
Zea yang sudah mandi mengoleskan bedak dan pelembab dibibirnya. Mengambil handphonenya yang tersimpan dinakas. Kemudian ia keluar kamar, dengan langkah malu dan kepala tertunduk Zea kembali turun kelantai bawah. Dia melihat kedua sahabatnya disana.
"Kalian!" pekik Zea tertahan, mau emosi tapi semuanya sudah terjadi.
"Hehehe.." Mereka hanya cekikikan. Zea mendengus, duduk disebelah Alvin yang duduk didepan keduanya dengan beralaskan karpet, membuang muka enggan menatap keduanya.
Melihat Zea yang marah, Keyla dan Icha menghampiri. Hal itu membuat Alvin tergeser.
"Maaf Ze, ini semua idenya Icha" pinta Keyla mengalungkan lengannya dileher Zea, manja.
"Lah kok gue? Lo kan juga ikutan Key!" ujarnya.
"Tapi kan lo yang mulai Cha"
"Lo juga setuju dan ikut coret coret muka Zea" ujar Icha tak mau kalah.
"Udah berisik! Sana sana!" usir Zea mengibaskan tangannya. Keduanya dengan muka tertunduk kembali ketempat masing masing. Dengan masih saling tunjuk, menyalahkan satu sama lain.
Zea yang masih sebal hanya diam saja tak memperhatikan Alvin yang ada disebelahnya. Pak Burhan datang meminta beberapa siswa laki laki mengikutinya. Termasuk Alvin.
Dirinya sekarang sendirian, walaupun ada kedua temannya didepan. Tapi masih berjarak dan Zea masih kesal dengan mereka.
Zea merasakan ada yang duduk disebelahnya membuat ia menoleh. Shasya perempuan yang sudah tak pernah mengganggunya lagi itu duduk disebelahnya.
Tak memperdulikan Shasya disampingnya Zea mengecek akun sosial medianya. Menjelajahi dunia maya itu.
"Mata lo tajem juga ya, ada cowok ganteng langsung lo deketin!" kata Shasya disampingnya. Zea tau perkataan Shasya ditujukan olehnya, tapi dia tak paham maksud dari Shasya.
"Bilangnya gak tertarik sama cowok ganteng, tapi sekarang beda tuh sama yang lo omongin!" lanjutnya.
"Maksud lo?"
"Pakek pura pura lagi, lo tau kan kalok Alvin cowok nerd yang lo deketin itu ganteng. Makanya lo mau deketin dia" ungkapnya. Zea tercekat dan menangkap kata kata yang Shasya lontarkan.
'Alvin? Cowok nerd ganteng?' pikirnya tak percaya.
Pak Burhan dan beberapa siswa yang tadi datang membuat semua mata menoleh. Mereka masuk dengan membawa makanan yang masih mengepulkan asap. Ada yang membawa piring, ada yang membawa sendok, ada juga yang membawa dispenser berisi minuman dan masih banyak lagi.
Pak Burhan mengatur untuk menata dimeja yang sudah disiapkan.
"Pak ini buat apa pak?" tanya salah satu murid.
"Ya buat sarapan pagi kalian lah! Atas perintah Pak Kepsek minta warga sekitar buat menyiapkan makan pagi untuk hari ini"
"Jadi ini masakan orang desa pak? Iuu, kalok saya sakit perut gimana pak?" ujar Vara disana.
__ADS_1
"Gak bakal Vara, kamu ada ada aja!" ujar Pak Reno disamping Vara.
"Bener nih pak Reno, saya gak bakalan sakit perut kan?" ujar Vara.
"Iya Vara!"
Tempat Vara duduk berada didekat anggota geng Aodra dan Pak Reno mencoba untuk mendekati anggota geng Aodra yang memiliki kekuasaan disekolah secara tidak langsung. Bahkan pria itu demi mencari muka geng Aodra membiarkan mereka tak mengerjakan hukuman yang disuruh Pak Burhan.
Mereka semua berjajar rapi mengambil makanan sesuai porsi masing masing. Aroma yang khas dari masakan benar benar menggugah selera. Saat semua asik menyantap makanan masing masing, beda dengan Zea. Gadis itu merenung memikirkan perkataan Shasya.
Disela sela makan Zea melirik Alvin. Setelah melihat penampilan Alvin segera ia tepis. Dia berpikir Shasya berbicara seperti itu karena ingin mengerjainya. Gadis itu selalu memiliki niat buruk pada Zea sedari dulu.
Berbeda dengan Vara yang selalu terang terangan saat bertengkar dengannya, Shasya lebih seperti orang bermuka dua. Kalihatannya baik tetapi ujungnya menyesatkan.
Mereka semua menyelesaikan makannya berkumpul menjadi satu mulai melanjutkan kegiatan syuting mereka
...****************...
Zea yang melihat kedatangan teman teman sekolahnya menyambut mereka dengan senyuman. Dirinya juga melihat Vara yang merupakan rivalnya, menatap sinis kepada Zea.
Zea mengijinkan mereka masuk. Zea langsung meminta mereka untuk naik kekamar, memilih kamar yang mereka mau. Karena ia tau, teman temannya itu pasti lelah.
Zea yang baru bangun mencuci muka dan turun kebawah. Dari lantai bawa ia mendengar keributan. Disana nampak Alvin dan mereka bertengkar, bahkan teman temannya menghina pria itu. Zea menghampiri mereka, sekarang dia dilema antara membela Alvin atau membela teman temannya.
Karena dia tahu tabiat Alvin, akhirnya dia membela laki laki itu dan berbicara kepada teman temannya dengan perlahan agar ia tak menyinggung mereka. Tapi karena Vara yang tukang kompor membuat suasana menjadi runyam. Rusak sudah pertemanan mereka. Detik itu juga mereka meninggalkan vila Zea.
Padahal ia tahu dirinya tak akan lama disini karena dia harus kembali kesekolah tempat dimana dia seharusnya. Zea masuk kedalam vila merebahkan dirinya di sofa. Menyandarkan kepalanya. Alvin menghampiri, namun ini semua pilihannya. Dia tak bisa menyalahkan pria itu.
Zea yang awalnya sendu dibuat tersenyum kembali. Alvin, pria itu membuat ia tertawa. Zea yang tak lagi memikirkan pertengkaran dengan teman sekolahnya itu.
Zea akui Alvin itu lebih pintar darinya, walau dalam kondisi yang terbatas tapi pria itu tak gampang menyerah guna mencari ilmu.
Waktu terus berlalu di dekat Alvin benar benar menyenangkan. Alvin mengajaknya melakukan banyak hal hal yang baru, seperti mengelolah kebun, jualan dipasar, memancing ikan, dan banyak lagi. Sampai ia tak sadar bahwa ia harus kembali, yang artinya dia harus meninggalkan Alvin dan melihat teman temannya yang masih marah dengannya bahkan tak membalas pesannya sama sekali.
Kepergiaan Zea meninggalkan tempat itu kembali membuatnya sendu karena harus berpisah dengan pria yang memiliki segudang kehebatan seperti Alvin.
skip
Zea kembali ketempat Alvin didesa dan mengatakan hal yang menggembirakan pada Alvin. Alvin awalnya ragu menerima tawaran Zea, tapi setelah dibujuk dan dirayu akhirnya pria itu menerima.
Syuting dipedesaan berakhir....
Hari ini adalah hari ketiga dipedesaan, untung saja karena hubungan Zea dan Alvin yang terbilang adalah sepasang kekasih membuat perasaan mereka menyatu saat adegan film. Bahkan menjadikan kegiatan mereka selesai lebih cepat.
"Baik anak anak, berhubungan kegiatan disini selesai lebih awal dari yang diharuskan. Saya selaku pembina berterima kasih pada kalian yang berpartisipasi dalam kegiatan ini"
__ADS_1
"Sama sama Pak Burhan!" ujar Zea dalam barisan.
Pak Burhan tersenyum. "Kerja bagus buat kalian semua. Kalian hebat" Pak Burhan mengacungkan jempol. "Dengan ini pembuatan film dipedesaan saya nyatakan berakhir dan bapak beri waktu kalian 2 hari untuk beristirahat" lanjut Pak Burhan membuat mereka bersorak senang.
"Eits eits tunggu dulu, kegiatan kita masih belum berakhir" ucap Pak Burhan menghancurkan ekpestasi semua orang membuat mereka bermuka masam.
"Yah!" keluh mereka.
"Setelah istirahat kita bakal melanjutkan kegiatan pembuatan film disekolah sesuai skenario. Jadi bapak harap kalian menjaga kesehatan masing masing dan menghindari hal hal yang berbahaya. Apalagi kalian yang membawa mobil sendiri, hati hati dijalan"
"Baik semua boleh bubar, yang mau naik bus bapak beri waktu 3 jam. Bisa kalian gunakan untuk berkemas atau melihat lihat sekitar" ucap pak Burhan lagi setelah itu membubarkan mereka.
Zea berjalan mendekati Alvin, "Al gue mau beresin barang dulu ya diatas" pamit Zea. Alvin mengangguk melihat kepergian gadis itu bersama kedua sahabatnya.
"Woyy Al!!" seru Julian merengkuh leher Alvin. Menyeret Alvin mengikutinya membuat yang melihat bertanya tanya. Bahkan ada yang berpikir gara gara Alvin meminjam mobil Aodra, sebagai balasannya Alvin menjadi budak mereka.
Geo membawa Alvin kearah luar vila. Kearah tempat dimana mobil mereka terparkir. Disana sepi karena kebanyakan sedang beraktivitas didalam vila.
"Napa?" tanya Alvin saat dirinya sedang berhadapan dengan keempat pemuda dengan wajah tampan itu.
"Dingin banget bosque hahaha" ujar Satya, padahal Alvin merasa dia biasa saja.
"Gimana? Jadi ikut?" tanya Kenan.
"Gak" jawabnya.
"Lah napa?" tanya Julian heran.
"Zea ngajak naik bus" jawabnya lagi.
"Yah! Gak seru dong gak ada lo!" Alvin tak menjawab.
"Pokoknya lo harus ikut Al" paksa Satya.
"Iya Al, masak lo gak ikut. Gue udah bilang anak anak kalau lo bakal dateng" jelas Julian.
"Gue juga!" tambah Satya.
"Siapa suruh!"
"Ck pokoknya lo harus dateng Al!" kekeh Satya dan Julian mencoba membujuk Alvin.
"Serah" ujar Alvin lalu pergi meninggalkan mereka.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ