
Mobil yang dikendarai Eric menuju ke tempat dimana perusahaan yang memperkerjakan-nya berada.
Alvin turun dari mobil bersama Geo tentunya. Sedangkan Eric menuntun mereka di depan dengan gelisah karena ia pun tak bisa memberi tahu para rekan rekannya untuk mengantisipasi kedatangan dua orang penting itu, lantaran saat ia ingin menghubungi mereka, Geo mencegahnya.
Walau hubungan mereka adalah kerjasama yang saling menguntungkan. Tapi dari perusahaan seperti Immanuel group sendiri, perlu di teliti lebih lanjut apakah perusahaan yang akan berkerjasama dengan mereka ini bagus atau tidak.
Mereka masuk kedalam lift yang membawa mereka kedalam kantor dimana orang orang sibuk dengan dokumen dan tugas masing-masing.
Alvin diam tak berbicara begitupula Geo. Alvin terus menilai suasana kerja di tempat itu. Karena dari cara mereka bekerja pun, dapat dilihat kualitas perusahaan didalamnya.
Alvin dan Geo berjalan dengan Eric didepannya.
"Tu-tuan Alvin" ujar Eric mengkode agar orang-orang diruangan itu agar menyadari kehadiran orang penting didepannya ini. Tapi tak ada respon dari orang orang sekitarnya, karena menganggap Eric hanya memanggil nama orang biasa saja.
"Diam" ujar Alvin pada pria didepannya.
"Baik" balasannya.
"Lanjut jalan" perintah Alvin.
Eric hanya bisa mengangguk patuh. Sedikit sedikit matanya juga ikut menelisik dan bernafas lega karena suasana kantornya saat ini kondusif. Mungkin karena terlalu sibuk dengan tugas masing masing hingga mereka tak banyak berulah seperti biasanya.
"Sudah cukup! Kembali ke hotel" ujar Alvin pada Eric.
"Huft..." Eric bernafas lega karena tak merasa ada hal buruk yang membuat Alvin tidak suka.
Mereka berjalan menuju pintu keluar dari perusahaan itu.
Bukk
Seseorang dari belakang menubruknya. Hingga tubuh bagian belakang Alvin terasa berat dan kehilangan keseimbangan karena tabrakan yang di lakukan entah oleh siapa itu. Alvin yang tertabrak terjungkal kedepan dan untungnya Alvin yang sigap masih bisa berdiri tegak, tak sampai tersungkur ke lantai. Namun naasnya punggungnya kini tidak baik baik saja. Punggung belakang Alvin nampak basah terkena minuman yang di bawa oleh gadis itu.
Seorang gadis dengan perawakan tinggi walau tak setinggi Alvin, menabrak punggung Alvin dan menumpahkan minuman yang entah apa itu hingga membuat baju belakang Alvin kotor.
Alvin berbalik menatap tajam gadis di depannya.
"Ups sorry!" ujar gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Gadis itu juga kaget.
"Tuan Alvin" ujar Eric shock, berjalan mendekat kearah Alvin dengan panik.
"Lo nggak papa Al?" tanya Geo melihat kearah pakaian Alvin yang terkena noda kopi yang gadis itu bawa.
"Maaf aku nggak sengaja" ujar gadis itu memelas.
"Cih!" Alvin hanya bisa acuh pergi meninggalkan gadis itu. Rusak sudah mood Alvin hari ini, bahkan lebih parah. Alvin melangkah tak ingin berlama lama berada disana.
"Tunggu!" ujar gadis itu menahan tangan Alvin.
"Aku minta maaf! Biar ku ganti ya baju kamu. Sebutin aja nominalnya! Atau mau ku cuci sendiri?" ujar gadis itu merasa bersalah.
__ADS_1
Alvin menyentak tangan yang menahannya.
"Nggak perlu" ujarnya. Alvin pergi dengan Geo yang mengikuti, sedangkan Eric nampak gelisah karena gadis di depannya ini membuat kesalahan dengan Alvin.
"Tuan Eric, ayo!" ujar Alvin tanpa menoleh.
Eric pun hanya bisa pasrah menerima jika nantinya Alvin akan menilai buruk mereka.
Mereka kembali naik ke mobil yang kini langsung mengantarkan mereka ke hotel, tempat Alvin dan Geo menginap selama di Paris.
"Tuan Alvin, Tuan Geo silahkan" ujar Eric bernada lembut masih dengan kegelisahannya, membiarkan keduanya masuk kedalam hotel terlebih dahulu sedangkan ia menurun koper koper yang dibawa oleh keduanya, dengan bantuan petugas hotel.
Eric yang sudah menurunkan semua barang-barang Alvin dan Geo, ikut masuk kedalam hotel menghampiri keduanya.
"Anda sudah dapat kunci kamarnya tuan?" tanya Eric pada keduanya.
"Sudah! Anda bisa pergi sekarang tuan Eric" ujar Alvin.
"Oh ok! Kalau begitu.. emm! Saya mau minta maaf atas kejadian tadi dan ini" Eric mengeluarkan kartu nama dari dalam sakunya.
"Anda bisa menghubungi saya jika perlu sesuatu atau anda menginginkan kompensasi tuan Alvin, perusahaan siap memberikannya jika permintaan anda sesuai kemampuan dengan kami." Geo menerima kartu nama yang di sodorkan oleh Eric untuk Alvin.
"Tidak perlu! Saya akan tutup mata untuk kejadian tadi" balas Alvin.
"Terima kasih tuan Alvin! Kalau begitu, Saya permisi dulu! Mari Tuan Alvin, tuan Geo!" pamit Eric diangguki Alvin dan Geo. Kemudian pria itu berjalan pergi keluar dari hotel.
Hanya tersisa Alvin dan Geo. Keduanya pergi menuju ke lantai atas dimana letak kamar mereka menginap.
"Permisi tuan tuan! Koper koper Anda sudah saya masukkan kedalam kamar. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya petugas hotel tersebut.
"Tidak ada!" Alvin merogoh sakunya, mengeluarkan dompet dari dalam memberikan uang tips yang cukup besar untuk petugas tersebut.
"Terimakasih tuan! Jika anda butuh sesuatu anda bisa memanggil dengan telpon yang tersedia. Selamat menikmati waktu anda. Kemudian saya permisi terlebih dahulu!" ujar pria tersebut tersenyum lebar lalu pergi meninggalkan mereka setelah mendapat anggukan Alvin dan Geo.
Alvin dan Geo berdiri tepat didepan pintu kamar masing masing yang saling berseberangan. Karena jangan harap Alvin akan mau berbagi kamar. Bahkan kamarnya sendiri pun sulit untuk dimasuki orang lain.
"Lo istirahat aja dulu Ge, nanti malam kita ketemu di bawah" tutur Alvin.
"Oke" balas Geo.
Mereka masuk kedalam kamar masing masing. Alvin yang sudah berada di dalam kamar langsung pergi ke kamar mandi. Ia menatap kearah cermin yang terpajang disana, memiringkan tubuhnya, melihat punggung bajunya yang basah dan terlihat kecoklatan.
Muka Alvin muram bercampur kesal lantas membuka bajunya, membuangnya ke rak pakaian yang tersedia. Berjalan kearah shower, mengguyur tubuhnya hendak membersihkan diri.
...****************...
Di sisi tempat Zea berada, disebuah mall..
Tak melihat kehadiran Alvin membuat Zea senang tiada tara. Zea yang sedang bergembira mengajak kedua sahabatnya, Keyla dan Icha untuk pergi berbelanja selepas sekolah.
__ADS_1
"Yakin nih lo mau traktir kita?" tanya Keyla sambil memilih milih pakaian.
"Yakin! Udah ambil aja, ntar gue yang bayar" jawab Zea.
Dahi Keyla dan Icha mengernyit, "Dalam rangka apa nih?!" tanya Keyla.
"Nggak dalam rangka apa apa! Gue cuma lagi seneng aja!" jawab Zea.
Keyla dan Icha semakin curiga.
"Aneh! Ditinggal Alvin ke luar negeri kok malah seneng"
"Bener" ujar keduanya.
"Emang salah? Udah ish, jangan dipikirin. Mending kita fun aja! Kan udah lama kita nggak shopping bareng" ujar Zea sambil tersenyum.
"Oke deh"
Mereka menghabiskan waktu memilih milih pakaian sambil saling berbincang hal hal seru lainnya. Zea merasakan yang namanya kebebasan sesaat walau jauh di lubuk hatinya ia sedikit ragu. Apakah dia emang merasa bebas? Atau ini adalah ilusi kesenangan yang ia terima karena ingin menyakini bahwa ia senang dan bebas.
Hingga tak terasa, Zea telah sampai di rumah setelah bersenang senang ria dengan kedua sahabatnya menghabiskan waktu ala anak remaja perempuan yang senang berbelanja dan bermain di mall.
Zea masuk kedalam kamar, meletakan tasnya di atas meja belajarnya kemudian ia pergi kedalam kamar mandi membersihkan dirinya.
Zea yang sudah berpakaian lengkap dengan rambut basah, mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Kemudian menyisir rambutnya yang telah kering.
Ia mengambil handphonenya didalam tas membawa dirinya ke kasur berbaring disana. Zea membuka aplikasi chat di ponselnya. Melihat bahwa masih belum ada pesan satupun yang masuk dari Alvin.
Mungkinkah Alvin terlalu sibuk hingga tak sempat mengirimnya pesan? Zea berpikir. Zea yakin saat ini Alvin sudah sampai di tempat tujuan apalagi saat melihat langit yang sudah berganti warna.
Zea yang asik berpikir pikir dimana Alvin berada dan kenapa pria itu tak menghubunginya tiba tiba tersentak bahkan tubuhnya terjungkal ke depan.
"Kenapa gue jadi mikirin dia sih? Kan bagus gue bisa bebas dari dia. Gue kenapa sih?!" gumam Zea bertanya tanya karena merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Kemudian ia kembali merenung sembari menatap layar ponselnya.
"Gue kenapa jadi kecewa gini ya? Apa mungkin gue udah terlanjur jatuh hati sama Alvin? Lagian pertemuan awal gue dengan Alvin nggak seburuk yang sekarang. Mungkinkah gue rindu sama dia?" lanjut Zea asik bergumam berbicara dengan diri sendiri.
Zea mengulas senyum mengejek, "Hahahaha nggak mungkin? Rindu sama Alvin? Gue pasti udah gila! Masa gue rindu sama cowok yang mau ngerampas hal berharga gue? Ini pasti karena gue terlalu deket sama Alvin, gue jadi terkontaminasi sama pikiran Alvin!"
Zea kembali diam, "Masa iya ya? AAAKH...Tauk deh, mending gue kebawah buat makan. Dari pada gue mikiran hal hal yang gak wajar" Zea mendengus sambil bangkit keluar kamar.
Ia mengabaikan semua kemungkinan yang ada, menyangkal apa yang ia rasakan selama ini. Menutupi hatinya dengan kebohongan.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Maaf baru up! Karena kemarin ada halangan yang mendesak, jadinya baru bisa up sekarang.
__ADS_1
Semoga masih setia nungguin dan nggak bosen! Makasih.. Jangan lupa dukungannya ♡♡