastikan bahwa Zea sudah terlindungi dan mengambil helm full facenya di motornya untuk ia pakai.
Alvin yang sudah siap menaiki motor sportnya. Ia membenarkan pijakan kaki untuk Zea, menyodorkan tangannya agar Zea lebih mudah naik. Ini kedua kalinya Zea di bonceng oleh Alvin menggunakan motor sportnya. Yang pertama saat ia berkunjung ke rumah pria itu.
"Pegangan!" Zea yang sudah naik keatas motor memegang ujung pakaian Alvin dengan canggung.
Alvin melirik sekilas membenarkan tangan Zea. Membuat gadis itu memeluknya. Zea yang tersentak kedepan, menyandarkan dagunya dibahu Alvin. Walau canggung namun biarlah! Orang dulu, ia dan Alvin juga pernah di posisi seperti ini.
Kemudian motor Alvin melaju menuju sekolah dengan kecepatan sedang, namun membuat jantung Zea seakan berhenti berdetak. Tapi Zea tak berani membantah. Ia hanya bisa bermuka masam menikmati laju kendaraan Alvin. Walaupun ia lebih suka motor matic Alvin. Zea bingung kenapa sih ada gitu cewek cewek yang suka digonceng pakai motor seperti ini? Bikin pantat tepos tau gak, gak nyaman pula, batin Zea mencebik.
Alvin melihat wajah Zea yang masam dan cemberut dari balik spion.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kenapa, kenapa?" tanya Zea bingung.
"Wajah kamu, kenapa begitu?"
"Emang wajah aku kenapa?" Zea balik bertanya.
Alvin mendengus kesal, "Ze!" ucap Alvin penuh penekanan.
'Orang gue gak kenapa kenapa! Kenapa sih nih cowok aneh banget!' ucap Zea dalam batin. Mana berani ia sekarang bicara terang terangan seperti ini.
"Aku gak papa Al" jawab Zea sekenanya.
"Bohong, aku lihat dari tadi wajah kamu masam gitu!" balas Alvin.
"ehm mungkin karena aku gak kebiasa boncengan pakai motor sport sama kamu!" jawab Zea hati hati.
"Oh aku kira apa, yaudah besok ku jemput pakai mobil!" balas Alvin.
"Kenapa gak pakai motor matic aja?" ceplos Zea.
"Gak! Kamu harus mulai terbiasa dengan diriku yang asli!" ujar Alvin. Zea bungkam.
"Oke" balasnya.
Motor Alvin terus melaju melewati gerbang sekolah.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ